Seorang gadis belia berusia 15 tahunan bertengkar dengan ibunya hanya karena masalah sepele. Remaja tersebut merasa dianggap seperti anak kecil oleh ibunya, padahal ia merasa bahwa dirinya sudah dewasa. 

Lantas, pergilah ia meninggalkan rumah dengan berbekal beberapa potong baju menuju kos seorang wanita yang dianggapnya dapat menjadi tempat curhat. Wanita tersebut di matanya tampak dewasa, cantik, dan cukup royal. Ia pun menginap di rumah wanita yang dalam waktu singkat sudah dianggapnya sebagai kakak.

Sang remaja tersebut makin betah tinggal di tempat kos “sang kakak” karena curhatnya ditanggapi dengan sangat baik. Sang kakak terlihat begitu simpati setiap kali remaja tersebut mengeluarkan unek-unek di hatinya, sehingga makin lengketlah si remaja itu. Melihat kepercayaan remaja putri tersebut sudah bulat, sang kakak mengajaknya ke tempat pelipur lara.

“Nggak ah, Kak. Nggak punya pakaian.”

“Pakai aja baju Kakak. Pakaianku, kan, pakaianmu juga. Pilih aja mana yang paling kamu sukai. Kita, kan, sama-sama wanita, sama-sama senasib.”

Maka, pergilah mereka ke night club. Di tempat ini, tanpa sepengetahuan si remaja putri, sang kakak berkeliling menawarkan “barang” baru kepada Om-Om hidung belang. “Om, ada barang baru nih,” rayunya sambil bernegosiasi tentang jumlah rupiah yang ditawarkannya.

Dalam waktu singkat, dikenalkanlah remaja putri ini pada seorang Om. Dan ternyata, Si Om pun sudah sangat berpengalaman. Ia tidak langsung “memakai” remaja putri ini. Pertama-tama ia mengajak remaja putri tersebut minum-minuman keras. Keesokan harinya diperkenalkan pada pil koplo.

Setelah remaja ini larut dengan alkohol dan obat-obatan, barulah si Om membawanya untuk “dimakan” dalam sebuah hotel di Lembang. Walhasil, kegadisan sang remaja ini direnggut oleh si Om dalam keadaan di bawah pengaruh obat-obatan dan alkohol.

Setelah beberapa kali “memakai” remaja putri ini, si Om mulai bosan. Si Om kemudian berpikir, bagaimana caranya agar remaja tersebut bisa menghasilkan uang. Dengan begitu, uang yang dikeluarkannya untuk membeli remaja tersebut bisa kembali. Lantas, ditawarkanlah remaja ini pada pria-pria lain.

Setelah daya jual remaja ini makin menurun, si Om kemudian mengobral remaja ini gratisan pada siapa saja yang ada di dekat hotel itu, seperti kepada para pelayan hotel, satpam, sampai pada sopir-sopir taksi dan kernet angkot yang kebetulan lewat.

Ternyata, si Om ini memiliki kelainan, yaitu sangat puas bila melihat orang lain melakukan hubungan intim. Mula-mula hubungan seks dilakukan di hotel dengan sewa dibayar oleh si Om. 

Tapi, lama-kelamaan si Om keteter juga. Akhirnya hubungan intim pun dilakukan di kebun. Terakhir, remaja tersebut dipaksa melayani 20 orang dalam semalam di sebuah kebun.

Satu bulan kemudian, remaja putri ini terlambat mens. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ia positif hamil plus positif mengidap penyakit kelamin. Ia terkena penyakit kencing nanah dan penyakit jamur yang berakar.

Ketika ditanya oleh dokter tentang siapa yang menghamilinya, dengan lugu remaja itu berkata, “Nggak tahu.”

“Mengapa kamu tidak tahu? Kan kehamilan itu bukan datang dari burung bangau, tapi akibat hubungan seks.”

Tetap saja remaja putri itu berkata sambil mengusap perutnya, “Saya tidak tahu siapa bapak dari bayi ini.”

“Selama dua minggu belakangan ini atau satu bulan belakangan ini, kamu berhubungan seks dengan siapa saja?”

“Saya juga tidak tahu,” kata remaja putri.

“Bagaimana bisa tidak tahu?”

Remaja putri itu pun akhirnya mengatakan bahwa dalam satu malam ia berhubungan dengan lebih dari 20 pria yang tidak ia kenal.

Hal seperti itu tidak akan terjadi kalau salah satu dari orang tuanya setia memasang telinga dan menjadi teman yang baik untuk sang remaja tersebut. Bukan malah ketika ayahnya sibuk di luar, ibunya pun ikut-ikutan sibuk di luar karena gengsi kalau diam saja di rumah.

Karena sang anak tidak memiliki tempat curhat, akhirnya ia curhat dengan siapa saja, curhat di radio, chatting, atau bercerita tentang maslah-masalah yang dihadapinya pada teman yang juga banyak memiliki masalah. Hal-hal itulah yang sering menimbulkan kerawanan-kerawanan pada remaja.

Curhat memang merupakan suatu kebutuhan dasar karena batin akan makin lelah manakala permasalahan ditelan sendiri, tak diungkapkan pada orang lain. Bila fisik membutuhkan makanan, batin pun demikian. Kebutuhan batin itu di antaranya pujian, kasih sayang, pengayoman, dan penghargaan.