Ini adalah pengalaman saya beberapa tahun yang lalu. Punya anak usia SD dengan banyak kegiatan ekstra ternyata bukan hanya seru untuk anaknya, melainkan orang tua pun tak jarang ikut merasakan keseruannya. Saya yang sudah bertekad untuk berhenti dari perkerjaan supaya bisa menemani kegiatan anak-anak saya ikut bersemangat jika akan ada kegiatan field trip dan sebagainya.

Tak bisa berkelit atau menolak, akhirnya saya masuk dalam kepengurusan komite orang tua murid yang membantu sekolah dalam penyelenggaraan kegiatan anak-anak. Suatu hari ketika akan diadakan kegiatan field trip ini, kami yang punya anggaran cukup mepet harus bisa mengalokasikan dengan baik agar semua keperluan field trip terpenuhi. Sekolah anak saya adalah sekolah swasta yang memang banyak yang bersekolah di sana kebanyakan adalah kalangan menengah ke atas.


“Bund, kita konsumsinya cukup pake roti dan susu UHT kemasan kecil saja ya”, begitu saya usulkan mengingat kondisi anggaran yang pas-pasan. “Toh perginya ga jauh ini ya Bu, kasihan lah ya kalau anak-anak kita tarik patungan lagi”. Saya melihat kebanyakan ibu-ibu yang hadir setuju. Prinsip kami adalah alokasikan sesuai anggaran yang ada.

Dari sekian ibu-ibu yang mengikuti rapat saya melihat ada satu ibu dengan raut yang kurang suka. Memang saya baru kenal belum berapa lama, ini adalah awal saya nyemplung di acara-acara semacam ini. Namun untuk mengutarakan secara terbuka di forum sepertinya dia tidak enak hati.

“Sudah mam, nanti saya aja yang cariin, mama tenang saja”, begitu katanya. Ibu ini menyepakati bahwa dialah yang akan membantu memesan konsumsinya. Bersyukur semua poin selesai dibicarakan dan kami tinggal menunggu hari.

Pada hari yang dinanti, betapa terkejutnya saya dengan konsumsi yang ada. Paket lengkap bukan hanya susu dan roti. Saya kira-kira harganya cukuplah itu berlipat kali. Ya sudah barang tentu anak-anak akan suka. Sepertinya si ibu yang mengurusi konsumsi tidak tega jikalau anak-anak “hanya” mendapatkan susu dan sepotong roti. Biar anak-anak seneng begitu lah kurang lebih alasannya.

Saya hanya terbengong, bukan karena saya tidak suka dengan perbuatan baik si ibu ini. Memang untuk anak-anak di sekolah ini seringkali pengadaan pernak pernik kegiatannya adalah yang bisa dibilang keren, kadang bombastis. Meskipun harus ada pihak panitia yang tombok sana sini. Dan jujur saja ini sangat bertentangan dengan prinsip saya. Lakukan saja yang terbaik sesuai porsinya.

Pernah di kesempatan lain ada beberapa orang tua yang komplain ketika pada sebuah acara anak-anak menggunakan bus bukan dari armada yang ternama. “Kenapa gak pakai armada yang bagusan sih mam”, kurang lebih begitu pertanyaan mereka.

Mendengar yang seperti ini saya cukup memberikan senyuman singkat, daripada lelah berpanjang-panjang. Kalau saja mereka sadar, apa yang diterima oleh anak-anak mereka ini bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi sesuatu yang sesuai dan sudah melalui pemikiran yang masak.

Dan anak-anak ini perlu untuk belajar hidup sederhana, menghadapi keadaan yang tidak selalu seideal harapan mereka (atau mungkin harapan orang tuanya??)

Justru dengan demikian anak-anak menjadi lebih kuat jika kelak harus menghadapi hal-hal di luar kebiasaan mereka di rumah. Bukankah suatu hari kelak merekapun harus mandiri?

Saya membayangkan para orang tua itu begitu terlenanya memanjakan anak-anak mereka. Barangkali memang tidak atau belum pernah merasakan keadaan yang mendesak yang mengharuskan mereka mengencangkan ikat pinggang demi bertahan hidup.

Keadaan semacam ini bisa saja terjadi pada siapa saja. Karena saya pun jujur pernah mengalami. Pernah suatu kali kami hanya makan berlauk tempe mendoan, di masa yang muncul banyak kebutuhan yang dalam waktu bersamaan. Seringkali saya mengajak anak-anak saya naik kendaraan umum atau ojek ke pasar  atau ke mall. Dan ternyata mereka menikmati perjalanannya. Meskipun ada saja resikonya seperti sendal jatuh saat naik ojek dan sebagainya. Namun hal-hal seperti ini justru akan seru untuk menjadi bahan cerita.

Dan benar saja, pada suatu saat teman saya salah satu orang tua murid di sekolah yang sama dengan sekolah anak saya curhat tentang keadaannya. Suaminya berhenti bekerja karena sakit, usaha yang dikelolanya merugi, sehingga keluarganya terpaksa harus menyesuaikan dengan keadaan ini.

Saya menyarankan anaknya disekolahkan di sekolah negeri saja selepas SD. Tentu ini akan menghemat banyak biaya, apalagi ada sekolah negeri yang letaknya cukup dekat dengan tempat tinggalnya. Teman saya itu dengan nada sedih menjawab anaknya tidak mau disekolahkan di sekolah negeri. Dia tetap ingin melanjutkan ke sekolah swasta yang dulu meskipun biayanya cukup tinggi. Hingga mobil dan rumah pun siap dijual untuk biaya sehari-hari.  Tapi sayangnya, untuk memaksa anaknya mengikuti sarannya pun dia tak sampai hati.

Di sini saya menghela nafas panjang, hanya bisa berandai-andai saja. Kalau saja itu anak saya, maka saya akan begini dan begitu. Namun sepertinya kesalahan bukan hanya pada anaknya. Barangkali mereka lupa menjadi sederhana.

Kalau saja nilai sederhana ini sudah diajarkan sedari dini. Kalau saja sebagai orang tua cukup tega memaksa anak kita mau berjuang menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Kalau saja dan kalau saja.

Padahal di negeri ini kita tidak kekurangan teladan. Teladan yang telah digeser dengan maraknya gaya-gaya sosialita youtuber dan selebgram. Seharusnya kita mengingat Haji Agus Salim sang diplomat ulung itu. Beliau masih berstatus sebagai “kontraktor”, belum punya rumah tinggal bahkan sampai wafatnya. Lupakah kita dengan bapak bangsa Bung Hatta? Bahkan sepatu bermerk “Bally” tetap menjadi angan-angan saja. Atau jika terlalu jauh, bolehlah kita belajar pada Ikal dan Lintang, bocah-bocah Laskar Pelangi dari Belitung itu. Bagi mereka kesederhanaan bahkan kekurangan sudah menjadi teman sehari-hari. Sebuah modal bertahan yang seringkali dilupakan, sedangkan bagaimana hari esok kita tidak tahu pasti.