Orang lebih banyak membicarakan kemenangan dibanding kekalahan. Kekalahan Arsenal, klub Liga Inggris yang ditumbangkan Barcelona di Final Liga Champions musim 2005/2006, jarang sekali ditulis dalam artikel-artikel media olahraga. Atau kekalahan-kekalahan Indonesia di final Piala AFF yang tidak pernah kita kenang sebagai sesuatu yang membanggakan. Kita malah lebih sering membicarakan medali emas terakhir Indonesia yang diraih di cabang sepak bola SEA Games 1991.

Namun, kemenangan tidak akan lengkap tanpa kekalahan. If there is a winner, there is a loser.

Kekalahan sebenarnya menarik untuk dibicarakan. Terutama bagaimana mereka yang kalah mampu bangkit dari keterpurukan dan kembali meraih kemenangan. Kisah mereka terasa relevan dengan kehidupan kita. Mungkin ini yang mendasari Netflix membuat sebuah film dokumenter berjudul Losers.

Losers mengangkat kisah orang-orang yang kalah namun bisa bangkit. Kisah yang disajikan dalam 8 seri ini sudah bisa ditonton di Netflix. Dengan sinematografi menarik, wawancara orang-orang yang kalah, ditambah grafis animasi yang ciamik, film dokumenter ini layak kita tonton.

Seri pertama dibuka dengan kisah Michael Bentt, seorang kulit hitam yang dipaksa orang tuanya yang gemar melakukan kekerasan untuk menekuni olahraga tinju. Dari kecil, Bentt sering dipukul ayahnya karena sebuah alasan sepele. Ia terpaksa menuruti keinginan ayahnya dan mulai bertinju dari jalur amatir. Di jalur ini ia kemudian meraih kemenangan demi kemenangan. Ayah Bentt memang ingin ia menjadi juara dunia tinju.

Setelah berjaya di jalur amatir, Bentt pindah ke jalur profesional. Sebenarnya, ia tidak ingin menjadi seorang petinju profesional. Ia terpaksa melakukannya agar bisa keluar dari rumah ayahnya.

Dengan kejayaannya di tinju amatir, Bentt langsung didaftarkan promotor untuk melakukan 25 pertandingan tinju kelas pro. Debut Bentt di kelas pro adalah melawan Jerry Jones. Sayang, Bentt langsung tersungkur di ronde pertama.

Kekalahan ini membuat ayah Bentt berang. Dunia menertawakannya. Bagaimana bisa, juara lima kali nasional tak berdaya dalam debutnya. Bent adalah seorang pecundang.

Bentt lantas menghibur diri di klub dan bermain wanita. Ia bahkan sempat ingin bunuh diri dengan menembakkan pistol yang ditemukannya di apartemen adiknya. Beruntung, bunuh diri itu ia urungkan. Ketakutannya menghalangi niatnya untuk bunuh diri.

Setelah beberapa lama, ia bisa bangkit. Sepuluh pertandingan tinju ia menangkan. Bentt bahkan mendapat kesempatan melawan Tommy Morrison, petinju yang dijuluki “The White Mike Tyson”, dalam perebutan gelar juara kelas berat WBO. 

Hebatnya, Bentt bisa memenangkan pertandingan ini. Ia dinyatakan menang TKO setelah menjatuhkan Morrison sebanyak tiga kali di ronde pertama. Bentt menangis. Ia tidak pernah ingin berada di ring tinju seperti yang diinginkan ayahnya. Namun Bentt bisa memakai mahkota kelas berat itu meski tidak pernah merencanakannya.

Pertandingan berikutnya, Bentt harus menghadapi Herbie Hide. Ia akan bertanding untuk mempertahankan gelar juara untuk pertama kalinya.

Pertarungan ini tidak berjalan mulus bagi Bentt. Ia harus tersungkur di ronde 7 setelah di-KO Hide. Bentt kemudian dibawa ke ruang ganti. Di sana ia pingsan. Bentt dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan koma. Ayahnya yang menonton pertandingan itu dari Florida dan mengetahui kabar anaknya koma mengatakan, “Ya, biar anaknya yang darahnya membeku mati.” Dalam istilah Jamaika, menurut Bentt, ini artinya, “Biarkan si keparat itu mati.”

Empat hari setelah dinyatakan koma, Bentt terbangun. Dokter mengatakan kepada manajer Bentt jika ia tidak boleh bertinju lagi. Kata dokter, Bentt memiliki cedera yang jika retak meski tidak bertanding lagi, Bentt bisa mengalami kelumpuhan total.

Mendengar kabar itu, Bentt justru merasa lega. Ia tidak pernah merencanakan menjadi petinju. Bentt tidak mempunyai passion di olahraga ini.

Dua tahun setelah pensiun dari tinju, Bentt memutuskan belajar menulis dengan mengikuti les. Rupanya, passion Bentt adalah menulis.

Suatu saat, Bentt bertemu dengan Bert Sugar, jurnalis tinju yang sangat dihormati. Bert kemudian meminta Bentt menulis untuk majalahnya tentang bagaimana efek saat petinju dipukul KO dan memukul lawan. Tulisan “Anatomy of Knock Out” tercipta dari tangan Bentt.

Tulisan ini rupanya banyak disukai. Termasuk para produser film. Ia kemudian dihubungi Ron Shelton, produser film Ali yang dibintangi Will Smith. Ron sangat menyukai kejujuran Bentt di artikel tersebut dan memintanya memerankan Sonny Liston dalam film itu.

Debutnya di dunia film membuatnya senang. Ia merasa cocok di dunia film. Bentt kemudian memutuskan pindah ke Los Angeles untuk meneruskan karier filmnya. Ia banyak melatih aktor film yang memerankan sosok petinju. Karier Bentt di dunia film rupanya lebih moncer dibanding karier tinjunya.

Selain aktor, ia juga diminta menjadi konsultan film. Salah satunya film “Million Dollar Baby” yang disutradarai Clint Eastwood. Bentt juga menyutradarai sebuah pertunjukan teater.

Bentt mengubah jalan hidupnya dari juara tinju kelas berat yang sempat mengalami koma menjadi sosok yang dikagumi di dunia film. Ini mirip sebuah kisah sukses. From a loser become a winner!

Kisah-kisah lain di film dokumenter ini tak kalah mengagumkan sekaligus mengharukan. Tak hanya itu, semua kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi kita agar jangan menyerah meski dalam kondisi terpuruk. Ini adalah keindahan dari sebuah kekalahan, sesuatu yang jarang diperhatikan orang. Kekalahan akan membentuk karakter seseorang dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Jangan menyerah meski disebut pecundang. Karena dari sinilah kita mempunyai peluang untuk menjadi pemenang.