Belakangan ini jarang kita mendengar aksi maupun kritik mahasiswa atas kebijakan pemerintah pusat. Semoga mahasiswa tidak terbungkam oleh trik politik elite biokrasi di sana. 

Memang tahun ini adalah tahun kontestasi politik, namun sorot mata kita tidak boleh silau atau sekadar terkejut dengan kejutan politik mereka di sana. Mahasiswa tetap harus menjadi jembatan kritis publik masyarakat kepada pemerintah.

Mahasiswa itu kaum elite pelajar di negeri ini. Setiap tahunnya kampus didatangi ratusan bahkan ribuah mahasiswa baru. Tentu bangsa ini berharap di sana lahir calon pemimpin masa depan, yang memiliki kemampuan membebaskan negeri ini dari jerat kemiskinan, budaya korupsi, dan fanatisme politik identitas.

Sebagai elite pelajar, mahasiswa jangan sampai tergoda dengan jabatan maupun suap para petinggi negeri. Kita wajib menjadi pelopor perubahan, selalu menyuarakan kritik dan ketajaman analisis bahwa masih banyak urusan di negeri ini yang tak juga kunjung tuntas.

Kita tentu tahu, dan jangan pernah menutup mata. Perekonomian kita kurang baik, masih ada diskriminasi kelas, perebutan hak tanah tanpa ada imbal balik yang sesuai. 

Apa implikasinya, masyarakat menjadi korban kebijakan pemerintah yang tidak tepat. Pemerataan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang selalu digadang-gadang sebagai orasi politik lebih sering dilupakan ketika kursi kuasa didapatkannya. Maka, jangan terbungkam, teruslah berteriak, bahwa masih ada yang miskin dilupakan, yang korupsi diselamatkan.

Peran mahasiswa kini begitu besar. Tanggung jawab mahasiswa tidak berhenti sekadar belajar di kelas-kelas, seminar-seminar saja. Tempat belajar mahasiswa juga di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat membutuhkan motor penggerak untuk membuat mereka berani berbuat dan menyatakan sikap.

Sudah terlalu lama negeri ini diperebutkan atas nama kepentingan. Entah kapan setiap elite pejabat negeri ini melupakan kepentingan identitas mereka untuk kemajuan dan kesejahteraan sosial. Lihat saja tahun 2019 ini nanti kita akan mendengar, menjadi saksi hidup, pergulatan politik melalui tawar menawar wacana publik, kebohongan, dan trik selalu mewarnai setiap proses dan dinamikanya.

Sebagai kelompok elite pelajar, mahasiswa harus menjadi garda terdepan memperjuangkan hak-hak demokrasi, hak-hak rakyat sipil, dan hak-hak kelompok-kelompok minoritas. Kita tahu dinamika politik negeri ini sudah memakan korban begitu banyak. Politik telah mengabiskan banyak energi di negeri ini. Politik identitas telah mempertarungkan antar-segmentasi agama, ras, suku, dan budaya. Padahal negeri ini berdasar pada pancasila dan kebhinekaan.

Negeri ini dibangun atas dasar perbedaan. Perbedaan menjadikan kita semua bersatu dan saling bergotong royong satu sama lain. Beda agama suku dan ras bukan alasan satu dan lainnya berjauhan, namun alasan kita saling mendekat serta saling mengenal. Jangan sekali-kali mengorbankan keberagamaan negeri ini hanya sekadar untuk kepentingan kursi 5 tahunan.

Tugas mahasiwa bukan sekadar belajar di kelas. Bukankah selalu digadang-gadang, mahasiswa sebagai agen perubahan. Maka mahasiswa juga harus menjadi bagian dari transformasi sosial di tengah-tengah masyarakat. Tantangan besar mahasiswa hari ini adalah menuntaskan masalah yang tak kunjung usai melanda negeri, hoaks, ujaran kebencian, dan pertarungan antar identitas atau kelompok.

Pertarungan elite politik kita saat-saat ini sudah tidak lagi sehat. Apa saja yang di depan mata, bahkan tidak peduli itu wilayah agama, juga dipolitisasi untuk kepentingan mereka. Maka tahun politik ini adalah tahun yang berat. Kita semua wajib berkontribusi membendung setiap gerakan apa pun yang mengarah pada konflik antargolongan, saling menuduh dan saling menjatuhkan.

Mahasiswa mesti mengaktualisasikan keilmuannya untuk kepentingan masyarakat. Jangan pernah diam ketika ada ketimpangan sosial. Jangan pernah ragu untuk bangun dan kembali bergerak.

Tentu orangtua berharap anaknya sebagai mahasiswa itu lulus dan segera bekerja. Namun orangtua juga bangga anaknya menjadi bagian dari perubahan-perubahan sosial.

Ini zaman bukan lagi zaman batu atau zaman kegelapan. Mahasiswa kini hidup pada zaman teknologi yang begitu canggih-canggihnya. Hanya hitungan detik saja, akses ke seluruh dunia bisa dilakukan, bahkan tanpa batas. Lihat saja, kecanggihan teknologi ini tidak juga menjadi spirit kemajuan, tapi lihat di sana-sini masih banyak informasi yang beredar untuk memecah belah persatuan dan kesatuan.

Inovasi mahasiswa kini harus ditingkatkan. Selain mereka berteriak dan menuntut di jalan-jalan, aksi melalui media juga harus diperbanyak lagi. Ini zaman semua orang bisa mendengar dan melihat hanya sekadar dengan kedipan mata. Maka mahasiwa harus mengaktualisasikan diri terlibat lebih jauh untuk berperan membantu sekaligus menjadi motor penggerak perubahan sosial.

Kontribusi ini tidak perlu menunggu nanti atau kapan, lakukan sekarang juga sekecil apa pun itu. Dari hal-hal kecil itu terkadang lahir hal-hal besar yang tidak diduga sama sekali. 

Mahasiswa sebagai elite intelektual harus menularkan semangat juang untuk terus menjaga negeri ini, agar tidak kalah oleh pertarungan antar-kepentingan kelompok. Mahasiswa di masa depan diharapkan menjadi sosok-sosok baru pemimpin di negeri ini, membawa semangat baru, inovasi baru, harapan baru, demi kemajuan bangsa.

Zaman milenial menuntut kita semua untuk tidak bemalas-malasan. Orang malas pasti ditinggal oleh zaman. Meskipun teknologi semakin canggih, tapi kalau malas bergerak, tak juga bangun dan lakukan kerja kreatif, iya sama saja, ia tidak akan berarti apa-apa. 

Apalagi elite terpelajar, sudah tentu memiliki semangat yang jauh lebih baik untuk membangun negeri ini. Sebuah kewajiban bagi mahasiswa untuk memberikan kerja-kerja kreatif demi membangun negeri ini.

Ramaikan seluruh kehidupan di negeri ini dengan konten-konten perdamaian. Mahasiswa memiliki peran dan tanggung jawab besar. Untuk itu, habiskan energi kalian untuk belajar, habiskan energi kalian untuk membangun negeri ini, habiskan energi kalian untuk berbuat sesuatu demi masa depan.