Undang-undang Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa lembaga pendidikan madrasah merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak bisa dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. 

Lembaga pendidikan formal yang dikelola -Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem dan berada di bawah naungan Kementerian Agama ini berbentuk Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), yang secara yuridis mempunyai kesetaraan dengan lembaga pendidikan sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam beberapa hal madrasah mempunyai keunikan tersendiri, di mana porsi pembelajaran keagamaan lebih dominan dan intensif ketimbang pembelajaran lainnya. Oleh sebab itu madrasah mempunyai ciri tersendiri dan inilah yang “membedakan” antara madrasah dengan sekolah. 

Namun secara keseluruhan proses pembelajaran sama saja dengan proses yang dilaksanakan di sekolah. Artinya, berbicara Raudhatul Athfal (RA), sama saja berbicara Taman Kanak-Kanak (TK), demikian juga dengan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sama saja membicarakan Sekolah Dasar (SD). 

Membahas persoalan Madrasah Tsanawiyah (MTs) juga begitu, artinya kita juga membahas tentang Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Aliyah (MA) berarti pula membincangkan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Madrasah lahir dan dibesarkan oleh semangat yang menjunjung tinggi komitmen keagamaan. Jika melihat perkembangan madrasah dari tahun ke tahun, posisi madrasah di tengah masyarakat khususnya masyarakat yang beragama Islam, telah membuat madrasah tetap bertahan bahkan cenderung semakin diminati oleh masyarakat. 

Kekuatan masyarakat yang diikat oleh semangat keagamaan inilah yang membuat madrasah mampu bertahan di tengah gelombang kompetisi dunia pendidikan nasional yang terus berjalan. 

Sekalipun di sana-sini berdiri lembaga pendidikan yang sudah masuk dalam katagori “go international” atau bertaraf internasional, madrasah tetap saja bertahan seiring dengan dinamika masyarakat yang terus mendukungnya.

Kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap madrasah, terbukti terus meningkat. Oleh karena itu perkembangan madrasah dari tahun ke tahun patut diapresiasi karena baik jumlah lembaga maupun siswanya terus bertambah.

Kondisi ini tentu saja membuat dinamika pendidikan madrasah semakin berkembang dan pemerintah-pun bergairah untuk terus mendorong kemajuan madrasah. 

Bantuan-bantuan untuk madrasah terus mengalir guna memenuhi kebutuhan pengelolaan madrasah yang sesuai dengan standar nasional pendidikan. Mulai dari bantuan sarana, bantuan kesiswaan, guru, termasuk di dalamnya adalah bantuan peningkatan mutu manajemen madrasah.

Namun demikian, jika menakar perhitungan persentase antara jumlah madrasah negeri dan madrasah swasta, di provinsi Jawa Barat saja menunjukkan perimbangan yang tidak ideal. Jumlah madrasah negeri masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah madrasah swasta. 

Fakta ini tentu saja menjadi hambatan yang cukup berarti pada saat berbagai pihak mencoba menghapus kecenderungan masyarakat terhadap pemikiran “negeri mainded” dalam menyekolahkan anak-anaknya. 

Bagaimanapun juga, harus diakui jika masyarakat kita masih sangat terobsesi terhadap sekolah/madrasah negeri daripada kepada sekolah/madrasah swasta. Semua orang tua ngotot ingin memasukkan anaknya ke sekolah atau madrasah negeri daripada sekolah atau madrasah swasta. 

Oleh sebab itu proses penegerian madrasah nampaknya harus terus diupayakan agar kepercayaan yang diberikan masyarakat terhadap madrasah bisa tetap dipertahankan.

Proses pe-negeri-an ini perlu dilakukan seiring dengan penyaluran bantuan lainnya kepada madrasah swasta karena bagaimanapun madrasah swasta masih perlu dukungan bantuan dan layanan madrasah negeri. 

Yayasan sebagai representasi dari masyarakat penyelenggara madrasah, mayoritas masih mengandalkan bantuan dari pemerintah untuk menghidupkan dan melanjutkan perjuangannya dalam mengelola pendidikan di madrasah. 

Demikian juga dalam hal mengakses hubungan instansional, madrasah negeri masih diharapkan bisa terus menjembatani kepada madrasah swasta. Betapa-pun demikian, di antara persaingan negeri dan swasta tersebut tetap saja terjalin hubungan kuat di antara keluarga madrasah yang diikat oleh komitmen keagamaan tadi.

Untuk menjadikan madrasah sebagai kebanggaan semua pihak tentunya diperlukan berbagai strategi pengelolaan yang penerapannya untuk memosisikan madrasah pada posisi yang terhormat, diakui dan dirasakan manfaatnya. Dilain pihak, strategi pengelolaan madrasah harus terus diperbaharui sejalan dengan dinamika perkembangan zaman yang terus berubah. 

Strategi ini di samping bermanfaat untuk pengembangan madrasah dikemudian hari, juga mampu berorientasi pada konsep dasar madrasah, bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang senantiasa menjunjung tinggi nilai moral (moral value).

Strategi ini selanjutnya harus bisa membuka wawasan dan keyakinan masyarakat bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang posisinya sebagai jembatan emas untuk menuju masa depan yang lebih baik. 

Pada gilirannya nanti madrasah akan menjadi lembaga pendidikan kebanggaan masyarakat, karena madrasah adalah lembaga pendidikan yang berbasis pada penanaman nilai-nilai moral, keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta budi pekerti luhur.

Beberapa strategi yang mungkin bisa dilaksanakan oleh para pengelola pendidikan madrasah, antara lain pertama : strategi pengembangan kelembagaan. Strategi ini lebih menekankan kepada aspek penataan, penyusunan peta penyebaran aksebilitas madrasah, serta menentukan kelayakan program dan / atau satuan pendidikan madrasah dalam bentuk akreditasi. 

Menata lembaga madrasah dari aspek kelembagaan identik dengan menyusun skema tentang profil sebuah madrasah dan menjaring data tentang keseluruhan informasi yang menyangkut madrasah. 

Dengan cara ini masyarakat akan dengan mudah mendapatkan informasi tentang madrasah dan tidak sulit untuk mengaksesnya. Masyarakat harus tahu apa itu madrasah, bagaimana keadaannya, dan di mana lokasinya.

Selanjutnya madrasah pun harus mempunyai identitas tentang kelayakannya. Maka sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Akreditasi Sekolah/Madrasah, madrasah harus diakreditasi dengan maksud agar mutu dan kelayakan madrasah bisa diketahui. 

Lewat akreditasi ini, pada akhirnya akan didapat informasi tentang seberapa besar mutu, kualitas dan kelayakan madrasah dalam menyelenggarakan proses pendidikan. 

Di samping itu pula, menata kelembagaan madrasah bisa disebut juga sebagai sebuah bentuk pertanggungjawaban dari madrasah kepada publik tentang kualitas pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh madrasah. Menata kelembagaan madrasah akan bisa menghapuskan anggapan masyarakat tentang madrasah sebagai “lembaga pendidikan kelas dua”.

Strategi kedua, menata dan meningkatkan mutu tenaga pendidik dan kependidikan. Strategi ini lebih menitikberatkan kepada persoalan bagaimana membentuk sosok guru dan tenaga tata usaha secara profesional dan proporsional dalam menjalankan tugas profesinya. 

Yang diurai dalam strategi ini bukan bagaimana menjaring jumlah guru madrasah sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas, tetapi bagaimana menjaring, memetakan, menyebarkan dan menyempurnakan kualitas guru madrasah agar semakin merata, baik dan berkompetensi tinggi.

Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru dituntut untuk menjadi tenaga yang profesional, yaitu guru yang standar pengetahuan, kemampuan dan kemauannya memenuhi kompetensi sehingga yang bersangkutan layak untuk melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pendidik.

Secara akademik, guru-guru madrasah mulai dari RA sampai dengan MA terbukti sudah memenuhi standar akademik karena mereka telah memiliki ijazah minimal S1 Bahkan di beberapa madrasah sudah banyak guru dan kepala madrasah yang kualifikasi pendidikannya sudah S.2 bahkan S.3. Namun kualifikasi pendidikan yang telah dimilikinya itu tidak menjadi jaminan bahwa guru madrasah telah profesional. 

Oleh karena itu perlu terus dilakukan peningkatan mutu tenaga pendidik dengan cara memperbanyak kegiatan-kegiatan workshop, penataran, diklat, dan pembinaan yang mengarah kepada penambahan pengetahuan, kemampuan dan memotivasi kemauan guru untuk melaksanakan profesinya di samping pemberian reward dalam bentuk tunjangan-tunjangan fungsional dan profesi.

Penyebaran dan pemerataan jumlah guru juga patut diperhitungkan agar jumlah guru tidak bertumpuk di satu madrasah, rasionya harus ditakar secara kuantitatif berdasarkan perimbangan kualifikasi guru madrasah yang sudah tersedia. Terlebih dengan skema sertifikasi guru sekarang, perhitungan beban mengajar guru harus menjadi perhatian utama agar rasional, relevan dan obyektif. 

Hal ini pada gilirannya nanti akan sangat berpengaruh terhadap peran dan fungsi guru di sebuah madrasah sekaligus menjadi acuan terhadap hasil pembelajaran yang dicapai oleh seorang guru madrasah.

Strategi ketiga, peningkatan akses dan sarana prasarana madrasah. Sudah menjadi bukti bahwa keberadaan madrasah di tiap daerah mayoritas bertumpuk di pedesaan. 

Oleh sebab itu tidak heran jika akses menuju madrasah masih cukup sulit dijangkau oleh masyarakat perkotaan. Namun demikian pertumbuhan madrasah di perkotaan pun sudah mulai menjamur sehingga aksesnya juga semakin terbuka. 

Seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada madrasah, maka pemenuhan sarana dan prasarana-pun nampaknya tidak boleh diabaikan. Bicara masalah sarana madrasah, tentunya tidak bisa dilepaskan dari gencarnya bantuan pemerintah terhadap pemenuhan sarana madrasah baik dalam bentuk bantuan rehabilitasi ruang kelas, bantuan pembangunan ruang kelas baru, maupun bantuan alat peraga dan alat laboratorium yang implikasinya sangat signifikan sekali terhadap profil madrasah. 

Namun masalah mulai muncul manakala pemenuhan sarana kepada madrasah yang berasal dari bantuan pemerintah, mulai tidak merata dan terkesan bertumpuk pada satu titik. 

Konsekuensinya tentu saja membuat madrasah yang aksesnya sulit dijangkau bertahan dalam kondisi sarana yang seadanya. Oleh karena itu perlu dibuat peta obyektif tentang penyebaran bantuan sarana serta kondisi real kemampuan madrasah di tiap daerah.  

Strategi keempat, peningkatan dan pemberdayaan kesiswaan. Strategi ini perlu menyeimbangkan dengan bobot muatan kurikulum di setiap jenjang pendidikan madrasah agar pemberdayaan kesiswaan tidak lepas dari substansi materi pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum. 

Kiat ini bisa dibangun dengan meningkatkan volume kegiatan kesiswaan agar siswa madrasah merasa yakin bahwa dirinya tidak minder dan bangga menjadi siswa madrasah. 

Oleh karena itu kegiatan semacam Kompetisi Sains Madrasah (KSM), Kompetisi Pendidikan Agama Islam dan Sains (KOMPASS) Madrasah dan kegiatan pemberdayaan kesiswaan lainnya di madrasah harus terus dikembangkan.

Bahkan saat ini sudah banyak prestasi siswa madrasah yang diraih pada level nasional maupun regional, baik pada prestasi akademik maupun non akademik yang membuktikan bahwa kegiatan kesiswaan berpengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran siswa. 

Dari kegiatan-kegiatan tersebut siswa madrasah akan menanamkan kepercayaan dan keyakinan diri bahwa sebagai siswa madrasah dia mampu berprestasi dan tidak kalah dengan siswa sekolah.

Membangun semangat kemadrasahan pada diri siswa melalui kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler adalah sebuah upaya yang patut dipersiapkan. Kesadaran akan kemadrasahan akan mendorong siswa tetap bangga terhadap madrasah dan merasa menjadi bagian dari keluarga madrasah. 

Bahkan yel “Madrasah YES, FIGHT AND WIN !” yang digagas oleh Prof. Dr. Dedi Djubaedi, mantan Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI, hendaknya menjadi motto setiap siswa madrasah.

Madrasah masa depan adalah madrasah yang secara kelembagaan, ketenagaan, sarana prasarana dan kegiatan kesiswaannya mampu berkembang tidak hanya mengarah kepada peningkatan kecerdasan akal atau kognitif (Intellectual Quetion) saja, melainkan dapat membangkitkan semangat untuk mengasah dan memperkuat pengolahan hati, rasa dan karsa (Emotional Quetion) serta secara sadar dan penuh keyakinan bisa mengaplikasikan kecerdasan spiritual (Spiritual Quetion). 

Dengan demikian madrasah harus diciptakan sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya kuat pada akar ilmu saja, melainkan kokoh dalam amaliyah-nya. Tidak hanya kuat dalam tatanan intelektual siswanya saja tetapi kuat pula pada benteng imannya. Insya Allah dengan berbagai ikhtiar yang ikhlas, madrasah akan menjadi kebanggaan kita semua.