2 tahun lalu · 15720 view · 3 menit baca · Politik 065669700_1426518006-nusron_wahid_5.jpg
sumber: liputan6.com

Maaf, Saya Membela Mas Nusron di Atas Tangisan Ustaz Yusuf Mansur!

Perdebatan antara pihak yang pro dan kontra terhadap Ahok dalam sebuah acara televisi swasta nampaknya masih berlangsung sangat panas. Acara yang diberi tema “Setelah Ahok Minta Maaf” tersebut menghadirkan pihak yang menganggap ucapan Ahok multitafsir dan juga mendatangkan pihak yang yang masih saja mempermasalahkan ucapan Ahok terkait al-Maidah ayat 51 meskipun yang bersangkutan sudah meminta maaf.

Reaksi keras terhadap Ahok ditunjukkan oleh oleh Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), DR. Tengku Zulkarnain MA. Sebagai wakil MUI, Tengku Zulkarnain menyampaikan dengan tegas bahwa statement yang dikeluarkan oleh Basuki Tjahaja Purnama termasuk dalam kategori Menghina Alquran dan atau menghina ulama yang punya konsekuensi hukum tersendiri.

Lebih luas lagi dia menyampaikan jika hukum Islam diterapkan bagi penghina Islam maka hukumnya adalah dibunuh, disalib dan diusir dari negeri ini. Tengku Zulkarnain juga menyampaikan bahwa pendapat dan sikap keagamaan MUI sudah akan ditindaklanjuti ke Bareskrim Polri.

Jika memang ucapan Ahok dianggap menghina Al Quran, maka ijinkanlah saya membuat analisa atas apa yang diucapkan oleh Gubernur DKI Jakarta ini.

“Jangan mau dibohongi pakai surat Al Maidah ayat 51.”

Kata “Pakai” jangan dihilangkan karena kalau sampai hilang, arti dari ucapan Ahok akan berbeda dengan apa yang dia maksudkan. Seperti yang ramai disebut bahwa surat Al Maidah ayat 51 sering dipolitisasi untuk kepentingan kampanye untuk tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin. Padahal yang dimaksud sebagai awliya di sini bisa ditafsirkan secara beragam. Menurut Quraish Shihab, awliya bisa diartikan sebagai orang yang dekat dengan seseorang.

Yang dimaksud dengan haram memilih non muslim sebagai Awliya adalah terlalu dekat dengan non muslim (Yahudi atau nasrani yang merupakan musuh) sehingga segala rahasia seorang muslim sampai terdengar oleh para musuh dan digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan umat Muslim sendiri.

Demikian tafsiran yang disampaikan oleh ahli tafsir sekelas Quraish Shihab. Apakah Ahok selama ini membawa kerusakan bagi umat Muslim sehingga tidak layak dijadikan pemimpin? Di samping itu, Ahok dipilih sebagai pemimpin administratif bukan pemimpin suatu golongan agama tertentu.

Ketika suatu ayat turun pasti ada asbabun nuzul atau sebab-sebab peristiwa yang memicu lahirnya suatu ayat. Begitu pula dengan ayat yang satu ini. Tentu tidak bijak memukul rata semua Yahudi dan Nasrani tidak pantas dijadikan pemimpin. Pastilah yang dimaksudkan Yahudi dan Nasrani tertentu saja.

Kalau benar begitu, apa yang diucapkan Ahok soal al-Maidah ayat 51 tersebut harusnya dilabeli sebagai “membela” ayat Alquran. Bukannya menistakan. Karena sangat memalukan menggunakan ayat-ayat dalam kitab suci untuk kepentingan politik. Padahal tafsirnya bisa lain sama sekali dari yang diklaim pihak tertentu. Setuju?

Dalam hal ini, saya sependapat dengan pernyataan Nusron Wahid “Ayat Al Maidah ayat 51 tidak berkaitan dengan politik dan multi tafsir. Jangan digunakan untuk menistakan orang lain dan melawan orang. Yang berhak memegang tafsir yang benar hanyalah Allah dan Rasulullah SAW. Bukan MUI atau yang lainnya. Lebih baik fokus agar negara tidak bubar karena urusan sepele seperti ini.”

Pernyataan yang sungguh dewasa lahir dari seorang Nusron Wahid. Tapi siapa sangka bahwa ketegasan Nusron justru ditanggapi secara baper oleh Ustaz Yusuf Mansur. Melalui akun Instagramnya, Yusuf Mansur membuat video yang isinya menghimbau supaya anak-anak tidak ikut-ikutan sikap Nusron yang melotot kepada ulama.

Sikap tersebut tidak sopan. Ulama juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sesalah-salahnya ulama adalah sebenar-benarnya kita. YM juga berpesan agar Nusron tidak arogan dalam bersikap. Dengan air mata yang berlinang, pesan-pesan tersebut disampaikan oleh Ustaz YM.

Kalau memang ulama adalah manusia biasa dan punya banyak kesalahan, mengapa kita tidak boleh mengkritik kesalahan para ulama dan beradu argumen? Mengapa harus mengkultuskan ulama yang notabene adalah manusia biasa?

Kalau memang sama-sama melakukan kesalahan, berarti ulama harus siap berhadapan dengan pihak yang berbeda pendapat dengan mereka yang juga punya keahlian menafsirkan ayat-ayat tertentu.

Lagipula, apakah ulama yang dimaksudkan oleh Ustaz YM sama dengan ulama dalam artian yang sesungguhnya? Ulama sering diartikan sebagai pemuka agama yang mengayomi, membimbing dan membina umat Islam dalam permasalahan agama. Sedangkan secara harafiah ulama diartikan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu.

Rasanya masih berat jika gelar ulama disematkan pada mereka yang tidak bijaksana menghadapi permasalahan dan justru menjadi kompor suatu konflik di masyarakat. Rasanya masih berat jika gelar ulama diberikan kepada mereka yang bukannya ingin mendamaikan malah memperkeruh situasi dan menghakimi. Rasanya sulit memberikan gelar ulama kepada mereka yang masih tidak ikhlas memaafkan. 

Ya, maaf sekali ustaz Yusuf Mansyur kalau saya harus membela Mas Nusron dalam kasus ini. Saya lebih memihak Mas Nusron karena beliau lebih mementingkan kesatuan dan persatuan bangsa ini ketimbang ribut soal tafsiran ayat yang sejatinya bisa punya banyak makna.

Maaf kalau linangan air mata Ustaz tak bisa menaklukkan hati saya karena Mas Nusron sendiri yang bilang bahwa dia tidak bermaksud melotot tapi wajahnya memang begitu sejak lahir. Coba deh ustaz tabayyun dulu sama Mas Nusron. Katanya kan Muslim harus tabayyun dulu, taz, kalau ada masalah. 

Oh ya Ustaz, mengapa videonya dihapus beberapa jam setelah diposting? Kalau yakin dengan pesan-pesannya, tidak perlu dihapus, kan?

Artikel Terkait