...dengan tatap mata berbinar, siap terbahak, terhibur dalam suasana hangat, membahagiakan.

Televisi dan Keluarga Indonesia Tahun 1980-an

Alunan lagu 'Whiskey and Soda' karya Roberto Delgado berkumandang dari pengeras suara televisi hitam putih, pertanda acara seminggu sekali yang telah dinanti-nanti telah tiba.

Aneka Ria Srimulat, demikian judul acara yang ditunggu oleh satu keluarga yang telah siap sedia, duduk di ruangan keluarga, memandang tabung televisi yang tengah menyala menebar warna kebiruan hasil saringan cahaya kaca mika penghambat sinar ultra violet.

Sekeluarga, ada yang di kursi empuk, di kursi yang mengambil dari ruang makan, kursi dari ruang tamu, juga ada yang duduk bersila di atas karpet meredam dinginnya ubin dari bahan teraso.

Bapak, ibu, anak-anak laki perempuan, keponakan-keponakan, paman, bibi yang tengah berkunjung ke rumah, hingga kakek dan nenek serta mbak-mbak pembantu rumah tangga, semua menyambut acara satu-satunya stasiun televisi di Indonesia ini dengan tatap mata berbinar, siap terbahak, terhibur dalam suasana hangat, membahagiakan.

Saat itu pertengahan tahun 1982, kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan nasional, poleksosbudhankamnas, pada masa keemasan Orde Baru begitu stabil. 

Pada masa itu, pemerintah menjalankan program-program kerja yang menunjang kehidupan masyarakat. Antara lain, mendidik keluarga agar hidup teratur, melalui penayangan acara-acara televisi yang tersiar secara nasional.



...yang berisi informasi hasil-hasil pembangunan dari setiap propinsi...

Jaman TVRI Satu-satunya Stasiun Televisi Nasional

Pada tahun 1980-an itu, stasiun televisi milik pemerintah republik Indonesia, yakni; Televisi Republik Indonesia (TVRI), baik stasiun pusat Jakarta maupun stasiun-stasiunnya di daerah-daerah yang adalah kota-kota ibukota propinsi, masih belum ada siaran pagi ataupun selepas pukul 12 malam. 

Siaran dimulai pukul 16:30 WIB setelah tayangan pola teknis, berlanjut pembukaan lagu kebangsaan Indonesia Raya berlatar belakang sang dwi warna yang berkibar-kibar.

Setelah penayangan lagu wajib nasional yang juga menjadi lagu wajib dalam setiap pembukaan siaran TVRI selama kurang lebih lima menit, maka acara pun bergulir teratur melalui pengumuman isi program-program acara pada hari itu, oleh seorang penyiar acara yang terlihat tak hanya rupawan baik pria, yang mengenakan setelan jas, maupun perempuan, yang mengenakan baju tradisional kebaya, namun juga tampak sangat terpelajar.

Acara televisi dibuka dengan penayangan siaran berita daerah, yang disesuaikan dengan program stasiun TVRI masing-masing daerah, selama 15 menit, yang berisi informasi hasil-hasil pembangunan dari setiap provinsi, menjadi isi utama siaran ini.

Acara-acara program TVRI Jakarta seperti Ayo Menggambar bareng Pak Tino Sidin, Drama Keluarga yang ditampilkan oleh grup-grup teater keluarga, seperti Keluarga Marlia Hardi, kemudian lomba Cerdas-Cermat ataupun Cepat-Tepat mulai tingkat Sekolah Dasar, Menengah Pertama hingga Menengah Atas, lalu pemutaran film kartun, yang pada tahun 1979-an ada kebijakan pemerintah bahwa film bagi anak-anak tersebut dijeda oleh penayangan adzan Maghrib selama lima menit-an, adalah siaran rutin yang bergulir sejak sore hari, mulai Senin hingga Sabtu.

Apabila terdapat perhelatan olah raga baik tingkat nasional seperti Pekan Olah Raga Nasional (PON), atau tingkat Asia Tenggara (SEA GAMES), atau tingkat asia (ASIAN GAMES), atau sepak bola Piala Dunia, maka berita-berita perkembangan jalannya setiap pertandingan menjadi siaran yang dinanti pula pada sore hari.

Menjelang malam, sebelum berita nasional pukul 19:00 WIB, biasanya berisi program dari TVRI daerah seperti stasiun Surabaya menayangkan acara Gemar Elektronika yang dibawakan oleh mahasiswa-mahasiswa teknik elektronika Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS).



...satu sesi yang ditunggu pemirsa adalah penampilan grup lawak. 

Siaran Jelang Malam Pengusir Muram

Setelah penyampaian berita nasional selama ½ jam yang sebagian besar berisikan kabar-kabar terkini hasil-hasil pembangunan secara nasional dan ramalan cuaca di kota-kota besar di seluruh wilayah Indonesia, maka siaran pun berlanjut dengan acara-acara yang lebih bersifat rileks, seolah menyambut suasana menjelang malam, menemani setiap pemirsa melepas penat setelah bekerja rutin seharian.

Acara-acara ½ hingga satu jam seperti siaran agama, fragmen atau sandiwara keluarga, termasuk acara hiburan oleh TVRI daerah seminggu sekali, seperti stasiun Surabaya yang setiap Jum’at malam pukul 20:00 hingga 21:00 menayangkan Galarama. Suatu acara yang menghibur dalam kemasan siaran panggung lagu-lagu dari penyanyi yang diiringi oleh grup band, meski tata suara adalah rekaman bukan live.

Dalam acara Galarama itu, satu sesi yang ditunggu pemirsa adalah penampilan grup lawak. Di Jawa Timur, waktu itu banyak grup-grup komedi yang sering tampil di TVRI Surabaya. 

Ada grup ludruk Jula-Juli Guyonan seperti ludruk RRI Surabaya, Cak Kancil dan kawan-kawan dan ludruk Sawunggaling, yang beranggotakan Cak Kartolo, Cak Sapari, Cak Basman, Ning Tini, Cak Munawar, Cak Sokran, Cak Blontang dan kawan-kawan.

Lalu, ada Tatang Group yang kebanyakan anggotanya berlogat Madura. Juga, ada Remaja Group yang mencoba menampilkan sisi-sisi lucu kalangan anak muda yang saat itu tengah dilanda isu kenakalan remaja.

Kemudian, ada Surya Group yang semua anggotanya berhasil menembus popularitas melawak di Jakarta, bahkan sempat membintangi film-film layar lebar seperti Susi Naryo, Sinyo Prapto/Ester, Heri Koko dan Jalal yang berlogat Madura medok.

Hingga ada pelopor model lawakan cerdas ala mahasiswa yakni Kwartet S. Grup lawak asal kota Malang yang beranggotakan Djati Kusumo, Bambang Sumantri, Subagjo ‘Bagong’ Kusno dan Djokoadjisworo berempat mereka pernah mengenyam bangku kuliah di Universitas Brawijaya hingga meraih titel. 

Mereka turut pula menginspirasi model komedi grup lawak asal Jakarta yakni Warkop DKI yang beranggotakan Dono, Kasino, Indro dan Nanu yang sukses besar dan namanya melegenda sebagai penebar lawakan cerdas hingga kini. Bagong yang anggota Kwartet S, adalah kerabat dari Kasino sang dedengkot Warkop DKI.

Tentu, satu grup lawak yang memiliki popularitas tertinggi yang penampilannya juga sangat dinanti oleh pemirsa acara Galarama TVRI Surabaya adalah Srimulat. 

Beberapa nama anggota grup lawak asal kota Solo ini, yang menjadi primadona karena celotehan dan aksi jenakanya antara lain adalah; Asmuni, Totok Muryadi alias Tarzan, Kabul yang mantan anggota Korps Komando (KKO) Angkatan Laut, yang kemudian beralih nama mengambil nama putrinya; Tessy, adalah beberapa nama anggota Srimulat asal Jawa Timur yang kelak sukses merambah dunia hiburan di Jakarta.

Adapun nama-nama anggota Srimulat Surabaya yang tetap mendapat tempat dihati masyarakat Jawa Timur antara lain; Bambang Gentolet, Paimo, Abimanyu, Rudi Hartamin, Didik Mangkuprojo, Sukar 141, Jeng Isye Ismiyati, Ning Kisbandiyah, Sofia, juga Pete dan Edi Geyol yang berlogat halus ala Jawa Tengahan.

Tak hanya menjadi satu acara hiburan bagi pemirsa televisi di daerah Jawa Timur semata, namun juga menjadi ajang mengorbit bakal pesohor hingga tingkat nasional, maka Galarama garapan TVRI Stasiun Surabaya pun menjadi produk siaran andalan bagi masyarakat Jawa Timur pada tahun 1980-an.

Kala itu, acara-acara hiburan pada siaran televisi pas Jum’at malam, tak hanya benar-benar dinanti masyarakat pemirsa setia TVRI, namun juga telah menjadi penawar penat dan pengusir muram.



Era keemasan film nasional pada tahun 1980-an, salah satunya berkat acara ini.

Tayangan Favorit Hingga Tengah Malam

Acara pun berlanjut, tepat pukul 21:00 WIB, semua stasiun TVRI daerah kembali bergabung dengan TVRI stasiun Jakarta, hingga acara akhir tengah malam, yang ditutup dengan penayangan lagu nasional Rayuan Pulau Kelapa, yang melodi maupun lantunan lirik dan syairnya bisa menuai rasa mendesir dalam lubuk hati.

Adalah program bertajuk Dunia Dalam Berita, merupakan siaran berita yang juga menjadi favorit bagi banyak pemirsa TVRI. Menyimak acara ini menjadi satu-satunya media visual, agar wawasan mengetahui kondisi dunia yang tengah berlangsung saat itu, baik dalam lingkup politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.

Ragam berita dunia yang disajikan oleh pembaca-pembaca berita yang telah terlatih dan ternilai memiliki kriteria penyiar terbaik TVRI, secara tak langsung juga memperluas wawasan tentang kondisi Poleksosbudhankamnas yang berlaku saat ini, serta bagaimana turut andil dalam merawatnya, agar tetap stabil.

Hingga ½ jam berlalu, siaran Dunia Dalam Berita berakhir pada pukul 21:30 WIB. Siaran TVRI pun melanjutkan acara-acara menjelang tengah malam, menuju akhir waktu pada siaran hari itu.

Beberapa acara TVRI yang menjadi favorit setelah siaran Dunia Dalam Berita antara lain adalah film-film seri yang kebanyakan adalah produk film seri buatan sineas Amerika Serikat, Inggris ataupun Australia.

Kemudian ada siaran kuis, yang dikemas sebagai acara yang menghibur, diiringi lantunan lagu-lagu riang penyanyi dengan band pengiring musik secara live. Satu-satunya pengarah acara kuis yang mendapat tempat dihati pemirsa TVRI setanah air ini, adalah Dra. Ani Sumadi. 

Sering kali, tata cara permainan kuis TVRI adalah inovasi dari acara-acara kuis di stasiun-stasiun televisi swasta di Amerika Serikat.

Lalu, ada acara TVRI yang terbilang bagus dalam lingkup seni dan budaya, namun relatif sepi minat pemirsa, yakni Cakrawala Budaya Nusantara. 

Sebenarnya, dalam acara yang setiap minggu berganti cakupan bahasan seni dan budaya dari banyak suku yang ada di semua provinsi di Indonesia, maka setiap pemirsa mendapat kesempatan bertambahnya wawasan dan pengetahuan perihal ragam kekayaan seni dan budaya yang ada di Indonesia, mulai dari Sabang di ujung barat sampai Merauke di ujung timur, dari Timor di ujung selatan hingga Talaut di ujung utara.

Hanya saja memang waktu itu, tayangan yang disajikan adalah rekaman hasil syuting terhadap para pegiat seni tari pun pemain alat-alat musik tradisional di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang disesuaikan dengan provinsi tempat seni dan budaya yang ditampilkan berasal, serta meski terdapat seorang pembawa acara, yang sering kali adalah seorang wanita, yang menuturkan serba-serbi sejarah, asal-usul dan makna serta manfaat, tetap Cakrawala Budaya Nusantara belum menjadi acara yang favorit dan ditunggu-tunggu.

Acara dalam lingkup seni dan budaya tersebut masih kalah populer dengan satu acara siaran pertandingan olah raga, yang meski sering kali berupa siaran-siaran tunda. Apalagi apabila pertandingan yang ditayangkan adalah cabang olah raga sepak bola atau tinju. Nama acara TVRI ini adalah; Arena dan Juara.

Masih terkait dengan lingkup seni dan budaya, terdapat satu acara TVRI yang meski tayang sebulan sekali, namun memiliki daya pikat tersendiri yang mampu memancing minat para pemirsa seluruh Indonesia untuk menanti dan menyimaknya. Acara tersebut bertajuk Apresiasi Film Nasional.

Dibuka oleh lantunan lagu bernuansa irama keroncong dari Bimbo, grup vokal legendaris asal Bandung, berjudul Buatan Indonesia, siaran Apresiasi Film Nasional pun mengajak pemirsa menyimak kabar terbaru produksi film-film nasional beserta tayangan cuplikan-cuplikan pendeknya. Era keemasan film nasional pada tahun 1980-an, salah satunya berkat acara ini.

Sering kali, harapan untuk segera memirsa acara-acara favorit mendadak tertunda, karena ada siaran penting dari pemerintah, yang sering kali tak termasuk dalam susunan acara, yang diumumkan saat TVRI mengudara pada sore hari.

Misalnya, laporan kunjungan kenegaraan Presiden republik Indonesia ke negara-negara sahabat. Atau, siaran tunda pidato kenegaraan Presiden republik Indonesia yang mewakili pemerintah dengan anggota DPR/MPR yang saat ini mewakili dua partai dan satu golongan karya. Atau laporan tata kelola keuangan negara oleh menteri penerangan, terkait hasil-hasil pembangunan nasional, dalam tuturan kesimpulan akhir yang kondisi ekonomi negara sangat optimis, yakni; Surplus

Siaran jeda mendadak oleh pemerintah itu tak bisa dihindari dan mau tak mau kudu diterima dengan lapang dada oleh pemirsa televisi di seluruh Indonesia, karena harus rela menanti sekira ½ hingga 1 jam lagi acara favorit yang dinanti bakal tayang. Tak ada pilihan lain, karena meski di pesawat televisi banyak tombol-tombol pilihan kanal stasiun televisi, namun saat itu stasiun televisi hanyalah TVRI.



Bahkan, kesulitan dipahami sebagai hal yang bisa ditertawakan, walau cukup dalam hati.


Riang pun Muram Keduanya Butuh Tawa

Adalagi satu acara yang dikemas sebagai panggung hiburan dengan tatanan meriah, berhias kerlap-kerlip lampu warna-warni, menyajikan aneka lagu populer dan tarian kontemporer, penyanyi melantukan lagu secara lip-sync diiringi alunan musik band yang juga bersuara rekaman. 

Namun demikian, suara tempik sorai dan gelak tawa penonton yang hadir adalah betulan. Aneka Ria Safari, demikian tajuk acara favorit bagi pemirsa seluruh Indonesia ini.

Tentu, sekali lagi dalam acara favorit tersebut, sesi lawak adalah yang paling dinanti, apalagi grup lawak yang bakal tampil berkelas nasional karena terdiri dari pelawak-pelawak yang sukses meniti karier dalam dunia panggung komedi di ibu kota.

Kala itu, dunia komedi nasional menjadi semacam bahu yang nyaman bagi tempat bersandar. Bagi pemerintah republik Indonesia saat itu, kestabilan dalam cakupan ideologi dan poleksosbudhankamnas adalah utama. Kehidupan rakyat Indonesia, dibimbing dalam perikehidupan yang serba teratur. Segala kesulitan pun kemudahan berkehidupan yang dijalani, apabila menuai keluhan pun pujian, kudu dikemas dalam bingkai tak berlebihan, santun tanpa kritik.

Bagi mereka yang dalam kehidupannya mendapat kemudahan, maka acara-acara televisi bakal menambah pundi-pundi keriangan mereka, bersama orang-orang tercinta mengaktualisasi kebahagiaan berupa tertawa, terkekeh, hingga meniru polah tingkah celoteh para pelawak yang beraksi di TVRI.

Sementara bagi mereka yang kehidupannya lebih sering terundung kesulitan, tetap masih bisa menyungging senyum di tengah suasana ceria orang-orang tercinta, pun mereka yang dikenalnya, meski beraura sedikit lebih muram.

Dalam upayanya untuk meraih keberhasilan, kala itu banyak orang memahami kesulitan hidup adalah bagian dari keberhasilan itu sendiri, yang belum tampak. Bahkan, kesulitan dipahami sebagai hal yang bisa ditertawakan, walau cukup dalam hati.

Lalu, banyak pula para pelawak nasional, yang mengungkap setiap kesulitan yang melanda diri mereka sebagai pemicu tawa lepas terbahak, telah menjadi kode etik cerdas yang berlaku masa itu.

Klop! Kebutuhan masyarakat dalam berkehidupan sosial sehari-hari untuk mendapatkan tempat bersandar nyaman, baik saat hati riang karena keberhasilan pun muram terdera kesulitan, telah terfasilitasi oleh dunia komedi dan tawa, bagian dari kehidupan seni dan budaya, yang marak tahun 1980-an. 



...keberadaan seniman-seniman lawak tradisional pun saat itu terakomodir karya dan karsa jenakanya...

Para Penebar Canda dan Tawa

Tak hanya membawa situasi dan kondisi Poleksosbudhankamnas yang stabil, maka tahun 1980-an juga menuai masa keemasan bagi dunia lawak nasional. Banyak grup-grup lawak yang kemudian melegenda, meraih masa kejayaannya ditahun 1980-an.

Mulai dari grup-grup lawak yang popularitasnya telah eksis satu dekade sebelumnya seperti Kwartet Jaya yang dikomandani oleh sang seniman serba bisa Bing Slamet, beranggotakan Eddy Sud, Ateng dan Iskak. Dalam dunia komedi nasional, maka patut diakui bahwa grup ini menjadi pelopor format komedi dalam bentuk lawakan yang berhias lagu-lagu yang dilantunkan oleh Bing Slamet yang memang bersuara merdu.

Kemudian ada Bagyo Cs. yang diawaki oleh pelawak asal Banyumas, S. Bagyo, yang berciri khas format lawakan berbentuk tawa dan lagu., dengan alunan suara bariton Darto Helm. Sementara kehadiran S Diran yang sering melontarkan celetukan-celetukan parodi, serta kehadiran Sol Saleh yang orang Sunda sering memancing tawa karena perbedaan bahasa dan makna antara Sunda dan Jawa.

Adapula sumbangsih jawatan aparat penegak hukum dalam menyemarakkan dunia lawak nasional. Adalah BKAK nama grup lawak, kepanjangan dari Badan Kesenian Angkatan Kepolisian. Pencantuman sebutan Angkatan Kepolisian, memperjelas bahwa grup lawak ini memulai petualangan menebar riang tawa dan canda sejak jaman orde lama berkuasa pada tahun 1960-an.

Anggota grup BKAK yang paling populer dikenal masyarakat luas karena polah dan celotehannya yang lucu adalah Mang Diman dan Mang Dudung. Bahkan, Mang Diman sempat tampil dalam beberapa karya sinema anak bangsa baik bertema komedi maupun drama. Antara lain penampilannya terakhir dalam film drama anak muda yang fenomenal awal tahun 2000-an, yakni Ada Apa Dengan Cinta, AADC.

Adalagi Palapa Group, grup lawak yang memadukan aksi kolaborasi pemancing gelak tawa dari para seniman tradisional yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dalam setiap penampilan grup lawak ini, penampilan Sukardjo atau lebih dikenal sebagai Kardjo AC/DC yang sering berperan sebagai wanita berbadan tinggi, hitam dan kekar bernama Maryam, berpadu dengan aksi Suroto yang berpostur tak tinggi namun gempal, menjadi pemikat tawa yang membuat pemirsa bakal terpingkal-pingkal.

Kawasan bumi Parahiyangan pun menyumbang gemerlap dunia komedi nasional yang tengah bersinar-sinar. Kehadiran D’Kabayan, yang berisikan pelawak-pelawak berbakat dan bertalenta karena semuanya adalah bekas anak-anak kuliahan, para sarjana dengan bakat memancing tawa menuai bahagia. Mang Ibing yang sarjana sastra Rusia dan Kang Aom Kusman yang sarjana hukum, bersama rekan-rekannya mampu menyajikan lelucon-lelucon cerdas dalam tuturan yang tertata bagai sebuah drama serius, tentu dengan dialek Sunda yang kental.

Dari kawasan yang sama, tak kalah lucu adalah penampilan trio D’Bodors, yang diawaki oleh Abah Us Us, bersama kedua rekannya menyajikan format lagu dan tawa dalam setiap lawakannya, yang sering kali berhias celetukan-celetukan lucu berbahasa Sunda.

Adapun grup lawak yang kental dengan logat dan suasana Jakarta adalah Jayakarta Group, yang beranggotakan Cahyono, Jojon, Uuk dan Joni, serta bergabung pula Sinyo Prapto atau dikenal dengan sebutan Ester eks Surya Group dari Jawa Timur.

Jojon yang berkumis ala Charlie Chaplin dengan dandanan baju resmi berdasi kupu, lalu mengenakan celana kebesaran hingga setinggi di atas pusar, menjadi cap tersendiri yang melekat dalam setiap ingatan penikmat banyolan grup-grup lawak nasional, hingga bertahun-tahun, sejak masih berusia anak-anak hingga menjadi orang tua bersama anak-anaknya.

Cahyono yang tampil berwibawa, kharismatik dan bijaksana, menjadi sentral pengumpan lelucon-lelucon dari teman-temannya, terutama Jojon. Kemudian kehadiran Uuk yang paling mungil dan terkesan kalem pendiam, justru dinanti polah dan celetukan lucu yang sering kali datang tiba-tiba, tanpa terduga.

Adapun Joni yang seolah selalu tampil temperamental, serta Ester yang selalu tampil lincah overactive, menjadi gong kelucuan yang menyasar Jojon sebagai poros jenaka dari grup lawak yang tak hanya menjadi kebanggaan warga Jakarta, namun juga terkenal se-Indonesia Raya ini.

Tak hanya grup-grup lawak yang tampil di atas panggung dalam menebar aksi jenaka dalam tatanan gaya ungkapan dan topik bahasan dalam cakupan sosial modern, maka keberadaan seniman-seniman lawak tradisional pun saat itu terakomodir karya dan karsa jenakanya sebagai bagian dari pertunjukan drama sandiwara tradisional. Seperti Ludruk di Jawa Timur, Ketoprak di Jawa Tengah, serta Lenong di Jakarta. Termasuk, sesi Goro-Goro dalam pertunjukan wayang kulit, hasil lawakan monolog sang Dalang.

Dalam hal TVRI menjadi media yang tak hanya membagi informasi dan hiburan secara visual melalui layar kaca, melainkan berpeluang pula sebagai sarana untuk membangun karakter bangsa, maka kehadiran grup-grup lawak dengan talenta melawak dari para anggotanya yang telah mendapat tempat dihati masyarakat, menjadi pelengkap kebutuhan untuk memberi asupan riang tawa bahagia bagi setiap pemirsa.

Agar, dalam berkehidupan yang tetap santun tanpa kritik, baik saat menemukan kemudahan pun kesulitan sehari-hari, maka orientasi capaian mereka, para rakyat Indonesia, adalah dalam kerangka tujuan kestabilan pembangunan nasional.



Terobosan terjadi pada awal tahun 1980-an, saat TVRI stasiun Surabaya menginisiasi satu siaran...

Legenda Jenaka dari Surakarta Terinovasi oleh Surabaya

Srimulat, nama seorang biduanita, selengkapnya adalah Raden Ayu (RA) Srimulat, yang berasal dari kota Surakarta, telah diakui menjadi legenda akan lahirnya satu komunitas penghasil riang canda dan tawa, yang melekat menjadi bagian ingatan dan nostalgia, bahkan pengaruh atas setiap aksi dan seni dalam lintas generasi hingga kini.

Dalam perjalanan mengembangkan talenta dan berkreasi dalam kemasan karya seni dan budaya tradisional sejak tahun 1950-an, Srimulat yang bermula dari seorang individu berbakat, lalu berkembang menjadi sekumpulan orang yang memiliki visi, misi dan nilai-nilai yang sama dalam hal menyemarakkan aksi panggung hiburan yang menuai riang bahagia.

Srimulat, yang berawal dari sajian hasil kreasi seni menyanyi dan menari tradisional yang berkesan serius, lantas bertransformasi menjadi cap unik atas gerak aksi dan celotehan lucu, serta alur drama yang mewakili kisah kehidupan sehari-hari dalam kemasan jalinan cerita absurd dan kocak .

Hingga menjelang akhir tahun 1970-an, sekumpulan pekerja seni dalam komunitas Srimulat, masih terkenal di wilayah Surakarta dan sekitarnya, yang secara rutin menggelar kegiatan berkeseniannya di Taman Hiburan Rakyat (THR) di kota yang juga dikenal bernama Solo itu.

Terobosan terjadi pada awal tahun 1980-an, saat TVRI stasiun Surabaya menginisiasi satu siaran acara hiburan yang dinantikan pemirsa di seluruh wilayah Jawa Timur. Siaran itu bernama Galarama.

Nama Srimulat yang tadinya asing bagi warga Jawa Timur, mulai populer, dengan menampilkan para pelawak yang asli Jawa Timur dengan logat dan dialek, serta lelucon yang lebih bisa diterima oleh karakter lucu ala Jawa Timuran, yang bersifat ceplos blokosuto, langsung bersih laras minim sindiran-sindiran alus sebagaimana lawakan ala Jawa Tengahan dan tentunya cenderung kasar.

Beberapa nama pelawak Srimulat Surabaya adalah jebolan dari grup-grup lawak ataupun kelompok-kelompok seni tradisional Jawa Timur, yang telah membawa mereka tersohor terlebih dahulu.

Seperti Asmuni, Abimanyu, Rudi Hartamin, Isye Ismiyati adalah jebolan grup lawak Lokaria, yang dalam setiap tuturan kisah lawakannya sedapat mungkin berbahasa Indonesia. Kardjo AC/DC juga pernah memperkuat grup lawak ini, meski dia tak pernah bergabung dengan Srimulat.

Kemudian pelawak Tarzan, sebelum bergabung dengan Srimulat Surabaya adalah anggota satu grup ludruk di wilayah kota Malang. Demikian halnya pelawak Nurbuat, yang juga memiliki basis sebagai seniman ludruk.

Kelak, perbedaan dalam penentuan basis berkesenian tradisional yang syarat utama menjadi anggota Srimulat baik yang berasal dari wilayah pusat, Surakarta maupun cabangnya, Surabaya, menjadi polemik tersendiri.

Setidaknya, hal tersebut menjadi pemicu perselisihan pendapat antara dua anggota Srimulat yang satu dekade setelah tahun 1980-an telah menjadi pelawak senior dan memiliki nama besar, yakni; Asmuni yang mewakili kubu Surabaya dengan Timbul yang mewakili kubu Surakarta.



...sang big boss komunitas Srimulat segera dengan cerdas menangkap perselisihan...

Menuai Terobosan dari Perselisihan Timbul–Asmuni

Bagi Asmuni yang terkenal dengan celetukan; “Kalo kamu belum kenal saya, berarti kamu gak punya tivi.”, maka untuk menjadi anggota Srimulat diutamakan bisa melucu dengan tetap santun dalam beraksi dan bertutur. Sebagaimana ciri khas lawakan bagi pelawak yang kerap mengenakan blangkon dan berkumis persegi ini, yang menghindari banyolan-banyolan yang bersifat risak, serta lebih berkisah tentang kelucuan-kelucuan yang kerap menimpa dirinya sendiri.

Sementara bagi Timbul yang bagi generasi tahun 1980-an selain dikenang dengan ungkapan “Hil yang mustahal.” juga aksi mengambil benda yang lalu kena matanya sendiri, maka syarat wajib untuk bisa menjadi angota Srimulat adalah bisa nembang, yaitu melantunkan lagu berupa tembang-tembang klasik Jawa dan bisa menari satu tarian tradisional Jawa.

Kiranya, latar belakang seni budaya dari tempat asal kedua pelawak legendaris yang sama-sama punya tampilan kumis persegi di bagian filtrumnya itu, menjadi landasan cara berpikir tentang bagaimana seharusnya syarat menjadi bagian dari keluarga Srimulat.

Asmuni yang tumbuh dari wilayah bertatanan sosial egaliter, yang dalam berkesenian terpengaruh kuat oleh pakem Ludruk yang lebih bertutur cerita-cerita yang tak klasik, melainkan kisah-kisah epos perjuangan tahun 1945 ataupun kehidupan sosial sehari-hari, memandang bahwa kode etik melawak bagi anggota Srimulat Jawa Timur adalah dalam tatanan kesetaraan kehidupan sosial terkini saat itu. Sehingga, syarat bisa nembang dan mampu menari klasik tradisional Jawa, bukanlah syarat wajib menjadi bagian keluarga Srimulat.

Bagi Asmuni, melawak dengan tatanan beraksi dan bertutur dengan cara yang santun, bisa menjadi cara yang baik untuk menumbuhkan kebersamaan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, yang seringkali tak tertebak kapan pelakunya bakal meraih kemudahan atau tertimpa kesulitan.

Sementara, Timbul yang besar di wilayah dengan tatanan sosial yang menerima strata ningrat dan jelata sebagai fakta dalam berkehidupan sehari-hari, juga mempertimbangkan faktor sejarah bahwa poros Jogja-Solo yang punya pengaruh sebagai pelopor kepemerintahan kerajaan Mataraman yang turun temurun atas tanah Jawa, sebagaimana menjadi inspirasi kisah-kisah dalam pertunjukan Ketoptak, maka kemampuan menampilkan aksi seni klasik Jawa berupa nembang dan nari, adalah wajib bagi calon anggota komunitas Srimulat.

Bagi Timbul, kemampuan menembang dan menari, tak hanya termaknai sebagai penghormatan tatanan sosial dan sejarah atas wilayah darimana Srimulat berasal, namun juga sebagai wujud pengejawantahan adab sopan-santun, unggah-ungguh terhadap seni budaya leluhur.

Gayung bersambut!

Teguh Slamet Rahardjo, sang big boss komunitas Srimulat segera dengan cerdas menangkap perselisihan Timbul-Asmuni yang muncul sejak dini, bukan sebagai hambatan, melainkan peluang.

Dalam benak Teguh, yang juga duda dari RA Srimulat setelah sang biduanita melegenda itu berpulang keharibaanNya pada akhir tahun 1960-an, maka perselisihan kedua anggota keluarganya yang mewakili tatanan sosial wilayah barat dan timur tanah Jawa itu, telah menyumbang inspirasi yang menuai terobosan berupa nama Srimulat menjadi lebih besar, bahkan melegenda.

Perselisihan Timbul-Asmuni menjadi dasar racikan format aksi setiap awak Srimulat ketika tampil untuk tampil lucu memicu hormon-hormon bahagia bagi para pemirsa.

Semangat egaliter menjadi pemecah kebekuan dalam sebagian tatanan sosial masyarakat yang saat itu masih berlaku. Bersamaan dengan semangat itu, adalah adab saat tampil dihadapan pemirsa, yang sebagian besar adalah penggemar suguhan aksi seni Srimulat.

Racikan format memacu kelucuan yang memadukan kesetaraan dan etika dalam setiap pertunjukan kisah-kisah gubahan awak Srimulat, tanpa disadari terkemas pula menjadi pengenalan atas adab Jawa, dalam konteks memunculkan suasana segar, memicu gelak tawa, membahagiakan saat dikenang dari waktu ke waktu.

Teguh Slamet Rahardjo bersama keluarga Srimulat yang dipimpinnya, semasa meraih masa-masa keemasan pada tahun 1980-an. Foto sumber; Cuplikan foto kanal Youtube ‘Srimulat Background Musik’ – 2019.

Sehingga, ketika menjadi pemirsa aksi setiap pelawak Srimulat yang tengah berjuang menebar jenaka, maka dalam setiap benak orang se-Indonesia raya yang menikmatinya, bakal termaknai sebagai; ‘orang Jawa sedang menebar canda dan tawa’.

Bersamaan dengan itu pula, masa itu, jauh sebelum Reformasi 1998, maka pusat kekuasaan Indonesia benar-benar ada di pulau Jawa, sekaligus dengan orang-orang Jawa sebagai pengelolanya.

Sementara, rumus penguasa waktu itu agar kehidupan masyarakat berjalan sedemikian hingga menyukseskan program-program pembangunan nasional, maka efek mindset kebanyakan orang Indonesia baik yang ada di Jawa maupun luar Jawa bahwa orang-orang Jawa tak hanya membangun bangsa namun juga menebar bahagia, menjadi klop!

Pun bagi Teguh beserta anggota keluarga Srimulat, jelas keuntungan semakin diraih atas penerapan racikan baru menebar jenaka, sebagai hikmah atas perselisihan Timbul-Asmuni.

Srimulat pun meraih masa keemasan sejak itu. Lakon-lakon drama komedi yang ditayangkan TVRI sebulan sekali yang dibuka dengan lantunan lagu instrumental berjudul ‘Whiskey and Soda’ yang bernuansa melodi reggae selalu dinanti para pemirsa TVRI se-Indonesia raya. Itu belum lakon-lakon yang ditampilkan di atas panggung secara pertunjukan live di hadapan ratusan penonton, baik di THR baik yang di Solo maupun yang di Surabaya, belum termasuk undangan-undangan tampil menghibur masyarakat di kota-kota besar di luar Jawa.

Bahkan, Pak Soeharto selaku Presiden RI ke-2 waktu itu, berserta seluruh keluarga suatu ketika berkenan menikmati aksi para awak Srimulat yang didaulat untuk tampil di kediaman presiden, di bilangan Jl. Cendana Jakarta Pusat. Suatu fenomena betapa rumus mengkreasi lakon-lakon pemicu tawa, penuai bahagia telah membentuk jalinan yang saling memenuhi kebutuhan, antara pekerja seni komedi dengan penguasa negara.

Foto kenangan awak Srimulat bersama Presiden Soeharto beserta keluarga ditahun 1980-an. Sumber foto: CNN Indonesia ‘Grasi Soeharto dan Belitan Kasus Hukum Srimulat.’ – 2019.



Bagai mengakui kebenaran pepatah ‘tak ada yang abadi dalam dunia’, berlaku pula pada...

Pasang Surut Meniti Jalan Komedi 

Betapa, fenomena perjalanan para penebar jenaka baik ketika dalam kesendiriannya pun saat bermitra dengan koleganya di atas panggung, di hadapan penggemarnya adalah gambaran nyata bahwa upaya memicu canda tawa, riang bahagia, itu adalah bagian dari berkehidupan yang setiap kesulitan pun kemudahan yang bakal ditemui seringkali tak bisa diduga-duga.

Pada masa ketika kebanyakan komedian, pelawak, masih terpandang sebagai sosok yang sekedar mampu membuat tawa. Hanya ternilai sebagai sosok pelipur lara yang sekedar melengkapi pencapaian keberhasilan.

Ketika kebanyakan orang belum menyadari bahwa betapa dari gelak tawa yang terpicu bakal menuai hormon-hormon yang menyehatkan, yang tak hanya membuat fungsi organ-organ tubuh berfungsi optimal, namun juga menjadi asupan tersendiri bagi otak agar menghasilkan gagasan-gagasan inspiratif.

Pada masa-masa itu pula, setiap hal yang termaknai sebagai lawak, masih menjadi pilihan apresiasi pada nomor urut ke-sekian puluhan di bagian belakang. Dampaknya, jatuh pada kehidupan pribadi para pelawak. Apresiasi atas bakat mereka untuk menebar canda dan tawa, tak sepadan dengan penilaian atas kapabilitas mereka, oleh masyarakat kebanyakan.

Alhasil, stigma seperti itu membuat kebanyakan pelawak kurang memiliki nilai-nilai baku sebagai teladan menjalani kehidupannya. Cenderung terjebak pada perilaku menikmati jerih payah dalam sekejap, sekedar mengungkap “terserah masyarakat mau bilang apa”, mengeluarkan kekesalan tersembunyi dalam batinnya. Kebanyakan pelawak waktu itu kurang terlatih dalam merencanakan apa-apa saja yang bakal dilakukan pada masa kelak saat ketenaran menurun.

Kelak, dalam beberapa dekade pasca masa keemasan 1980-an bagi komunitas Srimulat, maka Asmuni dan Tarzan adalah nama-nama yang menjadi contoh betapa gemerlap kesuksesan dalam menebar kebahagiaan lewat canda dan tawa kudu diimbangi dengan rencana-rencana meniti masa depan, saat terjadi perubahan selera humor dalam masyarakat.

Bagai mengakui kebenaran pepatah ‘tak ada yang abadi dalam dunia’, berlaku pula pada komunitas Srimulat beserta karya-karya mereka. Menjelang akhir tahun 1980-an, masyarakat mengalami kejenuhan atas format berkomedi ala Srimulat yang dinilai hanya itu-itu saja.

Beberapa contoh tema-tema kisah yang sejatinya serius, namun dituturkan dalam bingkai memicu gelak tawa sebanyak dua babak, seperti ketidakharmonisan keluarga, kesalahpahaman menjalin kerjasama usaha, hubungan cinta yang bertepuk sebelah tangan, perseteruan antar keluarga, aksi penangkapan penjahat oleh aparat kepolisian, hingga kisah-kisah menyeramkan yang mengandalkan nama Drakula, adalah kisah-kisah yang sudah sering tampil. Sehingga masyarakat kala itu bisa menebak jalan cerita, hapal aksi dan celotehan yang tadinya dinilai sangat lucu, lalu perlahan tingkat kelucuannya memudar. Kejenuhan pun timbul.

Banyaknya anggota yang tak disiplin hadir pada penampilan yang telah terjadwal karena lebih memilih ‘job’, demikian istilah bagi awak Srimulat yang mendapat pekerjaan sampingan di luar proyek-proyek penampilan berbendera Srimulat, juga menjadi faktor memudarnya karisma Srimulat.

Termasuk, beberapa kejadian yang menjadi catatan kasus pernah dialami oleh beberapa anggota Srimulat dimasa jayanya, antara lain kepemilikan senjata api illegal oleh Gepeng, yang masa itu telah mampu menuai sentimen dari masyarakat, yang mau tak mau telah mengurangi penghormatan mereka pada sosok yang pernah melegenda sebagai pemicu gelak tawa.

Sempat vakum dan sangat sepi pada akhir tahun 1980-an, lalu Srimulat pun bangkit lagi melalui arahan Jendral Agum Gumelar pada pertengahan tahun 1990-an. Penayangan kisah-kisah jenaka pada salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta yang juga memiliki program-program acara seni tradisional seperti wayang kulit ini, menjadi satu acara mingguan yang sangat dinanti pemirsa.

Faktor nostalgia dan kangen akan aksi dan celoteh lucu yang hampir tak jauh berbeda dengan penampilan hampir satu dekade sebelumnya, membuat Srimulat versi reuni ini begitu meledak. Banyak wajah-wajah baru tampil mengiringi anggota Srimulat yang lebih senior. Sebagai penambah pemikat penampilan, maka kali ini aksi lucu awal Srimulat yang masih beraura tradisional, berhias  artis-artis ibukota sebagai bintang tamu.

Sejak tahun 1989, stasiun televisi yang beroperasi menyiarkan program-program acara andalannya di wilayah Indonesia, sudah bukan hanya TVRI lagi. Tentu, perubahan kebijakan pemerintah untuk membuka peluang usaha siaran televisi yang dikelola secara swasta pada tahun itu, mendapat sambutan yang baik oleh masyarakat. Tatanan baru dalam menikmati acara televisi pun menjadi babak awal perubahan memirsa acara televisi.

Setelah puluhan tahun menikmati siaran acara-acara televisi dalam suasana yang terasa sepi dan monoton, lalu terbiasa dengan format sajian acara televisi yang lebih gemerlap warna-warni, penuh jeda promosi dan iklan, serta berita-berita yang isinya disajikan dengan gaya lebih rileks dan banyak mengandung rumor tersembunyi, pemicu opini.

Kehadiran Srimulat yang kembali sukses menggebrak, menimbulkan minat banyak televisi swasta untuk memberi peluang ‘job’ bagi awak Srimulat yang notabene banyak nama-nama pelawak yang sudah harum bahkan melegenda namanya.

Membintangi iklan suatu produk komoditi, memerankan sosok dalam sinetron, menjadi pemandu dalam suatu acara televisi, adalah contoh banyak ‘job’ yang memberi peluang lebih terbuka bagi awak Srimulat.

Pada pertengahan tahun 1990-an semasa keterbukaan persaingan antar televisi swasta, perselisihan Timbul-Asmuni pun mengemuka kembali. Berbeda dengan satu dekade sebelumnya, perselisihan dua pelawak besar ini, kali ini tak melibatkan petinggi Srimulat, yang menjadikan perselisihan itu sebagai peluang. Namun, lebih pada peluang bagi Asmuni, juga Timbul untuk mengkreasi karya seni yang memiliki pangsa pasar tersendiri.

Adalah Ludruk Glamor dan Ketoprak Humor yang masing-masing menjadi ungkapan kreasi seni bagi Asmuni dan Timbul, di luar proyek Srimulat, sebagai wujud aktualisasi gagasan, setelah keduanya malang melintang puluhan tahun didunia hiburan dan komedi. Kedua produk karya seni dalam bentuk drama komedi tersebut juga menjadi andalan bagi dua stasiun televisi swasta nasional, untuk menyajikan acara hiburan di tengah-tengah promosi dan iklan.

Oh, maaf terbalik, menyajikan promosi dan iklan di tengah-tengah acara hiburan.

Eh, bener ding, menampilkan acara hiburan di antara gempuran promosi dan iklan.

Uh, sebentar, yang bener mana si? Kok kayak beberapa tahun lalu Asmuni, Timbul dan Tarzan membahas Sidik Jari apa Jari Sidik.

Akan halnya Srimulat, kembali mengalami ironi. Di tengah kesuksesan beberapa awaknya dalam menekuni ‘job’-‘job’ yang begitu melimpah ditawarkan oleh rumah-rumah produksi televisi swasta nasional, membuat Srimulat kembali dirundung sepi.

Hingga, kisaran awal tahun 2000-an, tebaran cahaya canda dan tawa ala Srimulat, benar-benar meredup. Menyisakan kegiatan beberapa pelawak yang pernah mengisi hari-hari keemasan Srimulat pada kisaran dua dekade sebelumnya, yang tetap berkreasi  dan aktif mengisi acara-acara hiburan dan komedi, tanpa ada regenerasi sama sekali.



...bahwa tak ada kesuksesan yang diraih dengan jalan mudah dan setiap kebahagiaan sejatinya membutuhkan biaya.

Perihal Hil yang Mustahal

Perjalanan Srimulat sebagai grup lawak yang beranggotakan banyak pelawak ikonik dan telah banyak menginspirasi tatanan bertutur kisah yang mengundang tawa dengan cara yang unik ini,  patut diakui telah berhasil memperkaya catatan sejarah perkembangan dunia komedi tanah air.

Tak hanya itu, nama Srimulat telah menggurat kenangan terdalam bagi generasi tahun 1980-an di Indonesia, yang hingga saat ini, setiap mendengar kata Srimulat beserta melodi lagu aransemen seorang musisi bernama Roberto Delgado yang berjudul ‘Whiskey and Soda’ sebagai pembuka acara penampilan para awaknya, sontak terbersit nortalgia suasana riang membahagiakan bersama keluarga tercinta.

Semangat bernostalgia yang demikian, menjadi pilar sineas Fajar Nugros dalam membesut Srimulat; Hil yang Mustahal – Babak Pertama, sebagai karya filmnya yang ke-23, sepanjang kariernya sebagai sutradara film layar lebar.

Bertutur tentang perjalanan Teguh dan Jujuk, sepasang suami istri yang mengelola Srimulat sebagai komunitas komedi di kota Solo, dalam mengawali perjalanan sukses di ibukota.

Film yang berdasar perjalanan sejarah nyata grup lawak Srimulat ini, tak hanya menampilkan kisah sebenarnya bahwa awak Srimulat pada era keemasan tahun 1980-an, bersama pelawak Gepeng sebagai maskotnya, pernah menghibur Presiden Soeharto beserta keluarga, namun juga mencoba mengungkap kisah beberapa tokoh yang menjadi sosok ikonik dalam komunitas Srimulat yang bahkan eksis terkenang hingga kini.

Adalah Asmuni, Timbul, Tarzan, Gepeng, Tessy, Basuki, Nunung, Paul Polii adalah beberapa nama awak Srimulat yang tampil dan dikupas dalam film ini. Bagaimana perjuangan mereka sebelum meraih ketenaran sebagai pelawak ternama di ibu kota yang lalu dikenal seantero Indonesia, menjadi pesan moral utama film ini.

Perjalanan para pelawak besar yang semua diperankan oleh aktor dan aktris belia saat ini, tampaknya juga menyasar generasi Z, kaum milenial guna memaknai pesan moral tersebut, bahwa tak ada kesuksesan yang diraih dengan jalan mudah dan setiap kebahagiaan sejatinya membutuhkan biaya.

Tentu, kisah tentang haru biru perjuangan pelawak Srimulat di ibu kota dalam film ini dikemas dalam tuturan yang lucu, serta polah tingkah dan celotehan khas Srimulat.

Secangkir kopi yang menabrak mata sendiri, lengan tangan yang tau-tau ilang, duduk yang bolak balik licin merosot, bilang “kawan-kawan” menjadi “kewan-kewan”, munculnya sosok misterius menyeramkan berpadu dengan tingkah dan suasana panik namun gelak tawa malah terpicu, adalah contoh beberapa adegan arahan sang sutradara, sedikit banyak bertujuan mengungkap demikianlah tipikal guyonan ikonik Srimulat yang menggurat nostalgia hingga kini.

Adapun adegan paling lucu adalah saat awak Srimulat curhat dengan sosok pria bernama Sapari. Entah adegan ini berdasar kisah nyata atau rekaan, namun faktanya bisa membuat pemirsa lintas generasi terpingkal.

Poster Srimulat; Hil yang Mustahal – Babak Pertama (2022)

Selalu ada sisi terang dan jenaka dalam setiap film besutan Fajar Nugros. Beberapa judul seperti Yo Wis Ben, 7/24, Bajaj Bajuri the Movie, adalah beberapa judul yang mewakili tuturan kisah kehidupan dalam bingkai karakter pelakunya yang positif nan riang.

Hanya saja memang, untuk ukuran kisah sebenarnya, dalam konteks perjalanan hidup pekerja seni komedi, maka pada kenyataannya tak seriang dan sememancing tawa sebagaimana tuturan kisah film ini.

Pada kenyataannya, banyak pelawak dimasa lalu, yang pada hari-hari tuanya tiada menyangka bahwa dia dulunya adalah sosok penebar bahagia bagi pemirsa bersama keluarga.

Melawak, memang membutuhkan bakat. Tak gampang membuat orang lain, bahkan orang yang belum dikenal, menjadi terpingkal karena ungkapan maupun gerak-gerik lucu. Bagi pelawak yang cukup menyandarkan diri pada kebahagiaan dari menebar canda dan tawa untuk orang lain semata, maka sering kali mempunyai bayangan bahwa kelak alam akan mengganti kebahagiaan bagi dirinya dimasa tua.

Padahal alam sering kali tak bekerja dengan cara demikian.

Srimulat; Hil yang Mustahal – Babak Pertama pun lalu memberi sedikit percikan cahaya, bahwa suatu ketulusan membagi kebahagiaan patut diimbangi pula dengan langkah-langkah kecil dalam meniti menuju masa depan.

Dan langkah-langkah kecil itu adalah memaknai masa-masa sulit, agar meraih kemudahan.