Peneliti
2 tahun lalu · 1025 view · 4 menit baca · Kuliner lotek.jpg

Lotek Bu Ubiet, Racikan Si Tangan Dewa dari Kota Bandung

Liburan panjang akhir tahun ini, saya habiskan di Kota Bandung, Jawa Barat. Tepatnya di Komplek Pinus Regensi, yang ada di bawah Kelurahan Babakan Penghulu, Kecamatan Cinambo. Sebuah wilayah yang dekat dengan daerah Gede Bage, Cisaranten dan Riung Bandung.

Karena kebetulan juga, rumah istri saya di daerah Bandung ini. Jadi cocoklah menghabiskan waktunya di sini saja. Liburan seru bersama istri dan anak laki-laki saya tercinta. Mengisinya dengan kegiatan sederhana namun berkesan dan menyenangkan, tentunya.

Siapa yang tak kenal Bandung? Kota yang dikenal dengan Paris van Java (Paris dari Jawa). Sebuah julukan yang diberikan untuk Kota Bandung sekitar tahun 1920-1925 karena terkenal dengan keindahan alam dan kesejukan udaranya. Kondisi tersebut sangat disukai oleh orang-orang Belanda, waktu itu mereka sebagai penjajah negeri kita.

Kondisi geografis Kota Bandung dan Perancis Selatan tak jauh berbeda. Alasan itulah yang membuat koloni Belanda membangun Kota Bandung menjadi sebuah pemukiman indah yang dilengkapi sarana dan prasarana untuk kebutuhan warganya.

Selain terkenal dengan sebutan Paris Van Java, Bandung juga dikenal masyhur karena tempat wisata, pakaian, dan kulinernya. Dan sejumlah sebutan lainnya,diantaranya Bandung Kota Kembang, Bandung Kota Pramuka, Bandung Kota Zakat, dan lain-lain.

Khusus soal kuliner, hari ini saya mengunjungi sebuah rumah kecil yang dijadikan semacam kedai atau warung untuk berjualan lotek, sejenis gado-gado. Ia adalah makanan khas Jawa Barat, yang berlokasi di Jalan Mars Utara III No. 4, Manjahlega, Rancasari, Kota Bandung. Nama kedainya adalah “Lotek Bu Ubiet”. Owner serta pembuatnya adalah Bu Ubiet itu sendiri.

Perlu saya deskripsikan di sini, lotek itu bahan-bahan dasarnya adalah sejumlah sayuran, seperti; kacang panjang, toge, mentimun, kol, bisa juga ditambah kemangi, dan sebagainya. Biasanya bahan-bahan tersebut direbus terlebih dahulu kemudian disiram dressing berupa sambal dicampur bumbu kacang.

Keunikannya, sebagai bahan sambal di samping kacang seringkali ditambahkan tempe, dalam bumbunya ditambahkan terasi, gula merah, dan bawang putih. Dalam bumbu lotek lebih menonjolkan aroma kencur. Berbeda dengan bumbu pecel yang didominasi aroma daun jeruk.

Biasanya lotek disajikan dengan lontong, tetapi ada yang melakukan variasi lain seperti dengan nasi, ketupat atau bahkan mie.

Ada hal menarik perhatian mata, jika kita berkunjung langsung ke kedai tersebut. Kita akan menyaksikan sebuah cobek besar sekali, cobek raksasa yang berdiameter kira-kira 90 cm, yang selalu dipakai Bu Ubiet untuk mengulek bumbu loteknya, sekaligus menuangkan bahan-bahan dasar dari lotek tersebut.

Cobek raksasa tersebut bisa menampung 15 porsi lotek. Jadi, Bu Ubiet bisa mengerjakan atau membuat lotek 15 porsi sekaligus untuk satu kali pengerjaannya.

Bu Ubiet memang luar biasa. Dalam pengerjaannya, ia dibantu oleh suaminya yang tak jauh berbeda usianya. Jika saya lihat dari raut wajah mereka berdua, Usia mereka di kisaran 55 sampe 60 tahunan. Lumayan sudah terlihat sedikit tua, namun semangatnya masih membara.

Kedai Lotek Bu Ubiet mulai dibuka pukul 11.00 hingga 15.00 wib. Tentang jumlah pengunjungnya jangan ditanya. Pelanggannya sangat banyak sekali berdatangan dari seluruh penjuru Kota Bandung yang deket dengan lokasi tersebut. Mulai dari karyawan toko atau supermarket yang mencari makan siang hingga kalangan menengah dan atas.

Sebelum pukul 15.00, saya pastikan kedai tersebut sudah tutup karena habis diserbu mereka. Mayoritas pelanggannya tak makan di tempat, biasanya mereka memesannya dibungkus untuk disantap di tempat kerja atau rumah masing-masing.

Biasanya sebelum membeli, saya konfirmasi dulu dengan Bu Ubiet  via telepon atau sms, bahkan bisa whatsapp atau line juga, untuk memastikan apakah loteknya masih ada atau sudah habis.

Jika ada, saya langsung memesannya sesuai kebutuhan. Sehingga saat sampai di lokasi, saya tinggal mengambilnya. Cukup efektif dan sangat praktis, memang. Karena jarak antara rumah istri saya dan lokasi kedai Bu Ubiet lumayan jauh, kira 15 menitan jika ditempuh mengendarai motor.

Di kedai Bu Ubiet, tak hanya menyuguhkan lotek saja. Ada pula makanan lain seperti rujak, karedok dan pempek Palembang. Semua produknya dijamin enak, nikmat, lezat dan pasti ketagihan.

Mungkin pembaca ada yang bertanya; kenapa ada pempek di sana? Bukankah Bu Ubiet adalah orang Sunda yang hanya bisa mengolah makanan-makanan khas Sunda?

Tentang pempek Palembang, rasanya sangat kuat khas Palembang, asli sekali Palembang. Tak sama sekali tercampur rasa kesunda-sundaan. Jenis pempeknya juga beragam; ada kapal selam, lenjer, telor dan lain-lain. Ternyata, setelah melalui penyidikan dan penyelidikan, suami Bu Ubiet itu adalah orang Palembang asli, yang tak asing dengan pempek tersebut.

Suami Bu Ubiet sangat lihai dan ahli dalam mengolah rasa pempek dan kuahnya. Sungguh enak dan lezat tak terkalahkan oleh enak dan lezatnya lotek, karedok dan rujaknya.

Jika di antara para pembaca berkesempatan mengunjungi Kota Bandung, luangkanlah waktu untuk makan siang di kedai lotek Bu Ubiet yang ada di Jalan Mars Utara, Mancahlega, Bandung. Menyaksikan cobek raksasa milik Bu Ubiet sekaligus merasakan lezatnya kuliner olahan Bu Ubiet.

Lidah kita akan dimanjakan oleh lotek yang kaya akan rasa dari rebusan sayuran-sayuran yang ditambah potongan tempe, tahu serta lontong yang telah dibubuhi bumbu kacang yang sangat lezat. Rasanya, pokoknya, persis gambaran Kota Bandung; penuh gaya,cantik, ngangenin dan bikin ketagihan. Keakraban kotanya seolah menjadikan kita abai dari kepenatan dan keruwetan rutinitas kerjaan setiap hari.  

Harga yang cukup relatif murah, dengan hanya menukar Rp 17.000  per porsinya untuk rasa kelas tinggi lotek Bu Ubiet. Sekali lagi, selamat mencoba kuliner Jawa Barat hasil olahan dan racikan Bu Ubiet, Si Tangan Dewa dari Kota Bandung!