9 bulan lalu · 96 view · 18 min baca menit baca · Politik 64835_46611.jpg

Madilog; Meretas Mentalitas Budak

Clifford Geertz setelah melakukan penelitian di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur mencoba menyederhanakan lingkaran konsentris dengan tiga kelompok masyarakat; priayi, santri dan abangan. Yang menarik Geertz tidak pernah menyangka bahwa pembagiannya ini akan digunakan demi kepentingan politik. Kepentingan politik macam apa? Kepentingan politik para penguasa serta kenormalan rakyat yang bungkam.

Benedict R. O’C. Anderson mendekati kebungkaman rakyat atas kesewenangan penguasa dari konsep kuasa itu sendiri. Dalam literatur klasik Jawa, kuasa disebut sebagai kasakten. Untuk menerimanya orang membutuhkan laku tapa, pantangan atau menjahui beberapa larangan. 

Dalam masa ini kuasa dilekatkan kepada raja yang menjadi salah seorang pusat dalam kosmologi mereka sendiri. Jadi kekuasaan yang di Barat dilihat sebagai sesuatu yang abstrak, justru dalam konteks Indonesia difigurkan dalam diri para penguasa masa itu.

Memasuki abad modern, term kuasa itu sendiri akhirnya dilekatkan pada sistem pemerintahan. Paradigma inilah yang membuat mereka kerab berlaku bungkam dan menjadi hamba abdi suatu sistem sosial yang dibangun oleh mereka sendiri, sistem feodal. Rakyat mengabdi kepada para penguasa karena suara mereka adalah suara yang Ilahi.  Kemungkinan besar inilah alasannya sampai Tan Malaka menyimpulkan bahwa feodalisme menyiapkan permadani bagi langkah kapitalisme.

Dalam tulian ini, pemikiran Tan Malaka tentang riwayat perbudakan akan dijadikan sebagai belati menjawab pertanyaan mendasar: mengapa berhadapan dengan ketidakadilan sistem pemerintahan (penguasa), rakyat Indonesia memilih bungkam, bahkan menjadi anak catur yang dikendalikan atas demagogi politis?

Egaliter adalah ilusi

Kita tentu mengenal tokoh-tokoh berikut; Kartini, Agus Salim, Sukarno, Hatta, Sutan Sjahril, Adam Malik, Tan Malaka, Leimena termasuk Sultan Hamengkubuwono IX serta sederatan tokoh-tokoh lainnya. Di antara nama-nama tersebut R. A Kartini dapat dijadikan representatif angkatan-angkatan dalam era kolonialisasi yang berideologi luas.

Kartini adalah seorang gadis Jepara yang pandai berbahasa Belanda. Tulisannya yang terkenal adalah “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Ada berbagai ironi bila mendiskusikan tentang kelihaiannya berbahasa Belanda. Gadis Jepara ini rupanya belum pernah berpijak di Belanda. Untuk alasan ini masih dapat dimaklumi.


Alasan kedua adalah konon di zamannya, R. A. Kartini ketika berbicara bahasa Belanda dengan orang Belanda, mereka ternyata membalasnya dengan bahasa Jawa. Mengapa? Karena bumi manusia Indonesia “(kita) dijajah bukan karena kita kaya. Kita dijajah karena Eropa mengenal pribumi sedangkan pribumi sendiri tidak mengenal Eropa”. 

Dengan menggunakan bahasa mereka artinya pribumi akan kelihatan setara. Inferioritas berkurang dan artinya mereka tidak dapat lebih lama lagi menjajah Indonesia. Maka benar bila bahasa sendiri mengandung unsur kekuasaan, karena merujuk pada identitas.  

Fenomena ini tampak jelas dalam lukisan-lukisan atau foto-foto jadul kala pribumi duduk bersilah di permukaan tanah— membiarkan kain pantatnya kotor akibat debu Indonesia, sedangkan Eropa berdiri gagah atau sesekali duduk di atas kursi

Dari gambaran tersebut saya dapat mengkritisi Pramoedya Annanta Toer. Ketidaktahuan masyarakat Indonesia kala itu atas Eropa merupakan ketulusan abdi yang mendalam dari generasi cetakan budaya feodalisme dan diperteguh oleh akar kapitalisme mereka. Sedangkan Eropa menyentuh pribumi dengan maksud menyembunyikan kerakusan di balik kegagahan. Singkatnya, ada dimensi yang berbeda; feodalisme mengandung unsur pengabdian, sedangkan kapitalisme adalah paksaan yang dinormalkan melalui sistem.

Dengan tidak menyentuh tanah, bumi Indonesia, mereka kehilangan pengertian yang mendalam akan negara yang tak pernah disangka menyimpan selaksa harta kebudayaan yang tak dapat dirampas. Buktinya, mereka bisa menjajah Indonesia namun tak bisa sportif membangunkan “hamba itu untuk sama-sama berbicara tentang makna kebebasan”.

Minangkabau

Secara sosiologis, konsep masyarakat Minangkabau adalah konsep kosmologis yang di dalamnya terkandung kehidupan religius yang bersifat kontemplatif transenden. Secara holistik, dalam Nagari tidak saja mengurus masalah teknis pemerintahan, malahan sampai pada hal-hal yang bersifat transenden seperti kehidupan Surau.

Surau pada jaman dahulu merupakan kelengkapan suku dan tempat berkumpulnya anak-anak muda serta remaja dalam upaya menimba ilmu pengetahuan. Surau sekaligus digunakan sebagai tempat untuk duduk bersama, membahas berbagai ilmu agama, dan juga dimanfaatkan sebagai tempat penyelesaian berbagai permasalahan yang dihadapi oleh suku melalui musyawarah bersama yang merupakan inti demokrasi kultural Nagari.

Daerah Minangkabau abad itu mengenal tiga paham yang pada umumnya berpengaruh pada diri penduduknya, yakni Islam, adat dan klonialisme serta berbagai implikasi yang dikandungnya.

Ketiganya mempunyai pendukung walaupun kendati tidak fanatik. Bentrokan paham, negosiasi dan saling memanfaatkan dari interaksi pendukung tersebut sering terjadi. Daerah Minangkabau merupakan daerah terbuka dari lalu lintas Dunia Internasional untuk melakukan aktivitas politik, ekonomi, agama dan budaya. Sifat pragmatis dari sebagian penduduk cepat mengambil manfaat dari perkembangan yang berlaku, baik dalam administrasi perdagangan, administrasi pemerintahan dan juga dalam bidang pendidikan.

Merantau merupakan bagian dari tradisi Minangkabau. Merantau menurut visi falsafah Minangkabau membantu seseorang membuka mata mengenal dunia luar yang luas, di mana mereka mendapatkan hal-hal baru yang nanti akan dibawanya pulang.

Merantau bukanlah semata mencari uang atau harta, melainkan juga menuntut ilmu. Berdasarkan batasan ini, maka bisa dikatakan bahwa Tan Malaka adalah seorang perantau, baik fisik maupun mental (pemikiran). Dia meninggalkan Desa tempat kelahiranya untuk menuntut ilmu ke “Sekolah Raja” di Bukit Tinggi.

Sewaktu Tan Malaka tamat belajar di Bukit Tinggi, Tan diberi gelar Datuk Tan Malaka oleh kaum atau sukunya sebagai kepala adat mereka. Tidak lama sesudah itu, Tan pergi lagi melanjutkan studinya ke negeri Belanda, perantauan yang amat jauh bagi anak muda yang baru berumur 16 tahun.

Modal ini dikembangkan Tan Malaka untuk memahami dan menginterpretasikan permasalahan-permasalahan masyarakat Indonesia. Visi adat dan falsafah Minangkabau dari merantau adalah untuk mengontraskan atau membandingkan dunia rantaunya dengan realitas alam asalnya. Dengan lain kata, Visi merantau ini mengundang orang berpikir kritis dan dialektis.

Oleh karena itu kontradiksi atau konflik yang dialami masyarakat Minangabau dianggap wajar, terutama karena suasana tersebut akan selalu dapat diintegrasikan atau diselesaikan secara kondusif melalui proses pemilihan mana yang baik dan buruk dengan akal, dan diskresi ini mengandaikan pola berpikir rasional. Yang rasional artinya berwawasan luas, serta menolak dogmatisme atau parokhialisme. Karena menolak dogmatisme, maka dengan sendirinya menghendaki kebebasan berpikir.

Dalam perantauan, mental Tan Malaka berhasil melepaskan diri dari keterikatan terhadap salah satu dari berbagai corak nilai yang hidup dan berkembang serta berhasil melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bercorak lain, berbobot dan orisinil. Mempunyai idealisme untuk membangun manusia dan masyarakat Indonesia baru, menghargai kebebasan berpikir dan memiliki sikap kritis yang tajam serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri yang kuat sehingga mendorong untuk memiliki keberanian mengembangkan pemikiran sendiri.

Di bidang agama perhatianya besar sekali pada soal-soal mistik; tetapi di bidang sosial ia sudah memilih gagasan komunisme. Kepergianya ke negeri Belanda bisa disebut sebagai jendela awal perkenalanya pada dunia luar. 

Mempelajari sosialisme membuatnya mengenal pemikiran Nietzche dan karya-karya Th. C. Arlyle, yang membuatnya berada dalam semangat dan paham revolusioner.  Tan Malaka menyerap secara kritis alam pikiran Hegel, Lenin, Karl Marx, Engels dan Charles Darwin. Ini ditandai dengan banyaknya rujukan kepada tokoh-tokoh tersebut sebagai kerangka acuan pemikiranya, terutama dalam bukunya, Madilog.

Gerak Komunis

Teori Marxian mencapai puncaknya selama periode komunis internasional kedua antara 1889 sampai 1914. Periode sejarah ini sering dilihat sebagai puncak kapitalisme pasar awal. Ledakan pertumbuhan ekonomi saat itu kemudian disinyalir sebagai kematian kapitalisme. Menurut pendapat mereka, marxisme mampu menghasilkan teori ilmiah kehancuran kapitalisme dengan derajat kredibilitasnya sama dengan ilmu-ilmiu positif.

Engels rekan dan pelindung marxisme ini kemudian mendiskusikan kemunduran kapitalisme sebagai,

Tak terelakan dalam arti bahwa pencipta yang meningkatkan teknik produksi dan dengan hasrat mencari keuntungan kapitalis telah merevolusionerkan seluruh kehidupan ekonomi, dan tak terrelakan pula bahwa buruh akan menuntut perpendekan jam kerja dan kenaikan upah, bahwa mereka mengorganisir diri untuk bertarung melawan kelas kapitalis dalam rangka memperjuangkan nasip mereka, dan tak terelakan pula bahwa mereka “bertujuan merebut kekuasaan politik dan menggulingkan kekuasaan kapitalis. Sosialisme adalah sesuatu yang tak terelakan.

Bentuk ekstrem dari sosialisme produk marxian ini kemudian merujuk pada apa yang dikenal sebagai komunis yang sangat menjiwai Rusia dan Cina pada periode itu. Dengan lain kata, komunisme bertujuan untuk menghancurkan super struktur (pemilik modal) yang melahirkan kolonialisme dan imperialisme.

Baca Juga: Sejarah Madilog

Selain itu, gambaran feodalisme di Indonesia dikisahkan secara sangat menarik dalam kisah-kisah kerajaan yang sempat berjaya. Satu di antaranya adalah kerajaan Mataram, yang efek dari kejayaannya masih membekas lewat tata ruang yang konsentris. Menurut Denys Lombard tempat tinggal dalam tata ruang masyarakat Jawa pun menunjuk pada status hidupnya di masyarakat.

“Keraton berada di pusat dan menjadi tempat tinggal raja dengan pemerintahan dalamnya sendiri (Parentah jero). Di sekitar istana disebut ibukota tempat kediaman pemerintah luar (parentah jaba), yang mana terdapat para priayi, kaum bangsawan, yang berada dalam wewenang patih atau perdana menteri. Di sekitar ibukota ada lingkaran nagaragung atau ibkota besar kecuali beberapa daerah kantong (narawita) yang langsung berada di bawah kekuasaan raja karena menghasilkan bahan-bahan pokok yang diperlukan istana.

Hampir semuanya bertempat tinggal di ibukota termasuk para bekel wakil-wakil raja yang bertugas untuk memungut pajak. Terakhir adalah mancanagara daerah paling luar yang dipercayakan kepada para bupati yang pada masa itu tunduk pada kekuasaan patih.”  

Fobia Komunisme  

Pada November 2000, sekelompok orang yang dipimpin oleh YPKP (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965-1966) berkumpul di sebuah daerah bernama Wonosobo. Mereka melakukan penggalian tulang belulang manusia berjumlah 26 orang. Duapuluh satu diantaranya adalah korban pembunuhan massal G30S PKI/1963.

Setelah penggalian tersebut beberapa keluarga korban dibantu oleh YPKP agar dapat memakamkan para korban secara layak di desa Koleoran, dekat Yogyakarta. Namun pada 25 Maret 2001 ketika upacara pemakaman ulang hendak dilaksanakan, sekelompok orang yang menamakan diri FUIK (Forum Ukhuwah Islamiah Kaloran) menghadang mereka, mengancam para pengurus upacara, merampas dan menghancurkan peti-peti dan memorak-porandakan tulang belulang korban.

Setelah insiden inipun bukunya Frans Magnis-Suseno “Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme oleh kelompok AAK (Aliansi Anti-Komunis) yang terdiri dari Gerakan Pemuda Islam, Front Hizbullah, Forum Pemuda Betawi, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia dan Barisan Merah Putih. Singkatnya Islam memiliki fobia atas komunis.

Saya yakin bahwa tindakan anarki itu tidak datang dari sebuah kefakuman eksistensial. Ia memiliki geneologi yang menuntut untuk jikalau tak bisa membangunkan orang mati, maka bertanyalah pada sejarah. Maka adalah tepat untuk memahami situasi Marx pada zamannya guna membaca konteks mengapa pada zaman Tan Malaka, ia berkeyakinan bahwa Syarekat Islam dapat bekerjasama dengan komunisme.  

Persoalan marxisme kian menjadi kala kehadiran agama justru tidak menjadi solusi praksis. Dalam esainya Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1844), Marx menjelaskan bahwa kehadiran agama hanya mengubah kesadaran dan memberi penghiburan tanpa mengubah realitas. Agama menjadi candu rakyat, karena memberi harapan akan cita-cita akhirat yang finalitasnya masih utopis.

 Dengan kata lain, agama menjadi pelarian, tempat orang-orang tertindas berkeluh kesah, ia menjadi ilusi yang memberi kebahagiaan temporal tanpa mengubah realitas.

Kritik Marx ini berimplikasi juga pada semangat komunisme yang dicurigai anti agama, dan kalau boleh mengubah wacana ini adalah agama yang belum mampu menerima ide-ide revolusioner komunisme yang bertolak dari bawah.  

Mitos yang berkembang saat itu dalam kubuh komunisme adalah motif psikologis manusia yang paling kuat adalah meraih uang dan mendapatkan kesenangan material lebih banyak. Maka kunci untuk memahami sejarah sebetulnya adalah perut manusia dan kerakusannya terhadap kepuasan materi. Kesalahan mendasar ini berasal dari asumsi bahwa materialisme historis ialah sebuah teori psikologis yang berkenaan dengan dorongan dan nafsu manusia.

Kenyataannya, ia bukan teori psikologis sebab materialisme historis mengklaim cara manusia memproduksi menentukan cara berpikir dan hasratnya, dan bukan bahwa hasrat utama manusia adalah meraih materi secara maksimal. Maka ekonomi dalam konteks ini tidak mengacu pada dorongan psikis tetapi pada mode produksi, bukan pada faktor yang subjektif dan psikologis, tetapi pada faktor ekonomi-sosiologis yang objektif.  

Maka beragam mitos yang berkembang bukanlah produksi dari gagasan Marx. Perjuangan Marx adalah usaha emansipasi kaum buruh yang telah ditempatkan secara sengaja pada nadir struktur sosial dan bagaimana menumbuhkan dalam diri kaum buruh kesadaran kelas yang menciptakan keterasingan bagi sistem produksi yang darinya mereka sendiri menjadi penyumbang terbesar.  

Menurut marx, bukan kesadaran manusia yang menentukan ke-ada-annya, tetapi keadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya.

Setiap manusia berspekulasi menciptakan kebutuhan baru untuk memaksa manusia menyerahkan pengorbanan baru, untuk menempatkan manusia dalam sebuah ketergantungan baru, dan untuk memikat manusia ke dalam jenis kesenangan baru dan dengan cara ini masuk ke dalam carut marut ekonomi.  

Selain itu, hemat saya, alasannya bukan hanya terdapat pada gagasan komunisme yang cenderung anti agama. Pada bagian tentang pengaruh barat atas pemikiran Tan Malaka, satu negara yang disebut-sebut adalah Rusia Sovyet. Pada masa itu Rusia Sovyet telah dianggap sebagai inkarnasi segala kejahatan, dan ide-idenya telah disamakan dengan ide-ide setan.

Perjuangan Tan Malaka

Melawan sistem

Menyimak uraian di atas, dapat diasumsikan bahwa perjuangan Tan Malaka dalam ranah proklamasi sebetulnya adalah perjuangan melawan sistem. Dan perjuangan melawan sistem sebetulnya adalah klise. Sejarah sudah seringkali menjadi saksi kekuasaan yang menjadi produk dan intelektual, yang dipaksakan kepada rakyat untuk kepentingan kelompok elit itu sendiri.

Bagi Tan Malaka, sistem seperti inilah yang harus dihancurkan dan direkonstruksi. Dalam kemilitannya ia sempat diingatkan oleh Horensma agar lebih baik ia berjuang dari dalam sistem yang ada dan berlaku. Kalau tidak puas, perbaiki dari dalam, “memperbaiki tanpa menimbulkan rasa sakit”.

Kendati demikian, bagi Tan Malaka merekonstruksi sitem kapitalis dari dalam adalah usaha menjaring angin. Jalan satu-satunya adalah menghancurkan kapitalis dan memulainya dari awal atau dengan sistem yang lebih baik. Menurut Poeze dalam pengantar bukunya, ketegaran karakter inilah yang menjadikannya sosok revolusioner kesepian dan pemikir yang bebas merdeka.

Pada awalnya memecahkan persoalan kapitalisme di Indonesia mengandaikan PKI sebagai belati yang tepat. Namun ada semacam keragu-raguan dalam diri Tan Malaka sendiri atas sikap anarki dari para PKI. Mereka masih menjadi organisasi superfisial dan cenderung fasisme, selalu memiliki musuh politik.

Padahal yang dicita-citakan oleh Tan Malaka sendiri adalah sebuah sistem partisipatoris, yang mana seluruh rakyat mendapat tempat. Poeze menjelaskan, dalam sidang Komintern 1920 diambil salah satu keputusan yang bertentngan dengan gerakan Pan-Islamisme. Alasannya gerakan Pan-Islamisme dicurigai sebagai bentuk lain dari imperialisme. Alhasil perpecahan antara Sarekat Islam dan kelompok komunis Indonesia tak dapat dibendung lagi.

Pada masa itu, sudah banyak orang-orang komunis yang berdiaspora dalam mozaik Sarekat Islam. Namun melalui surat keputusan tersebut, jelaslah terungkap sikap bermusuhan komunisme terhadap islam dan oleh sebab itu, gerakan-gerakan komunis tak bisa lagi ditolerir untuk terus menjadi anggota Sarekat Islam. Konteks keterpecahan ini lalu dimanfaatkan oleh kolonial untuk memperlebar gap yang ada. Agus Salim akhirnya menang melalui formulasi yang melarang anggota Sarekat Islam menjadi anggota organisasi atau partai yang lain. Formulasi inilah yang dalam prakteknya dinamakan “disiplin partai”.

Melihat dua organisme revolusi atas imperialisme kolonial ini bertentangan, Tan Malaka berupaya untuk memediasi jalan damai, terutama saat menjadi ketua PKI menjelang akhir tahun 1921. Sayangnya niat baik ini kemudian harus dijadikan bekal visi karena ia dibuang ke Belanda. Dapat dibayangkan, saat dibuang ia masih membawa angan-angan untuk menjadikan Islam khususnya Sarekat Islam untuk menjadi partner politik atas dasar patos kemerdekaan.

Menurut Poeze tindakan Tan Malaka sendiri masih berkaitan erat dengan pengalamannya di perkebunan Senembah. Ia menjadi saksi mata kebobrokan kapitalis. Menurut Tan Malaka, kapitalisme yang melahirkan konialisme dan imperialisme harus diganti dengan sebuah sistem yang lebih manusiawi. Hal ini tercermin dalam bukunya Soviet atau Parliament?

Prinsip yang kental dari buku ini menunjukkan bahwa perjuangan Tan Malaka adalah perjuangan melawan sistem bukan manusia atau masyarakat yang berada di dalamnya.

Keluar dari jalur Marxisme: geneologi sejarah perbudakan

Pemikir pemula awalnya selalu meniru ideologi manakah yang tepat untuk dijadikan rekapan dalam proses pembelajaran sampai ia sendiri menemukan metode yang tepat dan mandiri untuk otentisitas karyanya. Pada saat PKI dilumpuhkan dalam pemberontakan 1926-1927, Tan Malaka mendirikan Pari sebagai kreasi pemikiran politiknya. Menariknya, organisasi ini kemudian diyakini sebagai momen di mana Tan Malaka harus berdiri di atas kakinya sendiri.

Pari bukanlah bentuk kontinuitas dari PKI maupun Marxisme. Dengan melepaskan diri dari lekatan Marxisme maka Tan Malaka, menurut Poeze, “menjadi tuan di dalam dirinya sendiri, dan oleh karena itu merasa bebas merdeka melahirkan pemikiran dan mengembangkan pemikiran-pemikirannya sendiri.”

 Puncak asli pemikiran Tan Malaka yang sering disebut sebagai “Pusaka Petuah” bagi bangsanya adalah Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Ini adalah buku yang ditulisnya periode 1942-1943. Karya ini diselesaikannya dalam sebuah gubuk reot, Rawajati pinggir kota Jakarta setelah lelah berlari dari pengejaran para kolonial. Karyanya ini sangat briliyan sekaligus menyentuh nadir bangsanya sendiri. Pertanyaan mendasar pergulatan Tan Malaka adalah, mengapa Indonesia dijajah begitu lama?

Pertanyaan mendasar dalam maha karya Tan Malaka ini menghantarnya pada kesimpulan yang sangat tajam, “Indonesia memiliki riwayat perbudakan”. Sebelum Indonesia menjadi budak dalam sistem kapitalis bangsa kolonial, masyarakatnya telah terlebih dahulu menjadi hamba abdi dalam sistem feodal kekerajaan mereka sendiri.

Justru sistem feodalah yang membuka akses bagi perbudakan kapitalis asing. Maka kendati Indonesia ujung-ujungnya terbebas dari sistem kapitalis, ada kemungkinan besar untuk mereka dijajah oleh sistem feodal budaya mereka sendiri.

Feodalisme menyuburkan mental budak dalam diri masyarakat. Mereka menjadi malas berfikir dan meletakkan kepercayaan mereka pada berbagai takhayul tanpa filterisasi hingga mudah dieksploitasi oleh orang-orang yang suka berasionalisasi. Singkat kata, persoalan terletak pada mental.

Tan Malaka menginginkan sebuah mental baru dari bangsanya. Mental yang mendorong orang untuk menjadikan otaknya bekerja aktif serta pikirannya berjalan dinamis menjadi manusia rasional yang percaya pada dirinya sendiri. Dan Madilog memungkinkan pengembangan cara dan pola berpikir yang rasional itu. jalan yang ditawarkannya adalah pola berpikir yang diformulasikan dalam: Materialisme, dialegtika dan logika.

Yang dimaksud dengan materialisme di sini adalah cara berpikir yang realistis, pragmatis, dan fleksibel. Jika seseorang mampu realistis maka dialektikanyapun dinamis. Dan yang mendasari itu adalah logika. Secara sederhana dapat didefinisikan sebagai cara dan pola berpikir yang aktif, dinamis dan logis. Apakah ini abstrak? Menurut Tan Malaka pemikiran yang abstrak dan hanya berkisar soal ide mengandung kekuatan dasyat dalam proses transformasi.

Meretas Mentalitas Budak: Materialisme, Dialektis dan Logis

Keterbelakangan masyarakat Indonesia adalah selalu meletakan kepercayaan mereka pada hal-hal mistis. Misalkan saja dalam film-film yang ditayangkan di bioskop, masyarakat Indonesia cenderung pada perfileman baerbau horor.

Sebetulnya tidaklah menjadi soal jika ditempatkan sebagai sarana rekreatif. Menjadi soal jika kesukaan serta selera kemudian memengaruhi mental yang kurang realistis, pesimis terhadap pijakan sendiri dan membuat orang lemah dalam kekritisan. Menurut Tan Malaka, mentalitas ini adalah mentalitas budak, malas berpikir.


Berangkat dari pengalaman inilah Tan Malaka lalu menganjurkan paham materialisme, yakni bagaimana masyarakat dapat berpikir realistis.

Dari sinilah ia membedakan diri dengan paham materialisme historis ala marx yang menjadikan materi sebagai dasar segala-galanya. Dan materi itu adalah ekonomi. Padahal determinisme ekonomi yang menjadi cirikhas modernisme merupakan salah satu penghambat kebebasan sebagaimana dikatakan oleh Hannah Arendt dalam konsep ruang sosial.

Menurut Hannah Arendt, hilangnya kebebasan diakibatkan oleh dua faktor:

Pertama, Ruang sosial. Menurutnya, meluasnya pelbagai aktivitas ekonomi sampai pada suatu titik di mana aktivitas-aktivitas itu menjadi konsen politik yang utama dari suatu masyarakat. Munculnya ruang sosial telah memungkinkan pelbagai aktivitas yang berkaitan dengan kebutuhan hidup untuk mendominasi sampai pada suatu titik di mana tugas utama pemerintah adalah menjalankan roda perekonomian demi tujuan produktivitas yang lebih besar dan konsumsi yang terus berkembang.

Kedua, alienasi sosial. Alienasi sosial merupakan hilangnya dunia pengalaman dan tindakan yang dimunculkan secara intersubjektif sebagai akibat dari cara kita menentukan identitas diri dan sense of reality secara memadai. Alienasi dunia mereprensentasikan sebuah sinnverlust, di mana kita tidak lagi berada dalam posisi mampu memberi makna bersama bagi eksistensi kita ataupun dunia.  

Tan Malaka setelah melihat penderitaan buruh pabrik, ia lalu meyakini bahwa berpikir materialisme adalah tujuannya bukan pada materi itu sendiri melainkan bertolak dari realitas. Pandangan ini depengaruhi oleh pengalamannya sewaktu menyaksikan penderitaan buruh pabrik di Deli. Ia meyakini bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang abstrak melainkan materialis.

Materialis sendiri mengandaikan pola berpikir yang kritis. Bagaimana memperbandingkan suatu konsep dengan kenyataan hidup untuk memperoleh kenyataan yang sesungguhnya. dari sinilah ia menekankan pentingnya pola berpikir yang dialegtis; tesis, anti tesis dan sintesis. Pandangannya ini amat dipengaruhi oleh kebudayaan Minangkabau yang suka merantau, suka konflik dan anti parokialisme. 

Pengalamannya itu diintegrasikan dengan situasi konkretnya dan berusaha menemukan solusi yang tepat. Jadi pola berpikir dialektis bukanlah berarti tesis dibunuh oleh antitesis, melainkan bagaimana keduanya membentuk suatu kenyataan yang baru. Dan pola berpikir dialektis ini hanya dimungkinkan bila orang mampu berlogika dengan baik.  

Kesimpulan

Negara sejati bisa memberi rakyat gaji yang layak, perumahan, pendidikan, tetapi tidak memberikan faktor-faktor yang lebih abstrak yang jelas semakin menambah rasa kepuasan seperti cinta yang dibalas, rasa hormat dari orang-orang lain, atau satu perasaan harga diri pribadi.

(Orang-orang Malang, 10)

Bila kita bercermin dari para pejuang Indonesia, banyak di antara mereka yang selalu menginginkan agar ada suatu titik yang membuat rakyatnya mau berpikir. Katakanlah Sjahril yang selalu menganjurkan sistem politik yang rasional. Sebuah politik yang mencerminkan sistem “yang dapat meyakinkan semua, tidak lapuk oleh kekosongan demagodi, tetapi segar, muda, arif menjangkau jauh sekali ke hari depan, tanpa melupakan situasi saat yang urgen. Agung, tetapi sama sekali tidak feodal, tidak bourjuis. Revolusioner tetapi tidak ngawur”.

Sudah saatnya mengubah pengalaman negatif di masa lalu dan menangkap nilai yang berguna untuk masa kini. Sejarah bukanlah laporan kronologis cerita melainkan rajutan nilai pengalaman. apalagi berhubungan dengan perkembangan pemikiriran para tokoh negara yang kala itu masih berorientasi pada bangsa tidak pada diri sendiri. 

Misalkan saja, Tan Malaka bersiarah dari penjara ke penjara dengan membawa amanat bangsa yang tak kendur oleh tempaan dan tekanan. Sedangkan para koruptor masa kini, membawa kenyamanannya ke dalam penjara. Para koruptor itu “ke Singapura mereka membeli kulit gula-gula, apalagi baju dan celana, tak sudi memang mereka beli di Indonesia.”

Rakyat melihat, mengalami, namun jika riwayat perbudakan tetap dilandasi oleh pengaruh feodalisme-kapitalis, maka mentalitas menjadi sangat irrasional. Tan Malaka memunculkan sebuah revolusioner mental, agar rakyat berani berpikir kritis dan logis. Kalau memang pada tahap ini rakyat belum mampu merubah sistem, namun paling tidak kita telah memberikan pertimbangan bagi keputusan pemerintahan.  

Kompas, 09 Agustus 2018.

[1] Benedict R. O’C. Anderson, Kuasa-Kata, ,40-59.

[1]  Rusdi Lubis, “Kembali ke Nagari, Kembali ke Surau”, (Jakarta: Kompas, 11 Juni 2004), hal 35.

[1] Deliar Noer, Mohammad Hatta, Biografi Politik, (Jakarta: LP3ES, 1990), 5-14.

[1] Alfian, Tan Malaka: Pejuang Revolusioner yang Kesepian, (Jakarta: LP3ES, 1998), 140-141.

[1] Alfian, Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia, Cet. Ke-3 (Jakarta: LP3ES, 1982), 9-11.

[1] Harry A. Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju...., hal 305-306.

[1] Benedict R. O’C. Anderson, Kuasa-Kata, diterjemahkan dari Language and Power, (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2000),40-59.

[1] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, 4.

[1] E. Fromm, Konsep Manusia menurut Marx, 17.

[1] M. Carmelita de Freitas, “The Mission of Religious Men and Woman in Latin Amerika Today”, dalam Mission in the Third Millennium, Robert J. Schreiter (ed), (New York: Orbis Books, 2001), 92.

[1] E. Fromm, Konsep Manusia menurut Marx, 71.

[1] Eduardus Lamanto, Presiden: Manusia ½ Binatang, (Jakarta: JP II Publishing House, 2013), 55

[1] Harry A. Poeze, Tan Malaka: Perjuangan menuju Politik 1925-1945, Graviti, XVII.

[1]  Maurizio Passerin d’Enteves, Filsafat Politik Hannah Arendt, (Yogyakarta: Qalam, 2003), 43-44.

[1] Prisma, Y.B. Mangunwijaya, “Dilema Sutan Sjahril: Antara Pemikir dan Politikus”, 8 Agustus 1977.

Artikel Terkait