Petualang
1 bulan lalu · 2635 view · 4 min baca menit baca · Agama 79214_61948.jpg

Mabok Agama, Fobia Illuminati, dan Pengalaman Dituduh Murtad

Mabok agama yang tengah melanda sebagian rakyat Indonesia saat ini tampaknya makin hari makin parah. Ibarat penyakit, ia sudah memasuki stadium tiga. Atau ibarat gunung berapi, ia sudah berada pada level siaga. Apa-apa yang tak berkesesuaian dengan ajaran agama yang dipahami akan langsung dituding sesat, kafir, bid’ah, atau penyembah setan.

Teranyar, Masjid Al-Safar di Rest Area KM 88 Jalur B Jalan Tol Purbaleunyi, Purwakarta, dituduh illuminati oleh sejumlah orang melalui video yang diunggah di kanal Teras Dakwah—yang kemudian diamini oleh ribuan orang yang tengah mabok agama—hanya karena konstruksi bangunan dan ornamennya banyak berbentuk segitiga. 

Ustaz dalam video itu, dengan daya khayalnya yang kelewat tinggi, dengan yakin mengatakan bahwa bentuk masjid itu merupakan bukti jejak illuminati.

“...bahkan ketika masuk ke dalam, ini segitiga, satu mata. Maka, ketika kita salat, sebetulnya kita menghadap siapa? Menghadap Allah atau segitiga satu mata?” kata ustaz itu.

Sebagai orang yang mengarsiteki bangunan masjid tersebut, Ridwal Kamil—yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat—sudah tentu geleng-geleng kepala atas tudingan tersebut.

Kang Emil—sapaan akrab Ridwan Kamil—mungkin ingin sekali menertawakan tudingan tersebut, tapi ia terpaksa harus menjelaskan perkara rancangannya ke hadapan publik untuk membendung sekaligus meluruskan tudingan yang telah menyebar luas.

Sebab, Kang Emil pun tahu, umat beragama mayoritas di negara ini tengah teler akibat terpapar dakwah-dakwah konservatif yang kerap mengandung hasutan, yang disampaikan dengan penuh semangat dan berapi-api, yang dapat ditemukan dengan mudah di Google dan YouTube.

Populasi sobat gurun pun makin hari makin banyak saja jumlahnya. Yang kemarin pakai jins dan kaos hingga kadang-kadang tampak lubang celengan di atas bokongnya, hari ini sudah pakai jilbab syar’i seraya mengolok-olok teman-temannya yang rambutnya masih terbuka. Sebagian dari mereka malah tak ragu-ragu membeli jilbab berharga jutaan rupiah.

Untuk yang laki-laki, yang kemarin berpenampilan ala boyband atau anak punk, hari ini sudah bergaya layaknya pria-pria Timur Tengah, dengan jidat hitam dan jenggot menjuntai sembari ikutan demo berjilid-jilid.


Oknum-oknum yang membuat video itu mungkin sekarang tertawa di belakang layar. Mereka berhasil mempropagandakan kebodohan kepada ribuan umat yang tengah dimabok agama.

Kita juga belum lupa soal heboh Tugu Demokrasi di depan Gedung DPRD Madiun yang dituding menyerupai tangga Freemasonry pada penghujung 2017 lalu. Jika mau dideretkan, akan panjang cerita soal kelucuan-kelucuan paranoia terhadap illuminati dan freemasonry. Karena itu, tak perlulah saya paparkan di sini.

Betapa berbahaya jika penalaran seperti itu terus disepakati orang-orang. Apalagi kita tahu, banyak masjid di Indonesia, bahkan kubahnya, yang bangunannya berbentuk segitiga. Apakah masjid-masjid itu semua harus dirobohkan dan dibangun ulang? 

Kalau segala yang segitiga lantas dikaitkan dengan illuminati, berarti cinta segitiga pun illuminati. Kue lupis pun juga tidak boleh dimakan karena itu illuminati.

Saking seringnya kita melihat orang-orang mabok agama menampakkan telernya, fenomena macam ini terkadang jadi tidak mengejutkan lagi. Pada tingkatan tertentu malah jadi hiburan selingan alih-alih sebuah kemirisan. Yang lebih mengagetkan justru pengalaman di ranah-ranah pribadi.

Saya, misalnya, sekitar setahun yang lalu pernah dianggap murtad oleh mantan pacar, hanya karena saya sering mengkritik ulama atau ustaz yang tidak beres seruan dan ceramahnya. Dia menganggap saya menjelek-jelekkan agama dan karena itu ia menganjurkan—lebih tepatnya mendesak—saya agar pindah agama saja.

Terlepas bahwa mantan saya ternyata masih perhatian dengan nasib saya setelah saya ditinggalnya nikah dengan pria lain, tetapi tetap saja saya kaget dengan dakwaannya.

“Udah nggak Islam lagi, ya, Mar? Udah murtad?” begitu kata-kata persisnya, melalui aplikasi Messenger.

Sungguh, gelombang mabok agama ini memang membuat banyak sendi kehidupan menjadi rumit. Dikit-dikit haram, dikit-dikit dosa. Ukuran haram-halal dan dosa-pahala di mana-mana, termasuk di minyak angin dan kosmetik.

Mau berjabat tangan pun tidak bisa semena-mena. Orang pacaran diributi. Beberapa malah ditelanjangi dan diarak-arak. Silap cakap sedikit bisa berujung kantor polisi, kalau bukan penjara. Saya sendiri beruntung cuma dikira murtad—tidak sampai dilaporkan seperti Ahok atau Andre Taulany.

Yang saya ceritakan tadi baru dengan mantan. Dengan adik perempuan saya satu-satunya pun hubungan saya jadi tak akur semenjak dia memutuskan menjadi ukhti garis keras. Segala hal di antara kami sekarang harus disikapi dengan hati-hati.

Efek-efek tersebut sebetulnya tidak terlalu masalah bagi saya. Apalagi itu cuma masalah personal. Yang lebih menjadi masalah adalah ketika orang-orang yang mabok agama itu menjadi rentan terhadap hoaks. Mereka seolah enggan memakai akal, dan menafikan kesadaran bahwa akal adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan. 


Malah makin ke sini, bukan lagi mudah terpapar, mereka justru gemar menyebarluaskan dan belajar memproduksi hoaks dan kebencian. Mereka tak percaya media-media mainstream, tapi jatuhnya malah menggandrungi media-media blog dan meme yang tak kredibel dan tak bertanggung jawab. Saban hari kita menyaksikan pola tingkah mereka yang seperti itu di media sosial. 

Maka, upaya banyak orang untuk menyampaikan literasi media kepada rakyat agar tidak termakan hoaks, saya kira, tak akan cukup. Sebab, mereka yang hari ini gemar menelan dan membagi-bagikan hoaks, menurut saya, bukan hanya karena mereka sulit untuk menjadi melek-media, melainkan berkelindah dengan kondisi mabok agama.

Jika nyamuk mabok disemprot Baygon, mereka yang mabok agama itu mabok karena disemprot propaganda politik berbungkus agama. Mereka membara seperti api oleh hasutan-hasutan dari tokoh politik pilihan mereka, bahwa lawan politik di seberang sana itu kafir, PKI, anti-agama, aseng, dan lain sebagainya. 

Pada titik ini, mereka lupa sama sekali bahwa mereka memiliki otak.

Yang paling menyedihkan bagi saya cuma satu: di antara ribuan orang yang mabok agama itu, banyak di antaranya teman-teman saya yang turut menjadi korban. Teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, teman kantor lama; semuanya pada mabok seperti ikan dalam toples yang diobok-obok. 

Mereka memang tampak makin religius dan taat agama, tapi di saat bersamaan makin garang dan curigaan alih-alih makin lembut, pengasih, dan pemaaf.

Saya tak bisa apa-apa kecuali berharap semoga rakyat Indonesia yang tengah mabok agama segera siuman. Lalu kita sama-sama bekerja membangun bangsa ini dengan pikiran yang jernih.

Artikel Terkait