Aku ingat betapa dulu aku mengagumimu, Gie. Keberanianmu dulu menginspirasiku. Tulisanmu membuka mata dan menambah daya kritisku. 

Andai kau tak mati muda, mungkin perjuanganmu akan berbuah manis bagi negara kita. Meski memang kau menganggap kematianmu adalah kebahagiaanmu. "Berbahagialah mereka yang mati muda," katamu mengutip perkataan filsuf Yunani.

Dulu aku bisa merasakan kebahagiaanmu itu, Gie. Mengingat begitu banyaknya penindasan dan ketidakadilan serta kesewenang-wenangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, rasanya memang lebih baik tidak melihatnya lagi.

Tetapi itu dulu, Gie. Sekarang sepertinya aku lebih bahagia menikmati hidup. Itulah sebabnya aku minta maaf kepadamu. Kita tak lagi sepaham. Mulai dari soal keberanian, tentang mati muda, sampai perjuangan politik.

Kau tahu, Gie, sejak pilpres sekitar 2 tahun lalu aku berhenti bicara banyak tentang politik. Sebab sejak saat itu, banyak pengamat politik dadakan. Mereka seolah-olah lebih tahu segalanya dan menganggap itu kebenaran. Padahal sudah sejak lama seorang filsuf menasihati kita bahwa kenyataan belum tentu kebenaran.

Tetapi sekarang, kata seorang teman, kebenaran hanya milik Jonru. Apa yang dikatakannya akan dikutip banyak orang tanpa banyak berpikir lagi, tanpa menganalisis, dan ah, hingga akhirnya ada tukang sate yang ditahan polisi karena dianggap menghina pemenang pilpres tersebut, Pak Jokowi.

Dan, kejutan!!! Kau tahu siapa pesaingnya? Pak Prabowo Subianto. Aku ingat dalam catatan harianmu, kau berteman dekat dengan beliau. Tetapi aku tak membahas pertemanan kalian di sini. Hanya terbesit saja pertanyaan, apakah kau akan menjadi salah satu tim suksesnya andai kau masih hidup?

Jika ya, maka kita berbeda lagi. Sebab pilpres kemarin aku memilih Jokowi. Tetapi jangan sinis dulu. Aku memilihnya bukan karena hasil blow up media, seperti yang banyak dituduhkan padanya. Bukan juga karena pencitraannya yang terlihat sederhana.

Aku memilihnya setelah perkenalan lama dengan beliau–sama halnya juga dengan Pak Prabowo. Seperti kata ahli komunikasi politik, cara terbaik menilai politisi adalah saat dia secara tiba-tiba diwawancarai.

Mungkin juga kau mendengar di alam sana saat Pak Jokowi diwawancarai wartawan tentang pelanggaran HAM. Ah, aku tak sanggup menahan tawa menceritakannya, Gie. Begini saja, coba kaji jawabannya ketika ditanya, "Pak, bagaimana dengan kasus pelanggaran HAM?" Kau tahu apa jawaban beliau? Ya diselesaikan.

Jawabannya tak seperti politisi lain, yang berputar-putar ke sana kemari, ke sini kemari, kemari ke sana, kemari ke sini, dan ujung-ujungnya, tanpa ujung. Tetapi jawaban beliau akhirnya membuat wartawan itu terdiam. Tersenyum.

Jawaban yang belum pernah didengarnya atau sama sekali tak terpikirkannya. Mungkin semula si pewawancara menebak jawaban: Kita harus seperti ini, bla, bla, bla…membentuk dewan pencari fakta, bla, bla, bla…atau kita harus tangkap aktor intelektualnya, bla, bla, bla…ah, surga telinga.

Aku ingat juga, beliau juga pernah berkelakar, saya harus dengan JK. Kalau tidak, akan jadi OOWI.... Mengagumkan, bukan? Candaan itu sangat-sangat tepat kala itu.Ya, saraf yang tegang karena berdebat, akhirnya rileks.

Aku memilih, salah satunya, karena beliau punya selera humor. Sebab pernah terpikirkanku, Gie, kita tak tahu sepenuhnya yang terjadi dalam dunia politik. Katanya lagi, tak ada kawan atau musuh yang abadi, yang ada kepentingan abadi. Pertanyaannya, apakah kita harus serius sampai rambut rontok, sementara para politisi di Senayan tertawa terbahak di restoran setelah mereka berdebat kusir di gedung parlemen?

Sudahlah, aku hanya mau bicara tentang Jokowi. Tentang kami yang sama-sama Slankers dan Outsiders.

Tapi, ah.... Cukup bicara tentang Pak Jokowi, Gie. Nanti para penggemarnya semakin terbuai sampai lupa tetangga yang menangis di gubuk derita, dan para haters akan kelelahan mencari kesalahan beliau sampai lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Ya. Yang terjadi hari ini mengingatkanku pada puisi ratusan tahun lalu tentang seseorang yang bermimpi mengubah dunia, tetapi setelah akhir hayat dia baru sadar, dia harusnya mengubah dirinya terlebih dahulu.

Ehmm, begitulah, Gie. Sepertinya lain kali akan kita sambung. Terlalu panjang pun, nanti kau bosan membacanya. Sama seperti aku bosan mendengar penjelasan panjang tentang kasus Century dan kasus Hambalang yang di ujung penjelasan, aku belum mengerti duduk masalahnya, dan pemberi penjelasan, lupa apa yang dikatakannya. Atau tentang tragedi Trisakti, Kudatuli, atau peristiwa Malari, yang mewarnai perjalanan negeri ini.

Di waktu yang lain nanti, kita akan bahas tentang penyesalanmu menjatuhkan Orde Lama dan turut mendirikan Orde Baru. Akan kuceritakan juga keadaan negara kita sekarang, di mana agama masih jualan paling laris untuk merebut kekuasaan politik. Padahal seperti yang kita yakini bersama, agama lebih mulia daripada politik.

Kita tunggu titisan Mahatma Gandhi lahir di Indonesia, di mana politik adalah muara dari ajaran agama yang mengalir di hidup kita. Dengan kata lain, berpolitik untuk kebaikan sebagaimana diajarkan oleh agama. Karena sampai saat ini aku yakin, Gie, semua agama mengajarkan kebaikan. 

Oh ya, selain itu kita masih memiliki kesamaan: keinginan memanusiakan manusia.