Yang terpenting dari suatu perkenalan adalah nama. Apa lagi dalam hubungan yang sifatnya sekejap. Dengan orang asing misalnya, yang kebetulan sama-sama berteduh dari derasnya hujan. Atau di sebuah warung makan yang digelar di tepi-tepi Jalur Pantura.

Sebuah nama akan mewakili identitasmu dan mereka, maksudku yang menjadi kenalan barumu, tak perlu tahu tanggal lahirmu, agama, atau alamatmu sebenar-benarnya bila memang tak penting benar. Bahkan kau boleh memperkenalkan diri sebagai Patrick kendati Narto-lah nama yang tertera di Kartu Identitasmu. Dalam suasana tersebut identitas yang diperlukan hanya sebuah nama; medium untuk saling sapa yang tak memiliki risiko di baliknya.

Tentu akan berbeda bila yang dihadapi adalah suatu lembaga. Seorang Sekuriti atau Front Officer di suatu kantor lembaga kerap menanyakan Kartu Identitas yang kau miliki. Hanya untuk memastikan bahwa Narto -seandainya itu benar-benar namamu- sesuai dengan nama yang tertera di Kartu Identitasmu, berikut juga informasi lainnya. Lalu meng-copy atau mencatatnya, atau bahkan memintamu untuk meninggalkannya selama kau masih berada di dalam gedung lembaga tersebut.

Sebuah identitas yang tak cuma nama, menjadi krusial di hadapan suatu lembaga. Ia tak lagi medium untuk saling sapa, melainkan juga hal yang sifatnya eksistensial. Harus ada penjamin yang secara administratif menyebutkan bahwa Narto adalah Narto yang diakui dan tercatat di satu wilayah tertentu, berikut dengan foto, tanggal lahir, alamat, agama, serta nomor yang menjadi kode identifikasi bahwa kau memang dijamin oleh satu wilayah tertentu. Dan wilayah yang aku maksud adalah negara yang Maha Mamo pernah cukup lama tak memilikinya.

Ia, maksudku Maha Mamo, seorang perempuan kelahiran Libanon. Tak sekalipun dirinya diizinkan untuk mengikuti perjalanan sekolah ke Suriah atau Yordania. Bahkan ketika kepiawaiannya dalam olahraga basket diakui, ia tetap tak boleh mewakili negaranya dalam suatu kompetisi.

Sebelum ke Libanon, orang tua Maha tercatat sebagai warga Suriah. Ayahnya seorang Kristen yang taat dan ibunya Islam, dan di Suriah, negara yang saat ini terlanjur compang-camping itu, pernikahan beda agama haram hukumnya. Karena itulah mereka melarikan diri ke Libanon. Kelak Maha dan beberapa saudaranya lahir di negara itu.

Itulah alasan kenapa tak satu pun negara, entah itu Suriah ataupun Libanon, menjamin identitas Maha Mamo. Orang tuanya bukan orang Libanon, maka Maha pun bukan warga Libanon. Dan pernikahan mereka tak dicatat oleh KUA Suriah, maka kelahiran Maha dan beberapa saudaranya pun tak tercatat di sana.

Libanon adalah negara yang menerapkan prinsip Ius Sanguinis; di mana identitas kewarganegaraan diperoleh secara keturunan. Artinya bila bapak ibumu orang Libanon, kau berhak atas identitas kewarganegaraan Libanon, kendati kau terlahir di Sragen atau Bekasi.

Berbeda dengan negara berprinsip Ius Soli; di mana identitas kewarganegaraan dapat diperoleh melalui kelahiran di suatu wilayah negara dan ini biasa dianut oleh negara-negara yang berada di Benua Amerika seperti Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Meksiko dan lain sebagainya.

Jalan hidup orang-orang seperti Maha Mamo cenderung bermasalah dan dipenuhi frustasi. Segala akses seperti pendidikan dan kesehatan misalnya, akan terasa muskil. Bahkan orang tua Maha mesti memohon kepada Kepala Sekolah agar anak-anaknya diizinkan mengenyam bangku pendidikan. Dan tak berhenti di itu saja, setelah lulus, dari sekian banyak perguruan tinggi yang ia lamar, hanya satu universitas yang bersedia menerimanya.

"Hidup tanpa identitas kewarganegaraan kian menyakitkan ketika dirimu memiliki banyak kemampuan untuk melakukan sesuatu, tapi tak diizinkan untuk melakukannya." Kira-kira begitulah perkataan Maha yang diungkap oleh unhcr.org.

"Kau tak akan menyadari potensimu bila tidak diberi hak untuk melakukannya," lanjutnya.

Maha bahkan bercerita kalau ia kerap berpindah tempat kerja. Ketakutan selalu bercokol di kepalanya. Ia khawatir ditangkap oleh petugas negara lantaran tak memiliki dokumen seperti KTP.

Itu melelahkan tentu saja, dan Maha suatu saat memang merasa lelah. Kelelahannya, yang memuncak di usia 20 mendorongnya untuk berpikir: barangkali solusinya adalah pindah ke luar negeri. Maka yang ia lakukan ialah berkirim surat ke sana-sini.

Suratnya terkirim di setiap Kedutaan Besar negara-negara yang ada di Libanon. Dan bahkan ia menyempatkan diri bertanya kepada UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees): adakah sebuah pemukiman pengungsi di negara lain.

Semula upayanya sia-sia. Namun lambat laun membuahkan hasil juga. Pada 19 September 2014, Kedutaan Besar Brazil di Libanon memberikan Visa Kunjungan kepada Maha, dan itulah awal ia meninggalkan Libanon.

Fakta bahwa ia keturunan Suriah membuatnya berani mengupayakan klaim status pengungsi. Maka dengan bantuan UNHCR di Brazil, ia memperoleh status pengungsi di Brazil dan memiliki hak yang sama dengan penduduk negara itu.

Ia mengaku menjerit dan menangis ketika pertama kali memegang Kartu Identitasnya. Saking senangnya hingga nyaris tak percaya kalau apa yang terjadi benar-benar terjadi. Sejak saat itu, tepatnya setelah kematian  saudara lelakinya yang bernama Eddy, Maha Mano bertekad untuk membantu orang-orang yang senasib dengannya.

Sebagai Panelis Reguler Lokakarya UNHCR, Maha kini menjadi bagian dari upaya internasional untuk mengubah praktik undang-undang kebangsaan melalui kampanye yang bertajuk I Belong UNHCR. Tujuan kampanye itu ialah memberikan identitas kewarganageraan kepada orang-orang yang senasib dengan Maha, dan memerangi diskriminasi gender.

Ia terus menerus menyiarkan kisahnya agar setiap orang tahu neraka yang telah dilaluinya. Dan berharap suatu saat Presiden Brazil akan mendengar lantas memberikan identitas kewarganegaraan padanya sekaligus saudara-saudaranya.

Di Brazil sendiri, naturalisasi melalui tempat tinggal dapat memakan waktu hingga 15 tahun. Namun Maha berharap identitas kewarganegaraan tersebut akan diraihnya tak selama itu.

"Saat mendapatkannya, saya akan menangis dan berteriak sekeras yang saya bisa: 'akhirnya aku ada!'" ujarnya dan hingga kini ia masih berharap.