“Real Madrid shirt is white, can be stained with mud, sweat and even with blood but never shame”. Kira-kira begitulah ucapan Santiago Bernabeu Yeste. Salah satu nama yang paling penting dalam sejarah panjang klub sepak bola asal Spanyol Real Madrid. Legenda yang dulunya pernah menjadi Pemain, Asisten Pelatih, Direktur Olahraga hingga Presiden Real Madrid yang namanya kini diabadikan menjadi nama Stadium kebanggaan Real Madrid, Estadio Santiago Bernabeu.

Ucapan yang saya kutip di atas merupakan salah satu ucapan yang populer dari Santiago Bernabeu Yeste semasa menjabat Presiden Real Madrid pada 35 kepemimpinannya di Real Madrid pada periode 1943–1978.

Ucapan itu biasanya selalu diungkapkan Santiago Bernabeu ketika mendatangkan pemain baru, memulai musim baru, mengakhiri musim, juga ketika Real Madrid mengalami kekalahan demi kekalahan di setiap pertandingan. Santiago Bernabeu kemudian melembagakan ucapannya itu dengan sebutan Madridismo.

Nilai utama dari konsep Madridismo adalah “señorío”. Istilah Señorio merupakan bahasa Spanyol, yang jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Kekuasaan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan sejarah pemerintahan di Spanyol yang merupakan negara Monarki yang dipimpin oleh Raja.

Real Madrid adalah salah satu dari beberapa klub di Spanyol yang diberikan oleh patronase kerajaan sehingga menggunakan kata “Real” yang secara kasat mata bisa kita lihat di lambangnya terdapat Mahkota.

Konsep Señorío adalah sebuah konsep yang berhubungan dengan Bangsawan. Sejak awal didirikan Real Madrid telah mencoba menggambarkan tingkat kelas yang berbeda dengan klub lain. Martabat dalam perilaku para pemain hingga Manajemen klub Real Madrid di dalam dan luar lapangan harus menunjukan kelas seorang bangsawan yang penuh dengan kehormatan.

Tuntutan inilah yang kemudian selalu membebani Real Madrid untuk selalu menjadi yang terbaik setiap musimnya. Selalu mencoba menjadi klub paling kaya di dunia. Mencoba mendirikan stadium sepak bola termegah di dunia, selalu mencoba mendapatkan pemain sepak bola terbaik dengan harga berapapun hingga menjadi Brand klub sepak bola paling populer di kolong langit ini.

Wujud yang nyata dari Semangat Madridismo ini adalah terpilihnya Real Madrid menjadi klub terbaik abad ke-20 versi FIFA pada tanggal 6 Desember 2000 lalu.

Periode Buruk

Beberapa bulan terakhir ini Real Madrid menghadapi sebuah periode yang sangat buruk. Karena, secara beruntun menghadapi masalah yang tidak seharusnya terjadi. Bagaimana tidak, Pada bulan desember 2015 yang lalu Real Madrid harus tersingkir dari ajang Copa del Rey.

Pasalnya, Real Madrid menurunkan Denis Cherisev melawan Klub Divisi III Spanyol Cadiz. Padahal pemain tersebut masih mengalami hukumuan akumulasi kartu kuning setelah kembali dari peminjaman klub sebelumnya, Villareal. Akibat kecerobahan itu Real Madrid Diskualifikasi dari ajang Copa Del Rey oleh Federasi Sepak Bola Spanyol.

Selanjutnya, Pada Januari 2016 yang lalu Real Madrid harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak boleh aktif di dua Bursa Transfer. Hal ini disebabkan karena otoritas sepak bola tertinggi dunia FIFA menghukum Real Madrid akibat melakukan pelanggaran trasfer pemain di bawah umur.

Tentunya ini hal yang tidak perlu terjadi mengingat dalam setiap bursa transfer Real Madrid merupakan salah satu klub yang paling aktif dalam melakukan aktivitas transfer setiap musimnya. Di bulan yang sama pada Januari 2016, Real Madrid juga telah memecat Pelatih Rafa Benitez.

Hal ini disebabkan Benitez dianggap mendatangkan kekacauan di ruang ganti pemain dan tidak mendapatkan kepercayaan dari para pemain Real Madrid. Buntutnya posisi Benitez sebagai pelatih kepala digantikan oleh Zinedine Zidane yang juga merupakan legenda Real Madrid.

Harapan tentang kebangkitan Real Madrid sebenarnya mulai tumbuh kala Zidane berhasil membawa Real Madrid menang besar di dua pertandingan pertamanya. Namun, hasil imbang melawan Real Betis dan Malaga serta kekalahan di kandang dalam laga Derby Madrid melawan Atletico Madrid pada akhir pekan lalu menyulut kemarahan Madridista.

Pada laga yang dimenangkan Atletico 1-0 itu kita menyaksikan betapa Madridista yang hadir di Santiago Bernabeu begitu kecewa. Dimulai sejak Menit ke-80an satu persatu Madridista meninggalkan Stadium, meski laga belum berakhir. Sementara para Madridista yang masih ada di stadium Santiago Bernabeu menyanyikan chants “Florentino (Presiden Real Madrid) Mundur”.

Semangat Madridismo

Tidak dapat dipungkiri fans merupakan salah satu elemen paling penting yang harus di miliki sebuah klub sepak bola, termasuk Real Madrid. Hal ini disebabkan roda bisnis sebuah klub ujung tombaknya adalah Fans. Pendapatan klub yang diperoleh dari Sponsor, Hak siar, Jersey, Tiket serta Member berasal dari fans yang dimiliki klub tersebut.

Jika, pada akhirnya Madridista menuntut untuk setiap permaian indah, konsisten dan gelar merupakan aksi-reaksi dari apa yang telah mereka korbankan untuk Real Madrid.

Namun, Menjadi Madridista tidak melulu soal kemenangan saja. Ada banyak alasan seseorang menjadi Madridista. Ada yang mencintai Klub ini karena Jumlah Tropynya yang banyak, ada yang mencintai klub ini karena Stadiumnya yang megah, ada yang mencintai klub ini karena statusnya sebagai klub terkaya didunia.

Hal paling sering kita temui adalah alasan seseorang mulai mencintai klub ini karena pemain tertentu misalnya Raul, Zidane, Iker Casillas, Kaka, Cristiano Ronaldo, KAKA dan pemain lainnya. Sebaliknya, seseorang bisa saja berhenti menjadi Madridista karena para pemain yang diidolakan pindah dari Real Madrid atau kekalahan-kekalahan yang dialami Real Madrid Selama ini.

Tidak pernah ada batasan sesorang mencintai Real Madrid, sebab fanatisme dalam menjadi Madridista bukan sebuah paksaan karena sifatnya tidak materialis. Menjadi Madridista adalah sebuah kebanggaan dalam mencintai sebuah klub sepak bola.

Kembali kemasa lalu. Real Madrid juga pernah melalui periode yang sangat buruk pada dua dekade terakhir. Pada periode musim 2003-2006 real Madrid mengakhiri musim dengan tanpa gelar, periode 2004-2010 selalu gagal di 16 besar Liga Champions serta 12 tahun (2002-2014) tanpa gelar Liga Champions.

Saat ini Real Madrid sudah tersingkir di ajang Copa Del Rey dan berada di posisi 3 Liga dengan selisih 12 poin dari Barcelona. Keterpurukan itu seakan kembali lagi. Harapan Madridista saat ini satu-satunya hanyalah ajang Liga Champions, andaipun Real Madrid harus tersingkir di ajang tersebut.

Ingat, Madridismo mengajarkan tentang Martabat, Kehormatan dan Nilai dalam Madridismo. Kembali ke ucapan Santiago Bernabeu Yeste : “Jersey Real Madrid berwarna putih, Bisa kotor karena lumpur, keringat dan bahkan oleh darah tetapi tidak pernah karena rasa malu”. Hala Madrid.