Siapakah sastrawan kita yang merintis penulisan cerpen? Siapakah pengarang yang mula-mula mengembangkan kebiasaan menulis cerpen di Indonesia? Singkatnya, siapakah Bapak Cerpen Indonesia?

Sejumlah pertanyaan demikian agaknya akan membawa kita untuk menengok sejarah pertumbuhan dan perkembangan  cerpen di luar negeri. Di Amerika Serikat, misalnya, masyarakat pembacanya sudah mengetahui dan memaklumi bahwa Edgar Allan Poe adalah Bapak Cerpen Amerika. Di Rusia, Nicolai Gogol juga dikenal oleh masyarakat Rusia sebagai Bapak Cerpen Rusia.

Di Indonesia, kebiasaan menulis cerpen merupakan hal yang baru. Pada zaman sebelum Perang Dunia II, cerpen belum begitu dikenal oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan puisi yang lebih purba maupun roman atau novel yang datang kemudian. 

Pandangan yang berasal dari pihak sastrawan sendiri terhadap cerpen pun masih bernada meremehkan. Sebab, pada saat itu, seseorang baru akan diberi pengakuan sebagai sastrawan atau pengarang jika sudah berhasil menulis roman atau novel.

Akan tetapi, beberapa puluh tahun kemudian, pandangan yang muncul dari kubu sastrawan itu sendiri lambat laun akhirnya terkikis juga. Setelah Perang Dunia II, seseorang kemudian tidak harus menulis roman atau novel terlebih dahulu agar dapat dikukuhkan sebagai pengarang. 

Sebuah contoh yang dikemukakan ialah cerpenis Generasi Kisah, Nugroho Notosusanto. Meskipun hingga akhir hayatnya Nugroho Notosusanto tidak mewariskan roman atau novel, ia tetap memiliki eksistensi yang kuat sebagai sastrawan karena telah menghasilkan kumpulan cerpen Hujan Kepagian (1958), Tiga Kota (1959), Rasa Sayange (1961), dan Hijau Bumiku Hijau Bajuku (1963).

Pada dekade terakhir ini, menulis cerpen barangkali telah menjadi ajang latihan atau sebuah babak pendahuluan karena pada akhirnya juga akan menulis novel. Dengan kata lain, menulis cerpen dianggap batu loncatan untuk kemudian menulis novel.

Cerita Lucu

Jika kita merunut sejarah sastra ke belakang, dapat kita ketahui bahwa pengarang yang mula-mula menulis cerpen ialah Muhammad Kasim (M. Kasim). Cerpen-cerpen M. Kasim itu dipublikasikan di majalah Panji Pustaka pada tahun 1931 hingga tahun 1935. 

Oleh penerbit Balai Pustaka, cerpen-cerpennya itu kemudian dikumpulkan dalam satu buku  yang memuat 25 cerpen, dan diberi judul Teman Duduk Kumpulan cerpen ini terbit pertama kali pada tahun 1936.

Dalam sepatah kata kumpulan cerpen Teman Duduk (Cetakan IV, tahun 1959, hlm. 3) disebutkan bahwa judul Teman Duduk yang diberikan oleh M. Kasim itu terkait dengan cerita-cerita yang dapat dijadikan sebagai teman pada waktu duduk. Dengan cerpen-cerpennya itu, M. Kasim tak hendak mencemooh, atau bergirang hati. Itu sebabnya, di bawah judul Teman Duduk, tertera keterangan “kumpulan cerita-cerita lucu”.

Gaya humoristis yang dipilih oleh M. Kasim agaknya disadari sepenuhnya sebagai pendukung proses kreatifnya. Ini pernah dikemukakannya melalui surat yang pernah dikirimkan kepada penerbit Balai Pustaka ketika menjawab usul penerbit Balai Pustaka agar cerita cerita-cerita lucunya yang tersebar di majalah Panji Pustaka  dikumpulkan.

Isi surat itu antara lain berbunyi demikian, “Menurut pendapat saya cerita-cerita yang menarik hati, ialah yang berisi percintaan, peperangan, perkara yang hebat, yang ajaib, yang sedih, dan yang lucu. Tetapi kegemaran akan perkara-perkara itu ada batasnya, bergantung kepada umur dan derajat jiwa seseorang. Hanyalah perkara-perkara lucu itu boleh dikatakan tidak ada batasnya. Orang yang telah berumur dan orang yang tinggi kecerdasannya pun masih suka kepadanya.”

Menurut Zuber Usman dalam Kesusastraan Baru Indonesia (1957: 54), M. Kasim sendiri rupanya menyadari bahwa kepandaiannya terutama sekali melukiskan cerita yang lucu-lucu. Sifat pandai bercerita dan suka akan yang lucu itu rupanya telah dibawanya sejak kecil benar.

Masih jelas teringat kepadanya seorang gurunya di Kotanopan dahulu yang sangat lucu dan pandai bercerita. Agaknya gurunya itulah yang menjadi contoh dan kenang-kenangan baginya dalam karangannya.

Cerita Rakyat

Apabila dikaji, cerita-cerita lucu yang ditulis oleh M. Kasim memiliki keterkaitan dengan kegemaran masyarakat lama akan cerita-cerita pelipur lara. Agaknya, M. Kasim secara sadar hendak melestarikan tradisi cerita rakyat itu dengan menulis cerita-cerita lucu yang mengangkat kehidupan keseharian masyarakat.

Di dalam masyarakat lama, di setiap daerah di seluruh Nusantara, sudah dkenal luas beragam cerita lucu yang memiliki tokoh khas. Di Sumatra, dikenal tokoh Pak Belalalng dan Lebai Malang; di Jawa Barat, dikenal Si Kabayan; dan di Jawa Timur, dikenal tokoh Joko Dolog. Tokoh-tokoh inilah yang kemudian berperan dalam sebuah bingkai cerita lucu yang diakibatkan oleh kebodohan, kecerdikan, kemalasan, kekecewaan, dan lain-lain.

Maka dalam Teman Duduk, M. Kasim sengaja menyodorkan dalam hidup kita sehari-hari. Ini, umpamanya, dikemukakan oleh M. Kasim  dengan menghadirkan tokoh  seorang kepala kuriah yang dalam bulan puasa suka marah dan suka memimpikan datangnya bedug Magrib saat berbuka puasa. Tokoh si Lengkong yang suka berang dan memarahi istrinya dalam bulan puasa, tokoh si Pukat yang suka mengganggu tetapi tak suka diganggu, tokoh Wan Kelang yang pelit tetapi terlanjur bernadar, dan lain-lain.

Upaya M. Kasim untuk menciptakan kelucuan juga ditopang oleh bahan-bahan yang berasal dari salah pengertian. Ini, umpamanya, salah pengertian antara dua orang yang berasal dari Mandailing dan Minangkabau ketika menggunakan satu kata yang sama  tetapi berbeda makna; salah pengertian karena tokoh Cik Mat tertukar dengan Mat Cik; salah pengertian karena tokohnya menanyakan soal bumbu di sebuah perusahaan  yang menjual bermacam-macam auto.

Demikianlah, dengan berlandaskan sikap misunderstanding itulah M. Kasim berupaya menghadirkan cerita-cerita lucunya.

Karya Lain

Selain telah menghasilkan Teman Duduk, M. Kasim juga telah menulis buku bacaan anak-anak, Si Samin atau Pemandangan dalam Dunia Kanak-kanak (1928). Buku ini merupakan pemenang pertama lomba mengarang bacaan anak yang diselenggarakan oleh Balai Pustaka  pada tahun 1924. Melalui buku ini, M. Kasim melukiskan kehidupan dunia anak-anak  dengan sangat indahnya.

Kasim juga telah menulis roman Muda Teruna (1922). Dengan gaya khasnya, yaitu humoristis, ia menggarap tema cinta dalam novel ini. Melalui buku ini, M. Kasim menceritakan tokoh pemuda Marah Kamil yang tergila-gila kepada seorang gadis bernama Ani. Namun, sebelum hari perkawinan itu datang, Marah Kamil sempat bertualang.

Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969: 26) mengomentari novel ini dengan mengatakan bahwa roman ini memiliki banyak persamaan dengan hikayat lama, terutama komposisinya. Kesan sebagai hikayat ini juga muncul karena tokoh-tokoh utamanya mengalami  berbagai petualangan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya berbahagia dengan kekasih idaman hatinya.

Kasim juga telah menerjemahkan buku berbahasa Belanda, In Woelige Dagen karya C.J. Kieviet menjadi Niki Bahtera dan De Vorst van Indie karya Lewis Wallace menjadi Pangeran Hindi. Selain itu, M. Kasim juga menulis kumpulan cerpen Bertengkar Berbisik (1929) dan Buah di Kedai Kopi (1930). Dengan sejumlah bukunya inilah maka makin kukuh kedudukan M. Kasim dalam organisme sejarah sastra Indonesia modern.

Kasim yang lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada tahun 1886, dan bekerja sebagai guru sekolah rakyat atau sekolah dasar hingga pensiun, layak disebut sebagai Bapak Cerpen Indonesia. Meskipun ia bertempat tinggal di daerah terpencil Kotanopan, Sumatra Utara, dan meskipun ia bukan tergolong sastrawan yang tergabung dalam kelompok Pujangga Baru, ia tampak memiliki elan kreativitas yang ulet, konsisten, dan konsekuen dalam menulis cerpen.

Sebab, pada masa itu, seolah-olah hanya mereka yang menulis roman atau novel sajalah yang diakui sebagai pengarang. Itulah sebabnya sangat tepat jika Ajip Rosidi dalam Cerita pendek Indonesia (1959: 28) mengatakan bahwa cerita-cerita lucu M. Kasim memiliki arti dalam sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia; ia adalah pembuka jalan dalam penulisan cerpen Indonesia.

Cibinong, 8 Oktober 2019