Arsiparis
2 bulan lalu · 58 view · 3 menit baca · Olahraga 15016_13377.jpg
fourfourtwo.com

Mafia Bola dan Nyawa Suporter yang Sia Sia

Menengok data terbaru yang dirilis oleh FIFA di situs fifa.com,  peringkat tim nasional sepakbola kita berada di peringkat 160 per oktober 2018. Itu masih mending, karena kita pernah menduduki peringkat 179. Peringkat yang sangat jauh di bawah dan tentunya memalukan. 

Bagi sebagian insan sepakbola di Indonesia, 179 adalah peringkat paling anjlok yang pernah dihuni tim sepakbola kita. Kenyataan ini harus kita terima dengan lapang dada mengingat tim sepakbola kita memang minim dan bahkan hampir tidak pernah meraih gelar apapun semenjak tahun 1991.

Prestasi di tingkat regional pun sudah sulit kita raih. Emas Sea Games pun terakhir diraih tahun 1991 di  Manila. Bahkan piala Tiger pun, turnamen sepak bola regional di Asia Tenggara kategori tim senior, belum pernah sekalipun kita raih.

Ditambah lagi kini dengan ramainya kasus pengaturan skor di liga kita, membuat kita miris mengikuti perkembangan sepakbola di Indonesia. Bagaimana bisa berprestasi jika iklim berkompetisi kita sudah cacat saat ada kesepakatan kesepakatan di bawah tangan sebelum pertandingan.

Tentunya sebagai suporter sepakbola penulis dan mungkin juga pembaca sependapat bahwa apa yang dilakukan oleh para mafia pengaturan skor (match fixing) pertandingan itu telah membohongi dan menghianati nurani supporter sepakbola tanah air.

Suporter sepakbola tanaj air yang kita tahu begitu militan dalam mendukung tim kesayangannya seolah tertipu.  Mereka yang membela timnya bahkan dengan taruhan nyawa, ingat sudah lebih dari sekali berita tewasnya supporter sepakbola ditanah air, seakan sia sia belaka.

Apa yang telah mereka lakukan selama ini hanyalah kesia siaan mengingat tim yang telah dukung dan bela sampai mati hanya melakukan dagelan semata. Mereka, para supporter itu tidak tahu bahwa saat mereka berteriak  teriak, kedua tim sudah tahu hasilnya.  Lantas setiap nyawa itu untuk siapa?

Nama nama petinggi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia  (PSSI)  disebut terlibat dalam kasus ini, juga nama petugas nama yang terlibat langsung saat pertandingan, wasit, ofisial tim, dan beberapa pemain. Sebuah mata rantai yang sempurna untuk sebuah kongkalikong kejahatan dunia olahraga.

Mungkin mereka beralasa, bahwa kejahatan seperti ini ada di setiap negara. dan pembenaran seperti ini sangat konyol saat kita menyerah dalam cengkeraman tangan mafia. Mental rakus dan buta akan uang mendekatkan kita pada  Perjudian.

Ketika mafia judi mengambil peran dalam setiap pertandingan olahraga tentunya ada uang yang bermain dan ini adalah senjata mereka untuk memainkan dan mengatur pelaku pelaku olahraga untuk menjadi pemain teater. Dan supporter sekali lagi adalah pihak yang dirugikan.

Para supporter itu datang ke stadion untuk menikmati, bahkan dilakukan hingga mati, untuk menikmati pertandingan dan memberikan kekuatan moral untuk tim yang didukungnya. Namun, ketika mafia bola ini terungkap saya yakin ada kekecewaan di hati mereka dan menyadari bahwa mereka melakukan tindakan bodoh karena di lapangan pertandingan sudah sesuai skenario para mafia.

Suap adalah jalan pintas untuk memperoleh kekayaan, sebagaimana korupsi yang sudah terbiasa di negara kita. Kita yang melihat dunia olahraga adalah dunia fairplay dan sportifitas menjadi kecewa. Ternyata di negeri ini semua kegiatan yang melibatkan sebuah transaksi pasti ada uang kotor di dalamnya.

Kembali ke kiprah PSSI, apakah kita masih bisa berharap prestasi kepadanya? Saat semua yang berkepentingan di dalamnya lebih tergoda uang daripada kemsyhuran sebuah prestasi.

Saatnya para supporter untuk mengkaji kembali militansi yang pernah mereka lakukan terhadap tim kesayangannya. Masih bernilaikan pengorbanan materiil mereka untuk membela sebuah tim yang bisa jadi telah termakan oleh godaan mafia judi.

Kesiasiaan jangan lagi terjadi. Korban nyawa ternyata tak lagi menyadarkan mereka untuk bertanding sesuai hati nurani. Marilah merayakan teater sepakbola ini dengan gembira. Bersorak untuk menikmati adegan adegan yang memang sudah tertata.

Kenapa kita harus bergesekan dengan sesama penikmat teater olahraga. Stop untuk berkorban nyawa.

Agar sepakbola tidak semakin lucu, saat skenario hasil pertandingan sudah tercatat di tangan para mafia bola, mari kita bersama menghargai apa yang telah dilakukan oleh suporter sepak bola tanah air. Suporter butuh prestasi bukan dagelan yang membohongi mereka.

Suporter kita terkenal dengan militansi dan melakukan segalanya dengan hati. Bahkan merka melakukannya dengan taruhan, Mati.

Semua pemain internasional kaget dengan supporter kita saat mereka bertandang ke Stadiun Gelora Bung Karno. Animo dan aura militansi yang besar, kata mereka suatu ketika, hanya bisa disaingi oleh gemuruh orang Brazil saat mendukung Tim Brazil di Stadion Maracana.

Sekarang ini waktunya  kita menyadari saat ada nyawa suporter melayang saat mereka mempertaruhkan  harga diri dalam membela timnya. Nah, saat tim yang dibela ternyata tergiur uang mafia, lantas nyawa mereka untuk Siapa? Salam Olahraga.