Di keluarga kami, Papa adalah sosok yang sangat dihormati dan sangat ditakuti oleh seluruh anggota keluarga. 

Papa adalah salah satu anggota kepolisian yang sudah pensiun lima tahun yang lalu. Bukan karena sudah cukup umur, namun Papa mengalami sakit yang sampai sekarang belum bisa disembuhkan. Kini Papa harus berjalan memakai kursi roda.

Setiap hari Papa harus memanggil mbak Yum, panggilan kami untuk wanita yang merawat Papa, jika ingin pergi ke mana pun dia mau.

Malam itu, hujan begitu deras. Petir menyambar dengan suara yang begitu menakutkan. Suasana semakin mencekam.

“Ma, Papa sudah tidur?” tanyaku.

“Sudah. Kenapa kamu, nak?” melihatku dengan rasa keheranan.

Bagaimana tidak heran. Aku jarang sekali menanyakan kondisi Papa. Sedang apa Papa sekarang pun, aku tak pernah bertanya. Namun malam itu berbeda. Aku pun tidak tahu mengapa tiba-tiba aku bertanya dan ingin tahu keadaannya.

Sebegitu kejamkah aku?

Teringat ketika aku masih berada di bangku SMA. Waktu itu aku baru naik kelas XII. Bisa dibilang, sekolahku termasuk sekolah unggulan. Hanya siswa terpilih yang bisa duduk di sekolah itu.

Papa mengatur semua yang diinginkan anaknya, termasuk masalah masa depan mereka. Waktu itu, ibu wali kelas meminta seluruh siswa mengisi blangko yang berisi tentang apa yang siswa inginkan untuk ke depannya.

Di setiap kenaikan kelas, seluruh siswa kelas XII wajib mengisi blangko itu dengan benar dan serius. Hal ini ditujukan untuk membagi kelas sesuai dengan keinginan dan kemampuan siswanya.

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku pulang dengan begitu bahagia. Membawa blangko yang wajib kuisi dengan beribu pikiran keinginan yang akan kutulis di blangko itu.

Seperti biasa, kami tidak bertemu dengan Papa kecuali di malam hari. Ya, di atas meja makan yang berbentuk kotak memanjang, kami bercerita dan bercanda dengan Papa. Sebegitu sulitnya menemukan waktu bersama di keluargaku? Sudahlah.

Malam ini, dengan riang aku mempersiapkan blangko dan keinginanku. Aku keluar dari kamar menuju ruang makan, yang sudah dari tadi sudah siap untuk disantap.

“Naya, ayo makan. Papa sudah menunggu,” panggil Mama.

“Iya, Ma, sebentar” (mengambil blangko dan bolpoin).

Meja makan sudah dipenuhi dengan makanan kesukaan keluarga kami. Gudeg, ayam kecap, tahu dan tempe bacem, rendang daging sapi dan yang selalu ada di meja makan yaitu kerupuk. Ah, memang kesukaan kami sekeluarga.

Setiap malam meja makan selalu riuh dengan canda tawa. Cerita yang sebenarnya biasa, tapi kalau Papa yang yang menceritakan pasti akan berbeda. Sebuah cerita akan menjadi menarik dan membuat semangat kami semua.

Setengah jam berlalu, meja makan sudah mulai dipenuhi dengan piring-piring kotor yang sudah kosong. Aku sudah mulai bersiap untuk bilang ke Papa tentang tugas pengisian blangko tadi siang.

“Pa, ada tugas dari sekolah untuk mengisi blangko masa depan,” kataku ke Papa.

“Wah, ternyata anak kita sudah besar ya, Ma. Sudah harus mengisi blangko masa depan,” Papa menimpaliku.

Seperti dua kakakku sebelumnya. Mereka juga mengisi blangko masa depan saat kenaikan kelas XII. Kini, mereka sudah bekerja menjadi polisi seperti Papa. Itu semua juga atas keinginan Papa.

“Ya dong, Pa. Naya udah jadi anak dewasa sudah hampir tujuh belas tahun,” jawab Mama sambil tersenyum dengan aura wajahnya yang begitu mempesona.

Aku tarik napas panjang. Berharap semoga akan baik-baik saja.

“Pa, aku tidak ingin jadi polisi seperti Kak Nan dan Kak Nuh. Aku ingin berbeda dari mereka,” sambil mengerutkan dahi dan sedikit merengek. Setidaknya Papa tahu kalau aku memang tidak tertarik jadi polisi.

“Jadi polisi berat, Pa. Aku melihat Papa, Kak Nan dan Kak Nuh yang selalu sibuk di luar, jarang bertemu keluarga. Bertemu hanya malam hari di meja makan seperti ini.” Aku sedikit menambahi.

Papa masih diam, Mama pun begitu. Keduanya saling bertatap muka dan kebingungan.

Papa menarik napas dalam-dalam. “Kamu ingin jadi apa jika bukan polisi, Nay? Kenapa kamu tidak ingin melanjutkan pekerjaan yang sudah turun-temurun dari eyangmu?” tanya Papa agak sedikit membentak.

“Nay, jadi polisi itu memang berat. Kita bekerja mengabdi untuk negara. Apa kamu merasa pertemuan kita setiap malam di meja makan seperti ini kurang membuatmu bahagia?” lanjut Papa

“Nay, semua pekerjaan pasti ada suka dukanya. Apa karena kamu perempuan terus kamu tidak mau jadi polisi?” Papa menambahi.

“Bukan begitu maksud Naya, Pa. Aku juga ingin mengabdi pada negara tapi dengan cara lain, Pa. Aku ingin menjadi seorang guru, Pa. Mengabdi pada negara tidak harus jadi polisi, kan, Pa?” jawabku.

Wajah Papa makin muram dan Mama tidak berani berkata apa-apa. Suasana yang tadinya hidup menjadi mati seketika. Meja makan yang masih berisi piring kotor, masih sama. Mama juga belum berani beranjak pergi dari tempat duduknya.

“Memang benar, Nay, mengabdi tidak hanya menjadi polisi. Tapi pekerjaan ini adalah wasiat dari Eyang kakungmu. Dia selalu bilang, anak-anak Papa harus jadi polisi. Mengabdi untuk negeri sebagai polisi,” Papa masih memaksaku.

“Pa, Naya tidak ingin dipaksa menjadi polisi hanya karena wasiat Eyang. Naya ingin jadi guru, Pa.” Sambil meninggalkan meja makan yang belum berubah.

Papa dan Mama masih tetap di meja makan. Melihatku pergi begitu saja membuat mereka hanya terdiam dan bingung.

Sejak saat itu, hari-hariku berbeda dari sebelumnya. Papa tidak pernah menyapaku. Membiarkanku tumbuh besar dengan keinginanku. Meskipun aku tahu sebenarnya Papa selalu memperhatikan gerak-gerikku. Selalu menanyakan kabarku lewat Mama.

Kami tidak saling tegur sapa sampai saat ini, tujuh tahun telah berlalu. Aku telah lulus menjadi seorang guru di sebuah lembaga pendidikan internasional yang berada tidak jauh dari rumahku. Papa juga sudah pensiun meskipun pensiun karena sakit.

Empat tahun aku menyelesaikan belajarku di sebuah universitas keguruan yang bisa dibilang terbaik di provinsiku. Selama belajar aku mengatur keuanganku sendiri. Bekerja menjadi guru privat sampai bekerja paruh waktu di sebuah toko.

Dengan begitu, aku berharap Papa mau menerimaku kembali setelah aku lulus dan menjadi guru. Ah, perjuanganku belum membuahkan hasil. Sepulangku ke rumah, Papa masih hanya diam dan belum mau menerimaku.

Aku tidak akan pernah putus asa membuka hati Papa perlahan. Waktu demi waktu kulalui dengan tangisan di setiap malam. Di atas sajadah aku bercerita kepada Tuhan. Papa kapan Papa menerimaku kembali?

Malam itu, aku berusaha membuka mulutku untuk bertanya kabar Papa. Inginku bercerita lagi seperti dulu. Di atas meja makan dengan segala keriuhannya. Tapi apalah daya, dunia ini seperti belum mengizinkanku dekat dengan Papa.

Pa, doaku untukmu tidak akan pernah usai.