Kebudayaan memiliki makna luas dalam lingkungan masyarakat, dapat menentukan ke mana kehidupan yang dijalaninya agar lebih baik, bertahan hidup dari kerasnya berproses. Mewarnai jati diri masyarakat dalam memperjuangkan hakikat simbol-simbol dari adanya pergolakan kehidupan, senantiasa dapat dijadikan pelajaran bermakna. Merevolusi mental dan jati diri memerlukan berbagai cara yang baik, salah satunya dengan berbudaya dan berkeseniman.

Jangan bercermin di air keruh, hidup merupakan pelajaran penting, maknai hidup dengan rasa syukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Kehidupan merupakan proses belajar dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup. Pelajaran hidup manusia akan terus dialami dari hidup hingga mati. 

Bercermin dari hati yang bersih tentunya menjadi sesuatu hal yang baik, untuk menumbuhkan budi pekerti yang luhur. Sehingga bisa dimaknai, bahwasanya hidup di dunia merupakan proses pembelajaran bagi diri kita sendiri dan tentunya bagi orang lain.

Berbagai tradisi budaya yang ada di daerah, merupakan khasanah kekayaan yang dapat menjadi aset perbendaharaan tradisi budaya nasional. Budaya adalah cerminan dari keberadaan masyarakat pada suatu daerah. Sehingga disetiap daerah akhirnya memiliki ciri-ciri yang berbeda, meskipun kadang ada yang menyerupai budayanya pasti berbeda konteks makna filosofinya dalam pemahaman.

Menurut Dharsono (2007: 54) dalam bukunya berjudul Estetika menyebutkan; seni dan kehidupan adalah komposisi yang menyeluruh sebagaimana individualitas; apa yang kita rasakan adalah hubungan yang serentak diantara sesuatu yang kita miliki. Saya adalah suatu komposisi yang menjadi satu titik; hal ini merupakan suatu intergrasi yang dirasakan sebagai suatu kelangsungan dan keabadian. 

Saya kelihatannya satu, tetapi kita dapat melihat ada beberapa hal di situ. Kita mengatakan; saya mempunyai memori, saya mempunyai harapan, saya mempunyai kulit, saya mempunyai relasi, dan sebagainya. Apabila saya menelusuri hubungan di antara sesuatu dalam suatu lukisan ke hal-hal yang ada padanya, kita akan melakukan seperti menelusuri saya ke hal-hal yang ada pada saya.

Seni dan proses kehidupan, merupakan wujud keharmonisan bagi mereka yang suka akan seni. Berbagai bentuk proses kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, bahkan negara, bisa diwujudkan dalam pengapreasian sebuah seni. Lukisan kaca juga merupakan sebuah bentuk dari apresiasi kehidupan. 

Ibarat cermin, lukisan kaca merupakan tumpahan jiwa yang digambarkan di media kaca. Sehingga cerminan kehidupan bisa dilukiskan dalam bentuk garis, warna, dan gaya seni.

Mengenai sejarah lukisan kaca, mayoritas dari daerah Cirebon Jawa Barat. Daerah tersebut menurut sejarah yang ada merupakan titik awal munculnya kerajinan melukis dengan media kaca, terutama berupa ragam hias seni kaligrafi, tokoh pewayangan, dan lain sebagainya. 

Seperti apa yang ditulis oleh Arif Hulwan Muzayyin, bahwa Diakui sebagai budaya lokal setelah mendapat limpahan warisan era Panembahan Ratu di abad ke-17, sebagai sebentuk seni. Seni lukis pada dasarnya mempunyai tiga objek khas, yaitu kaligrafi, wayang, dan batik ini, kemudian memiliki misi sendiri, yaitu terutama dalam rangka penyebaran ajaran agama Islam, sebagaimana metode dakwah mainstream ala Sunan Gunung Jati kala itu.

Media dakwah tersebut menggunakan alat yang tidak bergerak, yaitu dalam bentuk seni lukis. Media tersebut tentunya terdapat unsur-unsur dakwah yang berupa ayat suci Alquran, hadis, maupun menggunakan ragam hias kaligrafi. Metode tersebut akhirnya bisa menempatkan dakwah di lingkungan masyarakat, dan menyebar luas yang akhirnya terkenal dengan sebutan seni lukis kaca. 

Pada dasarnya seni lukis kaca sendiri intinya adalah menggunakan media kaca untuk melukis. Lukisan kaca yang terkenal adalah wujud kaligrafi menyerupai hewan macan dengan bertuliskan dua kalimat syahadat.

Namun tidak hanya itu saja, berbagai model ragam hias seni lukis kaca mengalami perkembangan, tidak hanya dalam simbol hewan melainkan seperti Semar, maupun tokoh pewayangan, gambar masjid, dan lain sebagainya. 

Menurut Kang Maryoko, bahwasanya lukisan kaca adalah melukis menggunakan media kaca, dengan melukisnya dibalik kaca, sedangkan hasilnya bisa dilihat dibalik kaca yang dilukisnya. Melukis kaca merupakan perhelatan antara jiwa dan seni, sebab melukis kaca penuh dengan kesabaran, ketelatenan, dan juga penuh dengan rasa hati.

Lukisan kaca pada dasarnya berkreteria seni lukis, maka ketentuan-ketentuan dalam seni lukis seperti lukisan sebagai sarana pengungkapan pengalaman artistik pada bidang dua dimensi dengan menggunakan elemen garis, warna, bidang, ruang, dan komposisi, juga berlaku pada lukisan kaca. Optimalisasi ide dan kritik, besar pengaruhnya terhadap perkembangan lukisan kaca. 

Sementara itu, lukisan kaca yang dikolaborasikan dengan benda, perabot-perabot rumah tangga, adalah hal yang belum dicoba. Hal ini dikemukakan, mengingat penikmat seni itu lebih selektif. Dengan demikian, perlu bagi pelaku seni tidak mendahulukan uang dalam proses berkarya.

Melukis kaca atau lukisan kaca, merupakan perpaduan harmonisasi antara si pelukis dengan media kaca. Karya yang dihasilkannya sangatlah menakjubkan, berbagai sisi realita kehidupan bisa tersimbolisasikan dengan adanya lukisan kaca. Seni melukis di kaca senantiasa hampir punah dengan adanya modernisasi jaman. 

Memang melukis di kaca membutuhkan berbagai faktor, salah satunya adalah kesabaran. Namun ketika melukis kaca sudah menjadi bagian hidup, maka harmonisasi dalam menuangkan cat di kaca terasa ringan tanpa ada hambatan yang berarti.