Promosi mengenai topik “Love Affair” pada acara Ruang Cinta 101 demikian gencar digaungkan sejak saya bergabung di komunitas LIKE Indonesia di Facebook beberapa saat yang lalu. Terus terang saya penasaran karena judulnya yang terkesan agak “nakal”, dan ini justru membuat keingintahuan yang besar.

Saya berharap mendapatkan seat dalam acara tersebut--dilakukan melalui aplikasi Zoom--agar bisa ikut berinteraksi, karena pada saat diterima di komunitas ini, memang ada pengumuman akan diundi 15 orang dari batch kami untuk mendapatkan seat tersebut.

Harapan tidak sesuai dengan kenyataan, ternyata saya tidak mendapatkan undian tersebut, maka jadilah saya mengikuti acara tersebut dengan nobar melalui FB.

Ternyata Ruang Cinta 101 ini adalah acara pertama yang dibuat komunitas ini untuk membahas sesuatu yang extra ordinary atau anggaplah membicarakan sesuatu yang tabu bagi sebagian kalangan, seperti misalnya tema perselingkuhan yang menjadi tema di acara perdana ini, begitu yang dikatakan pemandu acara saat membuka acara tersebut.

Memang terkadang untuk membicarakan sesuatu yang tabu itu tidak bisa di sembarang tempat atau kepada semua orang, karena memang kebanyakan masyarakat kita belum open minded, sehingga stigma bisa mampir kepada siapa saja yang membicarakan hal tersebut.

Definisi Perselingkuhan (Love Affair)

Vaghan (dalam Sarwono dkk, 2009) menyebutkan bahwa perselingkuhan adalah keterlibatan seksual dengan orang lain yang bukan merupakan pasangan primernya. Menurut Poerwodarminto (2002), perselingkuhan dapat diartikan sebagai perbuatan tidak berterus terang, tidak jujur, menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, curang, serong. 

Lawson (2000) mengatakan bahwa pengertian perselingkuhan suami dapat dimulai dari pergi bersama seseorang yang bukan istrinya. Kedekatan yang kuat dengan orang lain, baik secara fisik maupun emosional, sexual intercauce secara sukarela antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya.

Perselingkuhan dalam perkawinan berarti suami atau istri memiliki hubungan di luar perkawinannya, di mana hubungan ini bukan hanya sekadar hubungan seksual semata tetapi juga hubungan emosi yang serius sampai ke adegan yang cukup panas (Melly dalam Tiara, 2001).

Rutherford (1999) mendefinisikan perselingkuhan sebagai ketidaksetiaan terhadap pasangan yang sudah terikat dalam perkawinan. Asya (dalam sari, 2009) mendefinisikan perselingkuhan sebagai perbuatan seorang suami (istri) dalam bentuk menjalin hubungan dengan seseorang di luar ikatan perkawinan yang kalau diketahui pasangan syah akan dinyatakan sebagai perbuatan menyakiti, mengkhianati, melanggar kesepakatan atau komitmen perkawinan.

Dengan kata lain, selingkuh mengandung makna ketidakjujuran, ketidakpercayaan, ketidaksaling menghargai, dan kepengecutan dengan maksud menikmati hubungan dengan orang lain sehingga terpenuhi kebutuhan afeksi seksualitas.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perselingkuhan itu adalah ketidaksetiaan seseorang terhadap pasangan primernya karena memiliki kedekatan fisik maupun emosional dengan orang lain yang bukan pasangannya. Jika hubungan tersebut diketahui oleh si pasangan, maka akan dinyatakan sebagai perbuatan menyakiti, mengkhianati, melanggar kesepakatan atau komitmen perkawinan.

Kesaksian

Banyak sekali yang berbicara di sana mengenai apa dan bagaimana love affair menurut pandangan masing-masing yang berbicara. Seperti misalnya seorang peserta paruh baya yang beranggapan bahwa perselingkuhan itu adalah sebuah hubungan yang berpotensi melukai hati pasangan awal dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. 

Kalau ternyata tidak berpotensi melukai hati pasangan, maka itu bukan selingkuh, begitu pendapat pria paruh baya tersebut.

Lain lagi pendapat peserta lain yang beranggapan bahwa sebaiknya selingkuh itu jangan dilakukan, karena itu akan membuat capek lahir batin. Jika melakukan perselingkuhan, maka pelaku harus melakukan kebohongan demi kebohongan untuk bisa menutupi perselingkuhan itu dari pasangannya, padahal enaknya cuma sebentar, begitu Dedi menggambarkan perselingkuhan. Tips jenaka yang diberikan adalah jika melakukan perselingkuhan, maka kebohongan sebaiknya dicatat, agar bisa tetap konsisten.

Seorang yang mengaku sebagai praktisi dalam hal perselingkuhan dengan berbagai macam wanita justru malah bercerita mengenai bagaimana dalam melakukan praktek hubungan sex dengan perempuan. Hal ini justru membuat peserta lain banyak bertanya, seolah ingin belajar lebih dalam bagaimana cara melakukan sexual intercauce dengan sehat.

Pengakuan seorang wanita yang mewakili pihak yang diselingkuhi oleh pasangannya juga menceritakan pengalamannya, dan terlihat bahwa dia tereksploitasi tanpa disadari. Banyak pendapat yang menyarankan agar dia menyudahi hubungan tersebut karena hubungan tersebut sangat berpotensi menjadi toxic relationship.

Tapi terlihat wanita ini masih bingung dan seharusnya ini saatnya melakukan konseling kepada pakar sebagai bantuan untuk mengambil keputusan. Pilihan apa yang akan dilakukan terhadap kejadian tersebut tetap ada di tangan yang bersangkutan.

Dari semua yang bicara, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya semua kembali kepada diri kita masing-masing. Baik pelaku perselingkuhan ataupun menjadi orang yag diselingkuhi sebenarnya tinggal dikembalikan kepada apa yang kita mau. Kita memang tidak bisa mengatur apa yag harus orang lain lakukan, tapi kita bisa mengatur apa yang akan kita lakukan atau bereaksi terhadap apa yang terjadi terhadap diri kita

Dan jangan cengeng terhadap pilihan yang sudah dibuat. Sebagai pelaku perselingkuhan, tentunya Anda sudah berhitung apa yang akan terjadi jika sampai ketahuan. Jika Anda tetap melakukannya, itu berarti Anda sudah siap dengan segala akibatnya. 

Demikian juga jika Anda sebagai orang yang diselingkuhi, silahkan Anda memilih apa yang akan Anda lakukan. Anda mau menerima kembali pasangan Anda yang sudah berselingkuh tersebut atau tidak, semua ada di tangan Anda.

Kembali kepada kodrat yang saya pahami, bahwa setiap manusia berhak untuk bahagia, apa pun yang terjadi kepada diri kita, sebaiknya kita pilih pilihan yang akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan. Ukuran kebahagiaannya tentu hanya Anda yang tahu. 

Mau melanjutkan hubungan ataupun mengakhirinya setelah terjadi perselingkuhan, sebaiknya tanya ke dalam diri kita masing-masing, karena hanya kita yang mengetahui ukuran standar kebahagiaannya. Kalaupun Anda mau bercerita atau konseling, itu boleh saja, tujuannya adalah untuk membantu agar Anda bisa mengambil keputusan. Intinya tetap Anda yang akhirnya harus memutuskan.

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan moderator acara bahwa apapun yang terjadi terhadap hidup kita dalam konteks love affair ini hanya merupakan serangkaian kejadian atau peristiwa yang membentuk diri kita. Dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi terhadap diri kita itu semua adalah pilihan. 

Kalau Anda pelakunya, itu artinya Anda memilih untuk melakukannya, dan kalau Anda sebagai pihak yang diselingkuhi, tinggal Anda memilih Anda mau melakukan apa? Silahkan dipikirkan baik-baik semua konsekuensi dari apa yang Anda pilih tersebut.