Membaca dan mengakses artikel atau berita kini sangat mudah. Dalam hitungan detik, lewat sapuan jari di layar telepon genggam—ditambah paket data internet—kita bisa menemukan berita atau info aktual apa pun. Membaca (kalau benar-benar membaca) dan komentar, dua hal yang hampir menjadi kebiasaan sebagian masyarakat online saat ini atau netizen.

Saya juga demikian. Kadang jika sedang megikuti isu publik tertentu, saya bisa tiga sampai empat kali sehari mengakses situs berita. Kalau sedang iseng, saya swipe berita (yang fenomenal) sampai ke bawah untuk melihat pendapat netizen di kolom komentar. Konon, netizen itu maha benar. 

Asal menilai buat saya itu kebiasaan yang kurang bijak. Celakanya, hal itu sangat sering saya temui dalam penjelajahan menelusuri pendapat-pendapat instan netizen. Muncul dalam bentuk cacian. Biasanya muncul di kolom komentar berita yang memuat isu-isu sensitif atau berita remeh-temeh yang dikemas bombastis.

Agar tulisan ini ringkas, saya hanya menyajikan satu contoh kasus. Di laman berita ini, tampil di salah satu media sosial yang saya gunakan, bermunculan komentar (yang dengan entengnya terketik). Kira-kira bunyinya begini, “Anak durhaka, tega sekali menuntut ibu kandung sendiri,” dan cacian sejenis lain yang intinya menyudutkan si anak dalam berita terkait dengan anak kandung yang menggugat ibunya.

Dari kasus di atas, subjektivitas norma sosial untuk menghormati ibu sebagai orangtua yang harus dihormati tentu tidak  keliru. Terlebih upaya mediasi kekeluargaan dalam menyelesaikan perkara memang baik dan terpuji untuk diutamakan.

Namun demikian, ketika kita menanggapi suatu isu secara membabi buta tanpa kejernihan berpikir, maka nilai informasi yang edukatif atas sebuah berita menjadi tidak berarti.

Dari berita di atas, sebagai pembaca, tentu kita hanya mengenal mereka dari sebatas tulisan (tak kenal maka tak sayang), yang dengannya melontarkan pernyataan negatif secara instan seperti di atas tentu kurang bijak. Padahal, dari kasus itu, ada nilai yang lebih utama namun terdistorsi oleh “pengemasan media”.

Nilai bahwa diakuinya hak individu atas individu lain, dan hubungan keduanya yang secara hukum diatur dan wajib dilindungi oleh negara, juga hubungan keluarga tidak membatasi hukum bekerja (setidaknya kita berharap demikian) untuk menjamin agar tidak ada hak yang dilanggar atau kewajiban yang tidak ditepati. Sehingga darinya kita dapat berharap, bahkan jika mampu turut mendukung agar sistem hukum tetap dan terus membaik dalam men-deliver keadilan.

Dari situ terlihat bahwa sebagian netizen masih enggan berpikir lebih jernih dan lebih tajam dalam menerima dan mengelola informasi, terutama yang fenomenal. Oleh karenanya, respons yang diberikan juga dangkal, sejalan dengan proses berpikir yang instan.

Saya memang tidak mengetahui karakteristik atau konfigurasi sosial netizen yang sering nyinyir instan. Yang jelas, imbauan untuk berpikir lebih matang sebelum komen sudah tepat sasaran, karena yang punya leisure time nyinyir-ria lewat smartphone pasti kelas menengah.

Kita harus maklum, hampir mendekati pasti, bahwa ada aspek yang hilang dari sebuah berita. Terutama aspek non-rasional yang tidak terjelaskan dan sering mempengaruhi perilaku manusia. Keterbatasan pengetahuan kita atas sesuatu hendaknya menjadi panduan untuk membatasi diri dalam memberikan pernyataan negatif, sekalipun kebebasan memberikan pendapat katakanlah memang hak yang melekat pada tiap orang.

Terlebih dalam menyikapi informasi dalam bentuk berita yang kita tahu diproduksi dengan cara mengemas informasi seefektif, seefisien, dan secepat mungkin untuk disampaikan ke publik, yang karenanya dimungkinkan beberapa aspek luput dari pemberitaan, sehingga informasi yang utuh atau cover both side atas suatu isu muncul perlahan.

Jadi, apa bijak secara instan langsung men-judge? Belum lagi framing atas informasi dan upaya “pemenuhan selera informasi” terhadap kebutuhan pembaca untuk mendongkrak viewer dapat mendistorsi nilai kepublikan suatu isu atau berita.

Duh, saya asyik sekali komentar, sampai-sampai lupa sudah terinfeksi virus nyinyir juga lewat tulisan ini.