Kerinduan segelintir warga negara Indonesia terhadap satu sosok yang dimuliakan oleh mereka akhirnya terbayarkan pasca seorang keturunan Arab bernama Rizieq Shihab kembali pulang setelah melakukan perantauan yang cukup lama ke Arab Saudi sejak panasnya konstelasi politik pasca Pilkada Jakarta 2017 lalu.

Bukan seorang Rizieq Shihab bila kehadirannya tidak memberikan sebuah drama sosial-kolosal yang kerap menjadi bahan tulisan media dan bisa bertahan dalam beberapa babak episode berita. 

Terlepas adanya tuduhan kasus pornografi yang sempat dialamatkan kepada Rizieq sebelum perantauannya ke negeri Arab, yang bahkan belum lama diangkat oleh media Australia dengan tagline “porn fugitive”, Rizieq akhirnya tetap pulang dengan tenang ke Jakarta untuk menemui jemaah setianya.

Sampai tulisan ini dibuat, kepolisian bahkan telah menutup berbagai kasus Rizieq yang secara langsung menyatakan bahwa kasus pornografi itu tidak terbukti bahkan nyatanya tidak ada foto-foto susulan yang lebih nakal dan semakin menyudutkan status kemuliaan dan keshalihannya sang imam besar dihadapan pengikutnya itu.

Drama Kolosal Kepulangan Rizieq Shihab

Belum lama menjelang hari dimana Rizieq bertolak dari Arab ke Indonesia, Prof. Mahfud MD selaku Menkopolhukam dalam sebuah wawancara dengan salah satu kanal TV swasta mengatakan secara terburu-buru bahwa kepulangan Rizieq disebabkan adanya pelanggaran administratif yaitu over stay.

Tidak lama dari argumen Prof. Mahfud tersebar ke berbagai media, Rizieq di Arab sana dengan segera melakukan konferensi pers untuk memberi klarifikasi bahwa dirinya tidak melakukan pelanggaran yang dituduhkan oleh Menkopolhukam tersebut.

Bersama dengan konferensi pers itu, pengikut Rizieq yang tergabung dalam FPI juga melakukan pembelaan dalam salah satu siaran televisi bahwa ada kelompok-kelompok yang mencoba untuk menghalangi kepulangan Rizieq ke Indonesia dengan berbagai upaya, termasuk dengan tuduhan pelanggaran over stay yang dilakukannya.

Dari drama kepulangan ini, media pun terjebak dalam sebuah arus pragmatis pemirsa yang secara terus menerus menginginkan sengketa ini menjadi tampak semakin kolosal karena akan memberi semacam arti penting bagi sosok atau tokoh yang mereka harapkan.

Sehingga, hari pahlawan 10 November pun kering dalam ingatan, UU Ciptaker yang bahkan seketika berdebu karena tidak ada trend pembahasan pasca disahkan. Bahkan berita update kondisi sebaran covid-19 sedikit bergeser pada ruang yang agak enggan untuk dijamah.

Bahkan ibu-ibu yang terbiasa menonton Ikatan Cinta pun harus rela dipindah kanalnya dan masuk kanal berita setengah sinetron tentang kepulangan Rizieq shihab.

Reaksi Pro-Kontra Netizen Yang (Kurang) Budiman

Dalam proses kepulangan Rizieq ini, ada sebuah fenomena sosial yang sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari. Yakni adanya kerumunan orang banyak yang bergerak dari berbagai daerah yang konon dilakukan secara sukarela tanpa adanya instruksi sentral.

Kerumunan orang yang menjemput Rizieq ini ternyata menimbulkan kemacetan yang cukup parah ke arah bandara Soetta. Menurut informasi dari berbagai media, mobil para penjemput itu ada yang sampai diparkir di jalan tol sehingga menciptakan maha karya kemacetan yang paripurna.

Dampak kemacetan itu pun akhirnya membuat para petugas yang bekerja di bandara harus mau berjalan kaki hingga bandara demi sebuah tanggung jawab profesional mereka dalam bekerja. Belum lagi adanya fasilitas bandara yang rusak akibat drama penjemputan ini.

Realitas ini diangkat menjadi berita di berbagai media hingga ada salah satu warga Indonesia yang merupakan artis ibu kota bernama Nikita Mirzani, memberikan sebuah argumen sindirian atas kemacetan yang diciptakan pengikut Rizieq Shihab yang menjemput ke bandara tersebut.

Menurut Nikita, bahwa Rizieq hanyalah manusia sebagaimana umumnya. Niki menyatakan bahwa tidak perlu ada sebuah pengkultusan pada sosok manusia. Niki menilai bahwa pulangnya Rizieq Shihab, di hari perdananya ke Indonesia, sudah datang dengan membawa masalah perdana yakni kemacetan.

Yang kemudian menjadi sebuah kontroversi, adalah pernyataan Niki yang mengatakan bahwa seorang Habib itu hanyalah tukang obat. Argumen Niki ini, berbuntut panjang hingga mengundang sesosok manusia bernama Maaher At-Thuwailibi yang merekam sebuah pernyataan personal yang menyatakan kecaman dan ancaman keras kepada Nikita Mirzani karena dianggap telah menghina salah satu manusia yang paling dimulikan di Indonesia (oleh segelintir orang pengikutnya).

Yang semakin menjadi kontroversi adalah, kecaman yang dilayangkan oleh Maaher yang bernama asli Soni Eranata ini bernada bar-bar dan sangat bertentangan dengan predikat dirinya yang disebut sebagai ustad  meski oleh segelintir jemaah Al-YouTubi wal Instagrami.

Ancaman Maaher itu berbunyi dalam potongan berikut:

“...... kepada mu hei, babi betina, lonte oplosan penjual selangkangan, saya himbau, 1x24 jam kau tidak melakukan klarifikasi dan permintaan maaf di depan publik secara terbuka, saya Maaher At-Thuwailibi beserta 800 laskar pembela ulama akan mengepung rumah mu .......”

Ungkapan Maaher di atas tentu menjadi gambaran dan nilai diri sang pengucap dan perangkai kata yang sangat relijius ini. Argumen patriarkis yang malah menunjukkan betapa lemah kelompok yang akan melakukan aksi premanisme gerudukan tersebut.

Mereka membutuhkan hingga 800 orang demi mampu bertemu dengan seorang wanita yang boleh jadi pernah menjadi objek imajinasi mereka yang dijaga dalam sebuah rahasia kenaifan bersama.

Pintu Agnostisisme yang Makin Terbuka

Mungkin, bila ungkapan Maaher di atas tadi saya dengar sekitar satu tahun lalu, dimana saya pernah begitu resah hingga menulis sebuah artikel berjudul "Beban Saya Menjadi Muslim Hari Ini", saya menjamin diri saya akan merasa sangat malu sebagai orang yang memiliki agama yang juga di anut oleh Maher.

Namun, puji semesta bahwa hari ini beban itu sedikit pun tidak saya rasakan sejak saya dengan tegas memutuskan menjadi seorang agnostik persis sekitar tahun lalu.

Saya dibawa untuk sadar bahwa agama, sejak kemunculannya hingga saat ini, tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah mampu menjadi solusi untuk beragam permasalahan sosial yang timbul dan berkembang di tengah manusia dan alam raya ini.

Bahkan saya melihat, dalam beragam variabel masalah, agama cenderung menjadi salah satu penyebab masalah sosial itu timbul dan berakhir dengan korban dan banyak pihak yang dirugikan. 

Kemunculan Maaher dan drama kepulangan Rizieq Shihab menjadi faktor pendukung yang memperkuat saya untuk tetap menjadi seorang agnostik, alih-alih kembali percaya pada konstruksi kelembagaan agama yang sekitar 30 tahun sudah saya lakoni bersama segala ritual yang dogmatif dan irrasionalnya.

Fenomena perseturuan Nikita dan Maaher akan menjadi pemicu kemuakkan bahwa agama, dalam berbagai arogansinya, seringkali merasa superior dan menindas varian lain yang sifatnya bertolak dan oposan dengan dirinya.

Fakta bahwa nusantara pernah dihuni dan dirawat oleh kelompok masyarakat berkepercayaan (politeis, animis, ateis, agnostik, dan variabel kepercayaan lainnya) sebelum kemudian menjadi kerajaan Hindu-Budha dan belakangan masuk agama semitik Islam, adalah bagian yang tidak etis dideviasi dalam penulisan sejarah untuk generasi masa depan.

Agnostik adalah cara pandang manusia dalam memperasangka bahwa dalam kehidupan yang multi-dimensi ini, ada atau tidaknya keberadaan Tuhan, merupakan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan oleh siapapun. Klaim tentang eksistensi Tuhan semua berasal dari sebuah tafsir kitab suci.

Meski dalam variabel agnostik lain, ada yang mempercayai tentang realitas awal, namun tanpa perlu mengerdilkan akal-pikiran untuk tunduk pada sebuah konstruksi pemikiran pada zaman tertentu yang berhasil dibakukan dan disakralkan menjadi sebuah dogma yang seringkali paradoks dengan realitas.

Semakin kelompok agama melakukan banyak gesekan sosial hanya karena sebuah pembelaan imajiner dan memaksa orang lain untuk berhenti berpikir dan menggunakan logika dalam memotret realitas, maka semakin muncul daya dorong alamiah pada psikologi manusia untuk benar-benar skeptis secara total bahwa jalan dogma ternyata tidak lagi relevan bahkan terlampau jauh untuk memberi sebuah solusi damai kehidupan.

Agama semestinya masih bisa memiliki fungsi sosial-horisontal sebagai nilai kebijaksanaan, yang bisa menjadi penyeimbang gerak liar sains dan teknologi. Nyatanya, untuk bisa dengan jujur dan berani mengatasi berbagai persoalan hidup, saya lebih memilih rasionalitas dan nurani saya untuk menjadi kemudi, alih-alih memberi kendali penuh pada sekadar imajinasi.

Sapere Aude!