Senin pagi kemarin, penulis menunggu dimulainya kelas. Sembari menunggu, penulis pun berselancar di Mbah Google. 

Ketika berselancar, perhatian penulis tertarik pada satu artikel berjudul Venezuela’s Capital Is Booming. Is This the End of the Revolution?. Tulisan dari Anatoly Kurmanaev dan Isayen Herrera sungguh menarik. Ia menceritakan suatu fenomena ekonomi baru di Venezuela.

Fenomena itu adalah liberalisasi ekonomi. Kini, pemerintah Venezuela sudah mengurangi intervensinya dalam bidang ekonomi. Deregulasi di berbagai sektor dilakukan dengan sangat cepat. 

Selain itu, mata uang Dollar AS juga diizinkan sebagai alat transaksi. Selanjutnya, pemerintah juga mulai mengizinkan investasi sektor swasta dalam minyak bumi. Terakhir, belanja pemerintah dalam program sosial dipotong.

Dampak liberalisasi ini langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya kelas menengah dan kelas atas. Kini, toko-toko yang sebelumnya kehabisan bahan makanan mulai terisi oleh bahan pangan impor. 

Selain itu, barang-barang impor lain juga mulai membanjiri Venezuela, mulai dari popok sampai mobil mewah. Kini, mereka dapat menikmati berbagai material goods yang hilang sejak krisis mendera.

Tensi politik masyarakat menurun berkat liberalisasi ini. Kini, keluhan dan amarah yang mereka ekspresikan lewat violent disorder mulai ditanggapi oleh pemerintah. Kesannya, kini pemerintahan Maduro menjadi pragmatis dan "mendengarkan suara rakyat". Lebih jauh lagi, akhirnya mereka terlihat mengerti akan penderitaan riil yang diderita Venezuelans.

Bisnis-bisnis baru juga menjamur berkat liberalisasi ini. Jutaan rakyat Venezuela yang menerima remitansi kini bebas menggunakan uang tersebut. Daya beli mereka meningkat secara instan. 

Digabungkan dengan deregulasi bisnis, ini memicu boom di wilayah-wilayah yang better off. Berbagai restoran, bar, dan lain sebagainya muncul untuk memanfaatkan peningkatan konsumerisme ini (Kurmanaev dan Herrera dalam nytimes.com, 2020).

Uniknya, sanksi ekonomi AS terhadap Venezuela justru mendorong boom ini. Fenomena ini tidak aneh dalam perekonomian yang mengalami isolasi dari negara luar. 

Adanya sanksi ekonomi mendorong kelas menengah dan kelas atas untuk membelanjakan uang mereka di dalam negeri. Dengan kata lain, mereka mendorong luxury goods spending di dalam negeri. Dampaknya, perekonomian domestik pun bertumbuh lebih pesat.

Sejauh ini, liberalisasi berdampak positif terhadap ekonomi Venezuela. Akan tetapi, bagaimana dengan rakyat kelas bawah yang tidak memiliki Dollar AS? Mereka tidak menikmati peningkatan kemakmuran tersebut. 

Mengapa? Sebab mereka bergantung pada program pemerintah yang menggunakan mata uang Bolivar. Daya beli mata uang ini sudah hancur karena hiperinflasi selama empat tahun terakhir. Sehingga, daya beli mereka mandek.

Lantas, perbedaan kenaikan daya beli inilah yang mendorong ketimpangan ekonomi di masyarakat Venezuela. Outcome ini kontras dengan retorika Maduro yang super-sosialis. Apalagi Beliau selalu menggunakan predikat "penerus pilihan Chavez" sebagai kartu truf. 

Seandainya Chavez masih hidup, Beliau pasti marah besar dengan Maduro. He would be rolling in his grave. Bayangkan, pria yang dipercaya sebagai penerus obor Revolusi Bolivarian justru mengakhiri revolusi tersebut.

Bahkan, mantan Wakil Presiden Chavez, Elias Jaua menanggapi reformasi ekonomi Maduro secara sinis (Kurmanaev dan Herrera dalam nytimes.com, 2020):

“This is savage capitalism that erases years of struggle.” 

Namun, apakah revolusi ini benar-benar diakhiri? Yes, in economic terms. Tetapi, metode Chavez dalam mempertahankan kekuasaan politik tetap digunakan. 

Represi oposisi tetap dilakukan seperti sebelumnya. Retorika populis-sosialis juga tetap keluar dari mulut Maduro, bak mantra ajaib yang mampu menghipnotis massa. The Cult of Chavez juga bertahan dalam lingkaran kekuasaan. Beliau tetap dipuja bak dewa.

Sehingga, paduan liberalisasi ekonomi dan represi politik ini membuat Venezuela mirip Republik Rakyat Tiongkok. Bahkan, beberapa pengamat menjulukinya sebagai tropical China

Begitu pula dengan pemimpinnya. Kini, Maduro terlihat menjadi seperti Deng Xiaoping di era 1980an. Seorang reformator ekonomi yang menggilas musuh-musuh politiknya.

Sama dengan Deng Xiaoping, Maduro berusaha menggunakan new found prosperity sebagai legitimasi kekuasaan. Membuat rakyat Venezuela bebas dan kenyang agar mereka senang dengan pemerintahan Maduro. Diharapkan, kegembiraan ini diejawantahkan pula secara politik.

Lantas, premis yang berlaku dalam pemerintahan berubah. Pada masa Chavez, slogan yang berlaku adalah, "Give me political power and I'll make you more equal." Kini, slogan yang berlaku de facto menjadi, "Give me political power and I'll give you economic prosperity." 

Kontrak sosial inilah yang menjadi formula kesuksesan ekonomi RRT di tahun 1980an. Deng Xiaoping sebagai diktator berusaha mendorong kemakmuran rakyat Tiongkok lewat liberalisasi ekonomi dalam berbagai bidang. 

Lantas, liberalisasi ekonomi ini dilakukan di bawah struktur politik yang diktatorial. "Restructure under the old system, by direct control, so nobody can say no," rangkum Lee Kuan Yew dalam Commanding Heights.

Kesimpulannya, Maduro melakukan sebuah pola kebijakan yang sudah dilakukan para strongman sejak dulu. Melakukan liberalisasi ekonomi untuk meraup legitimasi politik. Dengan cara ini, Beliau membuang Revolusi Bolivarian ke tong sampah. Namun, rezim United Socialist Party yang berjalan sejak 1998 akan memeroleh nafas baru secara politik.

Semoga Venezuela bisa segera kembali menjadi demokrasi. Bukan sebuah negara yang dipimpin oleh otokrat sosialis.