Kali ini, aku ingin melanjutkan bercerita tentang Mbak Mucha seperti di tulisanku sebelumnya, Mucha; Mutiara dari Filipina

Mbak Mucha adalah temanku dari Filipina. Namun beliau bukan hanya teman, tapi juga sahabatku, kakakku, dan guruku. Banyak pelajaran-pelajaran hidup yang aku ambil darinya. Pada karakter-karakternya, di antaranya:

Di Balik Pribadi yang Tenang, Dia Sangat Optimis

Mbak Mucha itu pembawaannya sangat tenang. Namun di balik karakter tenangnya, dia sangat optimis. Dia optimis pada hal apa pun. Walaupun sedang bermasalah, dia bisa tersenyum dan menangani masalahnya dengan baik. 

Contohnya, ketika kami mempunyai tetangga kontrakan yang kurang baik, terlalu ribut sampai larut malam, Mbak Mucha malah membuat spaghetti terenak (karena daging dan kejunya banyak) dan memberikan kepada mereka. 

Mungkin Mbak Mucha berpikir untuk bisa berteman baik dengan cowok-cowok tadi yang suka performance dengan live music tengah malam itu.

Dia juga stay cool ketika Gunung Merapi meletus di Oktober 2010. Saat itu kami saling menguatkan, sebagai sesama perantau yang lagi jihad belajar. Suasana Jogja waktu itu sangat mencekam, karena kami yang tinggal di jalan Kaliurang juga sangat merasakan hujan abu.

Kami memakai masker setiap hari, dan mengurangi aktivitas keluar rumah karena di mana-mana abu turun, memenuhi jalan dan membuat sesak pernapasan. Belum lagi pakaian yang dijemur terkadang menjadi putih dengan abu-abu tadi.

Travelling karena "Kecerdasannya"

Mbak Mucha telah terbiasa keluar negeri setiap saat. Seperti sebelumnya, sebelum kuliah di S3 UGM Jogja. Dia pernah bertemu (almarhum) Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jakarta membahas masalah "minoritas".

Kemudian, ketika kami satu rumah kontrakan, dia juga biasa bepergian. Entah pulang ke negaranya, Filipina, atau menghadiri pertemuan penting di negara-negara lain. Misalnya, ke Swedia karena menjadi pembicara dari Filipina. Jika tidak salah, dia ke sana membahas masalah perempuan dan identitas.

Pernah dia datang dari Singapura yang cuma tiga hari itu di sana. Saat pulang, dia memberikan oleh-oleh gantungan boneka bermodel anjing Dalmation yang lucu. Katanya, biar aku tidak takut anjing.

Bukan hanya gantungan boneka Dalmation yang dia berikan, tapi juga peta dan brosur Singapura. Katanya, semoga aku bisa ke sana.

Bergembira dengan Makanan dan Masakannya Enak

Di waktu senggangnya, Mbak Mucha kadang memasak untuk kami. Cara memasak makanannya pun khas Filipina sana. 

Misalnya, masak ayam ala adobo. Ayam yang sudah disembelih, dibersihkan, dan dipotong kecil sesuai ukuran selera. Kemudian direndam dalam cuka. Ketika sudah direndam, ditumis dengan kecap manis dan bawang putih. Rasanya; manis, kecut gimana gitu, tapi enak.

Dia juga pernah membuat cake milk walaupun hanya dikukus biasa. Bahannya pun cuma tiga, yaitu susu, telur, dan gula pasir. Hasilnya? Kue lembut seperti agar-agar, manis sekali.

Bukan hanya itu, ketika "kami" ulang tahun (teman kontrakannya), Mbak Mucha yang lagi sibuk membuat final paper, misalnyadatang dari kampus memberikan kejutan membawa kue tar cokelat yang sangat enak. 

Mbak Mucha memang cokelat mania. Setiap pulang dari luar negeri, apalagi ketika pulang dari Swedia, dia membawa cokelat batang yang sangat banyak. 

Selain cokelat mania, dia juga suka sekali minum kopi. Namun, kopi yang beraneka rasa itu.

Memberi Hadiah pada Diri Sendiri dan Menghadiahi Orang Lain

Kata mbak Mucha, cara untuk mencintai diri, menghargai diri sendiri, setelah melakukan pencapaian, adalah memberi hadiah pada diri sendiri.

Mbak Mucha ketika sukses melakukan presentasi atau dan menyelesaikan paper-papernya, yang membuatnya "mengurung dirinya" di kamar, akan pergi ke pusat perbelanjaan atau toserba membeli sesuatu. Entah sesuatu yang lucu seperti boneka, pakaian semacam kerudung, dan lain sebagainya.

Dia juga senang menghadiahi orang lain sesuatu. Ketika kami ke Bali, dia membeli banyak oleh-oleh untuk orang lain. Jika untuk diriku, dia terkadang memberiku baju-baju yang girlie, yang cewek banget dan lagi trend. Dia sangat modis pada momen-momen tertentu.

Suatu saat, ketika kami di Jakarta, dia membeli banyak gelang-gelang yang dibelikan untukku dan ditujukan buat dirinya sendiri. Dia suka dengan aksesori yang cute.

Walaupun Mbak Mucha suka memberiku baju-baju keren, dia juga pernah memberi aku hadiah buku-bukunya. Materi kuliah kami hampir sama waktu itu, namun aku masih di tingkat S2. 

Pernah, beliau juga memberiku buku tentang pimali, pamali, ora ilok yang sangat lucu dilengkapi gambar kartunJudulnya, Don't take a bath on Friday Philippine Superstition and Folk Belief.

Tulisnya di dalam buku itu; 

Dear Mbak Ria.

When I saw this book at book store, I thought you because you always take a bath in a Friday and at least for one hour inide in the kamar mandi ?.  But this in only for fun.

You don't have to believe all there... and just in case you need to believe in anything in this book, just choose the best, like pages; 13, 14, and 19. When a brides throw away the home bouquet, GRAB it, and RUN. Thank you very much, mbak for fond the memories at on Boyang Beru-beru and Boyang Posa-posa. 

I love you, Mucha. 19 May 2012.

Aku Ingin Bertemu Kembali

Kami terakhir bertemu di bulan Mei 2012, ketika aku sudah diwisuda. Sekarang 2020, ingin rasanya mengulang kembali kebersamaan sewaktu di Jogja karena saat ini kami hanya berkomunikasi dengan Facebook (FB).

Itu pun tidak seintens dulu karena kesibukan kami masing-masing. Dan "keaktifan" kami di media sosial yang tidak bersamaan. Rasamya, aku ingin mengulang kenangan kita bersama.

Mbak Mucha, aku mau melihat disertasimu tentang suku Bajo di Indonesia dan Filipina yang kabarnya memakai media video juga. Mbak, aku mau mendiskusikan; setiap sudut Jogja, jurusan kita, kebijakan kampus, orang Sulawesi versus Filipina, local wisdom, fashion yang lagi update.

Mbak Mucha, kapan lagi kita jalan berdua, menyusuri jalan Kaliurang yang dulu sangat ramah pada pejalan kaki sambil menikmati es krim dan cokelat di jalanan? 

Mbak Mucha, aku mau kita berfoto ria di UGM sebagai "oleh-oleh" ketika pulang kampung halaman masing-masing. Mbak, ayo nonton film di mall bersama teman kontrakan lainnya; Kak Lia, Ani Kajol, dan Jamilah.

Mbak Mucha, kapan lagi kita bersama di rumah Melati, Boyang Beru-beru (bahasa suku Mandar)kontrakan pertama kita karena kontrakan kita perempuan banget dan berharap "kita" dapat memberi keharuman di mana-mana. Dan kontrakan kedua bernama, Boyang Posa-posa, karena di sekitar kontrakan banyak kucing-kucing liar.

Mbak, aku menunggumu berkunjung di Mandar, Sulawesi Barat, berziarah di kuburan Imam Lapeo. Kamu pun menungguku datang di Sambunga, Filipina, untuk bertemu Eyang alias Ria, anak perempuanmu. Aku berdoa semoga Tuhan mewujudkannya. Amin.

Terima kasih untuk semua, mbak. Mahal kita, I love you, mbak Mucha.