Adamas Belva Syah Devara (Alumni BPI LPDP—Stanford University), Andi Taufan Garuda Putra (Alumni BPI LPDP—Harvard University), dan Gracia Billy Mambrasar (Awardee BPI LPDP—Beasiswa Indonesia Timur) adalah sekelumit dari ribuan awardee dan alumni BPI LPDP yang sedang ‘merekah’, jauh sebelum pengangkatannya menjadi staf khusus presiden.

Bagaimana tidak, melalui Ruangguru, Belva berhasil mengintegrasikan pendidikan berbasis teknologi. Melalui Ruangguru, peserta didik di berbagai pelosok negeri ini (harapannya) memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan akses pembelajaran yang mudah, ‘murah’, dan berkualitas—yang dikemas melalui video interaktif, penyediaan rangkuman soal yang menarik, hingga menyediakan guru yang kompeten di bidangnya dengan proses seleksi yang ketat.

Bagaimana akses jejaring internet di daerah 3T? Pasalnya, Aplikasi besutan PT RUANG RAYA INDONESIA (Ruangguru) ini memerlukan suntikan data internet.

Jika sebelumnya pendidik mampu mengajar ke puluhan peserta didik di ruang kelas, maka melalui Ruangguru ini, pendidik mampu mengajar ke ‘jutaan’ pasang mata di Indonesia. Semua itu berdaya, berkat kerja-kerja teknologi dalam genggaman (gadget/laptop).

Kisah Belva ini menunjukkan bahwa teknologi punya peluang untuk memudahkan peran guru dalam menyiapkan media pembelajaran yang interaktif­ di ruang kelas atau ruang virtual—bukan untuk menggantikan peran guru sebagai pendidik.

Selain itu, teknologi finansial menjadi wahana antara pemilik usaha dan pemilik modal untuk membuka dan merelasikan akses permodalan. Ia adalah Amarta, perusahaan fintech besutan Andi Taufan Garuda Putra yang berhasil menghubungkan calon pemberi dana dalam melakukan pendanaan usaha mikro. 

Kini, Ibu Suyamti­—penjual jamu keliling asal Indramayu, berhasil membangun rumah dan menyelesaikan perkaranya dengan rentenir semenjak menggunakan jasa Amarta.

Bergeser dari hal di atas, staf khusus presiden yang selanjutnya ini tidak kalah menarik. Mental berwirausaha digelutinya dengan cara menjual kue sejak kecil hingga kuliah S-1 di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia adalah pendiri KitongBisa—Gracia Billy Mambrasar, yang memiliki visi membantu anak-anak Papua menumbuhkan jiwa berwirausaha sejak dini.

Investasi SDM Tidaklah Mudah

Sebelumnya, tagar #ShitLPDPAwardeesSay sempat viral dan menyedot perhatian warganet. Perbincangan menyoroti sosok penerima beasiswa dari uang negara yang diduga banyak mengabadikan momen perjalanannya selama studi di negeri seberang ketimbang membeberkan rutinitasnya selama penelitian.

Ribuan kicauan (tweet) seketika menghempas si tagar #ShitLPDPAwardeesSay naik ke trending topic di Twitter. Belum lagi, isu ketidakpercayaan terhadap panelis (pewawancara) LPDP yang tidak kapabel dalam menjaring calon awardee pun menjadi satu tiupan kencang menghujam LPDP, lantaran mencuatnya wawancara menyoal suku, agama, ras, atau gender.

Beberapa diskusi di kanal daring pun menarik untuk disimak tatkala mempersoalkan kebijakan LPDP dan nasib ilmu sosial—humaniora, mau dibawa ke mana?

Melalui tulisan ini, saya berikhtiar mencermati relasi antara kedua hal di atas. Euforia awardee dan alumni yang tengah berkontribusi serta daya kritis ‘pemerhati’ beasiswa negara. Saya lebih senang menyebut terpaan dan kritik pedas di atas sebagai bentuk perhatian dan cara-cara orang mencintai LPDP untuk menjadi pengelola dana terbaik di tingkat regional.

Menyoal SDM tidaklah mudah, ia selalu bergerak dinamis dan kompleks, sebab ia berkelindan dengan kehidupan sosial yang terus berubah mengikuti zamannya. Mencetak ‘manusia’ unggul tidak sama dengan mencetak kue Klepon yang dalam hitungan jam bisa disantap.

April 2014 adalah langkah awal yang membawa Belva dan Iman Usman masuk dalam Forbes 30 under 30 untuk sektor teknologi konsumen di Asia. Upaya membangun Ruangguru perlu kerja-kerja kreatif, proses, dan waktu tak sebentar. 

Kerja sama dengan beberapa kabupaten di Indonesia, berupaya ‘mencari’ investor, menyeleksi guru atau engineer/programmer pun menjadi rangkaian yang membikin nama Ruangguru kian masyhur, namun di sisi lain punya ketahanan, karena dirintis dan dikelola dengan visi memajukan Indonesia dalam sektor pendidikan—bukan hanya sekadar bisnis semata.

Lain cerita bagi Billy sendiri, berjualan kue sudah menjadi kebiasaan yang dicintainya sejak kecil untuk mengumpulkan pundi-pundi ‘emas’ guna menyongsong masa depannya, walau tak mungkin cukup membiayai mimpi besarnya itu—kuliah di ITB, ia tetap saja bersikeras.

Berkat ketekunannya dalam membaca saat duduk di bangku SMP, mimpinya pun perlahan berhasil menyeruak dan menstimulasinya untuk melanjutkan studi di ITB. Ia terinspirasi dari kisah Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI, yang dijumpainya lewat kumpulan secarik kertas—Buku Biografi Soekarno yang diselaminya di perpustakaan SMP-nya.

Berkat tekadnya, ia memberanikan diri kuliah di Bandung, walaupun keadaan ekonominya makin mencekik. IPK 1,5 menjadi prestasi tertingginya di semester awal kuliah, lantaran harus membagi waktunya, antara menafkahi dirinya sendiri dengan berjualan kue dan mempertahankan prestasinya di kampus impiannya itu.

Billy tidak siap dengan perbedaan lingkungan (budaya) yang juga memengaruhi psikologisnya dan cara Billy beradaptasi (misalnya dikelilingi mahasiswa lulusan SMAN 8 Jakarta, SMAN 3 Bandung, dan SMAN 8 Bandung) yang notabene adalah kumpulan orang-orang yang ‘ambisius’ (punya tekad kuat). Padahal, sejatinya ia masih berada di Indonesia—‘cuma’ beda pulau, yang nyatanya tidak ‘cuma’ beda pulau.

Terinspirasi dari kisah perjuangannya itulah yang mengetuk hatinya untuk mendirikan KitongBisa, agar anak-anak Papua (lebih dari 600 anak-anak kurang mampu) kelak mempunyai akses dan kesempatan mengenyam pendidikan, terutama menanamkan jiwa entrepreneur sejak dini (atau Billy menyebutnya dengan kemampuan ‘bertahan hidup’).

Lantas, apa relasi antara kisah hidup mereka dengan LPDP? Berikut penjelasannya:

Kementerian Keuangan RI melalui LPDP terus berupaya memupuk calon pemimpin bangsa, yang mampu menanamkan nilai dan budaya integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan dalam hatinya, untuk diimplementasikan di kehidupan.

Kisah inspiratif mereka di atas hanya sebagian kisah kecil saja yang disuarakan. Saya berkeyakinan masih banyak sekali awardee dan alumni yang memiliki kecintaan terhadap Indonesia dengan caranya masing-masing.

Sebut saja Andri Rizki Putra (pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa/YPAB), Raeni dan Kisah Anak Tukang Becak, Antony Tsaputra, Cita-cita Tak Terhalang Kursi Roda, Adi Surya Pradipta (Founder & CEO Tech Prom Lab), serta para awardee dan alumni BPI LPDP lainnya, yang terus berupaya dan senantiasa berdedikasi untuk Indonesia.

Sumber daya manusia adalah kekayaan yang tak terhingga nilainya. LPDP adalah bentuk investasi untuk peningkatan kualitas Indonesia dalam menyambut bonus demografi di tahun 2045. —Sri Mulyani Indrawati, Ph.D. (Menteri Keuangan Republik Indonesia, dalam Kata Pengantar buku "Indonesia 2045")

Terpaan angin kencang yang meniup LPDP beberapa tahun belakangan memang sebagai bukti telak bahwa investasi SDM tidaklah mudah, tidak bisa cepat, butuh proses dan waktu panjang, tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Sangat mungkin!

Apresiasi kiranya patut diberikan manakala LPDP mampu meranum hasil jerih payahnya dengan menanam ratusan pohon sejak 2010 silam, bukan isapan jempol semata. Kini perlahan pohon itu (sekarang ribuan) terus tumbuh tinggi, lebat, dan berbuah manis, ‘tidak busuk’, semoga! 

Kisah Belva, Billy, Taufan, serta awardee dan alumni LPDP di atas kiranya sebagai tamparan keras terhadap kerikil-kerikil yang menghujani LPDP beberapa tahun terakhir. Sekali lagi perlu dicatat bahwa tak selamanya kerikil-kerikil itu melukai, adakalanya pula ia mengenyangkan bukan, seperti ‘bakso kerikil’.

 ___

Untukmu yang akan selalu jaya, LPDP. Aku Pasti Mengabdi!