Mahasiswa
1 bulan lalu · 342 view · 7 min baca · Cerpen 45472_85033.jpg
Foto: World Screen

Magdalena

Tidak ada mata paling lembut selain matanya. Ingin sekali aku terlelap di bawah siraman cahayanya. Tidak ada mata paling indah selain matanya. Entah berapa banyak rahasia mendekam di sana. Sepasang mata yang pandai memudarkan warna luka.

Kalau bukan karena mata itu, mungkin saja aku sudah kembali ke Magdala dan terpaksa menikah. Apalagi, kota ini tampak terlalu rawan bagi gadis desa yang sendirian sepertiku. Namun karena sepasang mata dan alasan-alasan yang bersemayam di baliknya, kuputuskan untuk tidak kembali. Tentu saja, dengan demikian, aku meninggalkan keluargaku untuk selama-lamanya.

Lagipula aku tidak ingin dijodohkan dengan pria pilihan ayah. Dua adik perempuanku telah menikah dengan cara yang sama. Setelah dipaksa oleh ayah, Lina akhirnya menikah dengan Laus, pemilik kebun anggur terkaya di kampung. Tentu saja, lelaki itu lebih tua dari Lina. Ini pernikahannya yang ketiga setelah dua istri sebelumnya meninggal dunia. Bahkan jika membuat perbandingan, ayah lebih muda lima tahun. 

Sementara itu, Risna cukup beruntung karena dipinang oleh anak kepala suku. Sebagai orangtua, ayah tentu mengira ada yang salah jika aku anak sulungnya, belum juga menikah. Sampai-sampai ia mendakwa bahwa aku kerasukan roh jahat sehingga tidak mau menikah. Dengan sigap, ia merencanakan pertunanganku dengan saudagar domba dari daerah seberang. 

Setelah mendengar rencana itu dari para tetangga, aku menyusun siasat. Pada suatu malam, setelah semua penghuni Magdala terlelap, aku melarikan diri.

Berbekalkan keberanian dan rasa ingin tahu, aku berangkat ke kota. Seumur hidupku, baru kali ini aku mengerti apa itu kota. Langkahku berhenti sebentar di depan gerbang kota. Sejauh mata memandang, kusaksikan begitu banyak gedung bertingkat menyebar bagai jamur di musim hujan. 

Tepat di tengah kota, sebuah menara dengan ujung yang runcing nyaris menyentuh langit. Di bawah kaki menara, orang-orang sibuk hilir mudik saling berdesakan. Nyaris tak ada celah sedikitpun bahkan bagi seekor kambing untuk melintas. Aku juga mulai mengerti mengapa banyak warga dari Magdala sering bepergian ke kota. Mungkin, bagi mereka, desa terlalu kecil untuk memuaskan rasa sepi.

Dengan susah payah, kuberusaha menerobos kerumunan manusia tersebut dan terus berjalan. Kedua kakiku mulai letih sebelum akhirnya aku berhenti di depan rumah ibadah. Siapa saja yang melintas di sini tahu kalau itu rumah ibadah. Aroma kemenyan dan dupa menguar di mana-mana pertanda bahwa sedang digelar kebaktian. 

Tepat di depan pintu masuk, segerombolan orang duduk bersila di tanah membentuk setengah lingkaran. Di hadapan mereka, berdiri seorang pemuda. Dari jarak yang begitu dekat, aku tahu kalau ia sedang mengajar. Sambil berbicara, sesekali ia melemparkan pandangan ke arahku. Seolah-olah memintaku untuk singgah meski sebentar. Dilanda rasa ingin tahu yang begitu hebat, aku memilih bertahan di situ.

“Tidak ada cinta yang paling besar selain dari cinta seseorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya,” demikian pemuda itu berkata sambil menatapku dalam-dalam.

Orang-orang mengangguk-angguk. Aku gugup bukan main. Seumur hidupku, belum pernah kudengar definisi cinta dengan tuntutan pengorbanan sebesar itu. Aku hanya tahu pasti satu hal. Sebagai seorang perempuan, aku diajarkan bahwa mencintai berarti menikah. Tidak ada jalan lain. Apalagi menjadi perawan hingga tua. Itu aib bagi masyarakat dan kutukan bagi orangtua.

Selesai mengajar, pemuda itu melangkah pergi meninggalkan kerumunan orang sambil berkata, “Barangsiapa hendak mengikuti aku, ia harus membenci ayah dan ibunya, saudara-saudarinya, bahkan dirinya sendiri.” Mendengar itu, aku luar biasa terkejut. Apakah orang ini sedang mengolok-olok aku? Demikian aku membatin.

Tanpa berpikir panjang, kuputuskan untuk mengikuti pemuda itu. Bersamanya ada sekitar dua belas orang pemuda lain. Mula-mula salah satu dari dua belas orang itu menyampaikan keberatan mengenai adanya perempuan dalam kelompok mereka. Namun dengan tenang, pemuda itu menyakinkan mereka bahwa tanggung jawabku sebagai seorang perempuan jauh lebih besar. Meskipun belum paham apa yang ia maksudkan, mereka akhirnya setuju juga.

Di sela-sela perjalanan kami dari satu kota ke kota lain, pemuda itu berbicara tentang banyak hal. Kadang ia menyampaikan pendapatnya tentang berkebun, melaut, dan menggembalakan ternak. Lain waktu ia berbicara tentang pemerintah dan ahli kitab. 

Dengan wawasan seluas itu, tentu aku menduga ia kutu buku nomor satu. Entah sudah berapa ribu buku yang ia baca agar bisa berbicara sebijak ini. Namun aku kembali ragu. Bagaimana mungkin itu terjadi sebab buku hanya dimiliki oleh kaum bangsawan?

Namun bukan karena kecerdasan semacam itu yang membuat aku terpesona. Aku jatuh hati padanya justru karena perbuatan-perbuatannya. Aku jatuh hati ketika dengan penuh ketulusan ia mengobati seekor burung yang patah sayapnya. Pernah, hatiku luluh tatkala ia menyembuhkan penderita penyakit kusta, mengampuni para pelacur, bahkan membuat orang buta melihat. 

Dan ketika ia membela seorang janda miskin di hadapan orang-orang kaya, aku menyadari betapa tak pantasnya aku telah memendam perasaan demikian padanya.

Seorang perempuan dari desa terpencil bernama Magdala, bagaimana mungkin pantas bersanding dengan pemuda luar biasa ini? Demikian aku bergulat dengan diriku sendiri. Aku tidak ingin merusak persahabatanku dengan dua belas kawan yang lain terutama dengan pemuda itu. Aku tidak mau menabur api di atas sekam hanya karena fantasi cinta yang dangkal seperti ini. 

Akhirnya, kuputuskan untuk mencintainya dalam hatiku sendiri. Tanpa seorang pun tahu, aku takut kehilangan dirinya. Hingga ketika menyadari semuanya ini, aku menangis.

“Mengapa engkau menangis?”

Terdengar sebuah suara lembut di belakangku. Tanpa perlu menoleh, aku tahu siapa yang berbicara. Pemuda itu berjalan mendekat dan duduk tepat di sisi kiriku. Kami duduk berdua di atas bukit sambil memandang ke arah kota. Dua belas orang yang lain mungkin telah lelap dalam kemah. Seharian tadi kami menghabiskan waktu dengan berjalan dan mengajar di pesisir danau Genesaret.

“Belum tidur juga, guru?” Aku bertanya demikian karena tidak tahu apa lagi yang mesti dikatakan. Aku benar-benar gugup. 

Ini kali pertama kami duduk berdua dengan jarak sedekat itu. Tanpa menggubris pertanyaanku, ia mengucapkan sesuatu yang menjelma duri dan tersangkut di tenggorokanku.

“Waktuku sudah dekat. Aku akan pergi.”

Mendengar itu, kupandangi wajahnya dengan rasa heran. Ia melemparkan senyum ke arahku sambil meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tentu saja aku bisa menebak: sesuatu yang buruk akan terjadi.

Tepatlah dugaanku. Keesokan harinya pemuda itu ditangkap oleh prajurit utusan pemerintah. Ia lalu dibawa ke pengadilan kota. Kata orang-orang, ia menghina pemerintah dan agama. Sebagaimana umumnya pengadilan waktu itu, ganjaran bagi pemuda itu yakni hukuman mati.

Dua ribu tahun kemudian, hingga saat ini, orang-orang mengenang pemuda itu dengan nama Yesus.

***

Ayah memarahiku habis-habisan setelah mengetahui bahwa selama di New Delhi, aku tidak kuliah. Sebagai puteri sulung tentu ayah dan ibu menggantungkan masa depan keluarga padaku. Apalagi saat ini aku menginjak usia yang dianggap tepat untuk menikah. Namun apa boleh buat, aku memiliki keputusan lain. Aku meninggalkan bangku kuliah.

Semuanya berawal dari sebuah alasan sederhana yang, menurutku orang kebanyakan, sangat tidak masuk akal. Aku berhenti kuliah karena membaca kisah Magdalena. Aku ceritakan hal ini kepada beberapa kawanku. 

Bisa ditebak. Mereka menganggapku sinting. Beberapa yang lain menganggapku tolol karena percaya pada mitos. Untuk meyakinkanku, seseorang dari antara mereka membeberkan temuan historis mengenai adanya unsur fiktif dari kisah tersebut. Namun aku tidak peduli.

“Bagaimana mungkin kamu mampu mencintai sesuatu yang tak dapat dilihat dengan mata,” kata Rahij, salah seorang sahabatku.

“Apa itu cinta?” Aku balik bertanya karena merasa sahabatku itu berbicara seolah-olah dia tahu cinta itu apa.

“Cinta itu konkret dan harus berwujud. Omong kosong kalau itu hanya ada di dalam kepalamu saja,” timpal Kiran dengan nada kesal.

Mendengar itu, jujur, aku tidak ingin melanjutkan perdebatan ini menjadi panjang. Meskipun begitu, aku merasa perlu memberikan penjelasan, sekurang-kurangnya agar mereka bisa memahami tekadku.

“Ada hal yang tidak bisa dilihat dengan mata,” kataku dengan bibir gemetar sambil melanjutkan, “Bagaimana caranya kita melukiskan bunyi? Dengan cara apa kita merayakan kesedihan dan menyelami luka. Sarana apa yang kita gunakan untuk menjelaskan arti kemanusiaan?”

Mereka terdiam. “Ada hal yang tidak sanggup dilihat dengan mata melainkan hati,” kataku sekali lagi.

Seperti ayah dan ibu, mungkin mereka sedih karena ditinggal pergi olehku. Aku tahu itu. Namun cintaku sekuat maut dan aku berani menanggung segala risiko demi cinta jenis ini. Tanpa kecuali. Tanpa keraguan sedikit pun. 

Bahkan, beberapa tahun kemudian, setelah menjadi biarawati dan diserang penyakit, aku sama sekali tidak kaget. Sepertinya tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Aku terlalu sibuk melayani sesama sampai melupakan apa itu rasa sakit. 

Kata salah seorang perawat, virus yang menyerang sistem imun tubuhku itu berasal dari kawasan kumuh perkotaan tempat aku bekerja. Aku tidak peduli. Sebaliknya, aku tersenyum bahagia. Diam-diam aku mulai memikirkan hal ini. Akan betapa sibuknya manusia mencari cinta setelah aku pergi. Sayangnya, dunia dihuni oleh makhluk yang terlalu rumit untuk mengerti bahwa cinta itu sederhana.

Sebelum segala sesuatu memudar dan kegelapan menyelimuti pandanganku, kusakasikan sepasang mata sedang menatap mataku. Sepasang mata yang pandai memudarkan warna luka. Sejurus kemudian, terdengar suara isak tangis memenuhi seluruh ruangan. New Delhi berduka.

Di berbagai media massa tertulis, “Mother Theresa dari Calcuta Wafat”.

Artikel Terkait