Sampah masih menjadi masalah besar di negeri ini. CNN mengungkapkan bahwa 24 persen sampah belum dikelola dengan baik berdasarkan riset Sustainable Waste Indonesia. Artinya, dari sekitar 65 juta ton sampah, sekitar 15 persen mencemari lingkungan, 7 persen didaur ulang, dan sisanya—69 persen—berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dari jumlah sebesar itu, 60 persennya adalah sampah organik.

Agar tak berlarut-larut, hal ini harus segera diatasi dari sumbernya. Akan tetapi, rumit dan mahalnya teknologi pengolahan sampah menjadi kendala tersendiri. Namun, kini tak perlu khawatir. Teknologi biokonversi BSF (Black Soldier Fly) menjawab permasalahan tersebut.

Biokonversi BSF merupakan metode pengolahan sampah organik yang murah dan sederhana. Hanya memerlukan larva lalat BSF untuk menguraikannya. Pemilihan lalat jenis ini bukan tanpa alasan. Selain kemampuannya mereduksi sampah, lalat BSF bukanlah vektor pembawa penyakit sehingga aman dipelihara. 

Kini, lalat tersebut mulai dibudidayakan di mana-mana. Salah satunya di Kecamatan Pesanggaran, yang dikelola oleh kelompok pemuda—PEGA Indonesia.

Dirga—salah satu anggota PEGA—mengisahkan berdirinya kelompok ini berawal dari kepedulian pemuda setempat terhadap sampah yang mencemari aliran sungai. Mereka lebih sering mendapatkan sampah ketimbang ikan setiap kali memancing. Dari sinilah timbul rasa ingin tahu bagaimana cara menanganinya. Pencarian tersebut membawa mereka mengenal maggot (larva BSF), agen biokonversi sampah yang efektif.

Tempat budi dayanya sendiri tak istimewa. Bahkan orang bisa salah mengira tempat tersebut sebagai kandang ayam dengan melihat pagar bambu yang mengelilinya.

Akan tetapi, dugaan itu berubah 180 derajat begitu kita memasukinya. Tidak ada kandang berisi ayam di sana. Yang ada adalah kotak-kotak biopot serta kandang besar untuk budi daya lalat BSF dari mulai telur hingga dewasa.

Masih menurut Dirga, cara budi daya lalat BSF ini tidaklah rumit. Telur yang sudah terkumpul ditetaskan dalam kotak-kotak khusus bertutup kain kasa. Setelah tiga hari, telur akan menetas. Enam hari kemudian, maggot dipindahkan ke area pembesaran. Pakannya adalah sampah organik yang diperoleh dari PT BSI, pasar Sanggar, dan Siliragung. 

Pada fase ini, 1 kg larva bisa mengurai sampah hingga 4-5 kg. Hebatnya, dalam proses tersebut tidak dihasilkan bau menyengat, sehingga tidak mengganggu penduduk setempat. Kalaupun ada, baru dirasakan ketika warga mendekati kotak-kotak biopot.

Hasil penguraian sampah tersebut tidak dibuang. Akan tetapi, dikumpulkan dan dicacah halus terlebih dulu sebelum dijadikan pupuk.

Karena jumlahnya terbatas, kompos tersebut belum diperdagangkan. Namun, digunakan oleh anggota PEGA Indonesia sendiri untuk menyuburkan kebun atau lahan pertaniannya. Dirga mengatakan, kelak jika jumlahnya memadai, bukan tidak mungkin kompos tersebut dijual pada khalayak ramai.

Lalu maggotnya dikemanakan? Sebagian dijual untuk pakan ternak, sebagian dijadikan bibit.

Untuk pembibitan, larva-larva pre-pupa dipindahkan ke tempat berbeda sampai menjadi pupa. Pupa yang sudah tidak bergerak ini kemudian dikumpulkan dan diletakkan di tempat kering serta tertutup. Ditunggu beberapa saat hingga menjadi lalat, baru kemudian dipindahkan ke kandang khusus. 

Kandang ini memiliki ukuran cukup besar, dengan jaring warna hitam menutupi keempat sisinya. Di dalamnya terdapat kayu dan klaras (daun pisang tua) sebagai tempat betina meletakkan telur-telurnya setelah kawin. Per ekornya bisa menghasilkan 500-900 butir telur.

Untuk harganya, tiap gram telur lalat BSF dijual seharga Rp8.000, sedangkan maggot Rp6.000/kg. Jika dijual berupa pre-pupa, 1 kg harganya Rp40.000, sedangkan pupanya Rp50.000/kg. 

Dirga mengisahkan, telur lalat BSF tersebut sudah dikirim hingga Kalimantan untuk dibudidayakan ulang. Frekuensinya mencapai dua kali dalam sebulan. Adapun maggotnya, kebanyakan digunakan untuk pakan ternak seperti bebek, ayam, atau lele.

Penggunaan maggot sebagai pakan diakui Dirga membawa banyak keuntungan. Pertama, harganya lebih murah dibandingkan konsentrat, sehingga bisa menekan biaya pakan yang tinggi.

Kedua, memiliki kandungan protein yang relatif tinggi, sekitar 40-50% dengan kandungan lemak mencapai 29-32%. Hal inilah yang menjadikan ternak tumbuh lebih cepat. Namun, agar seimbang, Dirga menyarankan untuk mencampurnya dengan bahan pangan lain.

Tidak hanya itu saja, ternyata larva lalat BSF juga bisa dijadikan minyak. Kandungan asam lemak dalam minyak tersebut ternyata sangat baik sebagai bahan obat dan kosmetik. Chitin yang terkandung pada pupa merupakan senyawa penting untuk pembuatan pelapis makanan.

Yang lebih menarik, keberadaan lalat BSF di satu tempat mampu menurunkan populasi lalat rumah. Sinyal kimia yang dikeluarkannya mencegah lalat rumah bertelur di daerah tersebut.

Selain itu, larvanya juga bersifat antivirus terhadap golongan enterovirus dan adenovirus. Enterovirus adalah penyebab penyakit HFMD (Hand, Food, and Mouth Disease), sedangkan adenovirus penyebab infeksi mata, usus, paru, dan saluran napas.

Menutup wawancara, Dirga mengisahkan, banyak perubahan yang terjadi setelah warga setempat mengetahui manfaat maggot. Yang semula mengejek, justru berbalik memberi dukungan.

Setiap pekan, ada saja yang datang ke tempat budi daya lalat BSF sambil membawa sampah dari rumahnya. Sebagai ungkapan terima kasih, Dirga atau anggota PEGA Indonesia lainnya membawakan maggot untuk pakan ternak mereka.

Sumber