Saya tidak tahu siapa manusia pertama yang menyebut istilah mager. Setahu saya mager  hanyalah akronim dari malas gerak atau bosan dengan berbagai aktivitas.

Terma ini muncul begitu saja ke permukaan, sama seperti orang-orang mengenal kata Mantul, Anjai dan semacamnya yang kemudian menjadi viral di media-media sosial dengan pelbagai ilustrasinya.

Mager, menjadi "fenomena" sekaligus "kenikmatan". Barangkali, seperti ungkap mas GM, alias kakek Goenawan Mohamad dalam salah satu esainya: "yang banal, namun tetap kita nikmati." Semoga belio selalu dalam keadaan tubuh yang sehat bugar, agar tetap bisa menulis, karena saya adalah salah satu penggemar beratnya.

***

Kembali pada mager. Saya pikir sebagian besar dari kita merasakan fenomena tersebut. Mager semacam deskripsi singkat dari manusia-manusia hari ini yang "terjebak" di tengah arus pemutakhiran teknologi yang, salah satunya dipadatkan dalam konfigurasi "gawai" dan dikantongi oleh khayalak luas seperti korek api, apa lagi sejak satu dekade terakhir.

Umumnya, kita perlahan beradaptasi dan menafsirkannya sebagai bagian dari perkembangan zaman saja, namun pada akhirnya sepakat, dinormalisasi sedemikian. Karena kita punya segala sesuatu dari apa yang disebut gawai. Dan termasuk memberi banyak kemudahan dan membikin beberapa hal menjadi praktis dan efisien.

Bahkan, dunia, seolah bisa dihimpun, juga disimpulkan lebih dekat dari itu: peristiwa, fenomena, fakta, rekayasa dan ragam informasi yang mengalir deras, hingga, hampir tak ada lagi alasan untuk menolaknya.

"Kita, bak perspektif dalam parade panjang media sosial".

Kita bisa duduk berjam-jam, bahkan seharian penuh di ruang tamu, di kamar kos-an atau di rumah kontrakan, menjulurkan kaki atau berbaring sambil memencet-mencet gawai, tak jarang pula kita berekspektasi di dalamnya: animo, ekspresi, imaji dan bahkan relasi.

Bahkan, semua itu lebih terasa nyata sejak dua tahun terakhir, dengan kemunculan pandemik (Covid-19) yang secara otomatis membuat segala aktivitas mesti dilakukan di rumah, di ruangan atau di tempat tertutup demi mencegah penyebaran pandemik.

Pendeknya, Covid-19 lebih "memperjelas" relasi manusia, wabil khusus para pelajar dan mahasiswa dengan jaminan kuota setiap pekan atau bulan. Dengan waktu belajar Online, dalam sistem daring dan sejenisnya yang hanya berkisar 4 sampai 6 jam setiap harinya. Selebihnya, sahih, menetap, rebahan dan bermalas-malasan. Melanggengkan mager!

Singkatnya, kita ditekuk lalu diringkus hal-hal yang instan, disadari atau tidak, ada titik sebuah "kebahagiaan" yang kita letakkan di sana -- pasca kemunculan Covid 19, dan semua yang tampak biasa. Alhasil, hampir tak ada yang bicara lagi soal efisiensi kuliah atau belajar daring dan semacamnya.

***

Orang-orang tak mau lagi repot, apalagi ribut, asalkan jatah kuota tak menyimpang. Jelas saja, siapakah yang tak mau kebahagiaan atau kenyamanan. Seperti manusia pada umumnya yang memiliki tujuan untuk bahagia, begitu pula yang dikatakan oleh Aristoteles, menganggap bahwa kebahagiaan adalah tujuan utama manusia hidup.

Namun, bagi Aristoteles, kebahagiaan bukanlah sebuah tujuan yang dicapai untuk mencapai tujuan lainnya. Misal, Anda bekerja untuk mendapatkan uang. Setelah Anda memiliki uang, Anda menggunakannya untuk membeli keperluan, sedangkan keperluan ada bermacam-macam. Demikian seterusnya.

Lantas adakah tujuan yang tidak melahirkan tujuan lainnya atau adakah tujuan tertinggi. Kata Aristoteles, tujuan tertinggi tersebut adalah "eudaimonia" atau kebahagiaan dalam arti well being.

Eudaimonia sendiri bagi bangsa Yunani memiliki arti kesempurnaan atau "daimon" (jiwa) yang baik, yang merupakan antitesis dari kebahagiaan yang lahir untuk mencapai tujuan lainnya.

Kebahagiaan, dalam kerangka eudaimonia bukanlah kategori-kategori subjektif yang ditentukan oleh tujuan setiap manusia. Melainkan, sebuah keserasian kebajikan dalam diri manusia yang dipusatkan pada "rasio". Sebab, rasio adalah yang mempengaruhi kegiatan dan orientasi manusia dalam kaitannya dengan pengetahuan teoretis dan keniscayaan "kontemplatif" sebagai sarana bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan yang sejati.

Dengan maksud, pengetahuan teoretis dan sedikitnya bercokol di ruang-ruang kontemplatif, dapat memberi "kesadaran" bagi manusia-manusia dalam melihat realitas. Apa lagi di era ini, tegasnya, dari setiap hal yang kita alami dan nikmati dan terus terbaharui.

Demikian, dalam kegamangan ini, dalam setiap fenomena yang tentu saja tak bisa kita tolak. Selain menerimanya, sekalipun rasio dan keyakinan kita terkadang dijungkirbalikkan, hingga tak jarang menemui kecemasan. Sementara, manusia seperti kita, yang terus tergerus setiap waktu.

Olehnya, dalam jalan-jalan terjal lintasan zaman, sebagai tanda "ke-berpikir-an", supaya memilih memberikan sedikit cahaya, ketimbang mengutuk kegelapan. Sekalipun dalam keletihan. Seumpama lewat tulisan singkat ini, dituju kita dan pada siapa pun yang "menikmati" ke-banal-an berjamaah ini.

Dan bahwa kita, tidak dilahirkan untuk "sekadar" menikmati inovasi dan interaksi dunia yang luas, melainkan untuk bertempur. Dengan kesadaran: setiap saat, tanpa jeda dan istirahat.


Tabik

Khadafi Moehamad

Sulteng - November 2021