Membuat parameter untuk sebuah delik rasa adalah sesuatu yang berlebihan. Usaha untuk menyeret naluri dan rasa ke delik hukum dengan menciptakan batasan-batasan merupakan tindakan yang lucu dan tak waras.

Bagaimana kebebasan sebuah rasa berimplementasi dan masuk ke sebuah algoritme akan cukup bukti dan memberi pelajaran tentang kebebasan natural ini. 

Sebuah algoritme yang sangat matematis dan rentan data pun tak akan mampu ketika melewati “kotak keputusan” yang biasa tergambar dalam sebuah “flow chart”. 

Saat kesatuan tersebut melewati “decision box”, yang berbentuk belah ketupat ini, ada keputusan yang harus dibuat, yaitu: If-then-else

Sama halnya saat kebebasan dan pilihan penganekaragaman aktivitas seksual marital melewati alur algoritme tersebut, di mana ada masih ada ruang “else” yang bersifat tentatif dan multipilih, di samping ruang “If-then” yang memang sangat obligatif dan menyekat.

Dalam hukum pidana, kita mengenal prinsip lex certa yang berarti rumusan tindak pidana harus jelas mengenai apa yang dilarang undang-undang. Namun, tampaknya RKUHP tidak mengindahkan prinsip ini dengan merumuskan delik perkosaan secara kabur pada “marital rape”.

Pasal 491-499 tentang pemerkosaan dalam rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentunya belum mengatur secara tegas konsep permerkosaan dalam hubungan suami istri (marital rape).

Sebagai contoh, Pasal 491 ayat (1) huruf a mengatur perkosaan yang dilakukan bertentangan dengan kehendak perempuan’ dan Pasal 491 ayat (1) huruf b mengatur perkosaan yang dilakukan tanpa persetujuan perempuan, tanpa memberikan penjelasan mengenai maksud dari kedua frase tersebut.

Artinya, penganekaragaman hubungan badan yang kerap berbau kekerasan akan laris terkena pasal ini. Seorang suami dapat dipidanakan bila memaksa istrinya berhubungan seksual dengan gaya ini dan itu. Pun, sebaliknya.

Penganekaragaman pola koitus bisa saja berpotensi untuk dianggap "mengandung kekerasan" dan "pemaksaan" dalam sebuah hubungan seksual. Selain itu, RKUHP juga masih kaku dalam hal menganggap laki-laki sebagai pelaku pemerkosaan dan perempuan sebagai korban pemerkosaan, bagaimana pula sebaliknya?

Kelucuan menentukan batasan pemerkosaan terhadap istri atau sebaliknya dapat disandingkan dengan hal-hal alami yang ada sejak lahir. Sejak zaman azali, sudah ada ranah rasa hardcore-softcore, yang tentunya nikmat sekali. 

Ranah ini hampir disukai semua wanita (pasangan). Kenapa dalam kurung: pasangan? Ya, karena ada yang nikmat juga, ketika terjadi aplikasikan rasa ranah softcore-hardcore dengan sejenisnya dan oplosan (gay, lesbian, bisex, gangbang)

Sudah saya katakan sebelumnya pada artikel Pidanakan Otot Polos, baca di sini, bahwa ranah naluri dan rasa yang didominasi otoritas otot polos adalah sesuatu yang natural dan sulit dibuat parameternya. 

Artinya, setiap penetrasi adalah sebuah paksaan yang berkedok. Bagaimana bisa ini kemudian ditransfer ke dalam sebuah satuan algoritme yang meminta data riil dari sebuah domain yang sulit dimengerti dan diukur?

Lahirnya genre BDSM juga merupakan perjalanan panjang sebuah naluri dalam penganekaragaman rasa yang bukan lahir dari sebuah pemerkosaan, yaitu ketika pasangan sudah sepakat dalam ranah paksaan, kekerasan, kebinatangan, dan sadisme yang terukur tentunya; yang sekali lagi, semua itu justru membuat nikmat. 

Istri yang ikhlas (urusan hati) yang susah dideteksi pun akan tetap memerlukan “kekerasan” minor untuk menyempurnakan sistem rangsang alat vitalnya, jika sang istri jatuh pada kasus frigid.

Kasus-kasus fake orgasm atau orgasme palsu pada wanita untuk menjaga keharmonisan juga perlu diperhatikan sebagai pertimbangan. Jika dipaksakan sebagaimana delik pemerkosaan istri; fake orgasm bisa dianggap juga sebagai pemerkosaan sebuah orgasme murni.  

Narasi-narasi kenikmatan, atau ujaran kepuasan yang beriringan dengan makin meningkatnya intensitas penetrasi, tekanan, hajaran, tamparan, cekikan yang menunjukkan naiknya sebuah rasa nikmat, dapat disimak pada film-film dewasa.

Seperti, ujaran-ujaran verbal: deeper, harder, faster dengan segala gesturnya yang sudah Anda pahami, dan sering Anda dengar sendiri dari mulut pasangan yang sedang melambung dalam dekapan erotis Anda.

Kemudian, tentang teknik kering atau ketat-sempit; ketika pasangan menginginkan penetrasi nonlubrikasi, alias serangan mendadak, agar terasa lebih nikmat walau agak sedikit sakit; bisa saja dianggap sebagai pemerkosaan.

Model-model submisi, dominasi, hingga pemecahan keperawanan (deflorasi) adalah sesuatu yang natural saja. Tentunya pakai kekerasan.

Burung yang gak cepat berdiri, karena faktor tertentu, juga dikategorikan sebagai pemaksaan atau pemerkosaan saat atau ketika dikocok oleh istri. Dalam artian, suami diperkosa istri.

Belum lagi ketika istri berada di ambang liar, sementara sang suami pas-pasan staminanya, maka dengan sendirinya sang istri akan memperkosanya dengan segala cara, mulai dari: Women on Top (WOT); di mana sang istri berpacu kuda dengan mengandalkan ketercukupan gumpalan yang telah lembek di selangkangannya.

Kemudian aksi pelimpahan mandat fingering (penjarian) oleh istri kepada suami; di mana memaksa suami untuk membuat orgasme susulan pada istri. Dari sini berkembang aksi tonguing (pelidahan) hingga yang insersi yang paling ekstrem, fisting.

Belum lagi eksplorasi lainnya, semisal: neck choking (teknik cekik lembut), hingga deep throating yang bikin mual-mual nikmat.

Sama saja, di pihak wanita juga sering melakukan penganekaragaman seperti: balling (meremas buah zakar), Womdom (women domination) yang teatrikal, hingga memunculkan istilah feminis yang natural (feminism unmodified/ nature feminism), baca di sini.

Sudahlah, biarkan saja pada batasan aman.