Revolusi Industri 4.0 sedang naik daun dalam diskursus kehidupan umat manusia. Perbincangan mengenainya acap kali menuai pro dan kontra. Di satu sisi, ia dipuja sebagai penanda baru peradaban modern. Di sisi lain, dicibir karena membawa dampak integral bagi habituasi. Keadaan ini sebetulnya telah diteropong jauh oleh Alvin Toffler lewat bukunya Future Shock (1970).

Alvin memberi sinyal darurat di tahun 1970 agar penduduk bumi bersiap menghadapi era disrupsi. Analisisnya mencapai titik bagaimana seharusnya manusia menghadapi tekanan atas masifnya geliat teknologi industri. Sebagai seorang futurolog sekaligus kolumnis produktif, Alvin memberi nubuwat kepada manusia masa depan, meski ia sendiri hidup di era Revolusi Industri 3.0.

Pada masing-masing gelombang peradaban, Revolusi Industri 4.0 tak tiba-tiba muncul sendiri. Ia lahir atas nama zaman yang terus berkembang karena temuan saintifik dihela para ilmuan lintasdisiplin. Di balik riset terapan yang kontinyu dilesatkan dalam rangka perbaikan hidup umat manusia itu, betapapun, menyiratkan konsekuensi logis tiap sektor.

Disrupsi muncul sebagai respons publik atas denyutan teknologi yang menyilaukan kehidupan manusia pada tiap ranah. Sebelum kata ini populer di era sekarang, secara tematik disrupsi telah dirasakan pada masing-masing gelombang Revolusi Industri. Ia disambut dengan optimisme besar, namun juga penuh ketar-ketir akan mendestruksi kebiasaan lama.

Seperti kecemasan akut seorang tukang pos. Yang pada peralihan Revolusi Industri 3.0 dan Revolusi Industri 4.0, ia pesimis lapak kerjanya sebagai pengantar surat digulung oleh kehadiran surat elektronik berbasis internet. Sedangkan dua dekade setelah senjakala tukang pos, dewasa ini manusia abad ke-21 merasa cemas karena tenaganya diprediksi akan digantikan robot pintar (Artificial Intelligence).

Jagat Siber

Narasi digitalisasi dan otomasi yang dibawa secara derivatif Revolusi Industri 4.0 menarik pola komunikasi dan dokumentasi umat manusia. Kedua pola ini merupakan sesuatu yang niscaya karena manusia—selaku subjek aktif—mustahil membendung, apalagi menolak, tarik-ulur dampaknya. Yang bisa dilakukan manusia, antara lain, seperti ungkapan Jawa, yakni eling lan waspada berikut melakukan strategi dan siasat.

Pertama, denyut disrupsi menggeser habituasi manusia dari percakapan manual ke digital. Orang sekarang cenderung melakukan situasi bebrayan agung melalui jagat maya. Facebook, Instagram, dan Twitter dibanjiri proses dialog imajiner itu. 

Implikasi besarnya, mereka tak perlu lagi saling bersemuka langsung karena layar digital telah mempertautkannya. Terlepas dari dampak sisi negatif, pola semacam ini membawa efektivitas komunikasi yang serba cepat dan murah.

Kedua, dokumen raksasa yang berisi sejumlah informasi lintasdisiplin tak lagi disimpan rapat di lemari besi maupun buku cetak. Semua itu kini bisa diakses gratis hanya berbekal klik. 

Sumber informasi seperti Google diposisikan strategis untuk dijadikan ladang pengetahuan. Tren dokumentasi, pada akhirnya, sekarang bersifat digital. Ia dianggap praktis dan memungkinkan menyimpan berjuta-juta informasi dalam lanskap siber.

Dua pengaruh pola komunikasi dan dokumentasi itu mendorong tiap sektor institusi berbenah untuk berduyun-duyun meninggalkan paradigma dan sistem informasi klasik ke modern. Kebijakan surat-menyurat digital (paperless), sebagai contoh, ternyata membawa dampak kuat dalam konstelasi komunikasi dan publikasi. Kesemuanya itu memunculkan perspektif baru, yaitu literasi media yang kerap kali membuat manusia gugup dan gagap.

Literasi Kontemporer

Konversi manual ke digital sudah dirasakan dampaknya. Wacana tertulis mengenainya telah didialogkan di forum akademik maupun sarasehan warung kopi. 

Semua orang tiba-tiba aktif membicarakan bagaimana habituasi manusia terdisrupsi total oleh Revolusi Industri 4.0. Sekian narasi mengenainya, ranah pendidikan, menjadi titik kuat bagaimana menyiapkan manusia agar tak gugup dan gagap. Peserta didik, dengan kata lain, menjadi kunci utama selaku subjek mayor.

Mahadata bagai lumbung informasi yang siap diserap sari-sari pengetahuannya demi perbaikan tatanan kehidupan modern. Di situ manusia berperan penting untuk mengelola sekaligus menggunakan informasi itu dalam rangka memanifestasikan laku sosial. Pendidikan seharusnya menjadi garda depan agar laku personal siswa terbentuk (habituasi), sehingga proses interaksi di abad Revolusi Industri 4.0. tak tergerus ancaman distruptif.

Setidaknya terdapat dua strategi yang mesti dipersiapkan ranah pendidikan. Pertama, anggapan gelombang ketiga yang membawa narasi digitalisasi dan otomasi membawa implikasi negatif mesti diubah. 

Sisi positif dan negatif sebetulnya berangkat dari kedaulatan siswa. Nilai kedaulatan dalam konteks Revolusi Industri 4.0. adalah bagaimana menghadapi, menata, dan memproduksi informasi lebih cerdas dan komprehensif.

Kedua, berpaut erat dengan poin pertama, kedaulatan berarti juga bertahan atas dentuman hoaks yang kini menjangkit kehidupan sosial umat manusia. 

Membasmi hoaks, selain menggunting sistem penyebarannya, juga dapat dibina melalui sikap kritis tatkala menghadapi informasi. Dua butir tersebut harus diajarkan di bangku pendidikan. Ini wujud nyata pembelajaran literasi digital.