Barangkali, pemilihan umum Presiden Prancis kali ini merupakan salah satu pertarungan yang paling mendapatkan perhatian dari mata internasional pada tahun 2017 setelah pada tahun lalu hal serupa dirasakan saat Donald J. Trump bertarung ketat dengan Hillary R. Clinton untuk merebut singgasana kursi orang nomor satu di negeri Paman Sam tersebut.

Setelah Pemilu AS, tahun 2017 juga menjadi salah satu tahun yang cukup penting dalam kancah perpolitikan internasional. Kali ini datang dari negara Prancis, yang sedari dulu pengaruhnya amat kuat dirasakan di benua biru, Eropa.

Negara yang identik dengan bahasanya nan sering digadang-gadang sebagai 'bahasa paling romantis di dunia' dan pelopor berbagai macam istilah yang sudah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia tersebut seperti coup d'État (kudeta) itu tengah menggelar pesta demokrasi bagi segenap penduduknya untuk memilih siapakah nan layak untuk menjadi suksesor dari François Hollande (Partai Sosialis).

Tahun ini dilaksanakanlah pemilu untuk menentukan siapa Presiden Prancis ke-25 yang akan memimpin negeri tersebut untuk menjabat hingga 2022 mendatang. 

Tidak hanya rakyat Prancis daratan saja yang memiliki hak untuk memilih presiden mereka, penduduk di daerah seberang lautan seperti Guyana Prancis, Reunion, Guadeloupe, dan daerah-daerah kekuasaan Prancis turut menyumbangkan partisipasinya dalam pesta akbar lima tahunan di Prancis tersebut.

Pada awalnya, terdapat 11 nama yang menjadi kandidat pemilihan Presiden Prancis untuk masa bakti 2017 hingga 2022:

Emmanuel Macron (En Marche!), Marine Le Pen (Barisan Nasional), François Fillon (Les Républicains), Jean-Luc Mélenchon (La France insoumise), Benoît Hamon (Partai Sosialis), Nicolas Dupont-Aignan (Debout la France), Jean Lassalle (Résistons !), Philippe Poutou (Partai Anti-kapitalis Baru), François Asselineau (Uni Republik Populer), Nathalie Arthaud (Lutte Ouvrière), dan Jacques Cheminade (Partai Solidaritas dan Berkembang).

Di Indonesia sendiri, belum pernah ada kejadian sampai-sampai jumlah kandidat presiden untuk suatu pemilihan bisa sebanyak ini. Dari kesebelas calon presiden tersebut, yang cukup kuat elektabilitas dan popularitasnya yaitu lima nama teratas: Macron, Le Pen, Fillon, Mélenchon, dan Hamon.

Pemilu tersebut telah dilangsungkan pada 23 April lalu dan hasilnya cukup membuat kejutan berbagai pihak: Fillon, Mélenchon, dan Hamon langsung tersingkir pada putaran pertama karena kekuatan mereka.

Fillon yang dulunya adalah Perdana Menteri Prancis, Mélenchon yang merupakan mantan anggota senat, dan Hamon yang merupakan anggota kuat dari sayap kiri belum mampu untuk mengimbangi dominansi Macron sang pengusaha dan Le Pen yang amat dikenal media sebagai tokoh kanan-jauh Prancis.

Selamat kepada mereka berdua (Macron dan Le Pen) yang telah berhasil maju ke putaran kedua mendatang. Yang menjadi unik ialah karena media-media internasional mulai melirik ke Prancis dan mengisyaratakan serta mengibaratkan bahwa putaran kedua nantinya bak 'Clinton vs Trump ala Eropa'.

Sosok Emmanuel Macron bukan wajah baru dalam dunia perpolitikan Prancis. Pria kelahiran Amiens, 21 Desember 1977 ini mengawali karir politiknya sebagai anggota dari Partai Sosialis (2006-2009). Macron menjadi deputi sekretaris jenderal Élysée, seorang anggota senior staf Presiden Hollande (2012-2014). Kariernya semakin meningkat, ketika ia dilantik menjadi Menteri Ekonomi, Industri dan Data Digital dalam Kabinet Valls kedua pada 26 Agustus 2014.

Mulai 2009, ia merupakan seorang independen, tidak terikat dengan satu partai pun setelah keluar dari Partai Sosialis dan barulah pada 2016 dengan semangat perubahannya ia membentuk suatu partai baru yang diberi nama 'En Marche!' (secara harfiah berarti "bergerak!") dan mengklaim bahwa kekuatan politiknya adalah sentris, tidak terombang-ambing dalam pengaruh kiri dan kanan.

Meskipun dengan segenap karir politik yang terbilang cukup gemilang tersebut, terdapat fakta yang cukup menarik pada dirinya: menikahi guru sekolahnya yang 24 tahun lebih tua darinya dan seorang bankir yang sukses. Ia adalah seorang penganggum gerakan independen, dan juga memperjuangkan Prancis yang terbuka bagi semua kalangan.

Di sisi lainnya, Marie Le Pen adalah sosok yang mendapat cukup banyak sorotan tajam, terutama dari tokoh kiri dan liberal. Dengan partai yang didirikan oleh ayahandanya, Barisan Nasional atau Front National itu merupakan salah satu partai kanan-jauh yang cukup memiliki pemikiran nasionalis radikal di sana. Ia bahkan tak segan-segan untuk mewacanakan referendum Frexit yang berpotensi dapat membuat Prancis keluar dari Uni Eropa.

Wanita kelahiran Neuilly-sur-Seine, 5 Agustus 1968 yang kini tengah menjabat sebagai Presiden Barisan Nasional tersebut tentunya sangat berpotensi membuat Prancis menjadi sebuah negara yang nantinya bakal menjadi suatu pusat bagaimana penduduk dunia bakal melihat Prancis yang beraroma kanan. Ia bahkan bakal mengusir imigran dan ekstrimis yang meresahkan di negaranya tanpa ampun.

Dengan segala kekuasannya, ia juga banyak dikecam media-media barat karena gaya kepemimpinannya yang dianggap 'mengkhawatirkan' bagi masa depan Prancis. Namun, meskipun dengan segala kaum yang bertentangan dengannya, ia memilki barisan dan dukungan yang kuat di belakangnya untuk mengantarkannya: cukup kuat untuk membuatnya menjadi Presiden Prancis selanjutnya.

Kembali ke judul, apakah ini penentuan nasib umat manusia global? Terlepas dari siapa pun yang menang, baik Macron maupun Le Pen adalah bakal calon pemimpin sebuah negara populer di benua biru, Prancis.

Pastinya, bakal ada semacam efek-efek baik itu dalam skala kecil, menengah, hingga masuk ke yang besar dan bakal berdampak kepada pemikiran politik masyarakat global. Kita berandai-andai pada skenario pertama: Macron menang, mengasumsikan bahwa kecenderungan masyarakat Prancis akan sebuah sistem politik yang mendukung keberlangsungan globalisasi.

Jika spirit ini menjalar, bukan tidak mungkin calon kepala negara di negara lainnya yang mengusung asas keterbukaan nan berbalut sentuhan liberalisme dapat mempertahankan kekuatannya dan keluar menjadi pemenang nantinya. Prancis bakal tetap setia dengan Uni Eropa. 

Sementara, jikalau Le Pen yang pada putaran pertama berada di bawah Macron suaranya namun ternyata mampu menyalip Macron nantinya, tentunya dunia siap-siap menunggu berbagai skenario ala kanan yang bakal terjadi di sana.

Katakanlah: diawali dengan Frexit untuk meruntuhkan kunci antara Prancis dan negara benua biru lainnya, lalu penggantian mata uang menjadi Franc yang telah diperbaharui, hingga diprediksikan fasisme dan rasisme yang merebak ke mana-mana. Mengingat, kemenangan Le Pen (jika terjadi) sangatlah dipengaruhi dari efek kemeangan Trump di AS sana, seperti dibahas pada alinea pertama tulisan ini.

Masyarakat global kedua kalinya akan menyaksikan dalam kurun waktu dua tahun terakhir pemilu di negara barat dimenangkan oleh pemimpin berideologi kanan, yang santer dicap sebagai 'nasionalis otoriter' atau halusnya dapat dikatakan sebagai suatu sikap yang cenderung menolak keberagaman dan memojokkan salah satu golongan tertentu. Akibatnya, paham pengagungan terhadap satu golongan saja bakal bergema lagi dan bakal merambah ke wilayah lainnya.

Ini mengindikasikan, secara tidak langsung bahwa kemenangan Le Pen (yang dipengaruhi oleh kemenangan Trump) mampu menambah torehan bagaimana nantinya angka antiimigran diprediksi bakal semakin meningkat sehingga jika ini terjadi, maka pemimpin nasionalis dapat dibayangkan sebagai sesuatu nan horor bagi mereka yang merupakan pendamba kebebasan dan keterbukaan.

Kini kita nantikan saja, siapa yang bakal bertempat tinggal di Élysée Palace selanjutnya. Baik Macron maupun Le Pen sama-sama memiliki satu tujuan yang bernada sama: untuk memajukan Prancis di masa yang akan mendatang. Negara dengan sistem semipresidensial ini bakal memilki pemimpin baru untuk lima tahun mendatang. Putaran kedua akan digelar pada 7 Mei 2017.

Putaran pertama telah usai dengan catatan 36.058.813 suara yang turut berpartisipasi (8.657.326 untuk Macron, 7.679.493 untuk Le Pen). Marilah segenap kita berharap agar siapa pun yang menjadi pilihan rakyat Prancis bisa membawa ke sebuah haluan yang lebih baik, baik itu dari sisi ideologi sentris maupun dari ideologi kanan yang tengah bertarung demi masa depan Prancis saat ini.