Pertemuan sosialisasi kali ini agak membebani pikiranku, hampir saja aku ingin membatalkan keikutsertaanku, karena dalam pertemuan ini aku tak sanggup berhadapan dengan seorang perempuan yang pernah menorehkan luka yang mendalam di hatiku.

Sebenarnya bukan hanya aku yang terluka, mungkin saja dia jauh lebih terluka karena kata-kata dan sikapku yang pernah menentangnya, bayangkan saja seorang staf berani membongkar aib atasannya di muka umum, pastilah akan menyisakan kemarahan dan kebencian yang teramat dalam di hatinya.

Teringat kembali rekaman kejadian 3 tahun yang lalu yang sungguh sangat memalukan, karena telah mempertontonkan kebodohan kami di muka umum, kebodohan akibat kurangnya kendali diri saat dikuasai oleh nafsu dan emosi sesaat.

Permasalahan antara kami (aku dan temanku) dengan atasanku bermula saat dia meminta kami untuk ikut menandatangani dokumen pertanggungjawababn administrasi salah satu kegiatan. Karena kami tidak mengetahui dan tidak terlibat dalam pelaksanaan kegiatan dimaksud, maka kami menolak untuk menandatanganinya.

Akibat penolakan kami tersebut, atasanku langsung merespon dengan tidak melibatkan kami lagi dalam semua kegiatan yang ada. Walaupun hati kami tidak bisa menerima keputusan sepihaknya, tapi kami tak melakukan protes, kami tetap berkantor seperti biasanya walaupun tak lagi diberikan job apapun.

Berbulan-bulan perang dingin pun berlangsung antara kami, tak ada lagi saling sapa dan lempar senyum, yang nampak hanya muka penuh kebencian, gestur yang menandakan ketidaknyaman antara satu sama lainnya.

Puncak permasalahan terjadi saat Kepala Dinas mengundang kami semua hadir dalam rapat evaluasi program dan kegiatan. Dalam rapat tersebut masing-masing dari kami diminta untuk memaparkan progress dari pelaksanaan kegiatan, hambatan serta alternatif penyelesaiannya.

Saat tiba giliranku dan juga temanku yang harus memaparkan laporan dari pelaksanaan kegiatan kami masing-masing, kami spontan melaporkan bahwa kami tidak bisa memaparkan apapun karena kami tidak lagi dilibatkan oleh atasan kami dalam semua kegiatan yang ada.

Aku dan temanku berbicara secara blak-blakan mengungkap apa yang telah terjadi di antara kami dan atasan kami. Belum selesai kami mengungkapkan semua permasalahan yang ada, atasan kami langsung memotongnya dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada kami sebagai upaya pembelaan dirinya.

Akhirnya percecokan tak dapat dihindarkan, kami saling serang dalam forum tersebut, berebut ingin bicara karena masing-masing merasa benar. Kepala Dinas sebagai pimpinan tertinggi di kantor kami berusaha menengahi dan memerintahkan kami untuk tidak berbicara lagi.

Rapat pun berakhir tanpa hasil yang diharapkan, sebaliknya hanya membuat suasana semakin tak kondusif, kemarahan dan kebencian semakin tumbuh subur di hati kami masing-masing. Perang dingin pun berlanjut hingga kepindahan atasan kami ke dinas yang lain.

Saat mengetahui kepindahannya kami merasa plong karena tidak lagi harus berpapasan dengan muka sinisnya setiap waktu, kami sangat bersyukur karena tidak ada lagi yang akan menimbulkan noda dosa di hati kami.

Tapi perasaan plong itu tak berlangsung lama, karena perasaan kami tetap terbebani, tetap teringat perlakuan bodoh kami yang sangat memalukan, bercampur aduk dengan penyesalan.

Aku terus merenung, menyesali kejadian yang telah berlalu. Saat itu kami hanya mengikuti ego, karena secara usia dan kepangkatan kami merasa  lebih senior dari atasan kami, sementara dia sebagai atasan kami juga merasa bahwa apapun perintahnya wajib dipatuhi oleh kami sebagai stafnya.

Sejak kejadian itu, hatiku selalu resah dan merasa sangat berdosa, selalu memikirkan bagaimana agar kami bisa berdamai kembali. Tapi lagi-lagi egoku menghalangiku untuk memulai berkomunikasi dengannya.

Untuk mengurangi keresahan dan rasa bersalahku, maka satu-satunya hal yang kulakukan hanya memohon ampun pada Allah dan juga mendo’akan mantan bosku, meminta padaNya agar kami bisa legowo untuk saling memaafkan.

Dan hari ini adalah hari pertama kami bertatap muka secara langsung sejak kami tidak lagi sekantor. Beberapa saat kemudian terlihat rombongan orang memasuki aula rapat, di antaranya ada dia sang mantan bos yang akan menjadi salah satu narasumber dalam sosialisasi tersebut.

Acara pun dimulai, pembukaan dilakukan oleh Kepala Dinas, kemudian dilanjutkan pemaparan dari narasumber ke 1 hingga ke 3. Setelah memasuki sesi tanya jawab, akupun memanfaatkan waktu untuk bertanya dan meminta penjelasan terkait satu topik.

Dan disinilah aku merasa takjub mendengar mantan bosku menyapa namaku sebelum mulai menjawab pertanyaan yang kuajukan. Dia begitu santun saat menyampaikan penjelasan sesuai topik yang aku pertanyakan.

Singkat cerita, setelah acara berakhir aku segera menghampirinya dan menjabat tangannya sambil mengucapkan terima kasih, dia melemparkan senyum yang teramat tulus kepadaku sembari menanyakan temanku yang juga berseteru dengannya.

Temanku merasa sangat terharu saat mantan bos kami menyalami dan memeluknya erat, hingga kembali ke ruangan temanku masih saja menangis sesegukan. Aku memahami apa yang dirasakannya, karena sama persis dengan apa yang sedang kurasakan. Ya, kami sama-sama merasa lega karena kami sudah berdamai dengan seteru kami.

Walau tak ada maaf yang terucap dari mulut kami, tapi gestur kami sudah menampakkan berjuta maaf yang tulus dari lubuk hati terdalam, maaf atas semua khilaf dan salah yang telah kami lakukan.

Maaf adalah kata yang sungguh ajaib, seketika kami lupa bahwa kami pernah saling menyalahkan, saling membenci dan saling menyakiti, semua perasaan negatif itu pun hilang tak berbekas.

Karena maaf, seketika mendatangkan prasangka baik, menumbuhkan kasih sayang. Yang teringat hanyalah kebaikan dan kelebihannya, hati pun enggan membicarakan keburukan dan kelemahannya.

Yang sangat kami syukuri, tak ada lagi beban yang menghimpit hati, sembuh seketika luka bathin yang menganga, tak ada lagi harga diri yang direndahkan, semua kembali menjadi nol, kembali disucikan dari noda-noda dosa yang menumpuk. Alhamdulillah ya Rabb.