Tokoh yang satu ini sudah tak asing lagi di mata masyarakat Islam Indonesia. Selain dikenal sebagai Ahli Tafsir yang berwibawa, Quraish dipandang sebagai salah satu sarjana Indonesia dengan pengalaman intelektual-sosial lengkap yang kadang bisa membuat orang geleng-geleng kepala.

Bayangkan saja, dia lulus dari salah satu Universitas Islam ternama di dunia, pernah memangku kursi tertinggi di kementrian Agama, pernah mengetuai Majlis Ulama Indonesia, pernah menjadi Dubes Indonesia di bumi Piramida, pernah menjadi Guru Besar di salah satu Universitas Islam ternama, menjadi ketua Ikatan Alumni al-Azhar se-Indonesia, dan kini, jabatan paling mutakhir Quraish ialah menjadi salah satu anggota Majlis Hukama al-Muslimin—yang dibentuk oleh Syekh Ahmad al-Thayyib, Grand Syekh al-Azhar—bersama para ulama terkemuka dari berbagai belahan dunia.

Quraish juga—seperti yang kita ketahui bersama—sering tampil di layar kaca. Jadwalnya padat ceramah kemana-mana, buku-bukunya berceceran di berbagai toko pustaka, tulisan-tulisannya sering dijadikan rujukan oleh para sarjana, dan dalam saat yang sama, apa yang ditulisnya tak sulit untuk dikunyah oleh nalar orang-orang biasa.

Ya. Sejauh ini, saya kira, buku-buku dan rekaman ceramah Quraish tak hanya menjadi konsumsi orang biasa semata, tapi juga mampu menjadi santapan rohani untuk para sarjana. Gaya ceramah Quraish mungkin tak banyak disukai oleh ibu-ibu desa, tapi konten ceramahnya sangat dinikmati oleh orang-orang kota, terutama para sarjana dan orang-orang sejenisnya.

Harus diakui bahwa pandangan-pandangan keagamaan Quraish telah mampu memberikan warna tersendiri bagi diskursus keislaman Indonesia. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Quraish—dengan integritas dan kapasitas keilmuannya yang mumpuni—merupakan salah satu icon moderatisme Islam Nusantara; sebuah corak keislaman yang saat ini tengah dirindukan oleh dunia, seperti yang dituturkan oleh sejumlah pemikir di Indonesia.

Selain piawai dalam menafsirkan al-Quran yang mulia, Quraish juga mampu bersanding mesra dengan para pembesar dan pemeluk Agama yang berbeda. Spirit moderatisme yang dimilikinya mampu memercikkan embun perdamaian di tengah kehidupan umat bergama yang semakin hari semakin tak jelas arahnya kemana. Tak pelak, Quraish merupakan sosok penentram jiwa, baik bagi orang Islam, maupun bagi para pemeluk Agama lain di luar sana.

Dalam pandangan penulis, Quraish bukan tipe Mufassir yang eksklusif-dogmatis, melainkan tergolong sebagai Mufassir yang Inklusiv dan dinamis. Terbukti bahwa Quraish tak pernah terjebak dalam sekat-sekat teologis antar Agama, maupun intra-Agama.

Quraish juga menegaskan bahwa sejauh menyangkut soal tafsir, keragaman makna akan senantiasa terbuka seiring dengan perkembangan zaman yang terus menerus berubah dari masa kemasa. Al-Quran—kata Quraish—memiliki keluasan makna. Dengan demikian, memonopoli satu makna dan menegasikan makna yang lain tak senafas dengan watak al-Quran itu sendiri yang mengandung keragaman makna.

Setidaknya ini menunjukan bahwa Quraish merupakan sosok yang terbuka, bukan tipe 'ulama' tertutup yang suka main kata nista kepada orang yang berbeda.

Di tangannya, ayat-ayat al-Quran yang oleh sebagian orang dijadikan sebagai pedang untuk menumpas orang yang berbeda Agama, mampu disulap menjadi payung keteduhan yang menaungi sekat-sekat perbedaan di antara mereka.
Jika sebagian kaum ekstremis memandang perbedaan Agama sebagai suatu hal yang tak semestinya diamini begitu saja, maka Quraish memandang bahwa perbedaan Agama itu merupakan bagian dari kehendak Yang MahaKuasa.

Bagi Quraish, kendatipun ditemukan sejumlah perbedaan dalam batah tubuh setiap ajaran Agama, tak boleh diabaikan sebuah fakta bahwa seluruh Agama mengajarkan pemeluknya untuk menebar perdamaian kepada orang-orang yang berbeda. Artinya, seluruh Agama menghendaki terciptanya perdamaian di dunia.

Dengan demikian, ajakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip perdamaian tak bisa diasosiasikan dengan nama Agama. Entah itu namanya Islam, Kristen, Budha, Hindu atau apa saja. Quraish memandang bahwa meruaknya fanatisme di antara para pemeluk Agama disebabkan oleh hilangnya rasa saling menghargai perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka. Padahal, perbedaan itu—tegas Quraish—merupakan kehendak yang MahaKuasa.

Karena ia merupakan kehendak Yang MahaKuasa, maka tugas manusia adalah menerima apa yang sudah menjadi kehendak-Nya. Yang salah dikoreksi selama itu bisa, dan yang benar dibumi-lestarikan agar kelak bertuah manfaat bagi generasi selanjutnya.

Apa yang dikatakan Quraish penting untuk disadari oleh semua pemeluk Agama. Bahwa setiap aksi kekerasan, penistaan, pelecehan, apalagi pembunuhan dan pembantaian tak bisa dan tak boleh diasosiasikan dengan Agama apapun yang terserak di alam dunia.

Dengan kata lain, Agama dan perdamaian merupakan dua sisi dari satu koin yang sama. Agama yang tak mengajarkan prinsip-prinsip perdamaian tak layak dikatakan sebagai sebuah Agama, sebagaimana ajaran perdamaian yang kering dari nilai-nilai keagamaan tak akan mampu memberikan makna perdamaian yang sesungguhnya.

Perdamaian, kata Quraish, adalah harapan semua (amal al-Jamî'). Dengan itu, Quraish seolah-seolah ingin menegaskan bahwa impian akan terwujudnya perdamaian merupakan bagian dari fitrah manusia. Karena itu, sebagai sebuah ajaran yang senafas dengan fitrah manusia, Islam tak boleh dipertentangkan dengan prinsip-prinsip perdamaian, karena impian akan terwujudnya perdamaian dan kedamaian merupakan bagian dari fitrah manusia pada umumnya.

Semua pemeluk Agama perlu menyadari bahwa meruaknya aksi-aksi kekerasan, pelecehan, dan penistaan yang terjadi antara pemeluk Agama itu bukan karena Agama, melainkan didasari oleh keluncas-pahaman dalam menafsirkan teks-teks Agama.

Dikatakan demikian karena semua Agama—seperti yang ditegaskan Quraish—menghendaki para pemeluknya untuk hidup damai, aman dan sentosa. Hanya saja, nafsu duniawi kita sering menjadi tameng hitam yang menutupi itu semua.

Menisbatkan aksi-aksi kekerasan, penistaan, pelecehan, apalagi pembunuhan, kepada suatu (ajaran) Agama, pasti hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang tak beragama dan tak mampu menjiwai ajaran Agama meskipun dirinya berlabel Agama.

Agama hanya menghendaki kesejahteraan dan kebahagiaan, bukan kesengsaran apalagi pembunuhan. Agama tak menghendaki sengketa dan perkelahian, tapi Agama menginginkan persaudaraan dan perdamaian.

Agama yang dijadikan sebagai lahan untuk membumi-lestarikan ujaran kebencian tak akan mampu memberikan kedamaian. Tapi Agama yang dipahami sebagai jalan untuk menuju kebahagiaan, pasti akan mampu membangun perdamaian dan kedamaian.

Semoga seluruh Agama di dunia ini menjadi Agama Perdamaian, bukan Agama Kebencian, apalagi Agama yang hanya dijadikan sebagai pelampiasan nafsu setan. Aku berlindung kepadamu Tuhan dari (ajaran) Agama demikian. Sekian.

(Kairo, Zahra-Medinat Nasr, 07 Oktober 2016)