Perempuan adalah makhluk yang paling mulia, yang sejatinya harus dihormati dan dijaga kehormatannya. Perempuan bukan sosok yang lemah, semua perempuan yang terlahir di muka bumi merupakan perempuan hebat. Bahkan laki-laki terhebat sekalipun lahir dari rahim seorang perempuan.

Sosok ibu merupakan sosok mulia yang tentunya wajib dijaga hingga akhir hayat. Tidak ada ada yang dapat menandingi rasa sayang seorang ibu kepada anaknya dan tidak ada pula seorang anak yang dapat membalas budi terhadap ibunya, karena ibu adalah perempuan luar biasa yang melahirkan kita ke dunia yang fana ini.

Ibu merupakan panutan yang selalu ditiru anak-anaknya, baik anak perempuan maupun laki-laki. Karena anak adalah peniru ulung, dan ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak.

Mengapa dikatakan madrasah pertama?

Madrasah dalam bahasa arab berarti sekolah, sekolah pertama dalam perjalanan hidup manusia adalah di rumah, yang berarti diajarkan oleh orang tua, terutama ibu. Karena sejak dalam kandungan, hampir seluruh ibu telah mengajarkan calon buah hati mengenai kasih sayang, dan lain-lain.

Bahkan, dewasa ini teknologi pun dipercaya dapat mencerdaskan sosok bayi yang ada di rahim ibunya dengan menggunakan sebuah alat yang ditempelkan di perut sang ibu. Teknologi tersebut bernama babyplus.

Tentunya setiap orang tua menginginkan putra-putrinya cerdas, tumbuh, dan berkembang dari berbagai aspek seperti kecerdasan spiritual, emosional, dan lain-lain. Meski demikian, kemampuan setiap anak berbeda-beda dan tidak dapat disamaratakan. Sebagai orang tua, sebaiknya tidak membandingkan antara satu anak dan lainnya, karena itu dapat mengganggu mental sang anak.

Kecerdasan yang didapatkan oleh anak adalah anjuran serta bimbingan dari orang tuanya, terutama ibu. Seorang ibu rumah tangga tentunya banyak menghabiskan waktu di rumah dengan anak. Anak akan lebih dekat kepada ibunya, dan tugas ibu adalah mengajarkan hal-hal baik kepada anaknya.

Sebagai seorang ibu tentunya menginginkan anaknya melebihi orang tuanya, baik dari pendidikan, spiritual, dan lain-lain.

Perempuan Berpendidikan

Sosok ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya tentunya memerlukan skill dan karakter yang dapat membangun dan mencerdaskan. Skill dan karakter tersebut didapati melalui naluri seorang wanita saat telah menjadi ibu.

Jiwa keibuan akan muncul dalam diri seorang wanita saat ia memutuskan untuk menikah. Bahkan jauh sebelum itu, seorang wanita juga ada yang memiliki sifat keibuan karena meniru sifat sang ibu.

Untuk mendapatkan skill dan karakter dalam mendidik anak, tidak sedikit perempuan yang menempuh pendidikan tinggi agar dapat mendidik anaknya dengan baik. Perempuan yang berpendidikan tinggi tentunya memiliki cara dan pola pikir yang berbeda.

Tujuan utama perempuan yang berpendidikan tinggi adalah untuk sang anak kelak, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa, "anak yang cerdas lahir dari rahim ibu yang cerdas pula." Lalu, ada pula yang mengatakan bahwa, "anak-anakmu kelak berhak dilahirkan dari rahim seorang ibu yang cerdas." Itu berarti kecerdasan seorang perempuan mempengaruhi keturunan yang kelak dilahirkan.

Tidak sedikit perempuan berpendidikan yang memilih untuk di rumah dan tidak bekerja untuk menemani sang anak setiap detiknya. Itu merupakan pilihan seorang perempuan yang merasa anak adalah tanggung jawab dari dirinya sendiri sebagai seorang ibu.

Perempuan yang mengemban pendidikan tinggi tentunya bukanlah perempuan yang ingin maju dengan dirinya sendiri, tetapi perempuan berpendidikan tinggi tujuannya untuk masa depan anak-anaknya kelak.

Tetapi tidak sedikit pula perempuan yang telah menjadi ibu yang memilih untuk bekerja. Bekerja dalam hal ini adalah dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, atau dewasa ini dikatakan wanita karier.

Sebagai wanita karier, seorang ibu memiliki tanggung jawab ganda, yakni sebagai pekerja dan pengasuh anak tentunya. PR yang harus dilakukan seorang wanita karier adalah menjadikan anak-anak dekat terhadap dirinya dan merasakan kasih sayang yang hangat dari dirinya. Tentunya manajemen waktu yang baik sangat diperlukan oleh perempuan yang memilih menjadi wanita karir.

Mencerdaskan Itu Tugas Kami

Sejak dalam kandungan, seorang ibu mengajarkan buah hatinya guna mencerdaskannya. Mencerdaskan dalam hal ini adalah memberikan pembelajaran yang baik kepada anak-anaknya.

Pembelajaran yang dibimbing langsung oleh seorang ibu dengan kasih yang lembut akan mudah diserap oleh anak, salah satunya dengan cara mendampingi anak saat belajar. Tidak hanya itu, naluri seorang anak kepada ibunya akan lebih dekat.

Lalu, bagaimana seorang wanita karier mencerdaskan seorang anak?

Naluri keibuan yang dimiliki setiap perempuan tentunya akan menjadikan dirinya ibu yang baik untuk setiap anak-anaknya. Dengan cara memberikan kursus yang diminati anak atau bahkan mengajarkan dan mendampingi anak belajar saat pulang bekerja merupakan pilihan yang tepat untuk seorang wanita karier.

Sebaiknya pekerjaan yang dipilih jika telah menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang tidak menyita waktu banyak, sehingga peran perempuan sebagai ibu dapat dilakukan dengan baik, tentunya untuk mencerdaskan dan melihat tumbuh kembang anak.

Dewasa dan Mendewasakan 

Dewasa bukan hanya perihal usia. Usia dalam pernikahan tidak dapat menjadi tolok ukur seseorang untuk dikatakan dewasa atau tidak.

Secara emosional, perempuan dan laki-laki yang berusia sama akan lebih terlihat dewasa si perempuan, karena pemikiran perempuan dan nalurinya sebagai seorang ibu dan hati yang lembut menjadikan perempuan lebih dewasa.

Emosional yang dimiliki perempuan memang tinggi, tetapi emosi tersebut mudah reda karena memiliki kebesaran hati atau kesabaran yang menjadi keistimewaan perempuan.

Tentunya sebagai sosok perempuan 'ibu' merupakan role mode yang paling ditiru dari segala aspek. Bahkan menurut laki-laki pun demikian, sosok 'ibu' selalu menjadi sosok yang dicintai. Terpenting, muliakan setiap perempuan seperti kita memuliakan ibu.