Disadari atau tidak, lama kelamaan kolom-kolom berita turut menyajikan konten-konten yang tak kalah lucu jika dibandingkan dengan video-video Stand up Comedy di YouTube. Minggu pertama dan kedua tahun ini sudah tersaji beberapa berita-berita yang mengundang tawa. Mulai dari Kompetisi Liga Korupsi, KPK dilempar ke sana-kemari, hingga aksi tolak ini atau bela itu. Dan tak lupa, bencana wajib awal tahun: banjir.

Pembaca yang budiman tidak setuju? Anda menyebutnya lebih sebagai ironi, sama sekali tidak lucu? Silakan saja. Saya juga tidak memaksa. Toh, cara Anda dan saya dalam menginterpretasikan berita-berita tersebut mungkin tidak sama. Karena bagi saya, keironisan hanya akan menimbulkan pesimis dan gelisah. Oleh karena itu, saya memilih tertawa daripada larut dalam ambyar berkepanjangan.

Namun, makin ke sini, kelucuan tersebut malah tambah absurd dan tidak logis. Seperti pada peristiwa banjir Bekasi beberapa hari yang lalu. Salah satu kolom online memuat berita tentang penyegelan toko miras yang dituding sebagai penyebab banjir. Lalu ada lagi kolom online yang memuat berita tentang aksi demo tolak bioskop dekat masjid dengan dalih bela agama islam dan pribumi.

Jika berbicara tentang politik dan perilaku para politisi, kadang kala memang patut ditertawakan. Pasalnya, untuk mencapai suatu tujuan, mereka terkadang menghalalkan segala cara yang juga tak jarang mengundang tawa. Dan yang terbaru bahkan sampai pecat sana-sini demi seorang ‘pramugari’ tercinta—yang akhirnya kena pecat juga.

Lalu ada juga Liga Korupsi Indonesia. Saat ini, pemuncak klasemen masih dipegang oleh Jiwasraya dengan total 13,7 trilun, disusul oleh Asabri dengan total 10 trilun. Di posisi selanjutnya, ada Bank Century, Pelindo II, Waringin Timur, dan BLBI di posisi tiga sampai enam. Di zona degradasi posisi tujuh dan delapan dihuni kasus Papa Setnov, E-KTP, dan Hambalang.

Tapi setidaknya mereka memiliki alasan yang logis. Latar belakangnya seperti ini, prosesnya seperti ini, tujuannya ini, lalu outcome atau benefitnya ini.

Lantas ketika menggunakan mindset yang sama terhadap tiga peristiwa ‘absurd’ di atas, maka yang terjadi adalah kegagalan berpikir. Ra mashook blas!

Seperti pada kasus yang pertama. Dilansir dari liputan6.com (11/01) yang menyebutkan bahwa warga menuding toko miras tersebut menjadi biang kerok bencana banjir yang menimpa permukiman mereka di awal tahun kemarin. 

“Dampaknya kami diturunkan azab dari Allah, saya katakan azab,” kata seorang warga setempat.

Azab apabila digunakan sebagai sebab dari banjir memang bisa karena banjir memang bagian dari kuasa Tuhan. Namun proporsi azab sebagai sebab dari bencana banjir bisa dikatakan sangat kecil. Tak lain karena banjir merupakan bencana yang disebabkan manusia. Sangat mudah untuk dilogiskan.

Entah warga tersebut pernah SD atau tidak, setahu saya sudah ada pelajaran menyangkut pelestarian alam hingga penanggulangan banjir di Sekolah Dasar. Saya juga masih ingat bu guru menerangkan kalau banjir disebabkan oleh penebangan hutan secara liar hingga membuang sampah tidak pada tempatnya yang nantinya menyebabkan saluran air mampet

Toko miras dapat dianggap bersalah apabila menggunduli hutan untuk memproduksi mirasnya atau menimbun sampah botol, sampah plastik tetangga, hingga sampah masyarakat dan menutupi sungai sehingga air meluber ke jalan. Bukannya karena maksiat.

Lha kalo tokonya ditutup tapi Ente buang sampah sembarangan, ya tetep banjir, Bambank.

(Sumber: detik)

Lalu yang kedua adalah Aksi Demo Bela Agama Islam dan Pribumi Menolak Bioskop XXI dekat Masjid As Sinah di PGC, Jaktim, yang dilansir dari Republika.co.id (16/01). Spanduk tersebut dipasang oleh ormas Gerakan Ormas Islam Betawi (GOIB). Entah logika apa yang merasuki mereka gunakan.

Lalu muncul pertanyaan, “lantas apa hubungannya antara bioskop dan aksi bela islam-pribumi ini? Apa bioskop ini melarang orang islam dan pribumi untuk masuk? Enggak, kan? 

Mungkin karena dekat masjid, tapi juga menimbulkan pertanyaan, “kenapa tidak boleh dekat masjid?” Kan malah enak kalo dekat dengan masjid, sebelum atau sesudah nonton jadi gampang kalau mau salat. Daripada masjidnya jauh. Boro-boro mau ke masjid, ingat aja enggak.

Keberadaan bioskop secara tidak langsung juga turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Bioskop didirikan di Indonesia yang secara otomatis dikenai pajak. Hasil pajak untuk siapa, kalo enggak untuk kita—kalo enggak dikorupsi. 

Lalu daya tarik bioskop terhadap pemuda-pemudi yang tinggi secara tidak langsung akan turut mendukung usaha-usaha yang ada di sekitarnya. Netflix sama indoxx1 diblokir, masa bioskop juga? Lha terus saya nontonnya apa, dong? Sinetron azab?

Jika ditarik benang merahnya, kedua kasus tersebut sama-sama dilatarbelakangi fanatisme buta terhadap agama Islam. Mereka merasa yang paling benar. Semua yang sekiranya tidak sepaham dengan mereka, akan dilibas. Bagaimana pun caranya. 

Memang tidak bisa dimungkiri, keadaan yang ada saat ini merupakan buah dari konstelasi politik yang dibumbui dengan identitas dan agama sejak lima tahun lalu.

Namun ketika mengeklaim sebagai yang paling benar, yang paling islam, apakah representasi dari islam rahmatan lil alamin seperti itu? Lantas di mana letak rahmah-nya, di mana kasih sayangnya? Lalu lil alamin, seluruh alam. 

Perilaku rahmah atau kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada orang islam, apalagi dikhususkan kepada golongannya saja. Kasih sayang harus ditujukan kepada seluruh alam. Bahkan kepada hal-hal remeh seperti air, tanah, hingga bebatuan sungai. Jangan berbuat zalim (merusak red.) kepada alam.

Dan yang terpenting adalah cerdas. Minimal bisa menggunakan logika yang benarlah. Karena manusia dianugerahi oleh Tuhan alat untuk berpikir, belajar, dan memahami seluruh ciptaan-Nya. Afa laa ta’qilun, al ayat, yang kurang lebih artinya apakah kamu tidak berpikir. Ketika anugerah ini tidak digunakan, maka sama saja seorang yang zalim.

Atau, meminjam istilah dari Bung Rocky Gerung, dungu—yaitu seseorang yang tidak bisa memanfaatkan anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan manfaat kepada orang-orang di sekitar anda. CMIIW!!1!1