Setiap orang memiliki masa sepi sendiri-sendiri, tak perlu iri dan gelisah. Apabila orang lain terlihat wah, itu hanya sepi yang dirayakan dengan mewah.

Pesat dan ramainya jalan raya informasi telah mengantarkan orang-orang pada era globalisasi. Abad teknologi digital telah memberikan stimulus baru bagi mereka-mereka yang dewasa ini menghirup angin segar dan peluk hangat produk digitalisasi modern. 

Buah cita masa kini yang berhasil menelurkan suatu pandangan dan budaya akan kecintaannya pada diri pribadi melebihi kecintaannya kepada orang lain seperti keluarga, komunitas, organisasi, masyarakat, negara, bangsa dan agama.

Menjadi manusia yang terinisiasi dari teknologi informasi dan budaya cyber, orang-orang memilih jalan kesendirian di tengah hiruk pikuk kehidupan soliter (keramaian). Lebih memilih kehidupan individualisme tinimbang kehidupan komunalisme, kepuasan diri pribadi melebihi kepuasan atas apa yang dapat diberikan kepada orang lain. 

Hal demikian yang merumuskan atas perhatian, gagasan, kesenangan dan pandangan yang berasal dari dan untuk dirinya sendiri. Perayaan akan diri sendiri yang menafikan kehidupan sosial kemasyarakatan, lebih bermartabat menyebutnya “antisosial”.

Ironis memang, produk dari santernya teknologi informasi telah membentuk semacam “masyarakat jejaring”. Abad informasi telah melekatkan manusia dengan teknologi itu sendiri, varian yang beragam yang dikemas dalam beberapa bentuk menyediakan gawai laksana hand phone, laptop dll, yang kesemuanya tak dapat dipisahkan dalam dirinya sendiri. 

Artinya, teknologi telah membangun suatu konsep diri itu sendiri. Masyarakat jejaring dibangun oleh peran sentral dari teknologi informasi-digital telah memberikan akses yang luas kepada setiap anggota masyarakatnya untuk berhubungan melalui jejaring teknologis (internet, sosmed daring, game). Mirisnya, jejaring sosial yang dibangun hanya mendekatkan mereka secara artifisial bukan secara faktual.

Pada dasarnya ada prosesi pertambahan jumlah pertemanan friendship dalam dunia virtual seperti facebook, google+, twitter dan pelbagai sosial media personal. Namun yang tak dapat dipisahkan ialah adaya semacam reduksi makna pertemanan, hilangnya rona keakraban, kebersamaan dan intimasi membuat orang mengambil jalan lain, kesenangan dalam kesendirian terpacu pada aktivitas kesepian dari ramainya lini masa. 

Jerit nyata kesendirian yang dihadapi, seolah merasa ramai yang senyatanya terpagari oleh dinding imaji ruang kamar, kesepian dalam dunia nyata, gegap gembira dalam dunia maya. Orang-orang semakin berlomba dalam menampilkan branding personal dalam sosial media. Menjadikan dirinya yang semu (artifisial) sehingga pusat perhatian publik memancar pada pesona eksotika yang ditawarkan oleh dirinya.

“Teman-teman dari kesepian: mereka mencintai kesepian, mereka berkumpul bersama… didalam dunia kesepian, isolasi dan kesendirian.” (Jacques Derrida-The Politics of Friendship, Verso, London, 2005, hlm. 42)

Narsisme adalah bentuk khusus kekaguman dan pemujaan atas diri sendiri (Yasraf, Dunia yang Berlari). 

Kecenderungan narsisme, yakni menciptakan semacam privatisme dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, kecenderungan merayakan nilai-nilai pribadi di ruang publik, dan mulai tampak (distorsi) akan mengikisnya nilai kepublikan atau kebaikan bersama diruang pribadi, sehingga apa yang menjadi pandangan, gagasan, kesenangan dan budaya mereka sendiri, harus diikuti dan diperhatikan khalayak umum.

Selebritas menjadi pijakan atas apa yang mereka maksudkan. Piawai dalam menampilkan diri dalam kemasan produk teknologi informasi-digital (sosial media). Narasi dramaturgi mulai hangat diperbicangkan, eksotika pribadi yang selalu ditampilkan ke hadapan publik harus terkemas sebaik mungkin, walau konsumerisme tak dapat dipisahkan. 

Konyol memang, mereka yang getol dalam mempersolek diri lewat dunia artifial, tak diimbangi dengan kapasitas nyata yang ada pada dirinya, yang menjadi goal, yakni diri pribadi menjadi poros perhatian. Inilah kemirisan selanjutnya, mereka berfokus pada tumpuan individualistik, tetapi mereka membutuhkan publik agar dapat memperoleh atas apa yang mereka harapkan.

Keengganan dalam hal berkumpul bersama (komunalisme) dalam suatu forum kekeluargaan, kemasyarakatan dan organisasi menjadi tekad bulat generasi yang masuk dalam zona teknologi informasi. Mereka menyangka, dirinya bebas berekspresi tanpa mendapatkan tekanan dari otoritas apa pun. 

Teknologi informasi-digital memiliki nilai magis tersendiri dewasa ini. Aktualisasi diri yang (kurang) dalam sejarik beranda artifisial yang kudet (kurang update) akan berdampak pada terasingnya kita saat ini.

Makin tak menampilkan prestasi atas hasil kerja pribadi (low profile) akan menjadi gayung ramah yang mana titik poinnya, yakni bunuh diri massal sejak dini. Padahal citra diri dibangun atas pandangan orang lain secara kolektif, namun produk glabalisasi mampu membuat imaji, konsep diri dan budaya tersendiri yang mana kita dituntut untuk menyombongkan hasil prestasi.

Nahas, orang-orang yang lebih memilih jalan komunal kini harus turut hanyut dalam derasnya arus globalisasi. Bukan ketaktersedian perlawanan counter attack, tetapi kuatnya dinding yang dibangun oleh era globalisasi harus diimbangi dengan kesadaran nyata saat ini. 

Kita tak akan mau jika kita merasa asing dalam keramaian (faktual). Kelak, yang paling mengkhawatirkan, yakni kita seolah menjadi tamu didalam rumah (keluarga, organisasi, negara,  dan agama) sendiri.

Tulisan ini terinisiasi dari buku Dunia Yang Berlari; Yasraf Amir Piliang tentang “Merayakan Narsisme, Dunia Me Generation”.