Fakhruddin Faiz dalam Ngaji Filsafatnya mengatakan “Stigma-stigma negatif yang diarahkan kepada Islam seperti Islam teroris, ngamukan diselamatkan oleh Rumi, jika ada yang bilang Islam teroris, ngamukan menjawabnya mudah karena ada orang seperti Rumi; coba lihat saja Rumi.”

Orang Barat banyak yang jatuh cinta pada Rumi, dunia pun mengaguminya sehingga pada tahun 2007 badan PBB untuk pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan (UNESCO) mencanangkan sebagai tahunnya Rumi yang bertepatan dengan peringatan 800 tahun kelahiran Rumi.

Kata Fahruddin Faiz, orang Barat saja banyak yang tahu Rumi. Kita sebagai umat Islam, ada yang tidak tahu. Pemikir sekaliber M. Iqbal dan Mahatma Gandhi tokoh idolanya adalah Rumi.

Rumi telah menyulap bumiku menjadi permata. Dengan tanah liatku, ia bentuk semesta laksana surga, begitu kesan mendalam yang disampaikan oleh M. Iqbal penulis the Recontructin Of Religious Thoughat In Islam (Rekonstruksi Keagamaan dalam Islam) dalam buku terjemahan Fihi Ma Fihi, (Mengarungi Samudra Kebijaksanaan). (Republika.co.id)

Nah, siapa sebenarnya Rumi? apakah kita tahu Rumi atau sama sekali tidak tahu siapa Rumi? Padahal orang Barat banyak yang jatuh cinta pada Rumi. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya akan menguraikakan biografi singkat Jalaluddin Rumi dari buku Passage Into Silence tujuan mengetahui riwayat hidupnya.

Jalaluddin Rumi adalah sufi besar sepanjang zaman yang telah membaktikan lebih dari separuh hidupnya untuk mencari kebenaran-kebenaran terdalam dari ajaran agama. Selain seorang sufi, Rumi juga dikenal sebagai seorang teolog, penyair masyhur yang karya-karyanya telah menarik banyak pencari spiritual.

Nama lengkapnya adalah Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi, mendapat panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma), tepatnya di daerah Asia Kecil atau Anatolia yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Turki.

Murid dan para sahabatnya memanggil Rumi dengan Maulana (Tuanku). Maulana Jalaluddin Rumi lahir di Balkh, Afghanistan pada 30 September 1207 M dan meninggal pada 17 Desember 1273.

Ibu Rumi bernama Mumine Khatun dan Ayahnya bermana Bahauddin Walad, Bahauddin merupakan tokoh yang menguasai bidang ilmu eksoterik dan esoterik. Ayahnya merupakan tokoh berpengaruh dalam pemikiran Rumi, ayahnya juga memiliki pengalaman mistis yang sangat menakjubkan.

Rumi memiliki dua istri dan empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Istri pertama Rumi bernama Jauhar Khatun dan memiliki anak bernama Sultan Walad dan Alauddin. Setelah Jauhar Khatun wafat, Rumi menikah lagi dengan Karra Khatun dan memiliki anak, Amir Muzaffar al-Chalebi dan Malika Khatun.

Pada saat masih muda dan belum tertarik dengan tradisi tasawuf, Rumi mulai mempelajari berbagai bidang keilmuan, yaitu tata bahasa Arab, ilmu persajakan, Alquran, tafsir, logika, filsafat, riyadoh, dan astronomi.

Ayah Rumi meninggal pada tahun 1231 saat Rumi beusia 24 tahun, Rumi menggantikan tugas ayahnya mengajar teologi tradisional dan hukum Islam. Kedua ilmu ini mempengaruhi Rumi ketika memasukkan teks-teks Alquran dan hadis dalam syairnya.

Karya-karya Rumi masih populer hingga hari ini, bentuk puisi dan syairnya yang sarat akan nilai-nilai sufisme dan religius, baik berhubungan dengan sesama manusia terlebih kepada Allah.

Di setiap karyanya, pemikiran, gagasan, dan renungannya dalam untaian karangan bersajak yang indah, menggunakan bahasa figuratif sastra, metafora, tamsil, dan kias.

Karya Rumi memiliki ciri khas bila dibandingkan dengan sufi penyair lainnya, seperti Rumi seolah hendak menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin diraih melalui cinta dan bukan melalui kerja fisik semata.

Rumi tidak lelah menyampaikan bahwa Tuhan merupakan satu-satunya tujuan dan tidak ada yang menyamai-Nya. Rumi sering memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.

Adapun tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikiran Rumi, adalah Bahauddin Walad, Burhanuddin Muhaqqit at-Tirmidzi, Syamsuddin al-Tabrizi (nama-nama ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Rumi, yang mengubah Rumi dari ahli teologi menjadi sufi), Hakim Sana’i, Husamuddin Khalabi, dan Ibnu Arabi.

Selain seorang sufi, Rumi juga menjadi pendakwah dan guru. Rumi aktif menulis karya-karya sufisme yang mengupas tentang sastra. Karya Rumi ada yang berbentuk prosa dan berbentuk nazam, karya yang redaksinya berbentuk prosa adalah: al-Majalis as-Sab’ah, Majmu’ah min ar-Arsa’il, dan Fihi Ma Fihi.

Adapun yang berbentuk nazam: Diwan Syams Tabrizi, Ruba’iyat, Matsnawi (karya terbesar Rumi dengan 2000 halaman dan dibagi 6 jilid). Para pengikut Rumi menganggapnya sebagai penyibak makna batin Alquran, karya ini Rumi sampaikan dalam bahasa puisi yang kreatif melalui apologi, anekdot dan legenda.

Nuruddin Abudrrahman al-Jami’ yang dijuluki sebagai khatamul syu’ara mengatakan bahwa “Masnawi merupakan tafsir Alquran yang indah dalam bahasa Persia.” Tafsir yang dimaksud al-Jami’ adalah takwil atau tafsir kerohanian terhadap ayat-ayat Alquran yang ditulis dalam karangan yang bersajak indah.

Demikian biografi singkat dari Maulana Jalaluddin Rumi seorang penyair dan sufi besar di zamannya dan tetap populer hingga hari ini karena untaian sajaknya yang indah dan bahasa-bahasa cinta yang menggugah jiwa.

Mohamed Ghilan, Intelektual muslim Kanada mengatakan bahwa “Ketika Rumi berbicara tentang cinta para pencinta, dia tidak hanya mengacu pada cinta mereka bagi satu sama lain, tapi juga tentang cinta yang mereka bagikan kepada Sang Wujud yang melampaui segala sesuatu yang ada.”

Seperti syair di bawah ini dan syair ini merupakan gubahan terakhir sebelum Rumi menghembuskan nafasnya. Di malam sebelumnya aku bermimpi melihat seorang syekh di pelataran rindu, ia menudingkan tangannya padaku dan berkata, “Bersiap-siaplah untuk bertemu denganku.”

Berbicara Rumi sebagai sufi dan penyair ternama tentu masih banyak hal-hal yang diketahui, mulai dari isi karyanya yang menyentuh hati dan tarian sufi terkenal dari Rumi yang dikenal dengan tarekat Jalaliyah atau Mulawiyah. Di Barat dikenal dengan The Whirling Dervishes (para darwis yang berputar-putar).

Info Buku

  • Judul Buku: Passage Into Silence (Lorong Sunyi)
  • Penulis: Ambhita Dhyaningrum.
  • Penerbit: Forum
  • Tempat Terbit: Yogyakarta
  • Tahun Terbit: 2018