Hubungan Jerman dan Turki, yang selama ini terjalin mesra sebagai sekutu kental sejak Perang Dunia Pertama, tengah berada di titik terburuk. Pasalnya, Parlemen Jerman (Bundestag) telah menerbitkan resolusi yang intinya mengakui Peristiwa Pembantaian terhadap etnis Armenia yang dilakukan oleh Turki Usmani pada Perang Dunia I sebagai tindakan Genosida (Völkermord).

Pengakuan Jerman terhadap tragedi kemanusiaan ini berhasil menyibak tabir yang selama ini terselubungi kabut tebal, karena pada saat itu Kekaisaran Jerman dan Turki Usmani adalah Sekutu yang sama sama bernaung di bawah Blok Sentral, menghadapi Blok Entente yang beranggotakan Inggris-Prancis-Russia.

Khususnya, Jerman dan Turki yang pernah bahu membahu menghadapi Russia di Anatolia Timur dan Kaukasia. Adapun etnis Armenia yang bertempat tinggal di sekitar wilayah tersebut mendapat tuduhan dari Sublim Porte (Pemerintah Usmani) sebagai kolaborator Rusia. Maka dari itulah posisi Jerman dalam kasus ini bisa dibilang sebagai saksi yang memberatkan, di mana Pemerintah Turki yang kerap berkelit dari tanggung jawab moral akan kesalahan masa lalunya, seharusnya tak bisa berkutik lagi.

Salah satu saksi dari pihak Jerman seputar Genoside Etnis Armenia adalah Ludwig Maximilian Erwin von Scheubner-Richter, Wakil Konsul Kekaisaran Jerman yang ditempatkan di Erzurum, Turki Usmani. Ia melaporkan setidaknya ada 100.000 orang Armenia yang dideportasi secara paksa dari rumahnya, sedangkan yang lainnya dibantai (Ausgerottet) secara kejam.

Kesaksian yang lebih menguatkan datang dari Duta Besar Kekaisaran Jerman untuk Turki Usmani saat itu, Paul Graf Wolff Metternich zur Gracht yang mengirim telegram kepada Kanselir Jerman, Theobald Theodor Friedrich Alfred von Bethman Hollweg :

"Die armenische Rasse im türkischen Reich zu vernichten, Die Seele der Armenierverfolgungen ist Talaat Pasha"

(Etnis Armenia di Kekaisaran Turki telah dihabisi. Dalang dari penindasan terhadap etnis Armenia adalah Talat Pasha.)

Namun sayangnya laporan sang duta besar terhadap Talat Pasha yang waktu itu menjabat sebagai Perdana Menteri (Sadrazam) Kekaisaran Ottoman, dianggap angin lewat yang tidak penting untuk ditanggapi secara serius oleh sang Kanselir yang sangat berambisi untuk memenangkan perang. Ia hanya memberikan jawaban ringan:

"Unser einziges Ziel ist, die Türkei bis zum Ende des Krieges an unserer Seite zu halten, gleichgültig ob darüber Armenier zu Grunde gehen oder nicht. "

(Satu-satunya tujuan kita adalah untuk menjaga Turki sampai akhir perang tetap berada di pihak kita, terlepas dari apakah orang Armenia lenyap atau tidak.)

Selain itu, kesaksian juga datang dari prajurit di garis depan. Seorang prajurit Jerman yang bertugas di Divisi Medis bernama Armin Theopil Wegener mengisahkan kesaksiannya dalam bukunya yang berjudul Der Weg ohne Heimkehr (The Road of No Return). Ia menyaksikan sendiri iring-iringan orang Armenia yang dideportasi secara paksa dari kampung halamannya ke Syria.

Maka dari itu, ketika saat ini Parlemen Jerman tidak berniat lagi untuk menutup-nutupi kesalahan yang diperbuat oleh mantan sekutu dekatnya, maka hal itu otomatis membuat berang Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Pria yang dijuluki sebagai 'Sultan Erdogan' ini malah menantang Jerman untuk secara jujur pula mengakui tentang keterlibatannya dalam holocaust terhadap orang Yahudi dan juga pembantaian suku Herero di Koloni Jerman di Namibia.

Namun sayang sekali, Jerman telah lebih dahulu bersikap gentle terhadap segala kesalahan yang pernah mereka perbuat. Seperti yang diungkapkan oleh Natalia Laskowska dalam artikelnya yang berjudul Meminta Maaf dan Problem Kesalahan Kolektif, di Jerman Barat pasca Perang Dunia II muncul pengakuan: “kita semua bersalah” atas kejahatan yang diperbuat Reich Ketiga.

Ungkapan itu menyiratkan pengakuan atas tanggung jawab kolektif masyarakat Jerman karena Adolf Hitler bisa meraih kekuasaan (Machtergreifung) setelah memenangi pemilihan umum secara mutlak pada tahun 1933, dengan kata lain ia adalah pemimpin pilihan rakyat pada waktu itu.

Selain itu, pada Peringatan 100 Tahun Peristiwan Genosida Namibia, Menteri Perekonomian Jerman, Heidemarie Wieczorek-Zeul sudah mengakui secara terbuka bahwa Jerman menerima kesalahan dan tanggung jawab moral atas perbuatan yang dilakukan negaranya pada waktu itu. Bahkan Wolf Thilo von Trotha, cucu dari pelaku genosida, Jendral Adrian Dietrich Lothar von Trotha, datang sendiri ke Namibia untuk meminta maaf pada keluarga korban yang masih hidup.

Namun Erdogan, tak cukup puas dengan hanya menodongkan telunjuknya ke muka Pemerintah Jerman, ia juga melempar kesalahan kepada anggota Parlemen Jerman keturunan Turki yang berpartisipasi dalam menggolkan resolusi tersebut, khususnya Cem Özdemir, Ketua Partai Hijau (Die Grünen) yang mengusulkan resolusi tersebut.

Erdogan menilai, 11 anggota Parlemen Jerman keturunan Turki tersebut, termasuk Cem Özdemir, wajib dites darahnya karena sudah dicemari oleh darah teroris. Bahkan kini kesebelas orang itu juga mendapat ancaman teror pembunuhan oleh pihak yang tak dikenal.

Tudingan Erdogan terhadap Cem Özdemir dan anggota Parlemen Jerman keturunan Turki lainnya jelas menyuratkan bahwa ia menilai mereka telah lupa bahwa di dalam nadi mereka mengalir darah Turki, mereka telah dianggap sebagai pengkhianat yang bekerja sama dengan musuh dan menikam saudara sendiri dari belakang.

Tapi mungkin Erdogan lupa, bahwa loyalitas (treue) adalah salah satu nilai terpenting dalam Kebajikan Prussia (Preußische Tugenden) dan juga menjadi pedoman hidup masyarakat Jerman kebanyakan. Cem Özdemir dan koleganya hanya mengikuti adat dan budaya masyarakat Jerman pada umumnya yang memegang kesetiaan pada kebenaran dan juga terhadap tanah air yang mereka tempati saat itu.

Contohnya, Jerman sebagai negara produsen aristokrat, sebagai efek dari sistem Stammesherzogtümer di mana Kekaisaran Romawi Suci mendistribusikan kekuasaan lokal pada para adipati yang mengakibatkan munculnya negeri-negeri mini (Kleinstaaterei) yang independen, memungkinkan mereka mengekspor para bangsawannya untuk menjadi istri-istri para penguasa Eropa lain, atau bahkan untuk menduduki singgasana negara Eropa yang tengah kosong. Namun begitu mereka dipilih untuk tugas itu, mereka akan loyal pada negeri barunya, bukan pada bangsa Jerman lagi.

Sebut saja pada saat Perang Dunia I, Raja Inggris yaitu George V sesungguhnya adalah bangsawan Jerman bernama lengkap Georg Friedrich Ernest Albert von Sachsen Coburg Gotha, begitupun istrinya, Viktoria Marie Auguste Louise Olga Pauline Claudine Agnes von Teck zu Wurttemberg.

Raja Belgia saat itu, Albert Leopold Klemens Maria Meinrad von Sachsen Coburg Gotha, juga berasal dari marga yang sama dengan Raja Inggris. Sedangkan ibunya, Marie Luise Alexandrine Karoline von Hohenzollern-Sigmaringen, adalah bibi Kaisar Jerman saat itu, Friedrich Wilhelm Viktor Albert von Hohenzollern, dan juga bibi dari Raja Romania, Ferdinand Viktor Albert Meinrad von Hohenzollern-Sigmaringen.

Keluarga Hohenzollern-Sigmaringen juga menghasilkan Ratu Portugal, Auguste Viktoria Wilhelmine Antonie Mathilde Ludovika Josephine Maria Elisabeth von Hohenzollern-Sigmaringen yang menikah dengan Raja Portugal saat itu yang karena aliansinya dengan Inggris, juga menyatakan perang pada Kekaisaran Jerman, Emmanuel Maria Philip Karl Amélio Ludwig Michael Raphael Gonzaga Xavier Franz de Assisi Eugén von Sachsen Coburg Gotha und Bragança.

Adapun istri dari Raja Romania, Ferdinand, Marie Alexandra Viktoria von Sachsen Coburg Gotha adalah sepupu Raja George V. Sedangkan penguasa Rusia, Tsar Nicholas II sesungguhnya berasal dari cabang keluarga Holstein-Gottorp dan istrinya, Viktoria Alix Helena Luise Beatrice von Hessen adalah cucu Ratu Viktoria dan masih berkerabat dengan semua orang yang telah disebutkan sebelumnya.

Kendati semua penguasa Eropa saat itu dan istri-istrinya mewarisi darah Jerman yang mengalir dalam nadi mereka, namun ketika rakyat negeri di mana mereka tinggal tidak menyukai Kekaisaran Jerman yang berupaya menampilkan diri sebagai hegemon baru di Eropa Tengah, dan menghendaki para penguasa ini untuk bertempur melawan Jerman maka itulah yang mereka lakukan. Walaupun yang mereka lawan kali ini adalah bangsa sendiri dan sang Kaisar, Friedrich Wilhelm Viktor Albert von Hohenzollern yang notabene adalah kerabat mereka sendiri.

Mungkin kita akan bingung, bukankah artinya para bangsawan Jerman itu berkhianat juga? Bagi orang Jerman, setia pada tugas bisa lebih diutamakan dibanding setia pada keluarga. Kita sering mendengar ungkapan: "Loyalitas pada partai berakhir ketika loyalitas pada negara dimulai."

Dalam kasus bangsawan Jerman, lebih ekstrem lagi, "Loyalitas kepada wangsa berakhir ketika loyalitas pada negeri yang baru dimulai." Jika mereka diminta atau ditugaskan menjadi penguasa di negeri non-Jerman, maka mereka akan konsisten mengabdi pada negeri itu, sekalipun pada akhirnya mereka diharuskan untuk memerangi tanah air mereka sendiri. Intinya, tidak ada loyalitas ganda. Hidup itu adalah pilihan, termasuk pada siapa kita setia.

Akan tetapi, monoloyalitas dan dedikasi yang ditunjukkan oleh para bangsawan Jerman itu tentu tak dipahami oleh Erdogan yang kini sedang gencar-gencarnya memanfaatkan diaspora Turki demi kepentingan politiknya, khususnya di Jerman sebagai rumah kedua bagi bangsa Turki di Eropa. Para politikus dan jurnalis Belanda menyebut strategi Erdogan ini sebagai Lange arm van Erdogan (Tangan Panjang Erdogan).

Strategi Erdogan itu, tentu mensyaratkan orang orang Turki di Jerman untuk tetap loyal pada tanah air bangsa Turki, kendati itu bisa merugikan negara yang kini mereka tumpangi. Tapi, hal itu sesungguhnya tak asing bagi bangsa Turki, karena sejak mereka masih menjadi suku nomaden yang mengembara di Steppa Asia Tengah hingga memeluk Islam dan hidup menetap, mereka kerap menjadi parasit yang menggerogoti negeri yang mereka tempati.

Dunia Islam sendiri sempat merasakan pengalaman pahit itu, tepatnya pada masa Dinasti Abbasiyah. Khalifah Al-Mu'tasim adalah putra Khalifah Harun Al-Rasyid dari istrinya yang orang Turki. Karena itu, Al-Mu'tasim mendatangkan orang-orang Turki dari Asia Tengah. Namun, orang orang Turki itu malah berbuat onar di kota Baghdad.

Semakin banyak privilege yang diberikan pada mereka oleh Khalifah, mereka semakin menjadi-jadi. Khalifah pun mereka bunuh atau mereka naik-turunkan dari tahta seenaknya. Akhirnya, Khilafah Abbasyiah pun mengalami disintegrasi karena suku-suku Turki itu mendirikan banyak dinasti baru di dalamnya, seperti Tuluniyah, Ikhsidiyah, Seljuk dan Khwarizm.

Tak cuma Abbasiyah, Dinasti Tang di Daratan Cina pun mengalami nasib yang sama. Pada masa Kaisar Xuanzong, ada seorang Jendral Turki dari Klan Ashide bernama An Lushan. Karena pandai menjilat, Kaisar melimpahinya dengan harta kekayaan. Namun, An Lushan malah memberontak. Pemberontakan ini menghancurkan Dinasti Tang.

Sisa keluarga Li (keluarga kekaisaran Tang) kemudian mendirikan Dinasti Tang Terakhir, namun dinasti baru ini kembali dihancurkan oleh orang Turki. Seorang Jendral Turki Shatuo bernama Shi Jingtang menggulingkan Dinasti dengan bantuan Suku Khitan (masih berkerabat dengan suku Turki) dari Mongolia.

Sebagai imbalannya, ia memberikan 16 Prefektur pada pemimpin Khitan, Abaoji Khan. Pemberian 16 Prefektur ini memudahkan suku suku Turki, Mongol dan Tungus untuk menginvasi Cina dan membawa penderitaan pada etnis Han Cina selama sekian ratus tahun.

Begitupun yang terjadi di Hungaria. Suku Turki Cuman yang melarikan diri dari kejaran tentara Mongol diundang oleh Raja Bela IV untuk tinggal di negara itu. Namun sejak awal, mereka sudah memiliki niat buruk untuk memonopoli kekuasaan di kerajaan tersebut. Kepala Suku Cuman, Seyhan Khan menikahkan putrinya, Erszebet dengan putra sulung Raja Bela IV, Istvan. Pernikahan itu menghasilkan buah cinta bernama Laszlo yang akhirnya akan naik tahta menggantikan ayahandanya.

Dari sanalah intrik dimulai. Suku Turki Cuman selalu merayu Laszlo untuk memberikan mereka banyak kekuasaan dalam urusan negara. Sehingga, Laszlo lebih banyak menghabiskan waktu di perkemahan suku Turki Cuman dibanding di Istananya sendiri. Bahkan Laszlo mengambil seorang wanita Cuman bernama Aydua untuk dijadikan gundik. Tahta Suci Roma dan negara-negara Barat lainnya yang merasa gerah melihat kekuasaan suku Turki Cuman yang makin menggurita di Hungaria, menekan Laszlo untuk menyingkirkan mereka.

Ketika Laszlo tak berdaya menghadapi tekanan dari Roma dan negara-negara tetangganya,  Suku Turki Cuman melakukan pencegahan dengan mengirim empat orang pembunuh bayaran yaitu Zeyhan, Törtel, Arbuz dan Kemenche untuk menghabisi nyawa Laszlo. Misi mereka pun berhasil, Laszlo tewas dibunuh di Kastil Körösszeg dan Hungaria pun jatuh dalam anarki.

Pada masa kini, suku Turkmen di Syria juga melakukan hal yang sama seperti suku-suku Turki terdahulu, menggerogoti negeri tempat mereka tinggal. Presiden Erdogan mengirimkan Komando Pasukan Khusus Turki (Özel Kuvvetler Komutanlığı) untuk melatih Brigade Turkmen Syria (Suriye Türkmen Ordusu) agar bisa memerangi Rezim Bashar Assad.

Akhir kata, hanya kehormatan, dedikasi dan kesetiaanlah yang bisa membawa sebuah bangsa menjadi bangsa yang besar. Dalam hal ini, bangsa Jerman telah melakukannya. Sedangkan bangsa Turki, masih berkutat dengan sikap lama yang mereka bawa dari Padang Rumput Asia Tengah.

Hal ini bisa jadi pelajaran juga untuk bangsa Indonesia. Di mana kini banyak yang terkagum kagum dengan kehebatan Turki sebagai Khilafah Islam dan kehebatan otak warga Jerman dalam membangun teknologi. Kelihatannya, tak cuma itu saja yang harus dipelajari, ada pula nilai nilai lain yang semestinya bisa kita pilah secara selektif demi menyongsong kejayaan negara kita.