2 tahun lalu · 1498 view · 4 min baca · Filsafat ahok-1263x560.jpg
Ilustrasi: notanostra.com

Maaf dari Sang Filsuf

Meminta maaf atas kesalahan yang tidak dilakukan adalah juga satu sikap, bahkan paling, bijak. Sebuah sikap yang akhir-akhir ini bisa kita dapati hanya dari diri seorang filsuf bernama Ahok.

Saya bukan pendukung Ahok dalam arti relawan yang dibayar untuk mengkampanyekan kebaikan-kebaikan dirinya. Saya juga bukan warga yang punya suara untuk saya arahkan ke diri Ahok di momentum Pilkada DKI Jakarta nanti.

Saya hanya seorang pelajar (mahasiswa) yang gemar mendemonstrasikan kebebasan berpikir, apalagi yang berlandas pada nilai-nilai kebenaran—tentu saja kebenaran relatif. Dan saya kira, tak satu pun seorang terpelajar akan bersikap melawan keniscayaan semacam ini.

Belakangan, viral Ahok yang sudah berhari-hari tersebar luas, memang tak sedikit mendapat tanggapan dari beragam kalangan. Mulai dari professor, kaum cerdik-pandai, guru, agamawan sampai golongan awam, semua seolah bersatu hanya untuk memberi respon.

Banyak terlihat, yang satu mendukung Ahok, yang lain beralih untuk menolak. Ada yang berusaha menjernihkan (memperjelas) maksud kata-katanya, ada pula yang justru memperkeruh dengan memplintir-plintir secara tak bertanggung jawab.

Ya, respons atas pernyataan Ahok memang menjadi satu momentum krusial dalam hal memperkaya khazanah intelektual. Setidaknya, melalui respon yang beragam dari banyak kalangan yang beragam pula, problem soal kepemimpinan non-muslim menjadi jelas.

Bahwa ide semacam ini, yang hampir melulu jadi pegangan absolut, bukan lagi ide yang relevan dalam konteks negara demokrasi seperti di Indonesia. Seperti penjelasan dari Ahok sendiri misalnya, ide itu “turun” bukan dalam konteks pemilihan, melainkan peperangan.

Tetapi sayang, alih-alih memperkaya wawasan, kebanyakan respon justru membuat bangsa Indonesia yang terkenal besar karena persatuannya ini tertuju pada kondisi ketidakharmonisan. Bukan karena pernyataan Ahok yang bernada kritik kepada para politisi berkedok agamawan, melainkan tanggapan atasnya yang sama sekali kontra-produktif dan jauh dari jiwa keterpelajaran. Keegoisan, terutama dari mereka yang meresponnya tanpa akal sehat, menjadikan keharmonisan bangsa jadi retak.

“Ahok melecehkan al-Quran”; “Ahok menistakan ajaran agama (Islam)”; begitulah salah dua dari tanggapan atas pernyataan Ahok. Meski dibangun atas dasar keyakinan penuh, tapi keyakinan yang dijadikan alas itu tak ada bedanya dengan keyakinan para politisi “penjual” ayat. Keyakinan palsu!

Di tulisan ini, saya tidak akan berpretensi jauh untuk menyoal pernyataan Ahok yang kurang lebih menyebut, “…dibohongi pake al-Maidah 51…” itu. Di samping saya bukan ahli bedah ajaran agama, saya pun tidak hobi mengulas hal-hal yang hanya tampak melawan akal sehat manusia ini. Sekali lagi, saya hanya seorang pelajar yang gemar mengukuhkan nilai-nilai kebenaran relatif tanpa hendak mengabsolutkannya sekaligus.

Lagipula, tentang pernyataan Ahok di atas, toh sudah banyak orang yang memberi klarifikasi, seperti misalnya dari ahli tafsir terkemuka, Quraish Shihab. Hematnya, saya hanya akan mengemukakan satu pandangan sederhana terkait “permintaan maaf” Ahok yang ia lontarkan di tengah kecamuk kesalahpahaman massal yang saya nilai sebagai sikap dari seorang filsuf sejati.

***

Di awal saya terkesan naif di mana saya menilai Ahok tidak konsisten pada hati nuraninya sendiri. Sejak tampilnya ia sebagai figur pemimpin yang lain daripada yang lain: blak-blakan, jujur, tegas, dan tak kenal kompromi, termasuk kepada para politisi yang gemar plintir-plintir ajaran agama demi kekuasaan, mustahil seorang Ahok sudi untuk meminta maaf. Tetapi apa daya, Ahok benar-benar melakukan itu. Saya pun terpaksa harus tanggalkan sifat-sifat filsuf yang ada pada dirinya ini.

Biar bagaimana pun, seorang filsuf harus terus mempertahankan nilai kebenaran meski eksesnya berujung pada kehancuran diri si filsuf itu sendiri. Seperti Socrates, ia rela mati karena tahu bahwa kematian jasad tidak akan membawa serta kepada matinya kebebasan berpikir khas manusia. “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan,” begitulah Soe Hok Gie pernah memberi penegasan tentang bagaimana seorang filsuf harus berlaku.

Hanya saja, setelah menyimak lebih jauh soal alasan mengapa ia harus meminta maaf, terutama kepada khalayak muslim Indonesia, sifat-sifat filsuf yang tadinya harus saya tanggalkan dari diri seorang Ahok, justru kembali harus saya lekatkan dengan penuh kesadaran tanpa embel-embel yang lain.

Bahkan, dengan pernyataan maafnya tersebut, sifat filsufnya ini justru semakin kokoh. Sebab ternyata, saya mulai sadar bahwa meminta maaf atas kesalahan yang tidak diperbuat adalah juga sifat seorang arif-bijaksana. Dan Ahok memperlihatkan itu. Sebuah sikap yang hanya akan lahir dari diri seorang filsuf.

Ya, dengan meminta maaf, tindakan semacam ini justru menjadikan Ahok semakin patut untuk kita muliakan. Saya sering mendengar satu kalimat bijak yang mengatakan, “Memberi maaf jauh lebih mulia daripada meminta maaf.” Tetapi melihat sikap Ahok, kalimat bijak ini terpaksa harus saya balik: meminta maaf jauh lebih mulia daripada memberi maaf.

Mengapa Ahok patut saya muliakan hanya karena dirinya yang justru meminta maaf? Bukankah dengan meminta maaf, itu pertanda bahwa Ahok telah berbuat salah? Sungguh, pertanyaan semacam ini hanya akan terlontar dari orang-orang yang berpikiran dangkal; dari orang-orang yang, kata Pram, tidak adil sudah sejak dalam pikiran.

Harus kita sadari, berbuat salah bukan melulu jadi syarat seseorang harus meminta maaf. Contoh Ahok, hanya karena berani mengkritik mereka yang suka menipu, yang gemar pakai al-Maidah 51 sebagai tameng menolak kepemimpinan non-muslim, Ahok harus sudi untuk meminta maaf. Padahal, jika kita mau jujur pada diri sendiri, justru Ahok berusaha membela ajaran agama Islam, bukan malah sebaliknya: melecehkan atau menistakan. Dan karena itu kita bahkan patut menghatur terimakasih untuknya.

Tetapi mengapa Ahok harus meminta maaf? Tidak menutup kemungkinan memang bahwa dengan bertindak semacam ini, Ahok hendak mendulang elektabilitasnya kembali yang mungkin sedikit tersungkur di bawah fitnah para tukang plintir kata-kata.

Toh kalau pun ini benar, ada muatan politis di dalamnya, tak masalah juga, bukan? Ahok adalah politisi. Sikap dan tindak-lakunya pun niscaya akan politis. Yang masalah itu kalau kampanye hitam. Sebab itu bukan sikap seorang politisi, melainkan sikap yang apolitis.

Terlepas dari itu, sikap yang ia tunjukkan dengan meminta maaf tanpa ada salah adalah sikap yang sungguh-sungguh bijak. Saya kira Ahok sadar bahwa kesalahpahaman atasnya hanya akan membuat bangsa yang besar karena persatuan dalam ke-bhinneka-an ini, berujung pada keretakan karena rasa ketidakharmonisan. Di sinilah Ahok mendapat momentum, seperti seorang filsuf, pun seperti nabi sendiri, yang patut kita muliakan kebesaran sikapnya.

Tetapi lagi-lagi, upaya semacam ini pun hampir mustahil akan dipahami oleh orang-orang yang memang sudah sejak dalam pikirannya bersikap dangkal alias tidak adil. Hanya karena ketidaksukaan pada figur, benar-tidaknya tindakan si figur itu, melulu akan dinilai salah. Hanya kepada merekalah yang punya nalar sehat yang akan menilai bahwa Ahok benar-benar hendak menjaga keharmonisan dengan meminta maaf.

Artikel Terkait