Indonesia dikenal sebagai negara megadiversity berkat tingginya tingkat keanekaragaman hayatinya. Keanekaragaman hayati dalam sebuah ekosistem menyediakan berbagai jasa untuk menopang kehidupan manusia dan menjadi modal dalam pembangunan ekonomi suatu bangsa. Di mana jasa ekosistem ini memiliki nilai intangible secara ekonomi, namun sering kali tidak disadari oleh masyarakat.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 mengamanatkan bahwasanya perlindungan yang diberikan kepada keragaman hayati dilaksanakan dengan tujuan menopang kehidupan manusia. Dengan begitu flora dan fauna dapat digunakan dan dimanfaatkan, dengan catatan untuk tetap memperhatikan batasan-batasan tertentu. 

Dalam pemanfaatannya, baik sebagai keperluan konsumsi seperti daging, susu, telur, kulit, bulu,dan bahan obat-obatan, maupun dijadikan objek rekreasi dan pariwisata, aspek kelestarian keenakaragaman hayati merupakan hal mendasar yang perlu diperhatikan. Tidak kalah penting dengan aspek sosial. budaya dan ekonomi.

Pemerintah mengelola keaneragaman hayati ini dengan menjadikannya sebagai kawasan konservasi yang akrab disebut Taman Nasional. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, pendidikan dan rekreasi. Di Indonesia sendiri, terdapat 54 taman nasional yang menyebar di enam wilayah yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua.

Namun nyatanya, jumlah taman nasional yang ada tidak malah menjadikan alam terjaga kelestariannya. Seperti halnya yang terjadi pada Orang Utan di Kalimantan, ilmuwan memperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 22% pada tahun 2025, sehingga jumlah total yang tersisa hanya 47.000 ekor saja.

Dugaan penyebab kelangkaan satwa ini antara lain, eksploitasi alam, polusi, kerusakan habitat, perburuan dan perdagangan illegal. Akibtanya, sejumlah hewan terancam punah, hanya menyisakan nama.

Menurut saya, hal tersebut terjadi karena pemerintah gagal menerjemahkan taman nasional sebagai hal yang menguntungkan bagi alam juga penduduk di sekitarnya. Dengan kata lain, masyarakat tidak memperoleh keuntungan dengan didirikannya taman nasional. Sehingga, mereka bergerak di bawah pengawasan pemerintah, berburu secara ilegal guna meraup keuntungan yang jauh lebih besar.

Untuk mengatasi hal ini, terdapat opsi liar yang rupanya belum pernah dipraktikkan di Indonesia. Yaitu Luxury Hunting, merupakan sebuah acara olahraga berburu dimana penggiatnya membayar dengan harga tinggi untuk membunuh hewan yang dimaksud. 

Selanjutnya mereka akan mengambil bagian tubuh hewan tersebut seperti kepala, gading atau kulit satwa untuk dipajang. Bagi segelintir orang, muncul rasa puas juga bangga karena telah menaklukkan satwa-satwa liar juga langka ini.

Keunggulan Luxury Hunting

Lahan yang dialokasikan untuk Taman Nasional atau Luxury Hunting dapat melindungi banyak spesies satwa yang tidak akan terlindungi sebelumnya. Jika hal ini ditiadakan, kemungkinan besar lahan bebas tersebut akan diubah bentuk menjadi lahan pertanian, perkebunan atau peternakan untuk menghasilkan uang. Tentunya berdampak negatif terhadap keberadaan satwa liar karena mengurangi habitat yang tersedia.

Luxury Hunting mampu menghasilkan insentif konservasi yang jauh lebih tinggi dari tempat-tempat ekowisata seperti taman nasional. Dengan pendapatan yang fantastis itu, pengelola dapat mencoba memaksimalkan populasi satwa liar untuk membuatnya berkelanjutan, meningkatkan penjagaan agar lebih ketat.

Lebih dari itu, apabila dana tersebut diberikan kepada orang yang tepat, dana tersebut dapat dibagikan kepada masyarakat setempat untuk mentolerir hewan liar seperti singa yang tak jarang singgah ke pemukiman warga. Karena bukan tidak mungkin manusia membunuh singa dengan alasan untuk melindungi diri.

Pada sektor budaya Luxury Hunting dapat mengantarkan nama Indonesia di kancah internasioanl lewat satwa-satwa endemik yang banyak digandrungi oleh turis asing. Yang mana kemudian hal ini berdampak positif terhadap sektor pariwisata. Juga untuk masyarakat lokal, karena menyediakan lapangan pekerjaan baru seperti gaet, supir, translator, penginapan, resto dan lainnya.

Opsi Luxury Hunting tentu saja menuai banyak pro dan kontra, apakah sistem ini akan benar-benar bermanfaat untuk konservasi, atau hanya praktik kejam terhadap satwa yang tidak semestinya dilakukan. 

Sejumlah studi telah mengkaji lebih lanjut mengenai Luxury Hunting dan keuntungannya, pun tidak sedikit negara yang berhasil menerapkannya. Seperti Afrika, dengan perburuan singanya yang tersohor, dan Amerika dengan perburuan menggunakan sistem musim.

Terlepas dari kesuksesan Afrika dan Amerika meraup keuntungan sembari tetap menjaga eksistensi satwa terancam punah tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat peraturan hukum yang disusun oleh pemerintah dengan sangat hati-hati. Peraturan dan perundang-undangan yang tegas dan mengikat mengenai perburuan tentunya diperlukan agar pemerintah tidak kecolongan. Sebagai contoh yaitu mengenai kapan waktu berburu yang diizinkan, dan hewan apa yang diperbolehkan untuk diburu pada waktu tersebut.

Keberadaan Undang-undang khusus mengenai Luxury Hunting nantinya akan memberikan pemerintah penglihatan yang lebih jelas terhadap pelanggaran yang terjadi mengenai perburuan. Dikarenakan Luxury Hunting terlebih dulu memiliki izin berburu sehingga lebih mudah diawasi daripada perburuan liar yang banyak terjadi di Indonesia. 

Dengan begitu juga, akan mempermudah pemerintah mengontrol jumlah satwa yang ada, sehingga dapat mengambil langkah konservasi yang tepat.

Dengan keanekaragaman hayati Indonesia yang ada, Luxury Hunting adalah peluang menjanjikan untuk sektor ekonomi, sosial budaya juga lingkungan. Tentu saja apabila di praktikkan dengan benar, dipersiapkan undang-undang dan dasar hukum yang tegas, dan praktiknya diawasi seksama oleh pemerintah juga rakyat.