2 tahun lalu · 280 view · 7 menit baca · Politik soekarno_muda.jpg
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/79/1d/5b/791d5b0cd85fe8d784049ce9bb807b22.jpg

Magma Kaum Muda

Bukan sekadar kelompok umur, namun pemuda juga melambangkan cita-cita, cita rasa, tenaga, kelas sosial, harapan, dan gerakan. Tentu ada kekecualian, tetapi secara umum, usia, cita-cita, cita rasa, tenaga, kelas sosial, harapan, dan gerakannya, khas. Narasi seperti ini mungkin saja lahir dari kecenderungan dan kepentingan personal dan kultural. Namun, bukannya tanpa kesertaan fakta.

Secara kuantitatif, syarat obyektif pemuda adalah aspek umurnya. Namun, karena pertimbangan sosial dan budaya, berbagai organisasi internasional, negara, dan organisasi tingkat nasional pun berbeda-beda dalam menentukan batasan usianya. Kendati begitu, terdapat angka irisan yang mempertemukan antar versi. Angka irisan yang dimaksud adalah 16 sampai 24 tahun.

Angka tersebut diambil dari batas bawah dan batas atas usia pemuda (youth) versi PBB dengan Indonesia. PPB telah menetapkan bahwa pemuda berumur antara 15-24 tahun. Indonesia lain lagi. Dalam UU No. 40/2009 tentang Kepemudaan, batasan umur pemuda adalah 16-30 tahun. Dalam praktiknya di masyarakat, tidak jarang batas atas menjadi 35 bahkan 40 tahun.

Dalam berbagai kajian sejarah, sosial, politik, ekonomi, biologi, dan psikologi, identitas pemuda bukan hanya umur, melainkan juga – sebagaimana telah dikemukakan tadi – cita-cita, cita rasa, tenaga, kelas sosial, harapan, dan gerakan. Dalam konteks ini, banyak sekali karya ilmiah yang meneliti pemuda, baik hasil studi kalangan dalam maupun kalangan dari luar negeri.

Untuk menyebut beberapa diantaranya, lihat “Revoloesi Pemoeda” karya Ben Anderson, “Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan” karya J. D. Legge, “Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani” karya John M., “Pemuda dan Perubahan Sosial” karya T. Abdullah, dan “Kepeloporan dan Pembangunan: Peran Pokok Pemuda dalam Pembangunan” karya Ginandjar K.

Dengan demikian, jika merujuk UU tadi, pemuda berusia 16 sampai 30 tahun. Namun, dalam beberapa praktik, tidak jarang batas atasnya menjadi 35 tahun. Selain soal umur, pemuda juga memiliki kekhasan dalam cita-citanya yang idealistik. Ia mencita-citakan hal-hal ideal. Selain itu, cita rasa masa muda penuh gairah, mulai akrab dengan cinta, dan merasa leluasa mengeksplorasi hal-hal baru.

Dalam biologi (ilmu tentang kehidupan dan organisme hidup), pemuda adalah kelompok usia tubuh yang matang dan artikulatif (on fire). Jika anak-anak sedang tumbuh dan berkembang, pemuda justru masa akhir dari pertumbuhan dan perkembangan itu. Jika fungsi anggota tubuh orang tua sudah menurun, pemuda justru sedang jaya-jayanya. Kaum muda bercirikan tubuh enerjik.

Lain dari itu, kaum muda pun adalah kelas sosial. Ia memiliki karakteristik dan aspirasi sosial yang khas. Lihat saja berbagai organisasi kepemudaan di berbagai negara, termasuk di negeri ini. Ketimbang organisasi – kalaulah ada – yang mengorganisir kaum tua atau anak-anak, jsutru organisasi kepemudaan lebih subur, lebih semarak, lebih mampu bertahan, dan lebih maju.

Sebagai kelompok umur pertengahan antara kanak-kanak dan tua namun pernah mengalami masa kanak-kanak dan akan menjadi tua, pemuda juga sering dikonotasikan kelompok manusia dengan wadah harapan yang besar dan luas. Dalam dada orang-orang ini, bukan saja terbentang banyak harapan, melainkan juga ia merasa bahwa harapan ini harus diwujudkan dengan tangannya sendiri.

Dengan identitas umur, cita-cita, cita rasa, tenaga, kelas sosial, dan harapan yang khas, akhirnya kaum muda mengejawantah dalam gerakannya yang khas pula. Cita-cita yang idealistik, bergairah, berani mengeksplorasi hal-hal baru, karakteristik dan aspirasi khas, berenergi, dan harapan yang demikian besar dan luas, aktual dalam gerakannya yang optimistik, berani, bertenaga, dan kreatif.

Kendati acap dianggap kurang memiliki kebijaksanaan atau kematangan intelektual dan emosional, namun selain tengah melakukan proses pematangan, pemuda pun sering dianggap memiliki kebesaran harapan, keberanian, energi, dan kreatifitas. Karena itulah, kaum tua mengapresiasi dan mengafirmasinya ke dalam gerakan, bahkan tidak jarang menyatakan kesiapan dipimpin pemuda.

Dengan beberapa kekhasan itu, lalu sebagian narasi sosial menempatkan kaum muda sebagai pemilik masa depan. Jika kaum tua memiliki masa kini, maka kaum muda akan mewarisi masa depan. Tentu saja kaum muda ingin memperoleh warisan yang menguntungkan (benar, baik, dan indah). Alih-alih mengharapkan keterpurukan, kaum muda justru mendambakan kebesaran dan kejayaan.

Karena itu, bukan saja membantu dan bahu-membahu dengan kaum tua, tetapi juga kaum muda acap rewel dengan kondisi zamannya. Kaum muda tidak mau mewarisi masa depan yang suram. Tidak mau mewarisi masa depan yang menyedihkan. Tidak mau mewarisi masa depan tanpa kebanggaan, tanpa kejayaan, dan tanpa ketenangan. Maka, kaum muda pun berinvestasi dengan bekerja dan bergerak.

Banyak tokoh nasional yang bergerak sejak muda. Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka adalah beberapa diantaranya. Banyak juga peranan pemuda dalam mengarahkan sejarah. Kaum muda berjuang pada zaman pergerakan, beraksi pada Peristiwa Rengasdengklok, berperang dalam Pertempuran Surabaya, bergerak meruntuhkan Orde Lama dan Orde Baru, dan dalam kadar tertentu, proaktif membangun Reformasi.

Dalam sejarah Indonesia, kaum muda mendapatkan perhatian istimewa. Kaum muda banyak mengartikulasikan peran-peran protagonis dan kepahlawanan serta menentukan arah sejarah. Bukan saja dalam ideologisasi buku pelajaran sejarah di sekolah, melainkan juga ‘tempat duduknya’ di dalam mitos di masyarakat dan berbagai kajian ilmiah, tampak mentereng dan diistimewakan.

Beberapa mitos positif pemuda telah berkembang di masyarakat, antara lain pemuda sebagai agen perubahan (agent of change), pemuda sebagai aset atau cadangan masa depan bangsa (iron stock), pemuda sebagai agen pengontrol kondisi sosial (agent of social control), pemuda harapan bangsa, pemuda pewaris masa depan, pemuda pendobrak kejumudan, pemuda kreatif, dan seterusnya.

Banyak pernyataan, pengharapan, dan seruan inspiratif yang dialamatkan kepada kaum muda. Bung Karno – sapaan akrab Soekarno – pernah berkata, "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia." Menurutnya, kaum muda adalah manusia aksi. Bung Karno pun menegaskan, "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia."

Sewaktu pada zaman pergerakan di Belanda, Bung Hatta – sapaan akrab Mohammad Hatta – pernah berkata, “Saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia, yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan menderita.” Apa kata Tan Malaka tentang kaum muda? "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda." Iya, idealisme memang mewah, dan kemewahan ini acap dimiliki kaum muda.

Seperti berniat memprovokasi, Pramoedya Ananta Toer berujar, “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.” Lalu, pengarang Tetralogi Pulau Buru itu pun melesutkan kalimat tanya retoris ini, "Bukankah tidak ada yang lebih suci bagi seorang pemuda daripada membela kepentingan bangsanya?"

Alih-alih menyangkal, sebaiknya kaum muda mempercayai, memahami, dan mengartikulasikan dirinya sebagaimana mitos di masyarakat dan pernyataan beberapa tokoh tadi. Sebab, narasi sosial tersebut bukan saja menandakan kepercayaan dan harapan, tetapi juga sebuah doktrin sosial tentang kaum muda dalam sistem sosial. Jangan sampai kaum muda menolak kepercayaan ini, meruntuhkan harapan masyarakat, dan menyalahi doktrin.

Bukan hanya berlatih dan berposisi untuk melawan (fight againts) dan bersikap reaktif, melainkan juga sebaiknya kaum muda berlatih dan memosisikan diri untuk membangun dan bersikap proaktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terutama kaum muda yang tengah dan telah menjadi sarjana. Apalagi pada zaman Reformasi sekarang ini yang lebih membuka peluang bagi kaum muda untuk berpartisipasi atau melibatkan diri dalam urusan negeri.

Adalah berbahaya jika kuantitas dan kualitas kaum muda terus bertambah, namun tidak pernah melihat negara ini sebagai absah (legitimate), karena kaum muda tidak bisa berpartisipasi di dalamnya sesuai keinginannya. Kata pepatah, seberat-berat mata memandang, lebih berat bahu memikul; semudah-mudah orang mengkritik dari luar, lebih berat mereka yang menjalankan. Kaum muda bukan hanya harus terampil mengkritik, tetapi juga menjalankan.

Barangkali melawan cukup dengan emosi dan semangat, sedangkan sikap proaktif dan membangun harus dengan intelek dan kemampuan memecahkan persoalan. Itu sebabnya kaum muda harus berbagi tugas dalam penguasaan dan penerapan ilmu ekonomi kerakyatan, pendidikan, tata negara, sejarah, lingkungan hidup, teknisi pengairan, kedokteran, pertambangan, transportasi, telekomunikasi, dan sebagainya.

Secara umum, hal itu merupakan politik kebangsaan. Jika menjadikannya pilihan, kaum muda pun dapat terjun ke dalam kancah politik praktis, misalnya menjadi fungsionaris partai politik. Berpolitik praktis melalui partai politik adalah langkah strategis, sebab berdasarkan konstitusi, partai politik bertugas merekrut kader dan mengadakan pendidikan politik serta mendistribusikan kader-kadernya ke dalam kekuasaan untuk menangani urusan publik.

Dengan penguasaan atas intelek dan kemampuan memecahkan persoalan, tentu kaum muda yang meraih kekuasaan lebih memungkinkan menggunakannya untuk menyelesaikan berbagai persoalan publik. Berkuasa tidak melulu soal syahwat, melainkan di tangan kaum muda yang bersemangat dan heroik dapat menjadi ladang pengabdian untuk memajukan bangsa dan negara.

Alih-alih peranan proaktif dan menangani masalah publik dalam keadaan normal, tampaknya peranan kaum muda dalam sejarah lebih menonjol peranannya dalam melawan dan meruntuhkan rezim tirani. Di masa depan, sebaiknya peranan politik kaum muda juga menonjol dalam membangun bangsa dan negara kala keadaan normal. Jadi, seimbang. Kaum muda bisa melawan sekaligus dapat menata negara.

Akhirnya, sebaiknya kaum muda menginsyafi orasi Bung Karno berikut. Kesatu, Bung Karno berpesan, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang." Cita-cita dan mimpi bukan hanya visi masa depan, tetapi juga motivasi gerakan. Kalau pun belum mencapainya, setidaknya mendekatinya.

Kedua, Soekarno menyatakan, "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita." Masa depan yang ideal dan hebat bukan diberi, melainkan harus dibeli. Dengan penderitaan atau setidaknya dibeli dengan pengorbanan.

#LombaEsaiPolitik

Artikel Terkait