Antologi cerpen dari Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa SLTA Kabupaten Sleman yang diberi judul sampul Hancurnya Topeng Topeng Berjalan ini cukuplah menarik untuk dikaji.

Buku antologi cerpen ini diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tahun cetak 2018. Antologi cerpen tersebut juga merupakan cetakan pertama dari kumpulan 19 karya siswa SLTA dengan khas warning privatisasi di ujung atas sampul, Milik Negara Tidak Diperdagangkan.

Buku yang terlahir dari semangat tupoksi Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan ejawantah pelatihan literasi melalui program Bengkel Bahasa dan Sastra Indonesia dan Jawa dengan sasaran unik siswa SLTA.

Hal menarik pertama adalah dari sisi judul sampul. Kenapa menarik? Karena judul ditulis tanpa mengggunakan tanda baca hyphen atau tanda hubung pada kata ulang Topeng-Topeng.

Sebenarnya, kita harus bangga dengan aturan PUEBI untuk kekuatan identitas Bahasa dan Sastra Indonesia yang mempunyai tanda hubung (hyphen). 

Menurut PUEBI, kata ulang murni (dwilingga) dan kata ulang semu harus ditulis dengan huruf kapital di setiap awal kata karena sifatnya yang bisa dibilang tidak mengalami perubahan apa pun.

Termasuk, tanda baca hubungnya (hypen) yang harus hadir dalam kata ulang tersebut, seperti: Topeng-Topeng, Kupu-Kupu, Sayap-Sayap, dan lainnya. Model seperti ini jarang atau bahkan tidak dipunyai bahasa dan sastra lainnya.

Sedangkan bentuk kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, kata ulang dwipurwa, dan kata ulang perubahan—semua yang sederhananya sudah mengalami perubahan bentuk—hanya ditulis kapital pada huruf pertama kata ulang.

Contohnya seperti: Cerai-berai, Carut-marut, Berjalan-jalan, Gerak-gerik, dan lainnya.

Keunikan tanda hubung pada kata ulang ini sangat khas jika dibandingkan dengan lainnya. Semisal, gramatikal Bahasa dan Sastra Inggris tidak mempunyai kata ulang (repetition of word) yang murni berulang pada kata benda, kata sifat, atau lainnya dalam bentuk kesatuan utuh.

Tidak akan ditemui kata ulang car-car (mobil-mobil) ataupun hot-hot (panas-panas) misalnya. Kata ulang (repetition of word) pada gramatikal Bahasa Inggris hanya mampu berbentuk satuan yang terpisah saja.

Semisal, pengulangan subjek ataupun objek antarkalimat (intersentences) seperti pada kalimat: You go to Yogyakarta and you visit Borobudur temple.

Pengulanan secara parsial saja pada kata ganti orang pertama tunggal nominatif pada kata "you" (kamu). Jadi, sangatlah lucu mengorbankan tanda hubung (hyphen) pada penulisan judul di atas dengan alasan apa pun. 

Padahal, itu merupakan hal yang sangat berharga dan istimewa sebagai pembeda hakiki gaya penulisan kata ulang yang tidak dimiliki bahasa dan sastra lain.

Sedang, penulisan judul aslinya oleh sang penulis, Astri Anggraeni, pada halaman 12; ia menulis dengan jelas judulnya “Hancurnya Topeng-Topeng Berjalan” dengan menggunakan tanda hubung (hyphen) pada kata ulang “Topeng-Topeng”.

Ini merupakan sebuah editing yang cukup mengganggu otoritas penulis. Editor mengorbankan sesuatu yang sangat berharga, baik dari sisi unik gramatikal ataupun kebebasan dan kreativitas penulis.

Tanda hubung (hyphen) pada kata ulang sangat esensial sekali dalam keunikan sebuah korespondensi.

Gramatikal Bahasa Inggris yang tidak punya model beginian saja begitu sangat menghargai sebuah repetisi, seperti yang ditulis dengan jelas oleh Johnstone (1991: 103): Repetition is used to describe an exact correspondence between two or more element of text.

 Sebenarnya, yang “teenlit” ini, si penulisnya yang masih duduk di bangku SLTA dengan 10 kali pelatihan penulisan atau editornya yang mungkin sudah kenyang pengalaman?

Hal lucu lainnya adalah tidak adanya kesinambungan antara tema penulisan “tentang masa depan” dengan beberapa karya siswa yang dibiarkan editor begitu saja mengumbar fiksi sains (ilmiah) yang tanpa nalar dan kurang riset tersebut.

Sebenarnya, penulis yang berjumlah 19 itu, dengan mendapat 10 kali pelatihan penulisan, cukuplah waktu untuk setiap penulis membuat riset kecil-kecilan agar tidak keluar dari nilai-nilai kewajaran nalar dalam sebuah fiksi sains.

Walaupun fiksi, tetaplah ia akan mendarat pada sebuah ruangan yang tidak kosong. Ruangan yang berisi silogisme, logos, mitos, dan elemen-elemen metode ilmiah, fakta, dan data lainnya.

Ambil contoh, karya cerpen dengan judul Deux Ex Machina, di halaman 80, yang ditulis oleh seorang siswa SLTA kelahiran Canberra yang ayahnya teman WS Rendra itu, cukup lucu dalam hal kesinambungan sirkumferensi dan ambience isinya.

Si penulis ingin memberikan distingsi menyolok antara dua kelompok survival (left-over) akhir zaman dengan gaya-gaya distopia apokaliptik, yaitu kelompok believer (percaya Tuhan) dengan kelompok machina (percaya teknologi).

Distingsi yang diberikan kurang begitu mengena, seperti penggambaran lingkungan kelompok machina yang total ateis itu. Namun, pada sisi lain, ada anggota machina yang masih “berdoa” dan mengucapkan salam “assalamualaikum” lagi, seperti yang dinarasikan di halaman 83 dan 84.

Si penulis sepertinya tidak kuat menulis karakter machina yang ateis itu. Dia masih believer banget. Memang gampang jadi ateis?

Kemudian hal-hal mendasar yang membuat sebuah fiksi sains kuat banyak diabaikan, seperti mencampuradukkan antara pengertian arus listrik dan tegangan listrik. Padahal, dua itu sangat berbeda dengan satuannya masing-masing. Kebingungan ini terdapat di halaman 82.

Belum lagi sisipan-sisipan tekanan yang mungkin penulis munculkan untuk menyegarkan suasana, malah berkebalikan, runyam. 

Seperti penguraian sebuah “naming” yang Jawa banget, “Ayu Suryaning Lati”, seorang wanita muda yang diharapkan menjadi penghangat cerita. Seorang machina yang masih main horoskop Jawa? Ini sungguh menggelikan.

Ada lagi tentang gelombang elektromagnetik yang memang pada kenyataan visualnya tidak bisa ditangkap mata telanjang manusia. Tapi, di halaman 84, penulis kurang yakin tentang spektrum tak kasat mata ini.

Kita manusia bukanlah lebah atau insekta lainnya yang dapat melihat gelombang elektromagnetik, semisal ultraviolet yang memiliki panjang gelombang 380–750 nm itu.

Nah, begitulah gambaran ketimpangan yang saya ambil satu saja sebagai contoh. Banyak lagi lainnya yang tak mungkin bisa dibahas semuanya di sini. 

Masukan untuk Bengkel Bahasa dan Sastra Nuklir, ehhh…., Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk lebih memberikan fokus riset-riset sederhana sebagai basis penting sebuah fiksi sains.