Mahasiswa
2 tahun lalu · 4384 view · 3 menit baca · Politik bego.png
https://www.youtube.com/watch?v=MkX_qsDck0A

Lucunya Mahasiswa HTI-UI

Sebagai mahasiswa yang pernah mondok di pesantren tradisional, ketika awal-awal membayangkan menjalani hari-hari di kampus biru yang terkenal sekuler, saya sempat khawatir. Kemudian saya merindukan komunitas yang sama, mengharapkan masih ada sisa-sisa manusia bersarung di kampus biru itu. Maka sebagai maba yang masih unyu-unyu, masuklah saya ke dalam organisasi mahasiswa yang mengaku sebagai lembaga dakwah kampus.

Tak ada kecurigaan di awal, saya sangat antusias mengikuti segenap kegiatannya. Hal janggal yang awal saya alami adalah, ketika saya ditegur karena bercelana panjang, maksud mereka isbal. Di sinilah pertentangan pertama saya. Oke, saya agak pasang jarak, memulai diri jadi pemerhati. Pada kesempatan yang lain, saya dianggap ‘buruk’ karena bagi mereka saya tak menjaga diri ketika berinteraksi dengan mahasiswi. Saya semakin heran, muslim macam apa ini?

Waktu berlalu, perlahan saya fahami petanya. Ternyata di kampus biru ini, orang-orang bersarung macam saya memang tak mendapatkan ruang khusus. Orang-orang bersarung cenderung bosan dengan keagamaannya dan mencoba berdakwah di ranah yang lain.

Sebaliknya, teman-teman yang bercelana seperdelapan itu begitu antusias mendalami agama. Pada waktu berikutnya saya sadari bahwa ada motif terselubung di balik gerakan mahasiswa ini, salah satunya adalah kelompok yang menamakan diri dengan GEMA Pembebasan.

Di awal memang terdengar keren, apalagi orang-orangnya ketika ngobrol di kantin Sosial Humaniora UGM memang terkesan sangat menguasai peta perpolitikan timur tengah. Mereka berhasil membuat maba unyu-unyu seperti saya demikian terharu. Namun saya ragu tentang keyakinan mereka bahwa solusi dari segenap kekacauan ini adalah Khilafah.

Adanya gerakan semacam ini memang menunjukkan sisi labilitas anak muda, terutama dalam beragama. Adalah gejala yang jamak melihat semangat keislaman yang menggelora dari generasi muda, apalagi pelajar dan mahasiswa. Sayangnya, semangat memunculkan Islam sebagai alternatif terbaik itu tidak diimbangi dengan pemahaman yang lebih luas dalam ilmu agama.

Merasa bangga ketika memperjuangkan ‘simbol’, akan tetapi lupa terhadap ‘esensi’ yang terkandung di dalamnya. Karakter yang kemudian melekat adalah, mudah sekali menyalahkan atau bahkan menuduh kafir kelompok lain yang tidak se-ide dengan pemikiran.

GEMA Pembebasan ini memang menginduk pada partai impor dari timur tengah, yakni Hizbut Tahrir. Di negara asalanya, Hizbut Tahrir adalah partai politik Islam yang didirikan oleh Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani pada tahun 1952. Hizbut Tahrir mengemban misi kembalinya Khilafah Islamiyah ke tangan kaum Muslimin.

Khilafah inilah yang menjadi faktor determinan eksistensi gerakan politik ini. Yang mengherankan, objek politik yang demikian luas, dituangkan pula oleh teman-teman GEMA di kampus yang cakupannya memang sungguh sempit. Apakah mereka hendak menunjukkan eksistensi, apakah mereka sedang belajar unjuk gigi?

Dalam ranah khayal teman-teman gerakan puber-aqidah ini, Khilafah menjadi nomenklatur tak tergantikan. Bagi mereka untuk mengatasi semua problem dan benang kusut yang ada di dunia sekarang ini, solusinya hanya satu; khilafah harus tegak dan dibaiatnya seorang khalifah.

Akhirnya, khilafah dianggap sebagai satu-satunya sistem politik yang benar, Islami, dan diakui oleh Allah serta diterima oleh Rasulullah. Sistem politik lain, semisal republik, atau bahkan republik Islam, adalah tidak sah, tidak Islami, dan haram, bahkan kafir. Begitu pula hukumnya berlaku dalam memilih pemimpinnya.

Saya tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat video dari kawan di bawah ini. Bukan maksud saya merendahkan, namun saya menyadari betapa payahnya saya dalam memahami teks-teks agama, meski mondok lumayan lama. Duh, betapa cepat proses belajar mereka, hingga sampai berani mewakiliNya, teriak-teriak membelaNya.

Untuk sementara, saya merasa iri dengan telatnya pengembangan diri. Jujur saja, empat kali saya menonton ulang, dan masih tertawa saja, apalagi ketika teman dari universitas seberang ini meneriakan takbir, jujur bibir nyengir tapi hati saya getir.

Sebagai santri, harusnya saya lebih giat lagi menunjukkan identitas keislaman, lebih giat berjuang untuk islam, berdakwah demi islam. Namun saya sungguh kalah, bahkan mahasiswa bersarung macam saya memang terdidik untuk menjauhi politik. Monggo saya persilahkan teman-teman yang lain saja yang berjihad politik.

Namun melihat video tersebut, saya merasa tergerak juga. Duh, mau kayak badut apa wajah Islam ini jika terus diwakili mereka. Maka walau hanya beberapa kata saja, saya ingin berpesan kepada teman-teman GEMA Pembebasan:

Jika memang benar sampeyan mewakili saya khususnya, atau umumnya orang-orang Islam, duh... mbok ya jangan malu-maluin gitu. Belajar tahsin dulu, benerin tajwidnya dulu, biar takbirnya merdu gitu.

Untuk all crew dalam pembuatan video tersebut, saya ucapkan hatur nuhun telah menghibur. Saya bersyukur karena Allah masih memberi saya hiburan di tengah-tengah kampus biru yang tak memberi ruang khusus untuk mahasiswa bersarung macam saya. Meski pun video tersebut ternyata diprodukdi oleh pasukan ranger kuning.