Di suatu lingkungan kerja baru, saya mulai adaptasi dengan menyelami budaya kerja yang ada. Mencoba mengenali masing-masing person rekan kerja. Ternyata budayanya sangat berbeda dengan tempat kerja saya sebelumnya. Suasananya sangat kompetitif dan budaya akademisnya sangat tinggi. Kebetulan rekan kerja saya yang baru semua lulusan luar negeri, hanya saya yang lulusan kampus dalam negeri dan terpencil di pinggiran kota.

Beberapa kali kesempatan saya selalu dibenturkan dengan dibanding-bandingkan dengan rekan kerja yang lain yang lulusan luar negeri yang fasih Bahasa Inggris. Pernah suatu ketika, saya ditanya lulusan dari kampus mana oleh seorang senior. Saya jawab saja apa adanya. Lalu respon dari senior tersebut, ‘lhoh kug dari kampus itu bisa diterima di sini?’

Saya jawab saja, ‘Alhamdulillah, Pak, kenyataannya bisa’.

Pada situasi yang berbeda, di saat saya makan siang sendiri di kantin dan bertemu dengan senior yang lain, mulailah kami ngobrol. Seorang senior menanyakan kenapa saya makan sendiri, dimana teman saya yang lain. Lalu saya jawab teman-teman yang lain masih ada acara di unit kerja yang lain. Seketika itu, pernyataan yang dilontarkannya adalah ‘trus kamu gak ikut acara itu?

Saya jawab saja ‘Gak, Pak. Saya tidak bergabung di unit kerja itu’.

Kemudian, dia menimpali lagi, ‘oh iya, unit kerja itu hanya untuk lulusan luar negeri kug ya’. Memang beda lulusan sih ya’.

Beberapa stereotype negatif ini membuat saya flashback pada proses penerimaan pegawai beberapa waktu yang lalu. Semua kandidat diseleksi dengan standar yang sama dan di tes dengan tingkat kesulitan soal yang sama. Hingga pada hasil seleksi saya juga bisa lulus dan lolos dengan nilai tertinggi diantara kandidat lain yang lulusan luar negeri.

Tapi mungkin inilah yang harus saya hadapi untuk bisa menyesuaikan diri di tempat baru, orang-orang baru, dan budaya baru yang lebih menantang. Karena semua hal baru bisa dipelajari dan dicermati agar bisa meningkatkan kapasitas diri untuk diterima di lingkungan ini.

***      

Masyarakat sering menilai seseorang dari latar belakang pendidikannya. Sekolahnya dimana? Lulusan kampus mana? Karena, orang yang merupakan alumni dari sekolah atau universitas favorit memiliki tempat bergengsi di mata masyarakat. Di sisi lain, ketika menjadi bagian dari sekolah favorit akan menambah tingkat kepercayaan diri seseorang meningkat 360 derajat.

Kebalikannya, di saat impian seseorang pupus untuk bisa sekolah di sekolahan favorit yang diidam-idamkannya dan terpaksa harus menelan kekecewaan sekolah di sekolah biasa (gak terkenal favorit), maka butuh usaha keras untuk bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang meremehkannya. Sepertinya gak pede untuk jawab, ‘saya kuliah di kampus “ini’’. Terkadang saking gak pedenya, seringkali lebih aman kalau jati dirinya disembunyikan aja. Daripada tidak siap menerima komentar tidak menyenangkan. Ya kan?!

Tapi sebenarnya, orang yang lulusan sekolah biasa dan bisa sukses, beban mentalnya lebih ringan jika dibandingkan dengan orang yang lulusan sekolah favorit namun pekerjaannya biasa-biasa saja. Ibaratnya begini, orang yang lulusan universitas ternama kalau kehidupannya berkecukupan maka orang akan menganggapnya prestasi yang wajar. Tapi kalau orang yang lulusan dari sekolahan biasa bahkan sekolahan yang hampir mati, bisa mencapai kesuksesan yang melebihi orang dari lulusan sekolahan favorit, barulah itu dianggap prestasi luar biasa. 

Begitulah kehidupan, tidak harus selalu terpaku dengan omongan orang. Semua kesuksesan itu bergantung pada diri pribadi individu. Tinggal bagaimana mengeksekusi pilihan yang diambil dengan kerja keras dan niat yang kuat. Karena saya selalu teringat dengan nasehat guru saya, ‘sekolah dimanapun itu gak masalah, yang penting kamu berprestasi’.

Jika kita tengok orang sukses yang tidak berlatar belakang pendidikan tinggi, contohnya Bu Susi, mantan Menteri Kelautan. Seorang lulusan SMP yang bisa bertengger di kancah Internasional. Kesuksesannya bukan karena beliau sekolah di sekolahan favorit. Tapi Karena tepaan hidup yang beliau jalani sejak kecil sebagai anak pesisir yang kritis atas kondisi masyarakatnya.

Selain itu, ada juga designer kebaya terkenal Indonesia, Anne Avantie. Meskipun tidak mengenyam pendidikan SMA, beliau bisa mengalahkan designer-designer lain yang notabene lulusan kampus luar negeri. Keberhasilannya hari ini merupakan kegigihannya dalam mengasah kemampuannya menjahit di waktu muda. Hingga sekarang bakatnya mendesain kebaya semakin diakui secara nasional maupun internasional. 

Dua contoh dari tokoh tersebut menguatkan pendapat Reynald Kasali bahwa latar belakang pendidikan bukan satu-satunya jaminan seseorang untuk bisa sukses dalam kemajuan karirnya. Tapi yang menentukan kesuksesan seseorang adalah kerja keras dan usahanya.

Gambaran ini bukan berarti menyurutkan semangat para pejuang pendidikan tinggi untuk meraih gelar. Bukan pula mengecilkan peran lembaga pendidikan favorit. Tapi bagaimana masyarakat bisa menghargai orang lain tanpa membuat sekat pembeda karena latar belakang pendidikannya. Sebenarnya sah-sah saja jika membangga-banggakan capaian prestasinya bisa belajar di sekolah ternama, tapi tidak seharusnya merendahkan atau meremehkan orang lain yang merupakan dari lulusan sekolah biasa-biasa saja.