Freelancer
5 bulan lalu · 3596 view · 4 min baca · Politik 39380_13828.jpg
Tribun

Ma'ruf Amin Membuktikan Ijtima Ulama Hanya Melahirkan Kebodohan

Sentimen agama masih dan mungkin akan terus menjadi isu yang seksi dan sensasional dalam kancah politik di Tanah Air. Tak terkecuali Pilpres 2019, sentimen agama gencar dimainkan untuk menjatuhkan kompetitor. 

Sedari awal, Jokowi sudah dituduh anti-Islam, antek asing, antek Cina, dan keturunan PKI. Jokowi juga dihantam isu kriminalisasi ulama. Keputusan Jokowi menggandeng KH. Ma'ruf Amin pun tak menurutkan tuduhan itu.

Capres 02 Prabowo Subianto lahir dan direkomendasikan forum ijtima ulama. Meski pada awalnya digadang-gadang akan menggandeng cawapres dari sosok ulama, tetapi toh, pada akhirnya, Prabowo memilih Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya. Pentolan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pun tak ragu menggelari Sandiaga dengan santri post-Islamisme dan bahkan ulama.

Dari sinilah dapat dilihat bahwa ijtima ulama hanya melahirkan kebodohan, menghadirkan fitnah dan perpecahan, khususnya di kalangan umat Islam. Ijtima ulama justru menjadi triger yang menghasut rakyat dan merendahkan martabat ulama.

Ijtima ulama memprovokasi rakyat alias sebagian umat Islam membenci pemerintah dan melawan ulama lain yang tak terlibat dalam forum ijtima ulama, termasuk Ma'ruf Amin.

Bagi Anda yang memilih Prabowo-Sandi karena sentimen agama (Islam), lihatlah performa Sandi saat berdebat dengan Ma'ruf Amin. Dengan tenang, Ma'ruf Amin mengemukakan gagasan yang berpijak dari nilai-nilai Islam. 

Ma'ruf Amin bersumpah atas nama Allah akan melawan usaha-usaha melegalkan zina dan pernikahan sesama jenis. Ia juga tegas membantah fitnah soal penghapusan pendidikan agama dan pelarangan azan.


Tidak cuma itu, saat mengurai soal stunting, Ma'ruf Amin mendasarkan argumennya pada dalil fiqih "Alluba huwa al laban al khorij awalul wiladah" (Luba adalah air susu ibu yang keluar ketika waktu melahirkan dan hukumnya itu wajib untuk diberikan). Argumentasi berlandaskan nilai Islam itu disampaikan saat menanggapi program 'sedekah putih' dari Paslon 02.

Masih ada lagi, Ma'ruf Amin juga menegaskan bahwa saat ini negara telah hadir dan akan terus hadir untuk mengatasi segala permasalahan yang ada di masyarakat. Ia membakar optimisme segenap anak bangsa agar tidak takut untuk bermimpi. 

Sebagai seorang ulama tulen, Ma'ruf Amin kembali menukil qoidah fiqih "tasharruful imam ‘ala al- ra’iyyah manutun bi al- maslahah" yang artinya kebijakan dari seorang pemimpin adalah menciptakan kemaslahatan.

Simak pernyataannya berikut ini. "Orang tua tidak perlu khawatir akan masa depan anaknya, la tahzan, la takhaf wa la tahzan. Jangan takut karena insyaallah negara telah hadir dan negara akan terus hadir membantu kalian."

Ma'ruf Amin pula mengetengahkan argumentasi bahwa bangsa harus dibangun dengan ahlak yang mulia. Ia mengutip hadis "Innama bu'istu liutammima makarimal akhlaq" (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik). Visi Indonesia Maju dilandaskan pada nilai Islam tentang keutamaan akhlak.

Tidak hanya sampai di situ, Ma'ruf Amin juga menggunakan istilah-istilah islami, seperti ta'dzim, takmil, dan ziadah. Begini pernyataan lengkapnya seperti terkutip di bawah ini:

"Sesuai dengan prinsip kami untuk terus melakukan maximize utility, memanfaatkan memaksimalkan manfaat atau ta'dzim memperbesar, wa takmilah menyempurnakan, dan juga waz-ziadah menambah maslahat yang sudah ada. Maka kami akan terus meningkatkan pelayanannya dengan memberikan yaitu pusat-pusat kesehatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat."

Soal tenaga kerja, Ma'ruf Amin juga menyandarkan argumentasinya pada nilai-nilai Islam. Ia mengatakan, usaha perlindungan tenaga kerja di luar negeri sudah bergeser dari upaya penempatan kepada upaya perlindungan.


Upaya itu bukan sekadar usaha jalbul mashalih atau mengambil kemaslahatan semata kepada daf'ul mafasid menolak kerusakan. Argumen itu berasal dari kaidah fiqih "Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (menolak atau mencegah kerusakan didahulukan daripada melakukan kebaikan).

Atau saat debat petama Capres-Cawapres, kala tema membahas terorisme, Ma'ruf Amin menyebut terorisme harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Ia mengatakan bahwa terorisme bukan jihad.

Ma'ruf Amin kemudian mengutip ayat Alquran dalam surat Al-Araf, yang artinya "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik".

Silakan Anda, para pendukung Prabowo dan Sandi, berpikir. Nilai atau hukum Islam mana yang Prabowo-Sandi anut atau paling tidak dikutip selama ini? 

Anda pendukung Prabowo-Sandi mengaku paling Islam. Anda bahkan bukan sekadar pemeluk Islam, tetapi pemilik Islam. Namun, Capres dan Cawapres kalian tak ramah nilai-nilai Islam.

Ijtima ulama jadi bahan dagangan. Padahal selawat tak becus, wudu tidak mampu, menjadi imam pun tak sanggup. Islam mana yang kalian lihat dari Prabowo-Sandi? 

Apa karena keduanya produk ijtima ulama atau didukung FPI, HTI, dan PKS? Apa kalian pikir ijtima ulama bisa berperan banyak? Bukankah digebrak meja saja mereka ketakutan?

Berpikirlah. Apa kriteria ijtima ulama merekomendasikan Prabowo-Sandi? Bukankah ulama kalian mengharamkan ucapan Natal? Tetapi Prabowo bukan cuma mengucapkan, bahkan merayakan Natal bersama keluarga besarnya yang Kristen alias kafir bila menggunakan istilah kalian.


Ulama kalian mengharamkan joged. Capres kalian hobi joget. Ulama kalian ingin pemimpin islami, bisa salat, wudu, dan imam. Prabowo atau Sandi tak becus untuk itu. 

Ulama kalian mengharamkan pemimpin kafir. Ayolah, Prabowo itu keluarga besarnya kafir, dan Prabowo masih rutin melaksanakan tradisi kafir, termasuk perayaan Natal. 

Sementara Ma'ruf Amin, ulama asli, pimpinan pondok pesantren, kalian hinakan. Di mana akal sehat kalian? Jelas, bukan, ijtima ulama hanya melahirkan kebodohan?

Artikel Terkait