Pembelajar
4 minggu lalu · 104 view · 4 min baca · Budaya 94554_30842.jpg

Lutung Kasarung dan Pencarian Identitas

Sebelum mengenal tulisan, medium yang diandalkan dalam komunikasi sosial, pengetahuan, dan kearifan lokal disampaikan melalui lisan. Termasuk juga masyarakat Sunda yang memiliki tata nilai adiluhungnya.

Namun seiring perubahan zaman, tradisi carita pantun nu mangrupakeun seni tutur lambat-laun punah kendati terus hidup sebagai teks. Marwahnya tetap hidup sebagai hal yang diandaikan oleh masyarakat Sunda dengan menjunjung tinggi nilai luhur kebudayaannya.

Misalnya saja carita pantun Lutung Kasarung.

Perkara Identitas

Manusia berada di antara perubahan. Ia sering terjebak untuk larut dalam perubahan. Identitas atau perkara siapa aku menjadi sangat penting. Paling tidak, sebagai penanda agar perubahan tidak dianggap sebagai suatu hal yang mengaburkan.

Identitas merupakan proses dialektik. Ia terbentuk sebagai proses tawar-menawar, pandang-memandang. Apa yang menjadi bagian diri/aku sebagai lambang kepenuhan identitas bukan begitu saja ada lewat proses tawar dan pandang semata, melainkan ditemukan lewat proses saling menyapa dalam kesadaran saling memberi dan menerima.

Persis pakaian orang di tengah gurun, sebaiknya identitas dikenakan secara longgar.

Pakaian yang longgar memungkinkan bentuk tubuh pemakai terbentuk oleh angin yang menerpanya. Bentuk pakaian tidak dapat dirumuskan secara pasti, tapi ditafsir terhadap bentuk ketika terpaan angin menelusuri lekuk tubuh yang kadang tampak kadang tidak.

Dengan kata lain, sebelum kita tahu di mana ia terletak, kita harus menunda untuk memastikannya.

Memastikan, memutlakan aku sebagai identitas yang ajeg, berarti kita berhenti pada penganganan bahwa realitas itu diam pada satu fase dan tidak mengandung energi untuk menemukan fase yang lain. Padahal semuanya ada dalam gerak metamorfosa menuju sempura, paripurna.


Maka, mari akhiri di sini bahwa identitas adalah perkara kelahiran yang tak kunjung usai. Sebab, semuanya ada dan terus bergerak dalam metamorfosa menuju sempurna.

Memaknai Pencarian Guruminda

Pencarian Guruminda dalam Lutung Kasarung bisa dijadikan jejak samar dalam kaitannya usaha pencarian identitas yang telah dibicarakan sebelumnya.

Untuk itu, mari kita bayangkan sosok Guruminda dalam buai Buana Nyuncung, dunia kahyangan. Dunia wangi tanpa keringat. Kesatuan dunia yang satu; damai.

Keputusannya untuk mencintai, memandang dengan hasrat memiliki, membuat Guruminda terusir dari kahyangan dan menjelma diri sebagai lutung (kera hitam) dengan menanggung risiko tidak dapat kembali ke kahyangan.

Penolakannya atas dunia yang damai, satu warna, barangkali itulah risiko proses pencarian yang dianggap menakutkan, sebab harus selalu mengorbankan rasa aman yang relatif sedang dimiliki.

Bukankah setiap dari kita akan nyaman dengan kehidupannya yang tenang? Pikiran damai dan hati tentram, bukan malah kebalikannya?

Dengan anggapan begitu, maka pada beberapa orang terdapat pikiran bahwa perkara identitas adalah kokoh. Ia diam pada satu fase saja, karena takut gelisah dan lebih menginginkan ketenangan semu.

Misalnya, ada yang merasa ajeg identitasnya sebagai diri yang begitu asyik bermain sambil meremehkan hal ruhani dan kearifan, sehingga ia terjebak menjadi objek dalam permainan gejala. Atau merasa diri yang bersih ruhani namun enggan untuk bermain dengan gejala sebagai misal.

Pada sisi yang lain, pencarian identitas adalah usaha yang sulit, fluktuatif. Hasan Mustapa menuliskan Teu jauh ti Buruy ngambul//Bijil ti cai ka cai//kasasar lamun misaha//kasasar lamun mikir//kumaha alam luarna//jagana baring supagi.

Buruy (kecebong) menunjukkan suasana pencarian identitas. Bijil ti cai ka cai menegaskan bahwa pencarian bisa timbul-tenggelam. Kadang menemukan titik kulminasi semangatnya, atau turun sebawah-bawahnya.

Bukankah kecebong tidak semuanya menjadi kodok dan melewati fasenya untuk bisa sampai di daratan? Sebab itu, pencarian identitas membutuhkan orang yang berani. M. Iqbal sampai menuliskan, "hanya manusia pemberanilah yang bisa bermuka-muka dengan Tuhan."

Usaha pencarian, sebagaimana kita maknai dalam Lutung Kasarung, juga menyuratkan perihal Guruminda dengan Purbasari Ayuwangi; Cinta.


Dalam fase perjalanan yang jauh, yakni ketika mengejar cintanya. Sering kali Guruminda dilanda masalah keputusasaan bertubi-tubi dan menuntut kesabaran menghadapi sejumlah masalah, yang jika dalam bentuk Guruminda Kahyangan pasti mudah dihadapinya. 

Pada konteks ini, perlu kiranya kita memaknai dangding Hasan Mustapa dalam upayanya menemukan dua kearifan -Guruminda (Representasi nilai kelangitan) dan Purbasari (Repsentasi nilai lokal/kebumian) berjudul Nyundakeun Arab nguyang ka Arab, Ngarabkeun Sunda tina basa Arab.

Hasan Mustapa mengingatkan sikap lupa akan asal usul dalam sebuah proses pencarian, akan membuat manusia kasarung, kasasab dalam lingkaran tanpa ujung: Tah kitu yataroddadun, da bongan piroebihim, katambias parahuna, kerok miwirinci hiji. 

Yataroddadun sendiri merupakan gambaran seseorang yang melakukan pencarian (perenungan) tidak berpijak secara benar, sehingga ia berputar tidak menemukan akhir, karena bermula dari awal yang tak tentu.

Kasarung turut lulurung, balik deui balik deui, sasab dina simpangan, cerik deui, cerik deui.

Oleh karenanya, jalan keluar yang hendak diambil oleh Hasan adalah eling ka wiwitan, mangka awas ka wekasan (harus ingat pada asal, harus ingat pada akhir). Guruminda mesti mengingat asal pengasingannya, kenapa ia terusir dari buana nyuncung? Cinta, bukan?

Maka Guruminda mesti ingat tentang cintanya itu (Purbasari), sebagai syarat pencarian identitas yang tak kunjung usainya.

Benar kita tahu.

Kelak Guruminda melaksanakan perkawinan dengan cintanya. Sebuah perkawinan dalam hal ini, tentu bukan proses penaklukan satu atas yang lain. Melainkan proses yang berawal dari, melalui proses dan berakhir dengan saling memahami dan saling menghargai. 

Apakah selesai pencarian Guruminda?

Pada akhirnya, Guruminda berhasil berubah bentuk dari lutung. Ia maju sebagai manusia, identitas baru yang belum purna ia jalin.

Pencarian belum juga selesai.~ 

Perenungan dan penyingkapan dalam aktivitas sastra, puisi, carita pantun lutung kasarung misalnya, hemat penulis dibutuhkan sebagai alternatif memandang realitas.

Sebab boleh jadi pandangan Adonis benar, bahwa kelak nanti yang akan memenuhi kebutuhan spritual millenium ketiga adalah puisi, termasuk aktivitas sastra lainnya. Suatu gelanggang batiniah yang kita butuhkan untuk mengeksplorasi dan menemukan gairah baru. Sebuah kebangkitan spritual yang bisa menormalisasi peredarah darah bumi kita yang sekarat ini.

Dengan begitu, yang kemudian mestinya hadir dan membuat kita paham adalah bahwa Sunda, kebudayaan dengan segala wawasan kesusasteraan di dalamnya, merupakan bagian dari kenyataan yang dinamis.

Karenanya, penggalian atas wawasan kesusasteraan dalam hal ini Sunda, bukan hanya sebatas idealisasi romantisme primordial, glorifikasi berlebihan apalagi nostalgia tanpa dasar.

Lebih dari itu, ia adalah seruan sekaligus ajakan dalam ikhtiar pencarian yang tak kunjung usai. Ibarat Guruminda yang terus ada dan bergerak menuju kesempurnaan.

Artikel Terkait