Perencanaan nasional bidang kesehatan terjelma dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) di Jakarta pada 18-19 Februari 2020. Pembahasan berfokus di kebijakan peningkatan kualitas hidup sehingga bisa bersaing dengan kemajuan teknologi di masa Bonus Demografi 2030-2035.

Rakerkesnas 2020 membahas 5 fokus masalah utama, yaitu: angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB), pengendalian stunting, pencegahan dan pengendalian penyakit (menular dan tidak menular), gerakan hidup sehat masyarakat (Germas), dan tata kelola sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). (1)

Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih tinggi, yaitu 305 dan 15 dan terbesar kedua di ASEAN. AKI 305 menandakan ada 305 kematian ibu per 1000 kelahiran hidup yang harusnya bertahan hidup bila menerima penanganan layak. 

Pelayanan gawat darurat penting dipersiapkan setiap saat sebab setiap kehamilan berisiko komplikasi. Penanganan yang tidak layak serta lamanya akses layanan dapat meningkatkan risiko kematian ibu. Penyebab kematian ibu 75% oleh: pendarahan parah pasca salin, infeksi pascasalin, tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus yang lama atau macet serta aborsi yang tidak aman.(2,3)

Angka kematian bayi Indonesia berada di 15 kematian per 1000 kelahiran hidup. Kematian neonatal 75% terjadi pada minggu pertama dan 40% di antaranya meninggal pada 24 jam pertama.

Kematian bayi berkaitan dengan kurangnya kualitas penanganan dan pelayanan persalinan khususnya pada bayi dengan berat lahir yang kurang optimal. Bayi umumnya lahir premature dengan komplikasi persalinan yaitu sulit bernapas saat lahir, infeksi dan cacat lahir.(2,3)

Data Kemenkes menunjukkan, preeklamsia yaitu tekanan darah ibu >140/90mmHg menjadi sebab utama yang meninggalnya ibu dan bayi sebesar 32%, diikuti dengan pendarahan pasca persalinan sebesar 20%. (4) Preeklamsia merupakan masalah kompleks terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu sehingga diperlukan pelayanan berkualitas dan mahal.

Survei Angka Sensus (Supas) 2015 menunjukkan 77 persen kematian ibu, 68% kematian neonatal, dan 62,8% kematian balita terjadi di rumah sakit. Bukti masih kurangnya kualitas pelayanan rumah sakit, faktanya hanya 21% rumah sakit umum yang sesuai standar pelayanan obstetri dasar serta hanya 31% puskesmas dan kurang dari 10% yang sesuai setiap standar pemeriksaan kehamilan yang komprehensif. (5)

Karantina wilayah dan pembatasan fisik berimbas pada lonjakan angka kehamilan karena terbatas dan sulitnya para pengguna mendapatkan alat dan layanan berkelanjutan. Terbatasnya akses perawatan dan alat menyebabkan lonjakan kehamilan yang dijelaskan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo senada hasil penelitian oleh United Nations Population Fund (UNFPA). (6,7) Penurunan jumlah pengguna alat kontrasepsi diproyeksikan hingga 10 persen dari total pengguna 28 juta orang. (6)

Antisipasi lonjakan angka kehamilan perlu diperhatikan mengingat masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Lonjakan kehamilan dapat menjadi bumerang, yaitu kenaikan angka kematian ibu dan bayi. Dampak jangka panjang juga menghantui anggaran pemerintah mengingat biaya ditanggung oleh BPJS. (6)

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) sedang mengembangkan pedoman dalam menangani ibu hamil suspek atau positif COVID-19. (8) Sejauh ini, data COVID-19 tidak menunjukkan kehamilan dapat meningkatkan risiko terkena virus. (9) Pemeriksaan rutin kehamilan menurut ACOG dapat menggunakan metode telemedicine sehingga risiko terjangkit virus dapat minimal dan pemantauan ibu hamil tetap optimal. (8)

Lalu bagaimana dengan kondisi masyarakat Indonesia yang saat ini dihantui oleh resesi ekonomi, hilangnya mata pencaharian serta lonjakan kasus positif yang masih konstan meningkat. Akankah program serta antisipasi yang telah direncanakan mampu untuk menghalau masalah lama terkait kehamilan atau malah memperkeruh berbagai efek lanjutan dari pandemi COVID-19? 

Bagaimana pun masalah ini akan menentukan apakah Indonesia untung dengan pertambahan bonus demografi atau malah buntung dengan penambahan kasus kematian Ibu dan Bayi yang belum kunjung terselesaikan.

Referensi

  1. Wisnubroto K. Inilah Prioritas Sektor Kesehatan 2020. Jakarta: Info Publik; 2020 Feb 21 [cited 2020 May 9].
  2. Achadi EL. Kematian Maternal dan Neonatal di Indonesia. Banten: Rapat Kerja Kesehatan Nasional 2019; 2019 Feb 13 [cited 2020 May 9].
  3. WHO. Maternal mortality. World Health Organization; 2019 Sep 19. [cited 2020 May 9].
  4. KumparanMOM. Preeklamsia, penyebab utama kematian ibu di Indonesia. Jakarta: Kumparan; 2020 Mar 5 [cited 2020 May 9].
  5. Kementrian Kesehatan. Di rakesnas 2019, dirjen kesmas paparkan strategi penurunan AKI dan neonatal. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2019 Feb 15 [cited 2020 May 9].
  6. Azanella LA. BKKBN memprediksikan angka kehamilan melonjak selama pandemic corona ini?. Jakarta: Kompas; 2020 May 9 [cited 2020 May 9].
  7. Uly YA. Dampak covid-19 diperkirakan terjadi 7 juta kehamilan tak terduga. Jakarta: Kompas; 2020 May 6 [cited 2020 May 9].
  8. ACOG. Novel coronavirus 2019 (covid-19). US: American College of Obstetricians and Gynecologists; 2020 Apr 23 [cited 2020 May 9]
  9. WHO. Q&A on covid-19 and pregnancy and childbirth. World Health Organization; 2020 Mar 18 [cited 2020 May 9].