Tulisan ini terinspirasi dari kalimat Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran, ia menulis:

“Seorang intelektual mampu berpikir dan mencipta yang baru.  Mereka harus bisa bebas di segala arus masyarakat yang kacau.” (Soe Hok Gie, 1983 : 78)

Kata-kata Soe Hok Gie ini mengilhami penulis untuk menuliskan artikel yang bertema kritik terhadap dunia ilmu di Indonesia. Kata-kata Gie tersebut adalah sebuah bentuk keresahannya tentang tradisi ilmiah di Indonesia yang mulai meluntur.

Seorang intelektual bagi Gie adalah sosok yang tak pernah selesai dengan sekali tahu. Sikap skeptis selalu dikembangkannya. Seorang intelektual harus berani berjalan sendiri bagai elang, demi memperbaiki peradaban.

Seorang intelektual mempunyai peran penting dalam menggerakan perubahan. Pendapat ini juga diyakini Antonio Gramsci untuk menjadikan pengetahuan sebagai alat penggerak perubahan di masyarakat. Intektual yang membawa perubahan menurut Gramsci adalah intelektual organik bukan intelektual tradisional.

Intelektual organik adalah mereka yang dekat, merasakan  dan menceritakan apa yang terjadi di masyarakat. Berbeda dengan intelektual tradisional yang hanya berkutat pada profesi. Mereka yang masuk kategori ini di adalah guru, dosen dan sebagainya.

Saat ini, di Indonesia minim intelektual organik dan berjibun intelektual tradisional.

Jika kita menengok kembali sejarah Indonesia, mungkin kita bertanya heran, kenapa negeri ini bisa memproklamasikan kemerdekaan dengan ribuan suku bangsa berbeda dan wilayah kepuluan yang luas?

Hal ini tak lepas dari peran intelektual organik, pejuang kemerdekaan. Bacaan-bacaan mereka seperti bukunya Ernest Renan—“le desire d’etre ensemble” atau Kehendak untuk Bersatu, mereka aplikasikan dalam tulisan-tulisan atau pidatonya di hadapan publik

Hasilnya, mereka bisa menggerakan semangat kemerdekaan. Seluruh etnis di wilayah Indonesia bersatu dalam peristiwa sumpah pemuda 1928.

Jika kita kembali melihat sejarah, tentu kita tahu bahwa  Soekarno, Hatta, Syahrir dkk. terlahir sebagai mahasiswa yang tidak puas jika hanya berdiam diri. Mereka lalu keluar dari zona nyaman dengan menciptakan gerakan kemerdekaan. Semangat mereka, tanah airnya tak memberikan imbalan apa-apa selain buku dan pena.

Bila kita menengok Hatta seperti yang diceritakan Banda Neira, kita bisa melihat tradisi intelektual yang sangat kental pada diri salah satu founding father Indonesia ini. Pagi itu, 1 Februari 1942, Hatta mengemasi buku-bukunya hingga terkumpul dalam 16 kotak. Ia berniat membawa “kawan setianya” itu dari tempat pengasingan.

Hatta kecewa, pesawat MLD-Catalina tidak memuat bukunya. Hatta kesal dan mengembalikan 16 kotak buku ke tempat semula (Sutan Syahrir, 1990: 189). Ruh buku telah menyatu dalam kepala Hatta. Maskawin pernikahan Hatta pun berupa buku karyanya sendiri (Alam Pikiran Yunani).

Cerita para pendiri bangsa, selalu mengingatkan kita pada ruang intelektual yang luas. Intelektual sejati, memang, tidak selesai dengan buku. Ia butuh menumpahkan beban pikirannya. Namun, perlu terus diingat tumpahan pikiran akan segera layu tanpa diabadikan dalam tulisan. Tulisan baik dalam bentuk buku, blog, majalah, jurnal harus senantiasa diberi kesempatan untuk berdialog dengan manusia-manusia di zaman yang berbeda.

Hari ini, jauh setelah generasi Soekarno, Hatta dan Syarir tiada, narasi kebukuan mencipta tanda-tanda menuju kebekuan. Buku terpajang, sesekali dipandang agar tugas-tugas harian dari dosen segera terjelang. Tak pernah timbul semangat untuk membaca buku apalagi menuliskan ulang hasil bacaannya. Jika pun ada, tak lebih dari sekedar terpaksa. Inilah kenyataan pahit yang tengah menjangkit.

Apa akar penyebabnya?

Pengaruh kebijakan normalisasi kehidupan kampus pada jaman Orde Baru masih terasa merasuki dunia kampus dan dunia ilmiah lainnya di Indonesia. Diskusi-diskusi hangat mengulas berbagai persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan redup. Diskusi digantikan dengan topik berkaitan dengan bidang studi mereka. Bila ada diskusi tentang masyarakat dan kebangsaan, lebih banyak karena tuntutan akademik.

Fenomena ini akibat dari SK Menteri Daoed Joesoef No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Dampak kebijakan terasa hingga sekarang, mengurungkan minat mahasiswa dan kreatifitas ilmiah Indonesia. Kegiatan  mahasiswa masih terkebiri, tidak mempunyai ruang gerak untuk mengkritisi lembaganya sendiri, terlebih mengkritisi para pemangku kebijakan bangsa ini. 

Inilah bagian dari setting sistem pendidikan kita. Mahasiswa dipaksa back to campus untuk kembali belajar dan menimba ilmu. Penyegaran-penyeagaran kebijakan juga telah mematikan kampus-kampus besar Indonesia. Kampus masih terkontrol ketat oleh negara. Seolah gaya baru dari normalisasi kehidupan kampus dalam dewasa ini terjadi lagi.    

Sebagai contoh, penerapan sistem pembatasan lamanya menempuh kuliah, syarat batas kelulusan untuk S1 maksimal 14 semester. Hal ini menyebabkan mahasiswa memilih untuk tak berlama-lama di kampus dan bisa lulus cepat. Dampaknya, perguruan tinggi banyak yang melahirkan sarjana prematur.

Peran Perguruan tinggi sebagai salah satu pilar aktivitas ilmiah dan tameng nalar sehat publik pun terasa tak lagi memberikan banyak harapan. Permen Dikbud No. 84/2013 dan PP No. 41/2009 mengatur tentang dana tunjangan dan bentuk jaminan kaum cendekia untuk tidak lagi ngamen mengumpulkan pundi-pundi materi. Namun, akses kemudahan belum berbanding lurus dengan karya kaum cendikia kampus untuk menulis.

Di jaman keterbukaan informasi, delapan belas tahun berlalunya rejim otoriter Orde Baru, kita harus bisa keluar dari dampak NKK yang berlarut. Saatnya mengaplikasikan bacaan-bacaan melalui tulisan sebagai inspirasi perbaikan peradaban dan keadaban Indonesia. Katakan #kamitidaktakut menulis fenomena dan fakta yang ada.

Sebelum memulai menulis ada baiknya kita merenungkan ulang petuah almarhum Sartono Kartodirdjo ihwal laku hidup “asketisme intelektual” yang  memandang kiprah ilmiah-intelektual sebagai aktivitas spiritual yang senatiasa dinafasi nilai-nilai kejujuran, ketabahan, dan ketuntasan. Nafas ini perlu dihidupkan kembali mengingat kian memudarnya tradisi ilmiah-intelektual sekarang.