Saat saya masuk di Sekolah Menengah Umum, Bapak memberikan hadiah seperangkat komputer dan printer. Pemberian hadiah itu sesuai permintaan saya. Komputer dengan sistem windows98 pada  saat itu sudah lebih dari cukup bagi seorang pelajar SMU. Fasilitas hiburan musik yang dilengkapi speaker aktif di kanan dan kiri. dan tempat piringan cakra padat pada kotak Central Processing Unit (CPU).

Sampai saat ini saya lupa, mengapa saya minta hadiah komputer. Yang jelas tidak ada negosiasi yang panjang ke Bapak untuk mendapatkan komputer itu. Berbeda dengan ketika saya minta ijin untuk mengendarai sepeda motor sebagai sarana saya berangkat sekolah. Yang sampai saya lulus pun Bapak tidak mengijinkan saya naik sepeda motor ke sekolah.

Begitu komputer dirakit di dalam kamar saya, membuat saya betah berlama-lama di depan komputer. Hanya untuk sekedar dengerin musik, main kartu ”solitaire”, catur, sepakbola, ataupun kebut-kebutan mobil lewat cakra padat dengan judul,”membutuhkan kecepatan tinggi”. Rangkaian kegiatan yang kurang berfaedah..hiks

Aktifitas serius yang menurut saya punya faedah yaitu membuat undangan pertemuan warga kampung setiap satu bulan sekali. Maklum yang membelikan komputer waktu itu menjabat sebagai Ketua RT…hehehe.

Berbekal buku komputer terbitan Andi Pustaka Yogyakarta, sesekali saya membaca untuk mendalami Microsoft Word’98. Hasilnya saya bisa membantu promosi usaha Ibu saya, dengan  menyusun daftar menu masakan ”Deni Catering”. Setebal sepuluh halaman yang dijilid dengan lakban hitam.

Sore ini saya tiba-tiba kembali mengingat komputer itu. Komputer yang membersamai saya kurang lebih tiga tahun. Namun saya merasa tidak memiliki suatu karya, ataupun aktifitas yang patut saya banggakan selama bersama dengannya.

Bayangkan saja selama tiga tahun bersama hanya undangan pertemuan warga dan menu makanan yang bisa saya hasilkan dari adanya fasilitas seperangkat komputer yang mewah dijamannya.

Bagaikan langit dan bumi ketika akhir tahun lalu, saya mengikuti seminar online dengan pembicara Pak Romi Satria Wahono.  Mantan PNS dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pendiri dan CEO dari IlmuKomputer.Com.

Beliau bercerita kenal komputer setelah lulus SMU, pada saat awal kuliah  di Jepang. Dengan susah payah membeli kelengkapannya secara bertahap. Yang dibeli dari hasil kerja paruh waktu setelah mengikuti kuliah. Pak Romi saat ini sudah memiliki  perusahaan yang bergerak di bidang komputer, memberikan beasiswa dan mendidik anak-anak muda di bidang komputer.

***

Istri saya termasuk wanita yang menguasai Bahasa Inggris, baik lisan maupun tulisan. Menulis jurnal hasil risetnya dalam Bahasa Inggris juga sudah dilakoninya tidak kurang sepuluh tahun terakhir ini. Mengikuti pelatihan, konferensi dan seminar di luar negeri menjadi bukti lain atas penguasaannya dalam bahasa inggris.

Di awal pernikahan saya sempat bertanya ke istri, hal apa saja  yang dilakukannya hingga bisa menguasai Bahasa Inggris. Ternyata istri saya saat SMP secara rutin mendengarkan siaran radio yang berbahasa Inggris. Dengan telatennya mencatat kosakata-kosakata baru yang di dengarnya. Dan jika tidak mengerti artinya, esok hari istri saya mencari artinya di kamus yang dimiliki perpustakaan tempat sekolahnya.

Beda halnya dengan saya, yang miskin akan penguasaan Bahasa Inggris baik lisan ataupun tulisan . Mendapatkan Nilai C waktu kuliah Bahasa Inggris. Mengikuti tes toefl hanya sekali pada tahun 2002 dengan nilai rendah yaitu 320.

Meskipun saya saat SMU pernah mendapatkan fasilitas belajar  di Lembaga Bahasa LIA (LB LIA). Teman-teman yang bermukim di Semarang dan sekitarnya pasti tau itu LB LIA. Entah waktu tahun 2000an apakah sudah ada juga tempat belajar Bahasa Inggris English First (EF) di Semarang. Seingat saya di LB LIA tempat favorit berkumpulnya pelajar SMU dan Mahasiswa di Semarang.

Sistem belajar di LB LIA sangat atraktif dan komunikatif antara siswa dan guru. Sudah pasti dilengkapi dengan fasilitas ruangan yang berpendingin dan seperangkat audio-visual untuk meningkatkan penguasaan Bahasa Inggris para siswanya. Sampai saat ini kosakata yang melekat dipikiran saya cukup minimalis, diantaranya passed, failed, innocent, prejudice. Passed dan false saya ingat karena itu keterangan apakah kita lulus (passed) atau gagal (failed) ketika ujian. Sedangkan innocent dan prejudice dua kosakata yang saya ingat karena saya catat di buku…hahaha

***

Untuk menghasilkan suatu karya ataupun meningkatkan kemampuan diri . Kita memang membutuhkan fasilitas pendukung. Supaya ahli komputer kita memerlukan komputer. Agar menguasai Bahasa Inggris kita perlu fasilitas buku bacaan, kamus, mengikuti kursus, dan lain sebagainya.

Fasilitas-fasilitas itu semua kasatmata yang dapat dilihat, konkret dan nyata. Yang seringkali saya atau bahkan anda juga lupakan adalah nilai-nilai yang tidak kasatmata. Misalnya kerja keras, rajin membaca, terus belajar untuk berinovasi, telaten, mandiri, pantang menyerah, kerjasama, dan menjaga  beragam tradisi kebaikan.

Jika kita renungkan nilai-nilai itu yang sudah terbukti menjadikan kita atau orang-orang mampu menembus batas dalam berkarya. Tapi entah mengapa kita masih sering gagap menerapkannya saat beraneka ragam fasilitas kita dapatkan. Sampai ada lelucon,”lapar pintar, kenyang bengong”