2 tahun lalu · 441 view · 7 min baca · Pendidikan 64083.jpg
Kompas.com

Luka Sebagai Minoritas

Sebuah Refleksi Pribadi

Suatu hari, salah seorang teman saya yang berkuliah di jurusan Filsafat pernah bertanya kepada saya. “Eh, mau nanya deh, seumur hidup lo pernah jadi korban diskriminasikah? Maksud gue, ya secara lo adalah perempuan, dan fisik lo berbeda dari orang pada umumnya?” 

Pertanyaan itu tidak pernah saya lupakan, bukan karena itu adalah pertanyaan yang cerdas, tetapi itu adalah sebuah pertanyaan yang membuat saya harus membongkar serpihan-serpihan masa lalu. Serpihan-serpihan yang ingin sudah saya kubur dan akan menguras perasaan jika harus membukanya lagi. Serpihan cerita yang sudah saya ikhlaskan menjadi bagian dari kehidupan saya.

*

Diskriminasi, jelas saya merasakannya. Saya adalah seorang perempuan berdarah Flores yang menumpang lahir di Ibukota. Maklum, kedua orangtua saya merantau untuk bersekolah dan bekerja di Jakarta. Kehidupan masa kecil saya begitu mengasyikkan, saya tinggal di Jalan Jengki, di Halim Perdanakusumah. Tetangga-tetangga saya adalah masyarakat Betawi tulen, ada juga orang Jawa, Manado, dan Batak. Wajah Jakarta yang begitu plural menumbuhkan perasaan nyaman kepada saya karena diterima dengan baik oleh masyarakat.

Ah, tapi sayang, itu tidak berlangsung lama. Ketika saya masuk ke sekolah dasar, kami sekeluarga pindah ke Jatiasih, di perbatasan Bogor dan Bekasi. Otomatis saya juga pindah sekolah ke salah satu sekolah swasta Katolik yang mewah di Bekasi.

Masa-masa kecil sebagai siswa SD tidaklah menyenangkan. Sekolah mewah Katolik itu mayoritas kawan-kawan dari etnis Tionghoa, secara kasta ekonomi mereka golongan kelas menengah atas. Sementara saya hanyalah seorang anak dari perumahan kelas menengah di pinggiran Bekasi dan Bogor. Mobil ayah saya hanyalah mobil Espass milik kantor.

Itulah pertama kalinya saya merasakan bahwa lingkungan tempat saya bersekolah melihat ada hal yang asing dalam diri saya. Berkulit hitam, berambut keriting, gendut, menyandang nama Gloria, miskin pula. Saya merasakan menjadi korban bullying atas perbedaan warna kulit, rambut keriting, dan lainnya. Kadang-kadang nama saya yang Gloria saja dihina teman-teman menjadi Gorila. Beberapa juga mengatakan saya Hanoman.

Pernah suatu kali, pada saat saya kelas empat SD, teman-teman saya -khususnya yang laki-laki- pernah memberantakkan seluruh isi tas saya. Buku, tempat pensil, botol minuman, dihambur-hamburkan, dilempar ke seluruh ruang kelas saat sedang istirahat. Dengan tergopoh-gopoh seorang teman menghampiri saya yang sedang makan di kantin, dan meminta saya segera kembali ke kelas.

Saya begitu kaget melihat kejadian itu. Spontan saya mengamuk dan berusaha merebut semua barang-barang saya. Saya mencoba menyerang salah seorang teman lelaki dan memukul kepalanya dengan air minum hingga botol itu pecah dan membuat seluruh bajunya basah kuyup. Saya sempat dimarahi oleh guru karena memukul teman saya, sampai akhirnya saya katakan bahwa mereka yang pertama kali membuat keonaran dengan saya.

Pada masa-masa tidak menyenangkan itu, Ibu saya tampil sebagai tameng yang selalu menjaga. Dia bahkan tak segan-segan menegur dan memarahi anak-anak yang menghina saya. Tidak ada perasaan senang ketika Ibu membela saya, karena setelah itu, teman-teman pun akan menghina saya sebagai tukang ngadu. Padahal kenyataannya, saya tidak mengadu, tetapi saya hanyalah seorang anak kecil yang memiliki satu sahabat yaitu ibunya.

Sesungguhnya bagi sebagian orang kisah ini lucu. Ah, namanya juga anak kecil. Tetapi sayangnya tidak semua anak kecil memiliki mekanisme memaafkan seperti orang dewasa. Ada sebagian anak kecil yang begitu peka perasaannya dan membutuhkan waktu untuk menerima keadaan dimana dia terkucilkan. Anak-anak kecil cenderung lebih kritis dan selalu membutuhkan jawaban. Kadang-kadang mulut sebagian teman-teman saya juga kurang hajar, mereka cenderung rasis dengan mengatakan, “Ah, orang Flores mah ujung-ujungnya cuma jadi TKI”. 

Kehidupan di lingkungan rumah juga tak jauh berbeda. Rumah saya berada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang mana mayoritas penduduk adalah umat muslim. Pada satu blok rumah saja yang beragama Katolik hanya keluarga saya. Saat pertama kali pindah saja di komplek rumah kami belum ada lingkungan Katolik, beberapa kali malah keluarga saya bergabung dengan ibadah Kristen Protestan.

Saya sungguh mengalami ketika di lingkungan rumah orang-orang mengatakan saya sebagai kafir. Beberapa teman, yakni anak-anak tetangga seringkali berkata, “Kita nggak mau main sama kamu karena kamu orang Kristen. Kami kafir” Lalu saya bertanya, “Memangnya kenapa kalau saya orang Kristen?” teman saya menjawab, “Tidak boleh, karena dosa.”

Suatu kali, tetangga rumah saya yang kebetulan orang Surabaya keturunan Arab pernah berteriak di depan rumah saya saat kami sedang beribadah lingkungan. “Dasar orang Kristen pendosa!” Tak selesai sampai disitu, entah ada kebencian apa yang ditanamkan orangtua anak itu kepada saya dan adik saya. Suatu sore, saat kami sedang bermain, dia membawa ranting pohon yang ujungnya runcing dan hendak menusuk perut adik saya. Untung saja, cepat-cepat Ibu saya melihatnya dan merebut ranting itu. Ibu saya mematahkan ranting itu dan membuangnya ke tong sampah. Tanpa marah-marah, Ibu saya langsung menyuruh saya dan adik saya masuk ke rumah.

“Gausah main keluar lagi kalau mereka jahat sama kalian.”

*

Waktu berjalan dengan sangat baik. Dia mempertemukan saya dengan orang-orang baru yang memberikan harapan dalam kehidupan saya. Teman-teman baru, wawasan baru, lingkungan baru. Masa usia-usia puber tingkat SMP dan SMA itulah saya mulai tumbuh menjadi orang yang lebih berani. Ibu saya, orang yang selalu mengatakan saya harus kuat tak pernah lupa mengatakan bahwa setiap diskriminasi harus dijadikan cambuk untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Dia mengajarkan saya sebagai minoritas dari segi etnis ataupun agama, kita akan sangat rentan mengalami kekerasan. Namun balasan terbaik untuk semua itu adalah kebaikan. Saya yakin kebaikan selalu memiliki ruang hidup. Kebaikan selalu dibutuhkan. Untungnya kebaikan juga tak pernah melihat suku, ras, dan agama.

Perlahan dengan banyaknya kebaikan yang senantiasa dilakukan keluarga saya, kami diterima dengan masyarakat di lingkungan dengan sangat baik. Beberapa teman-teman masa kecil saya yang intoleran itu juga pindah rumah, digantikan dengan teman-teman baru dari Jakarta yang orangtuanya berwawasan plural.

Perjalanan itu kadang membuat saya menyalahkan orang tua saya. Kadang, saya merasa bahwa pengalaman itu akibat dari menjadi seorang perantau. Kalau saya lahir di Flores misalnya, saya tentu tidak akan merasakan diskriminasi sedemikian rupa. Namun ketika saya pikirkan kembali, inilah kekayaan saya, ini pribadi saya, hasil dari sekumpulan pengalaman.

Saya mengingat lekat luka-luka itu sebagai bentuk perlawanan terhadap setiap ketidakadilan. Rasa sakit di masa kecil itu membuat saya tak ingin ada anak-anak kecil lainnya yang merasakan diskriminasi atas suku, ras, agama, warna kulit, jenis rambut, status sosial kaya atau miskin, dan gender.

Semakin saya dewasa, membaca beberapa buku, saya pun menyadari bahwa semua diskriminasi lahir atas dasar konstuksi sosial. Salah satu pencipta konstruksi tersebut adalah media massa. Nah, inilah alasan yang memperkuat pilihan saya menjadi jurnalis. Jika media yang membentuk pemikiran, maka biarkan saya bergumul untuk membentuk kontruksi pemikiran yang adil terhadap setiap manusia.   

Beberapa bulan lalu saat hangat Pilkada Jakarta dan isu SARA menjadi konsumsi saya seringkali membatin ‘Ah, kalian yang teriak-teriak itu, apa kalian sungguh sudah adil dalam pikiran dan perbuatan?’ Saya juga hanya bisa geleng-geleng kepala dengan banyaknya pemberitaan bahwa sikap intoleransi itu meluas ke anak-anak. Ada kasus anak yang ditolak jadi Ketua OSIS karena dia Nasrani. Ada kasus anak-anak kecil saling menghina agama temannya.

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa media sedang membesar-besarkan masalah itu bersamaan dengan momentum Pilkada Jakarta. Kalau melihat realitas itu dan dibandingkan dengan realitas kehidupan masa lalu saya, berarti, selama 20 tahun terakhir tidak ada perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Bibit-bibit intoleransi itu masih subur di dalam keluarga. Lalu kamu mau bilang apa?

Pada akhirnya, saya seringkali bergumam, luka-luka saya ini adalah sebuah PR yang disembuhkan sangat lama. Bisa jadi, hingga akhir hayat tidak kunjung selesai. Cita-cita saya agar anak-anak lain tidak mengalami apa yang saya alami bisa saja kandas.

Saat menuliskan ini, saya pun membatin. Apa kabar teman-teman saya yang dulu sering membully saya baik itu di sekolah ataupun di rumah? Bagaimana mereka merespon kondisi masyarakat saat ini? Apakah masih sama seperti yang dulu?

Ah, sudahlah. Saya memutuskan untuk melupakan saja masa lalu. Melanjutkan hidup dengan segala resiko dan patah hati. Melanjutkan cita-cita untuk membuat anak-anak kecil, para orangtua tidak melakukan lagi hal-hal intoleran atas nama agama dan ras.

Jangan lagi ada anak-anak kecil yang menangis karena dihina atas sesuatu keadaan yang tidak bisa dia tolak. Jangan lagi ada anak-anak kecil yang didominasi oleh jiwa mengintimidasi orang lain ketimbang mengasihi orang lain.

Setidaknya saya yakin ada senjata yaitu kebaikan. Dia, kebaikan, selalu ampuh menyembuhkan semua luka.

Keberanian saya menuliskan cerita ini tak lepas dari lagu karangan Glenn Fredly berjudul ‘Untuk Sebuah Nama.’ Cerita ini biasanya hanya saya bagikan kepada mereka yang saya percayai dan cukup dekat secara personal. Namun kalau kamu akhirnya membaca cerita ini di tengah nuansa Idul Fitri, maka kamu beruntung. Semoga, kamu pun mau membantu saya mengentaskan luka-luka ini.

Untuk semua yang terjadi

Antara engkau dan diriku

Tak mungkin ku pungkiri semua

Amarah dan s'gala kecewa

Namun harus kumaafkan

Meski lirih perih membekas

Kukubur semua janji manismu

Dan ku tukar lara yang merobek hatiku

Ini semua untuk sebuah nama

(Ibu)

Artikel Terkait