Los dol, ndang lanjut leh mu Whatsapp-an. Cek paket datane, yen entek tak tukokne ...

Los dol, silakan lanjut terus. Silakan whatsapp-an. Cek paket datamu, kalau habis saya belikan. Lagu dari Denny Caknan bertajuk "Los Dol" berkisah perempuan yang selingkuh. Meskipun tahu bahwa kontak selingkuhan diganti namanya menjadi tukang gas, tetapi si lelaki tetap bilang, lanjutkan! Bahkan siap memfasilitasinya dengan kuota internet.

Tetapi apakah los dol itu bermakna sebuah izin dan kebebasan? Lepas dari kisah dalam lagu itu, bagaimana perempuan harus memaknai peluang dan kesempatan yang makin terbuka untuk bekerja secara online?

Tidak semua perempuan diberi izin oleh "suami". Suami di sini tidak hanya menuding personal laki-laki, tetapi budaya patriarki yang tidak memberikan banyak opsi. Adanya "tarik tambang" dua peran, publik dan domestik, menyeretnya dalam posisi dilematis. Boleh bekerja tetapi jangan lupa keluarga! Tanda seru yang tidak dihantamkan pada laki-laki. 

Oh ya, laki-laki boleh kerja sembari sering atau sesekali melupakan keluarga, ya?

Pintu Alternatif

Untungnya, era digital membuka pintu alternatif. Terlebih, bertalian dengan pandemi, Work From Home digencarkan. Kini, makin berlipat perempuan dasteran bekerja secara maya. Misal, jualan online. Bahkan tak sedikit bukan berstatus amatiran, melainkan profesional sebagai celebgram, vlogger, content creator, influencer atau youtuber.

Perempuan bisa beraktualisasi dan membantu nafkah suami. Pada saat bersamaan, memasak, ngosek kamar mandi, mencuci pakaian dan piring, menyapu dan tugsa domestik sejenisnya. Juga leluasa memperhatikan anak dan keluarga. Peluang ini tampaknya mengantarkan pada jalan keluar, bagi konflik ganda yang lama disandang.

Apalagi dalam pandangan Islam, ada pendapat, perempuan yang bekerja di luar rumah harus mendapat lisensi dari suami. Siapa yang melanggarnya, oleh sebagian ahli fikih dinilai sebagai nusyuz, tidak taat atau tidak setia. 

Dunia kerja sepanjang ini dikritik memberi banyak jebakan pada perempuan. Industri menempatkannya pada tugas yang repetitif, halus dan teliti tapi dengan upah rendah. Juga acap kali bersembunyi di balik alasan: perempuan spesies penurut, bukan makhluk penuntut. 

Tapi tidak dengan menjadi pekerja maya di rumah. Melalui jalur ini, tersedia berbagai rupa pekerjaan berbasis dunia kreatif. Perempuan juga merdeka mengatur dirinya sendiri.

Ihwal hambatan kontinuitas kerja tak perlu jadi masalah lagi. Tugas biologis untuk hamil dan melahirkan, kewajiban merawat anak bahkan tugas sosial merawat orang tua yang sakit tetap terakomodir. Lanjut, rehat atau stop bekerja disesuaikan situasi dan kebutuhan. Saat si baby nyenyak, dia bisa kembali berkreasi, bisa transaksi.

Perihal diskriminasi upah tidak perlu terjadi. Toh, transferan yang masuk kantong pekerja internet relatif ramah gender. Pun soal jenjang karier, berhenti sudah debat bahwa laki-laki lebih berpeluang promosi. Perempuan bisa menjadi profesional, tergantung seberapa kreatif dia. Bahkan terbuka peluang, penghasilan melampaui kerja kantoran. 

Banyak contoh youtuber, vlogger, selebgram menjadi jutawan, tergantung berapa yang like, view dan subscribe. Lewat jualan online, cuan bisa berlipat-lipat, tergantung berapa yang membeli.

Faedah lain, perempuan terjauhkan dari resiko kekerasan. Tidak lagi repot mengatur jadwal kerja dan menyusui. Tak wajib bikin ruang laktasi. Lha, di toilet sekalipun bisa merespons order yang datang. Perempuan lebih merasa aman, tidak memikirkan pulang malam atau kekerasan yang mengancam.

Lebih dari itu, perempuan mempunyai nilai plus. Kemampuan komunikasi dalam marketing jarak jauh, misalnya. Atau membuat konten-konten khas perempuan lekas terjual. 

Misal saja video bikin alis sekejap, tips masak sambil nonton drakor atau konten lain yang terlihat remeh, tetapi laku di pasar penonton youtube. Justru karena dibuat oleh perempuan di rumah sehingga relate dengan keseharian. Di sini konten dari perempuan untuk perempuan bisa jadi kekuatan.

Dengan demikian, masalah-masalah dunia kerja perempuan di ranah publik tampaknya segera menemui solusi ampuh dengan kesempatan luas bekerja online di rumah sambil dasteran.

Waspadai Agenda Tersembunyi

Sayangnya, meminjam pemikiran kritis pascafeminisme Angela McRobbie, kita dilarang buru-buru menyimpulkan begitu. Perempuan memang mampu menangkap peluang bekerja secara maya dan memanfaatkan sisi feminitasnya untuk memberdayakan dirinya..

Alih-alih bermakna berdaya, perempuan dalam konteks tersebut justru bisa terjebak dalam keterikatan rangkap. Pemberdayaan tidak bisa lepas dari wacana penindasannya, begitu pesan dalam tulisan Suzie Handajani bertajuk Perempuan-Perempuan di Internet: Membahas Gender Bersama Angela McRobbie, dalam buku Gerak Kuasa, Politik Wacana, Identitas dan Ruang/Waktu dalam Bingkai Kajian Budaya dan Media, 2020.

Dengan kerja di ranah virtual, perempuan bisa memunjang nafkah, bahkan melampaui pendapatan finansial suami. Lalu, bagaimana jika suami tetap kukuh, pekerjaan domestik adalah tugas perempuan.

“Tergantung suaminya dong, kan banyak suami yang pengertian juga”, mungkin Anda menyangkal. Justru inilah intinya, semuanya “tergantung laki-laki”. Sebaliknya, laki-laki bebas mengambil keputusan.

Belakangan ini banyak kasus, sebagai konsekuensi Work From Home, suami bekerja secara virtual di rumah. Menghadapi laptop atau smartphone, dianggap “tidak sibuk”. Lalu, sang istri meminta suami terlibat aktif dalam pekerjaan rumah tangga. 

Problemnya, jika suami menjawab, “Lho, saya walaupun di rumah ini kerja lho, bukan nganggur”. Di sini terjadi standar ganda. Patutkah disebut kesetaraan, tatkala mengandalkan fleksibilitas laki-laki saja? Artinya, perempuan selalu ditempatkan dalam posisi pasif.

Di samping itu, perlu dicatat kepungan pasar yang merayu-rayu perempuan untuk menggunakan uangnya memborong fashion, alat kecantikan yang disematkan kepada tubuhnya, ujungnya dipersembahkan kepada suami. Menyilakan perempuan kerja online di rumah, tidak serta merta kemudian perempuan bebas dari penindasan.

“Sebagai perempuan sadar kok. Saya cuma bantu suami. Sepenuhnya saya sadar, saya hanya istri yang akan patuh dengan suami.”

Baiklah, kalau dilakukan dengan kesadaran. Artinya, diskusi bisa dicukupkan. Kata Suzie Handajani, yang membedakan apakah perempuan berdaya atau ditindas adalah kesadaran.

Tapi, sebentar dulu. Ada sedikit kemiripan Angela McRobbie dengan Bu Tejo. Keduanya mengajak perempuan berjaga-jaga. Waspadalah adanya kepentingan lain di balik kesempatan atau dorongan agar perempuan untuk bekerja online. 

Sebagai contoh, bagaimana jika laki-laki lantas berpikir. “Sebagai suami, saya nggak usah bekerja keras. Kalau perlu ongkang-ongkang. Toh, istri juga bisa cari penghasilan besar”. Sembari mewajibkan istri membereskan pekerjan domestik. Jika demikian, siapa yang diuntungkan?

Lebih jauh lagi, perlu kritis juga atas propaganda ekonomi kreatif, termasuk mendorong agar banyak perempuan untuk bekerja secara online. Jangan-jangan itu adalah alasan untuk memaafkan ketidakmampuan negara menyediakan kesempatan setara di ruang publik. Dan selanjutnya melanggengkan ideologi dan kekuasaan patriarki, bukan memerdekakan perempuan.

Tulisan ini hanya mengingatkan. Sedikit curiga, boleh, kan? Los dol, silakan jika para perempuan ingin eksis kerja online sambil dasteran.