2 tahun lalu · 237 view · 3 menit baca · Budaya 15966152_10155789525804546_8963073260204551365_n.jpg
Warga/Pemuda Dayak DAD (Dewan Adat Dayak) Kab. Sintang menyambut kedatangan Tengku Zulkarnain di Bandara Susilo, Sintang, Kalimantan Barat (12/01/2017).

Lucu! Reaksi Netizen atas Celoteh Tengku Zulkarnain Pasca Penghadangan

Peristiwa penghadangan Pengurus (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain, sedikit banyak berbuah kelucuan. Alih-alih menebar haru atau mempertontonkan kekerasan fisik, celoteh atau reaksi yang ditujukkannya justru memaksa nitizen untuk ngakak bersama—yang lain silahkan menyusul! Ngakak-nya.

Bermula dari penghadangan yang dilakukan oleh para pemuda Dayak DAD (Dewan Adat Dayak) Kab. Sintang, bukannya menghadapi, si ustadz yang dikenal gemar mengadu-domba umat ini malah mengurungkan niat.

Tadinya sih mau menebar risalah, atau apalah itu namanya, melalui ceramah, tapi yang ada malah memilih untuk melarikan diri. Kabur bersama rombongan yang selalu siap setia menemani perjalanannya.

Wah-wah, padahal kan selangkah lagi tuh bisa mati syahid. Mati model beginian kan pahalanya gede. Masuk surga + 72 bidadari cantik. Bukan begitu, tadz?

Dalam komentarnya di Facebook page milik Tengku Zulkarnain (@K.H.TengkuZulkarnain) atas postingan fotonya bertagar #Admin, pemilik akun Kudabesi Terpedo membuat satu ilustrasi berupa dialog. Ilustrasi ini kira-kira menggambarkan situasi dan reaksi Tengku Zulkarnain saat itu.

Ajudan: Yuukk turun, tadz! Tuh temen-temen Dayak sudah siap nyambut kedatangan ente.

Ustadz: Nyambut pale loe peyang. Itu nyambut napa bawa golok dan parang? Cam mana sambutan kek begini. Antum dah gila apah?

Ajudan: Gak apa2, tadz. Kan malah bagus, tadz. Justru sekarang surga udah di depan mata, tadz. Tinggal turun tangga dikit, masuklah anda di surga, tadz. Bidadarinya udah siap kok, tadz!!!

Ustadz: Gilak antum. Antum manu ane modiyar digorok apah? Kagak… kagak… Ane pulang ajah… Ayo puter balik pesawatnya…!!!

Ajudan: Jadi gak mUcau nich, tadz, masuk surga? Gak nyesel nich? Katanya kalo kita syahid bela Tuhan, pahalanya surga, tadz. Pan ente mau dakwah itu jihad juga, tadz. Masak takut digorok, pak ustadz?

Ustadz: Pokoknya balik… Balik… Ayo balik. Piloot mana pilot… Ayo balik kanan…

Ajudan: Wah, gak jadi masuk surge nich…

Ustadz: Muka loe peyang. Loe mau mampus apah… Gue ogah.. Pulang.. Pulaaang…

Tak hanya Kudabesi Terpedo, akun bernama Uchem Muhammad Ibn Syatori juga nimbrung memberi nyinyiran. Karena memang, tagline postingan foto itu seolah memberi perbandingan setara antara Tengku Zulkarnain dengan para Nabi.

"Karena setiap nabi pernah diusir kaumnya, begitu juga ulama." Uchem membalas: Bedanya, Nabi selalu mengajak (ke arah) kedamaian. Lah Anda? Perusak kedamaian. Jadi kalo ada Anda, ya gak damai.

Selain di Facebook, di laman twitter @UstadTengku, postingannya lagi-lagi mengaduk emosi tawa. Ia menulis: Alhamdulillah Saya Sehat Wal ‘Afiat Tdk Kurang Apapun. Orang2 Bawa Mandau (Golok) ke Run Way Sampai Pintu Pesawat, BUKAN Tanggungjawab saya—maaf, saya mau ngakak dulu dalam hati.

Ya iyalah sehat. Datang dengan jubah nan gagah berani ke medan perang, hebatnya pulang tanpa lecet. Ya, karena tak berani turun aja. Tak berani ambil resiko. Mungkin takut mati, meski mati dalam keadaan syahid. Lantas di mana kesamaan Tengku Zulkarnain dengan para Nabi itu?

Celoteh yang memancing emosi tawa ini pun lagi-lagi berbuah nyinyiran dari nitizen. Misalnya oleh pemilik akun @dimazpras7: mandau rasanya joss langsung ketemu 7 bidadari sebagai amaliyah memerangi kapir, kok mlh balik bdan. Atau @StephJones: Mau jihad dan mati syahid dikasih kesempatan koq gak diambil.

***

Terlepas dari nyinyiran nitizen atas celoteh Tengku Zulkarnain, satu hal yang patut kita catat bersama adalah alasan warga/pemuda Dayak DAD menghadang kedatangan Wasekjen MUI itu.

Seperti dinyatakan Andreas, pihaknya menilai Tengku Zulkarnain telah menghina suku Dayak secara umum. Pemimpin Aksi DAD ini mengenang celoteh yang pernah keluar dari mulut seorang Tengku, yang kurang lebih menyatakan bahwa warga suku Dayak itu kafir, tidak pantas masuk surga, dan lebih buruk daripada binatang (tempo.co).

Tak heran kiranya jika DAD menolak kedatangan orang yang mereka anggap telah membuat hinaan provokatif. Mereka melarang sang provokator untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiran yang mereka cintai.

Ya, begitu pun yang lain, mereka (Dewan Adat Dayak) adalah juga Warga Negara Indonesia yang tidak rela kalau-kalau negerinya diluluh-lantahkan hanya oleh penebar ideologi sempit. Bukan MUI yang mereka benci, tapi provokator di tubuh MUI. Itu patut dicamkan!